Aku dan kacamata hitamku – episode 6

Aku sedang duduk di dapur, berkutat dengan tombol rekam di kameraku ketika mas Pandu terseok-seok datang lalu membuka kulkas.

“Oh, mas.” kataku mengangkat kepala, teringat sesuatu. “Aku belum wawancara mas, boleh nggak kalo sekarang?”

“Aku nggak mau diwawancara.”

Mas membenci semua orang dan segala-galanya. Wajahnya pucat. Matanya merah. Tampak kurang sehat dibandingkan saat dia bermain game sepanjang waktu.

“Oke.” jawabku sambil mengindikkan bahu. Aku mengambil Tango wafer dari toples yang masih tergeletak di meja. “Jadi..” kataku berusaha santai, “aku cuma penasaran aja sih..”

“Apa?”

“Sigit bakalan dateng lagi nggak?” Kalimat itu keluar terburu-buru dan terdengar berlawanan dengan santai. 

Mas Pandu menoleh dan menatapku galak, “ngapain Sigit datang kesini?”

“Yah..kan soalnya..” kataku bingung.

Mata mas sangat buram dan penuh amarah sampai-sampai aku berjengit. “Lagian aku dikeluarin dari tim.”

“Dikeluarin dari tim?” tanyaku menatapnya kaget, “tapi kan pendiri tim itu mas sendiri”

“Iya kemaren, sekarang kan aku nggak bisa main lagi.”

Suaranya teredam dan pelan. Seperti mau menangis, aku belum pernah lagi lihat mas Pandu menangis sejak papa meninggal dua tahun yang lalu.

“Mas.” kataku iba, “udah coba ngomong lagi sama mama?”

“Mau ngomong apa sama mama?” bentaknya. “Buat apa? Supaya dia bisa bersorak riang gembira?”                                     

“Nah, mas.”  tegur mama yang mendadak muncul dari tangga. Mama lalu mengambil cangkir dan menyeduh kopinya di atas meja. 

Kemarin aku memergoki mama membaca buku Bagaimana Bicara pada Anak Remaja Anda karangan Dr. Sarah Percy. Aku masih nggak percaya mama mau membayar 125.000 rupiah untuk buku penuh gambar kartun jelek. 

“Mama lihat handuk kamu berantakan di lantai kemarin, mama sangat terkejut, gimana perasaan mas mengenai masalah ini?” sambung mama dengan nada aneh dan ganjil.

“Hah?” mas Pandu menatap mama.

“Menurut mama kita bisa menemukan solusi untuk masalah handuk itu bareng-bareng,” lanjut mama. “Menurut mama itu bisa menjadi tantangan yang mengasyikkan.”
Mas menatapku, terheran-heran dan aku mengendikkan bahu.

“Gimana menurut mas?” desak mama. “Kalau kira-kira kamu yang mengurus rumah ini, apa saran mas mengenai handuk itu?”

“Nggak tau.” jawab mas malas, “jadiin lap dapur kali.”

Aku melihat mama sedikit frustasi dengan jawaban mas tapi tetap menyungging senyum anehnya,”mama mendengarkanmu, mas” katanya, “ide menarik.”

“Bukan.” mas menatap mama curiga.

“Iya, menarik kok.”

“Mam, aku jawab ngasal supaya mama kesel, apanya yang menarik..”

“Mama mendengarkanmu.” balas mama mengangguk, “mama mendengarkanmu, mas. Mama bisa memahami sudut pandang kamu. Yang mas bilang itu beralasan.”

“Aku nggak punya sudut pandang!” sergah mas, “lagian mama ini ngomong apa sih,  ‘mama mendengarkanmu’ apa-apaan.”

“Mama baca buku,” kataku memberitahu mas. “Judulnya Bagaimana Bicara pada Anak Remaja Anda.”

“Pantesan!” mas memutar bola mata.

“Jangan bentak-bentak mama!” mama langsung keluar dari mode jinak dan penurut.

“Ya makanya jangan ngomong pake bahasa robot dong!” seru mas, “palsu kali!”

“Harga bukunya Rp 125.000,” kataku sambil tertawa. 

Ada keheningan. Kupikir mama berjuang agar nggak lepas kendali. Dari cara mama meremas serbet menjadi bola kecil, seperti energi besar yang cukup sulit untuk diserap. Dan akhirnya mama mendongak sambil kembali senyum.

“Mas, mama paham kamu frustasi dengan kehidupan saat ini,” ujarnya dalam nada ramah. “Makanya mama mencarikan kamu beberapa kegiatan. Mas bisa jadi sukarelawan, kan?”

“Sukarelawan?” mas tampak tercengang, “sukarelawan apaan lagi? Sukarelawan PBB? Membangun pondok di Afrika?”

“Nggak. Sukarelawan membuat sandwich untuk acara panti asuhan di mesjid.”

“Bikin sandwich?” mas terperanjat, “mama nih becanda ya?”

“Mama udah bilang bisa pake dapur rumah kita untuk kateringnya. Kita semua ikut bantu kok.”

“Aku nggak mau buat sandwich.”

“Mama mendengarkanmu, mas.” kata mama, “tapi kamu harus ikut bantu juga dan tolong jangan bentak-bentak.”

“Siapa yang bentak-bentak.”

“Mama mendengarkanmu, mas” ucap mama gigih, “tapi kamu tadi bentak-bentak.”

“Mam, stop, oke?”

“Mama mendengarkanmu.”

“Stop!”

“Mama mendengarkan.”

“Stop mam, ya Allah!” mas menempelkan dua kepalan tinju di kepala. “Oke. Mas ikutan acara apalah itu terserah! Mama puas sekarang?”

Mas Pandu menjauhi meja dan mama tersenyum kecil. Dia menang!

                                       *

Mama akhirnya membelikanku ponsel atas saran Dr. Darabi. Menurutnya itu ide yang bagus, karena aku bisa memulai membangun komunikasi dengan orang di luar rumah. Oke itu langkah pertama. Langkah keduanya aku mendapatkan nomor Sigit dari mas Pandu. Langkah ketiga aku harus menelepon dia. 

Aku memasukkan nomor Sigit dan memandanginya lama. Aku berusaha membayangkan bagaimana memulai obrolan. Aku mencatat beberapa kata-kata dan frasa siapa tahu aku butuh ( saran Dr. Darabi). Aku membayangkan skenario positif.

Tapi aku masih belum mampu untuk meneleponnya jadi kuputuskan untuk mengirimkan whatsapp.

Hai Sigit, ini Kama.

Adiknya Pandu.

Kamu masih utang diwawancara nih.

Aku menduga nggak akan ada jawaban, atau setidaknya harus menunggu lama, tapi ponselku langsung berdengung;

Hayuk. Kapan?

Aku belum memikirkannya. Kapan? Besok minggu, dia punya waktu seharian.

Besok? Kamu mau ke rumah? Jam 11?

Aku menekan send dan kali ini ada sedikit jeda sebelum dia menjawab;

Di starbucks aja. Aku sekalian part-time.

Sentakan panik menjalariku mirip api superpanas. Starbucks? Dia udah sinting apa? Lalu pesan berikutnya datang;

Lagian, ayo kita coba shock terapi. Gimana?

Tapi.. tapi.. tapi..

Starbucks?

Besok?

Jemariku gemetaran. Kulitku terasa panas. Aku menarik napas empat hitungan dan menghembuskannya tujuh hitungan lalu berusaha membayangkan Dr. Darabi. Apa saran dia kira-kira? Apa yang bakal dia katakan?

Aku bisa mendengar suaranya di kepalaku, “sudah waktunya untuk langkah yang lebih besar. Kamu harus mendorong disi sendiri, Kama. Saya yakin kamu bisa mengatasinya.”

Kutatap ponsel sampai layarnya buram di depan mataku, kemudian mengetikkan pesan sebelum aku berubah pikiran.

Oke. See you there.

                                        *

Akhirnya aku tiba di starbucks. Kudorong pintu hingga terbuka dan di sanalah Sigit, duduk di meja dekat pintu masuk. Dia memakai jins dan kaus putih dan tampak ganteng walaupun memakai afron hijau starbucks.

“Kamu berhasil!” katanya senang. Wajahnya cerah begitu melihatku dan dia melompat bangkit.

“Ya!”

“Aku kira kamu nggak bakalan bisa”

“Aku kira juga gitu” kataku mengaku.

“Tapi nyatanya kamu berhasil! Kamu sembuh!”

Antusias Sigit begitu menular sehingga aku balas nyengir lebar-lebar.

“Aku udah pesenin kopi untuk kamu, sini duduk” ajaknya.

“Oh, oke.”

“Jadi kamu mau tanya apa dalam film dokumenter nya?” tanya Sigit.

“Oh, apa ya. Apa aja.”

“Ini bagian dari terapi?”

“Ya. Semacamnya.”

“Tapi kamu masih butuh terapi? Kamu kayak baik-baik aja loh.”

“Iya, aku emang baik-baik aja. Tapi sebenernya proyek ini..”

“Kalau kacamata hitamnya dilepas, kamu pasti keliatan normal total. Cobain..”

“Yah. Nanti aku cobain.”

“Cobain disini, sekarang.”

“Nanti aja”

“Sini coba aku lepasin” Sigit meraih kacamata hitamku dan aku langsung menarik diri. Keberanianku lumer. Suaranya terkesan menggertak seolah menghantamku.

“Sebentar!”

“Kenapa?” Sigit menatapku kebingungan.

“Nggak gini caranya.”

“Apanya?”

Aku menelan ludah dan mendorong kursi mundur. Aku harus melarikan diri. Aku nggak tau apa yang terjadi di kepalaku. Keadaan berbalik. Aku menyeruput frappuccino, berusaha rileks, tapi yang sebenarnya ingin kulakukan adalah mengambil serbet dan mengoyaknya kecil-kecil. Suara-suara disekelilingku semakin nyaring, semakin mengancam.

“Kama?” Sigit melambaikan satu tangan di depan wajahku yang membuatku berjengit. “Kama?”

“Aku nggak bisa” kataku mendorong kursi mundur dan berdiri.

“Kenapa?”

“Terlalu berisik.” kataku sambil membekapkan tangan di kedua telinga, “sorry..”

“Tapi tadi kamu baik-baik aja kok” ucap Sigit sambil mengikuti keluar. Dia terdengar marah, “barusan kamu tuh baik-baik aja! Kita kan cuma ngobrol..”

“Ya oke.”

“Ya oke apa maksudnya?”

“Nggak ada,” jawabku putus asa. “Nggak taulah,”

“Kalo gitu suruh diri kamu menghentikannya. Tau kan? Seperti pikiran yang menguasai tubuh.”

“Aku benar-benar minta maaf” kataku dengan suara yang agak berat. “Sebaiknya kita lupakan tentang film itu dan semuanya. Aku nggak bisa ketemu dengan kamu lagi, bye. Maaf. Maaf.”

                                         *

Dirumah, aku melangkah pelan ke dapur dan meringis begitu melihat pantulanku di cermin. Tampak pucat dan agak..sama sekali nggak menarik. Aku mendengar bunyi gemertak dari koridor lalu sesuatu jatuh ke keset dan aku terlonjak.

Ada pesan di keset – selembar kertas bergaris yang dirobek dari buku catatan dengan Kama tertera dalam tulisan tangan Sigit. Aku membuka dan membacanya:

“Kamu oke? Aku tadi whatsapp tapi ga dibales. Aku juga nggak mau ngebel takut kamu kaget, kamu nggak apa-apa kan?”

Aku mengambil bolpoin, berpikir sebentar.

“Aku nggak apa-apa, kok. Sori tadi aku panik”

Aku mendorongnya ke luar lewat celah dibawah pintu. Sesaat kemudian kertas itu muncul kembali.

“Tadi kamu keliatannya kacau banget, aku khawatir aja”

Aku memandangi kata-katanya.

“Sori.”

Hampir dengan seketika kertas itu masuk kembali bersama balasannya:

“Kamu mau bukain pintunya nggak?”

Semburan kengerian berpacu di sekujur tubuhku. Aku nggak bisa membiarkan dia melihatku yang menciut, pucat, lusuh. 

“Belum berani. Lain kali aja ya. Sori sori..”

Aku menahan napas setelah melayangkan surat itu. 

“Mengerti. Kalo gitu aku pergi dulu.”

Aku mati-matian memikirkan apa yang bisa kubalas. Namun seketika itu selembar kertas lagi masuk ke keset. Kertasnya dilipat dan diluarnya tertulis:

I have to give you this before i go..

Sesaat, aku nggak berani membukanya. Namun akhirnya aku membuka dan menatap kata-kata di dalamnya. Kepalaku mendadak beku. Napasku terengh begitu membacanya. Dia menulis:

“Ini ciuman.”
Bersambung…

Advertisements

Aku dan kacamata hitamku – episode 5

Mama memosisikan diri di koridor, berkacak pinggang, mata yang melotot terfokus tepat ke pintu. Setelah sepuluh detik yang tegang, pintu terbuka dan aku terkesiap. Mas Pandu melenggang masuk seperti biasa dan menatap mama tanpa terlalu tertarik. Aku bisa melihat mama menegakkan tubuh dan menarik napas dalam-dalam. 

“Kok nggak bilang assalamualaikum, mas?” sapa mama dengan nada dingin yang membuatku bergidik, meskipun bukan aku yang dalam masalah.

Dua jam sebelumnya..

Mama membawa komputer mas Pandu ke kelas pilates. Aku membayangkan mama terseok-seok membawa komputer mas. Mama membawanya karena ingin teman mama memeriksa seberapa sering mas Pandu bermain game sepanjang minggu lalu.

Mas Pandu memakai earphone, jadi kupikir mas nggak merasakan nada dingin mama.

“Assalamualaikum..” balasnya dan berniat lewat tapi mama menusuk bahunya dengan jari. 

“Mas!” panggil mama, dan menunjuk telinga mas Pandu, “lepas!”

Sambil memutar bola mata mas Pandu melepas earphone dan menatap mama, “apa?”

“Jadi?” kata mama dengan nada yang lebih dingin.

“Apa?”

“JA-DI.”

Mama berniat ingin membuat mas Pandu gemetar ketakutan hanya dengan dua suku kata itu, tapi nggak berhasil. Mas Pandu kelihatan nggak sabar.

“Jadi? Maksud mama apa sih? Jadi apa?”

“Mama udah nunggu-nunggu kamu dari tadi, mas.” mama maju selangkah, matanya mirip laser. “Mama udah nunggu kamu lama banget!”

Mama benar-benar sedang meniru penjahat di film James Bond, bedanya kalau di film aslinya, penjahatnya punya kucing putih yang dielus-elus. 

“Kok komputer aku disana?” mas mendadak melihatnya, bertengger di meja koridor.

“Pertanyaan bagus!” jawab mama ramah. “Kamu mau kasih tahu mama tentang aktivitas berkomputermu selama kira-kira minggu lalu?”

Bahu mas merosot, “aku main LOC,” ucapnya dengan nada monoton.

“Cuma sekali itu?”

Mas Pandu membiarkan tas sekolahnya meluncur ke lantai. “Nggak tahulah, kepala aku sakit. Aku mau minum parasetamol.”

“Dan kenapa bisa gitu?” mama mendadak hilang kendali. “Apa gara-gara kamu sama sekali nggak tidur seminggu ini?”

“Apaan sih?” mas menatap mama dengan sorot kosong yang menyebalkan.

“Nggak usah belagak bego didepan mama!” mama sekarang sudah tersengal-sengal. “Teman mama, Arjun meriksa komputer kamu hari ini. Dan mama benar-benar nggak percaya”

“Siapa Arjun?” mas merengut.

“Ahli komputer,” kata mama penuh kemenangan. “Dia kasih tahu mama semuanya tentang kamu. Kami tahu semuanya sekarang.”

Aku melihat kelebatan rasa ngeri di wajah mas. “Dia baca email aku juga?”

“Nggak, dia nggak baca.” mama tampak teralihkan sebentar, “ada apa di email kamu emangnya?”

“Nggak ada apa-apa” jawab mas buru-buru dan melototin mama. “Ya ampun mam, sampai nge-hack komputer aku segala!”

“Mama takjub kamu bohong sama mama, mas! Kamu bangun jam dua pagi setiap malam seminggu ini! Iya kan?”

Mas mengendikkan bahu dengan ekspresi muram.

“Mas?!”

“Ya kalau si Arjun itu bilang gitu, ya udah pasti benerlah”

“Jadi emang benar! Mas, kamu ngerti nggak betapa seriusnya ini? Ngerti nggak? MENGERTI TIDAK?!” mama mendadak berteriak.

“Yah, emang mama ngerti betapa penting LOC buat aku?” mas balas membentak. “Gimana kalau aku jadi gamer profesional? Gimana?”

Mama memejamkan mata dan memijat dahi. “Kamu main dengan siapa? Apa mama kenal orangtua mereka? Apa mama perlu menelepon orangtua mereka?”

“Kayaknya sih, nggak” sahut mas sinis, “mereka tinggal di Korea”

“Korea??” sepertinya itu pemicu terakhir mama. “Baik. Cukup udah, mas. Kamu di hukum selamanya. Nggak ada komputer. Nggak ada TV. Nggak ada apa-apa”

“Oke,” kata mas lesu.

“Kamu ngerti?” mama menatap tajam. “Kamu dihukum!”

“Iya, ngerti. Aku dihukum.”

Ada keheningan. Mama kelihatan nggak puas. “Kamu dihukum,” mama mencoba lagi, “SE-LA-MA-NYA”

“Iya apaan sih mam” sahut mas dengan kesabaran berlebihan. 

“Kok kamu nggak ada reaksi? Kenapa nggak ada reaksi?”

“Aku bereaksi mam. Aku dihukum. Terserahlah.”

“Mama langsung kunci komputer ini.”

“Ya.”

Ada keheningan ganjil dan tegang lagi. Mama mengamati mas Pandu lekat-lekat mencari jawaban. Kemudian tiba-tiba seluruh wajah mama seperti mendadak berbunyi dan terkesiap.

“Ya Allah. Kamu ini nggak menganggap serius masalah ini, ya? Mas, pasti kamu nih udah bikin rencana ngendap-ngendap di rumah malem-malem trus ngambil komputer kan?”

“Nggak.” mas Pandu terdengar cemberut, yang artinya Iya.

“Kamu pasti udah ngerencanain ngotak-ngatik kunci kan?”

“Nggak.”

“Mas pikir mama nggak bakalan tau ya? Ha? Mas pikir bisa ngalahin mama? Oke, liat nih ya!”

Mama mengambil komputer yang lumayan berat dan menaiki tangga, kabel terseret dibelakangnya.

“Mama buat komputer kamu lenyap selama-lamanya, mama bikin ini hancur berkeping-keping.”

“Hancur berkeping-keping gimana?” mas mendadak sadar.

“Kamu kan dihukum lagian, terus kenapa kalau komputernya hilang?” tukas mama.

“Mam, jangan aneh-aneh deh,” kata mas panik. “Mama mau ngapain?”

“Kamu disitu aja, anak muda!” Suara mama tiba-tiba terdengar sangat berbeda, menakutkan. 

“Mama mau ngapain sih?” tanya mas padaku dengan suara pelan.

“Nggak tau, tapi aku mau liat keatas”

Saat itulah Robbi teriak-teriak ke koridor dari taman, “pandu! Nyokap lo mau lempar komputer dari jendela!”

Komputer itu sebenarnya nggak hancur berkeping-keping saat mama melemparnya. Benda itu memantul dua kali dan mendarat menyamping. Malahan, nyaris nggak kelihatan pecah sedikitpun begitu tergeletak di rumput. Cuma ada sedikit serpihan beling dari layarnya.

Semua memandang komputer itu beberapa lama dan Robbi memotret lalu kembali masuk ke dalam rumah. Aku memandang mas Pandu, mas kelihatan hancur lebur malahan menurutku dia terguncang. Mas nggak banyak bicara sepanjang malam. 

Walaupun sebenarnya aku nggak terlalu peduli dengan komputer mas tapi aku jadi penasaran satu hal. Apakah ini artinya Sigit nggak akan pernah ke sini lagi?

                                        *

KELUARGAKU YANG TENTERAM DAN PENYAYANG

Aku menggerakkan kamera di dapur dan melihat mama duduk bersama secangkir kopi.

Mama mengangkat cangkir kopi lalu menaruhnya lagi tanpa meneguknya.

Mama menarik napas lalu menatap lurus ke kamera,

“Mungkin semuanya bakalan lebih mudah kalo masih ada papa..”

Hening.

“Mama ngerasa kesulitan sendirian gini, mama harus buat keputusan yang tepat dan kadang-kadang berat dan tetap harus menjalani semuanya.”

Hening.

“Mungkin nanti suatu hari mas Pandu bisa gantiin posisi Papa”

Hening.

“Yah, dia pasti bisa diandalkan suatu hari nanti”

Hening.

Kamera menyorot ponsel mama dan memfokuskan pada foto papa yang sedang merangkul mama. Mama buru-buru menutupinya dengan tangan. 

“Cuma kangen aja, kok.” kata mama tersenyum sambil menghapus airmatanya.
Bersambung…

Aku dan kacamata hitamku – episode 4

Aku mendengar mama menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar mas Pandu. Lalu keributan pun dimulai. 

“MAMA TUH NGGAK LOGIS!” suara mas Pandu mendadak menggema di seantero rumah. 

Sigit meraih tanganku cepat dan membawaku turun. Otak ku memerintahkan untuk segera melejit ke sudut terjauh ruangan. 

“TOLONG JANGAN BENTAK MAMA DIDEPAN TEMANMU!” balas mama menghardik.

Secara naluriah aku menutupkan tangan di telinga dan bertanya-tanya apakah harus melarikan diri ke kamarku. Aku mendongak- dan itu dia. Itu Sigit berjongkok didepanku, “kamu mau minum?” tanyanya cemas.

Aku membalikkan badan, menatap dinding lekat-lekat dan bergumam, “nggak..”

Sigit beralih dari jongkok sekarang duduk di depanku. Dia menggeser tubuhnya agak jauh, berusaha menjaga jarak agar aku nyaman. 

Dia tersenyum. Aku membetulkan kacamata lalu ikut tersenyum sedikit.

“Mirip seulas jeruk” kataku tanpa berpikir apa maksudnya.

“apanya yang seulas jeruk?” 

“Senyumnya, mirip seulas jeruk..” kataku gugup.

Aku bisa melihat senyum kecilnya, dia terlihat senang dan mengangguk-ngangguk “oh ya? Ibu aku bilang mirip bulan sabit.”

Dia menggeser sedikit lebih dekat. Radarku tegang dan siaga penuh. “Tadi lagi main sama mas?” suaraku terdengar agak serak.

“Tadi Pandu cuma ngebantuin aja, dia nggak main. Dia cuma menginstruksikan aja, tapi tadi mama kamu ngomel kayaknya dia dilarang main termasuk duduk sama aku”

Aku mengangguk, “orangtua kamu juga stres soal game komputer?”

“Nggak juga sih” jawab Sigit. “Mereka lebih stres dengan nenek. Dia agak gila, maksud aku-”

Dia berhenti bicara mendadak dan ada keheningan menusuk. Aku butuh tiga detik untuk memahami sebabnya.

Jadi itu yang dipikirkannya tentang aku, menghantamku dengan debuk mengerikan.

Keheningan semakin parah. Aku bisa merasakan kata gila melayang-layang di udara.

“Maaf,” kata Sigit.

“Nggak apa-apa kok,” balasku hampir agresif. “Kamu nggak ada bilang apa-apa kok”

Dan itu benar. Dia nggak bilang apa-apa. Dia berhenti d tengah-tengah kalimat.

Cuma menurutku berhenti ditengah-tengah kalimat itu adalah hal yang buruk. Nama situasinya disebut pasif agresif karena kita nggak bisa mendebat apa yang mereka katakan. 

Kesunyian terus berlasung dan harus ada yang memecahkannya, “seriusan nggak apa-apa, aku emang gila. Terserahlah.” kataku tegang.

“Bukan!” Sigit kedengaran benar-benar kaget. Kaget, malu, nggak nyaman. Agak tersinggung. 

“Kamu sama sekali nggak mirip dengan nenekku,” tambahnya lalu tertawa kecil seperti menikmati lelucon pribadi. “Kalau kamu ketemu dengan dia, kamu pasti ngerti maksud aku” jelasnya santai.

Dia tertawa dan aku merasakan siraman kelegaan. Kalau bisa tertawa, berarti dia nggak jijik kan?

“Jadi kayaknya aku nggak bisa kesini lagi sampai hukuman Pandu dicabut”

“Ya, kayaknya” jawabku.

“Mama kamu mungkin nganggep aku pengaruh buruk”

“Mama nganggep semua hal adalah pengaruh buruk” kataku sambil memutar bola mata, walaupun dia nggak bisa melihat. 

“Kapan kamu ke Starbucks lagi?” 

Aku merasakan udara di sekelilingku teras menyengat. Pergi ke luar. Aku merasakan desakan untuk meringkuk dan memejamkan mata.

“Nggak!” kataku kasar, “itu..aku nggak bisa”

Keheningan lagi. Aku membungkuk lebih dalam. Aku dapat merasakan pertanyaan berputar-putar dalam kepalaku, seperti kenapa? Kok bisa? Emang kenapa?

“Kayak alergi dengan orang asing ya?” tanyanya. 

“Kayaknya gitu,” obrolan ini mulai melelahkan otakku. Aku mencengkram baju untuk menenangkan diri. Otot tendon menegang di kedua tanganku. 

“Alergi juga sama kontak mata?”

“Aku alergi sama segala macam kontak”

“Nggak, kok” katanya seketika. “Kamu nggak alergi sama kontak otak. Maksud aku, kamu masih bisa tulis pesan. Kamu juga ngobrol. Kamu masih pengen ngobrol sama orang, cuma mungkin kadang nggak bisa aja. Jadi harusnya tubuh kamu menyejajarkan diri dengan otak kamu” jelasnya.

Aku membisu beberapa lama. Sebelumnya nggak ada yang mengutarakannya seperti itu.

“Mungkin sih..” kataku akhirnya.

“Kalau kontak sepatu gimana?”

“Apa?”

“Kontak sepatu!”

“Apa itu kontak sepatu?” 

Dari sudut mata aku melihatnya mengulurkan sepatu olahraga dekil.

“Ayo,” katanya. “Kontak sepatu, yok.”

Aku nggak bisa bergerak. Aku kayak landak mini yang meringkuk membentuk bola. 

“Gerakkan kaki kamu,” ujar Sigit. “Nggak usah dilihat, gerakin aja.”

Sigit terdengar ngotot. Aku nggak percaya ini terjadi. Otakku sangat tak menyukai hal ini. Otakku menyuruhku menukik ke balik selimut. Sembunyi. Lari. Apa saja.

Siapa tahu kalau aku tak bereaksi, dia akan menyerah dan kita bisa lupakan kejadian semua ini.

“Ayo,” katanya menyemangati. “Berani taruhan kamu pasti bisa”

Dan sekarang suara Dr. Darabi di kepalaku. “Ayo dong, Kama..kamu harus mulai mendorong diri sendiri..” bisiknya.

Pelan-pelan, aku menggerakkan kaki melintasi karpet, sampai lis karet sepatuku menyentuh lis karet sepatunya. Tubuhku yang lain masih menghadap ke arah lain. Aku menatap tajam sepatu dan seluruh otakku terfokus pada sekelumit kaki yang bersentuhan dengan kakinya.

Aku merasa sesak napas. 

“Nah,” Sigit terdengar puas. “Benar kan?”

Sigit nggak terdengar sesak napas. Dia hanya terdengar tertarik, seolah aku membuktikan satu hal yang akan diceritakannya pada temannya atau ditulisnya di blog atau apalah. Dia melompat bangkit dan berkata, “sampai ketemu lagi,” dan pesona itu pun buyar.

“Sampai ketemu.”

“Bentar lagi aku diusir sama mama kamu kayaknya, jadi sebaiknya aku pulang dulu”

“Huh? Oh, iya”

Aku membungkuk, bertekad nggak akan memperlihatkan bahwa aku agak berharap dia tetap di sini. 

“Mungkin kapan-kapan aku bisa wawancara kamu untuk dokumenterku” kataku akhirnya.

“Oh ya?” Dia terdiam, “apa itu?”

“Aku lagi buat film dokumenter ini, dan harusnya aku mewawancarai orang yang datang ke rumah, so..”

“Oke. Sip. Nanti aku datang lagi setelah.. hmm tahu kan? Setelah Pandu boleh main game lagi.”

“Oh” gumamku terdengar kecewa.

“Hei,” panggilnya.

Aku menengadah.

Dia tersenyum, “aku pasti datang lagi kok. Tenang..” katanya sambil mengedipkan matanya lalu dia pun lenyap.
Bersambung..

Aku dan kacamata hitamku – episode 3

Dalam sesi konsultasiku berikutnya bersama Dr. Darabi, aku bercerita tentang Sigit dan seluruh serangan kecemasan itu, dan dia mendengarkan dengan serius. Seharusnya aku tak memanggilnya dengan gelar dokter karena dia psikolog bukan psikiater. Aku hampir tak mengetahui perbedaannya setelah bulan ke 4, namun Dr. Darabi membiarkanku memanggilnya dengan gelar dokter, karena menurutnya aku boleh memanggilnya dengan sebutan apapun asal aku nyaman. 

Dia mendengarkan dengan serius, dia menulis dengan serius memakai huruf latin indah, dan dia bahkan mengetik di komputernya dengan serius. 

Dua tahun yang lalu mama menyimpulkan ada sesuatu yang nggak beres padaku. Masalahnya, depresi tidak punya gejala jelas seperi bintik-bintik atau suhu tubuh, jadi awalnya aku tak menyadarinya. Aku terus-terusan berkata “aku baik-baik aja” pada orang lain padahal aku tak baik-baik aja. Aku berpikir bahwa seharusnya memang baik-baik aja dan terus berkata pada diri sendiri, “memangnya aku kenapa? Kenapa aku tak baik-baik aja?”

Begitulah. Akhirnya mama mengajakku menemui dokter umum kami dan aku direferensikan ke sini. Waktu itu kondisiku agak kacau. Jujur saja, aku nggak terlalu ingat hari-hari pertama itu. Sekarang aku datang dua kali seminggu. Sebenarnya aku boleh datang lebih sering kalau mau. 

Setelah selesai bercerita pada Dr. Darabi tentang peristiwa sembunyi-di-balik-gorden itu, dia mengamati kuesioner dengan kotak centang yang kuisi ketika aku tiba. Isinya pertanyaan-pertanyaan seperti biasa.

Apa kamu merasa seperti kegagalan? Amat sangat.

Apa kamu ada kalanya berharap tak pernah ada? Amat sangat.

“Apa yang sekarang kamu rasakan setelah semua yang terjadi kemarin?” katanya dengan suara ramah dan tenang. 

“Hmm… Rasanya kayak terjebak” kataku ragu.

Kata terjebak terlontar bahkan sebelum aku memikirkannya. Aku baru tahu aku merasa terjebak.

“Terjebak?” 

“Maksudku bukan itu” aku mulai ragu dengan jawaban sebelumnya. Aku mulai gugup dan kembali membetulkan kacamata hitamku.

“Jadi maksudnya gimana?”

“Apa aku akan sembuh? Kayaknya aku nggak mungkin bisa sembuh” kataku mulai panik. 

“Kama..”

“Aku nggak mungkin bisa sekolah lagi. Sebentar lagi Juli dan aku masih seperti ini” aku mulai meracau.

“Kama, tenang dulu..”

“Tenang? Gimana aku bisa tenang?? Apa Dokter tahu rasanya dikunci di gudang sekolah sampai malam, aku berteriak sampai suaraku habis tapi tak satupun yang mendengarku. Aku nggak sanggup harus berhadapan dengan orang-orang itu lagi. Mereka yang gila, dokter. Bukan aku!”

“Kamu nggak gila, Kama”

Setetes air mata melelehi pipiku. Dr. Darabi memberiku tisu tanpa berkomentar. Aku mengusap mata, mengangkat kacamata hitamku sebentar lalu kembali menatap Dr. Darabi.

“Pertama, kamu nggak akan begini selamanya,” ucap Dr. Darabi “kondisi ini dapat disembuhkan sepenuhnya. DISEMBUHKAN SEPENUHNYA.”

Dia mengatakan itu padaku kira-kira seribu kali.

“Kama, kamu membuat kemajuan mengesankan sejak perawatan dimulai,” lanjutnya. “Sekarang baru bulan Mei, saya yakin kamu siap bersekolah bulan Juli nanti. Tapi itu akan membutuhkan-”

“Aku tahu” aku memeluk tubuh. “Kegigihan, latihan, dan kesabaran.”

“Kamu sudah melepaskan kacamata hitammu minggu ini?” tanya Dr. Darabi. 

Aku mengindikkan bahu.

“Sudah melakukan kontak mata dengan orang lain?”

Aku tak menjawab. Harusnya aku mencobanya. Dengan anggota keluarga. Hanya beberapa detik setiap hari.

“Kama?”

“Nggak,” gumamku, kepalaku tertunduk.

Kontak mata itu masalah besar. Masalah terbesar. Memikirkannya saja membuatku mual, sampai ke inti diriku.

“Saya punya ide lain dari yang kemarin” Dr. Darabi mendongak, “gimana kalau kamu bikin film dokumenter?”

“Apa?” Aku menatapnya bengong. Aku berharap cuma mendapatkan selembar kertas berisi latihan di dalamnya. 

“Film dokumenter sederhana aja kok. Cukup dengan kamera digital kecil, nanti kita  carikan di sini untuk kamu” kata Dr. Darabi.

“Hmm..” aku menelan ludah, merasakan tanganku mengepal, “i don’t know..”

“You can!” Dr. Darabi tersenyum optimis, “saya tahu ini terasa berat dan menakutkan, Kama. Tapi menurut saya ini akan jadi proyek besar buat kamu”

“Oke, sebentar dok, aku nggak ngerti..” aku diam sejenak, berusaha mengendalikan diri. Kamera? Film? Apa-apaan ini?

“Bagian mana yang kamu nggak ngerti?” tanya Dr. Darabi

“Apa yang harus aku filmkan?”

“Apa saja. Apa saja yang kamu temukan. Arahkan saja kamera dan rekam. Rumah, orang-orang dirumah, lukisan, potret keluargamu”

Aku mendengus. Potret keluarga? “Sekalian aja judulnya Keluargaku yang tentram dan penyayang.”

“Boleh. Kalau kamu mau.” dia tertawa, “saya nggak sabar pengen nonton” lanjutnya tersenyum bangga.

                                      *

KELUARGAKU YANG TENTERAM DAN PENYAYANG

Aku mencoba merekam apa saja yang ada di dalam rumah, pelan-pelan kuarahkan kamera. Kamera bergerak mengitari koridor.

“Mas!” teriak mama.

Aku melihat mama berderap ke koridor berjalan kearahku. 

“Mas!” teriak mama sekali lagi, “Kama, mana mas? Oh, lagi merekam ya.” 

Mama langsung menyibak rambut ke belakang dan mengempiskan perut, “gimana? Mama keliatan oke kan?” katanya dengan senyum yang dipaksakan.

Mas Pandu melenggang ke koridor, aku menagkapnya dengan kameraku. 

“Mas! Apa ini? Mama ketemu ini di tas sekolah kamu” kata mama sambil mengacungkan bungkus rokok ke arahnya.

Mas Pandu tak menjawab, hanya melototi mama.

“Kamu olahraga per minggu berapa kali?” tanya mama galak.

“Lumayan sering” jawab mas bingung.

“Mas sadar nggak sih kalau racun tembakau ini bahaya buat tubuh kamu?”

Mas Pandu masih bengong.

“Kamu sadar, nggak!” bentak mama.

Aku tetap memegang kameraku erat, aku perlu merekam adegan ini, pikirku.

“Pokoknya besok kita olahraga! Besok lari bareng-bareng sama mama!” 

“Lari? Mam serius? LARI?” Mas Pandu memandangi ibu dengan tatapan mematikan. 

Bel pintu berdering dan mas menatap memperingatkan ke kamera.

“Kama.. itu Sigit, kayaknya lo harus.. tau kan? Menjauh” kata mas.

“Oh, thanks” kataku.

“Mas! Dengar mama nggak?”

“Oke mam, oke” jawab mas menggaruk kepalanya.

Mama menghilang ke dapur. Mas Pandu menuju pintu depan. Aku bergerak mundur tapi kameraku menyorot pintu depan.

Mas membuka pintu depan dan menampakkan Sigit. 

“Hai.” ucap mas.

Sigit menatap kamera yang cepat-cepat berayun menjauh dan mundur.

“Hai.” sapanya tanpa suara padaku.

Nafasku tertahan. Kuperbesar gambar wajahnya lalu memutar ulang rekamannya.

Dia ganteng.

“Hai..” bisikku.

                                         *

Aku duduk di ruang tv. Kupastikan semua aman, Sigit berada di atas dan kuyakin mereka pasti sedang bermain video games. 

Kubuka kacamata hitamku pelan-pelan. Aku menyipitkan mata menatap tv, “Kama.”  Aku mendengar suara mas Pandu.

“Sigit kirim ini.”

Kacamata hitamku kembali terpasang begitu aku mengangkat kepala dari mas. Mas Pandu mengulurkan secarik kertas terlipat.

“Oh,” kataku bingung dam mengambil kertas itu darinya. “Oke.”

Ketika mas Pandu berlalu, aku membuka kertas itu dan membaca tulisan tangan yang asing.

“Hai..maaf soal waktu itu. Aku nggak bermaksud buat kamu panik.”

Oh Tuhan.

Aku berpikir sejenak, lalu menulis di bawahnya:

“Nggak kok, aku yang minta maaf. Aku punya masalah aneh ini. Bukan gara-gara kamu kok.” tulisku.

Aku beranjak pelan dan mengendap-endap ke atas menuju kamar mas Pandu. Aku mengetuk pintu pelan, “mas..” bisikku.

Aku benar-benar tak siap saat Sigit membuka pintunya. Aku mematung sambil menggenggam kertas itu. Dia tersenyum lalu mengambilnya dari tanganku. 

“Aku tunggu-tunggu ini dari tadi.” katanya senang.

Bersambung…

Aku dan kacamata hitamku. Episode 2

Dadaku mulai mengembang panik. Air mataku mulai terbit. Tenggorokanku rasanya membeku. Aku perlu-aku tak bisa-

Aku bisa mendengar suara psikologku. Potongan-potongan acak dari berbagai sesi kami. 

Tarik napas dalam empat hitungan, hembuskan dalam tujuh hitungan.  Tubuhmu yakin bahwa ancaman itu nyata, Kama. Tapi ancaman itu tidak nyata. 

“Hai,” katanya lagi. “Aku Sigit. Kamu nggak apa-apa?”.

Ancaman itu tidak nyata. Aku berjuang mencamkan kata-kata itu dalam benakku, tapi semuanya terbenam oleh kepanikan. Ini menenggelamkan. Ini mirip awan nuklir. 

Dadaku naik-turun oleh kengerian. Entah bagaimana aku berhasil beringsut melewatinya.

“Sori,” aku terengah dan berlari melintasi meja-meja mirip rubah yang diburu. Mendorong pintu kuat-kuat dan berlari keluar menuju rumah. Untung saja cafe ini berada dekat dengan persimpangan komplek rumahku. 

Aku tiba dihalaman rumah saat tetanggaku Robbi mendapatiku setengah berlari. Dia selalu menyindirku dengan panggilan “selebriti”. Awalnya dia pernah melihatku memakai kacamata hitam, turun dari mobil hujan-hujan dan dia berkomentar, “kenapa harus pakai kacatama hitam sih? Emangnya lo Angelina Jolie?” 

Aku bukan berusaha tampil keren. Kacamata hitam ini ada alasannya. Bahkan aku sama sekali nggak keren. Aku agak kurus, agak tak berkarakter, mengenakan kaus oblong hitam dan jins ketat. Dan aku selalu memakai kacamata hitam, bahkan dalam rumah. 

Aku masuk kerumah, menaiki tangga. Masuk ke kamar. Ke sudut terjauh. Berjongkok di balik gorden. Napasku terdengar mirip mesin piston. Aku butuh sebutir obat Clonazepam, tapi saat ini aku bahkan tak mampu keluar dari gorden untuk mengambilnya. Aku menggelayuti tirai seakan itulah satu-satunya hal yang akan menyelamatkanku.

“Kama?” Mama di pintu kamar, suara melengking cemas. “Sayang? Ada apa?”

“Mam… itu” aku menelan ludah. “Aku bertemu orang-orang..ada Nindy disana..”

“Oh, sayang..” kata mama, mendekat dan membelai kepalaku. “Nggak apa-apa sayang. Napas pelan-pelan aja yah. Kamu mau minum sebutir..”

Mama tak pernah menyebut kata obat keras-keras.

“Ya.” jawabku.

“Mama ambilkan, ya”

                                       *

Jadi, sekarang kalian sudah tahu.

Supaya kalian tak penasaran, inilah diagnosis lengkapnya. Gangguan kecemasan sosial, gangguan kecemasan umum, dan episode-episode depresi. 

                                      *

Sekarang hampir jam enam dan aku mengendap-endap ke dapur untuk mengambil Oreo, ada mama disana mondar-mandir, tegang. 

“Mam?” kataku.

“Udah hampir 5 jam mereka main video games, mama udah suruh mereka berhenti kira-kira 25 kali!”

Aku mengambil oreo dan membukanya dengan paksa. “Memangnya ada siapa?” tanyaku.

“Temannya mas Pandu dari sekolah. Mama belum pernah ketemu sebelumnya. Siapa tadi dia bilang namanya, Sigit kayaknya..”

Sigit. Kasir itu, aku tahu dia temannya mas Pandu. Aku selalu mendengar mas Pandu berbicara dengannya di telepon, dia pernah ke rumah sekali. Hanya sekitar lima menit, tapi aku selalu ingat wajahnya. 

Aku baru mau berniat memberitahukan mama bahwa dia pernah datang ke rumah dulu tapi mama sudah pergi dari dapur. Sejenak aku mendengar suaranya, “Kalian udah lama banget mainnya, anak muda!”

Anak muda.

Aku melesat ke pintu dan mengintip lewat celah. Sewaktu mas Pandu berderap di koridor mengejar mama, wajahnya bergetar karena marah.

“Kami belum sampai di akhir level! Mama nggak boleh kayak gitu dong! Matiin game langsung kayak gitu tadi, mama tuh nggak ngerti aturan main Land of Conquerors?” mas Pandu terdengar sangat marah.

“Land apa?!” tanya mama kesal.

“Jadi gini, LOC ini permainannya mengasyikkan. Kita mendapat hadiah. Dan tokoh-tokohnya lumayan bagus. Grafiknya luar biasa..”

Mama tampak bingung. Masalahnya mama nggak main game. Jadi agak mustahil menerangkan pada mama perbedaan antara LOC dengan pacman tahun 1970-an. 

“Memangnya harus main game? Bentuk sosialisasi itu nggak cuma main game seharian!” kata mama.

“Yah, terus mau ngapain?” tanya mas Pandu balik.

“Apa kek, kenapa kalian nggak main bulu tangkis aja” mamaku mengacungkan peralatan bulu tangkis butut pada mas. Netnya kusut dan aku bisa melihat bahwa bola koknya sudah digerogoti binatang.

Aku ingin tertawa melihat ekspresi mas Pandu.

“Mam..” dia tampak hampir tak bisa bicara karena ngeri. “Mama ketemu ini dimana sih?”

“Atau monopoli!” tambah mama ceria, “itukan seru tuh.”

Mas Pandu bahkan tak menjawab. Dia terlihat sangat ketakutan oleh gagasan mama bermain monopoli sampai-sampai aku bahkan merasa kasihan sama mas.

“Atau petak umpet?”

Aku mendengus tertawa dan membekapkan tangan di mulut. Aku nggak tahan. 

“Nggak apa-apa, bu” kata suara yang kukenal. Itu Sigit, tapi aku tak bisa melihatnya dari celah. “Gue pulang aja, Pan.”

“Mam.. tolonglah. Sekali ini aja” pinta mas frustasi.

“Pokoknya nggak, mas. Mama nggak mau lihat kamu main game online lagi!” 

Aku meninggalkan mama dan mas Pandu menuju ruang nonton. Aku duduk disana dan menyalakan TV. Ruangan ini adalah tempat keramatku. Tak ada yang berani menghidupkan lampu di ruangan ini kalau aku sedang berada disini. 

“Kama?” Suara Sigit mengejutkanku, dan aku terlompat kaget. Aku benar-benar melompat sungguhan. Aku punya refleks yang cukup peka. Over-sensitif. 

“Kamu adiknya Pandu?” 

Aku mematung tak percaya. 

Dia diambang pintu. Remaja tinggi kurus berambut hitam dengan tulang pipi lebar. Dia tersenyum, seharusnya tak seorangpun teman mas Pandu yang boleh tersenyum padaku. 

“Kamu selalu pakai itu?” Sigit mengangguk ke kacamata hitamku. 

“Hmm..” gumamku gugup.

Dia tersenyum, “kok aku seneng ya ternyata kamu adiknya Pandu” katanya mendekat.

Bersambung…

Aku dan kacamata hitamku. Episode 1

Kubaca satu persatu pilihan minum yang tertulis diatas papan menu. Lama kuketukkan jemariku dimeja, “hmm..” gumamku gugup.

“Hmm..” balas kasir, “jadi?” katanya.

Aku pura-pura memperbaiki kacamata, “Coffee latte? Bukan, bukan! Jasmine tea aja” ralatku pelan.

“Oke, jasmine tea satu ya. Panas atau dingin?” tanyanya ramah.

“Hmm..panas aja. Eh, jangan! Dingin aja? Atau coffee latte?” tanyaku ragu.

Sang kasir tampak kesal, dia mengusap wajahnya, “mba mau kopi atau teh?” tanyanya sewot. 

Kutundukkan pandanganku, “teh aja kalo gitu..” kataku ragu.

“Oke! Teh panas satu, atas nama siapa?” potongnya langsung. 

“Hmm.. Kama” jawabku hampir berbisik.

“Siapa??” tanyanya ulang.

“Kama..” jawabku kikuk.

“Oke, terserah. Empat puluh delapan ribu, cash atau card?” ucapnya ketus.

“Hmm..” gumamku sambil mengeluarkan dompet. Aku menarik selembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya dengan tangan yang gemetaran.

Ia mengambil cepat dan mengembalikan sisanya, “nanti dipanggil” katanya, “next!”. 

“Oh!” 

Aku membalikkan badan lalu pura-pura menggaruk leherku sambil mencari-cari tempat duduk kosong. 

Aku berjalan pelan menuju kursi kosong dipojok sambil terus berdoa semoga saja kakiku tak tersandung. Dadaku hampir meledak saking gugupnya. Ini pertama kali aku memberanikan diri untuk keluar rumah setelah beberapa tahun. Sebenarnya agak menyesal karena mengiyakan saran dari psikologku untuk pergi ketempat ramai sebagai bagian dari terapi. 

“Kama!!” teriak salah seorang sambil memukul pundakku.

Aku menoleh dan tenggorokanku terasa kering saking ngerinya. 

“Hmm.. Nindy?” ucapku tak percaya.

“Tuh kan bener, apa kata gue! Beneran dia,” ucapnya sambil menunjukku didepan teman-temannya. 

Nindy membungkuk dan mendekatkan wajahnya, “sekarang udah berani keluar rumah? Kapan-kapan gue main kerumah lo ya, kayak waktu dulu” bisiknya sinis. 

Aku pura-pura membetulkan kacamata lalu mengorek-ngorek isi tas, berusaha mengalihkan dari perhatian Nindy. 

“Pake kacamata didalam ruangan emangnya nggak gelap?” tanyanya sambil tertawa, “gue pinjem dong!” lalu menariknya cepat.

“Jangan!” cegatku namun telat, Nindy terlanjur mengambil dan melemparnya ke lantai, “ups! Maaf..” lalu pergi sambil tertawa bersama teman-temannya.

Nafasku menjadi sesak karena panik. Aku memejamkan mata, ketakutan. 

Somebody..please help!

Seseorang meraih tanganku lalu memberikan kacamata hitamku. Buru-buru aku memakainya dan membuka mata. Kudapati secangkir teh hangat dan sang kasir berdiri didepanku.

Kutundukkan pandanganku cepat. 

“Kama..” panggilnya lalu duduk didepanku. 

Kulirik perlahan kearahnya. Dia duduk disana dan menatapku.

“Are you okay?” ucapnya khawatir.

Bersambung…
 

I’ve seen your drama – final episode

Aku tak berhenti tersenyum sambil terus memandangi diriku didepan cermin elevator. Kali ini aku pastikan aku memakai gaun selutut berwarna hijau kesukaanku. Aku menoleh sekali lagi dan kupandangi diriku sebelum pintu elevator terbuka, “wanjonhan! (Sempurna!)” kataku lalu melangkah keluar.

Kang melambaikan tangannya. Aku berlari begitu melihatnya di lobi.

“Yaa, domang gajima! (Hei, jangan lari!)” teriaknya. 

Aku langsung memeluknya, “neomu giroyo? (Lama yah?)” tanyaku lalu tersenyum.

Kang menggeleng, “ani..(nggak kok..)” jawabnya lalu menggandeng tanganku, “gaja! (Ayo!)” ajaknya.

Hari ini kami memutuskan untuk berkencan seharian. Tadinya kami ingin pergi nonton dan nongkrong di mall. Tapi sudah sejak lama aku menginginkan piknik, rasanya lebih menyenangkan ngobrol diluar ketimbang suara berisik hingar bingar musik mall. 

Saking semangatnya, aku sengaja bangun pagi sekali untuk menyiapkan makanannya. Kang membentangkan kain diatas rerumputan hijau menghadap danau, sedangkan aku sibuk mengeluarkan bekal.

“What do you make for our meal?” tanyanya penasaran.

“Sandwich!!” kataku senang sambil menunjukkan roti isi kebanggaanku.

“Iljjig ilonaseo sendeuwichi man mandeulmyeon dwae? (Kamu bangun pagi-pagi cuma buat bikin sandwich?)” katanya tersenyum. Lalu senyumnya berubah menjadi tawa dan semakin lama dia tertawa semakin terlihat sangat menyebalkan. 

“Neoga gugeoseul wonhaji anheumyon, gugeoseul mogji mala! (Kalau kamu nggak mau, ya nggak usah makan!)” kataku kesal lalu menggigit sandwich-ku.

Cepat-cepat tangannya meraih sandwich dari tanganku, “joha! (Suka!)” katanya lalu menggigitnya.

“Nae geoya! (Itu punyaku!)” kataku.

Kang mengedipkan matanya dan membuatku menyerah, “masissni? (Enak nggak?)” tanyaku.

“Masshita! (Enak!)” jawabnya. 

“Kang hyo jae-ssi..” panggilku.

“Mm. (Iya)” jawabnya sambil mengunyah sandwich.

“Wae nareul johahani? (Kenapa kamu bisa suka sama aku?)” tanyaku.

Kang menoleh lalu menatap mataku, “chonnun (pandangan pertama)” jawabnya,  “Dangsineun misoga jeongmal areumdaweoyo, nol yoljunghanda (kamu memiliki senyum yang paling manis, sejak saat itu aku tergila-gila padamu)” sambungnya.

“Jeongmal? (Beneran?)” tanyaku tak percaya.

Kang mengangguk, “nareul wihae useojwoyo (coba berikan senyuman itu sekarang)” pintanya.

Aku tersenyum, “ireohke? (kayak gini?)” tanyaku memastikan.

“Whoaa! nega gyesog usneundamyeon naneun michyeo galsuitta. (Whoaa! Aku bisa gila kalau kamu senyum terus sepanjang hari)” ucapnya senang.

Aku ikut tertawa senang, “joldae nal tteonajimayo.. (jangan pernah tinggalkan aku..) ucapku.

Kang meraih tanganku, “yagsog halkke (aku janji)” balasnya, “noneun ottae? (Kalau kamu gimana?)” sambungnya.

“Mwo? (Apanya?)” tanyaku bingung.

“Wae nareul johahani? (Kenapa suka sama aku?)” tanyanya.

Aku menggigit bibirku, “hm..gyolko pogihaji mala. (Kamu nggak menyerah)” kataku. Kubalas tatapannya lama dan dalam, “amudo jeone jongmallo ssawosseubnida. (Belum pernah ada yang benar-benar memperjuangkanku sebelumnya)” sambungku.

Kuusap pipinya lembut, “It feels good to have someone who really cares about me.” kataku.

Kamu akan menjadi alasan kenapa aku akan terus tersenyum, menemaniku ketika satu persatu dari mereka mulai meninggalkanku, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kujatuhkan. 

Kang tersenyum, “saranghaeyo.. (aku mencintaimu..)” bisiknya.

“Nado saranghae.. (Aku juga mencintaimu..)” balasku.

                                       *

Satu minggu kemudian…

Kang menggandeng tanganku erat, kami berjalan pasti memasuki gedung resepsi pernikahan Bagas dan Rania. Kang meyakinkanku untuk tetap datang walaupun awalnya aku menolak, “gwenchanheulkoya, yagsog hae. (Semuanya akan baik-baik saja, aku janji)” katanya waktu itu.

Aku menarik nafas panjang saat kulihat mereka berdua berdiri diatas panggung. Hari ini benar-benar datang, pernikahan yang kupikir takkan pernah terjadi, namun hari ini keberadaan mereka disana adalah kenyataan yang harus kuterima. 

Aku mulai menyapa keluarga besar dan memperkenalkan Kang kepada mereka. Sebagian dari mereka sangat menyukai Kang namun beberapa dari keluarga ibu mempersoalkan tentang kewarganegaraannya, “kamu bakalan tetap di Indonesia kan, Adine? Kan sekarang kamu yang pegang rumahsakit” ucap salah satu pamanku. 

Kulirik Kang sekilas, kupaksakan senyumku.

“Mwoga munje ya? (Ada apa? Kenapa?)” tanya Kang bingung. 

Aku menggeleng, “amugosdo (nggak ada apa-apa)” bisikku kikuk, “hwajangsile gal pilyogaisso. (Aku mau ke toilet sebentar)” sambungku lalu berjalan buru-buru melewati kerumunan. 

Aku berdiri menghadap cermin. Kukeluarkan lipstik dari dalam tas pesta dan memoleskan sedikit dibibirku. Kupejamkan mata dan mulai memikirkan perkataan paman barusan. Apa yang harus kulakukan, aku tak mungkin meninggalkan rumahsakit tapi aku juga tak ingin jauh darinya. 

Aku mengambil ponsel dari tas dan menekan nomor Bisma.

“Hei..” sapanya langsung.

“Hai. Ada yang perlu aku bicarakan. Bisa ketemu besok pagi?” balasku.

“Ada apa, Adine?” tanyanya penasaran.

Aku menggeleng, “nggak bisa lewat telfon. Besok pagi jam 9? Dikantor? Oke?” ucapku cepat.

“Hm, oke..” jawabnya.

Aku langsung mematikan telfon lalu melirik sebentar ke cermin dan tersenyum. Tepatnya sebelum pintu keluar aku melihat Kang sedang berbicara dengan Bagas. Kulangkahkan kakiku pelan-pelan mendekati mereka lalu bersembunyi dibelakang tembok dibelakang mereka lalu mulai menguping pembicaraan mereka.

“I know who you are. Does love for celebrities like you exist?” tanya Bagas sinis.

Kang melangkah mendekati Bagas, “What if I told you that what we had was real” balasnya. 

“You’re wasting her time” kata Bagas kembali.

Kang membetulkan dasinya lalu tersenyum sinis, “What if i told you that i will keep her for long time and never let her go, not even for a second!” balas Kang kali ini terdengar sangat kesal.

“I bet..” ucap Bagas sinis.

“Yeah, you can bet with your fools thought. If i were you, i will not be able standing infront of her and see her face because you know why? I must be an idiot for leaving her for someone who is not even half of her. You should be ashamed!” ucap Kang kesal. 

“What did you just said?!” balas Bagas lalu menarik kerah Kang.

Kang menepis tangan Bagas cepat, “sorry bro.. you can’t touch celebrities carelessly. You must know which level your class is!” ucap Kang lalu merapikan jasnya dan berjalan meninggalkan Bagas.

Aku tersenyum senang dan berlari mengikuti Kang dari belakang. Kulirik Bagas sekilas dan tersenyum sinis. Kuraih tangan Kang, “neo jongmal johasso (kamu keren banget tadi)” ucapku senang.

Kang tersenyum dan merangkulku, “guneun naega nugunji araya hae! (Dia harus tau siapa aku sebenarnya!)” jawab Kang percaya diri.

“Neo nugu ni? (Memangnya kamu siapa?)” tanyaku usil.

Kang menatapku, “namja chingu, dangsinui namja chingu! (Pacar, pacarmu yang sangat keren!)” balasnya.

Aku mengangguk setuju. Aku berjalan menuju pintu keluar dengan perasaan bebas. Rasanya seperti menjalani kehidupan yang baru, kuputuskan untuk meninggalkan semua yang ada dibelakangku dan melangkah berani bersamanya. 

“Neo naeil narang gat-iga, keurohji? (Kamu besok ikut denganku, kan?)” tanya Kang didalam mobil, “uriga hangugulo dolagal ttaeya. (Sudah waktunya kita pulang ke Korea)” sambungnya.

Kembali ke korea..?

Kang menatapku heran, “majjyo? (Iya kan?)” tanyanya kembali memastikan.

Aku paksakan senyum dan mengangguk ragu, “mm. (Iya)” jawabku pelan.

“Wae geurae? (Ada apa?)” tanya Kang curiga.

Aku menggeleng dan tetap kupaksakan senyumku.

                                        *

Kulangkahkan kakiku cepat-cepat menuju kantor Bisma. Kuketuk pintu ruangannya tiga kali lalu mendengar suara Bisma mempersilahkanku masuk.

“Bisma, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku!” kataku langsung.

Awalnya Bisma tampak bingung namun setelah kujelaskan panjang lebar akhirnya dia mengerti. 

“Kamu yakin, Adine?” tanya Bisma memastikan sekali lagi.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk, “aku yakin!” kataku yakin.

“Baik kalau memang maunya seperti itu, aku akan mengurus semuanya” balasnya.

Aku berdiri pamit, “thanks a lot!” kataku dan menjabat tangannya.

“Nggak masalah” jawabnya.

Aku pikir Tuhan membiarkan semuanya terjadi dengan satu alasan. Semua itu adalah sebuah proses belajar dan aku harus melewati setiap tingkatannya. Aku yakin yang kulakukan adalah yang terbaik untuk semuanya.

Aku menghampiri Kang dan menyambut tangannya yang siap menggandengku. Kami sama-sama memasuki ruang tunggu bandara, kali ini bukan sebagai orang asing namun sebagai sepasang kekasih. 

Aku mengerti semuanya sekarang, kekuatan tidak datang dari kemenangan. Kekuatan datang dari seberapa besar usaha kita untuk melewati kesulitan dan memutuskan untuk tidak menyerah, itulah kekuatan yang sebenarnya. 

Aku bertemu dengannya di bandara waktu itu bukan suatu kebetulan melainkan sebagai titik awal hidupku yang baru. Kang mengajarkanku bahwa masa depan yang bahagia dimulai dengan satu langkah kedepan bukan dengan menoleh kebelakang.

Aku menghentikan langkahku dan menatap layar kaca didepan ruang tunggu, “jamkkan. (Tunggu sebentar)” kataku pada Kang.

“Wae geurae? (Ada apa?)” tanyanya.

Aku tersenyum saat melihat Bisma menyatakan pada siaran langsung konferensi pers bahwa Adine Pramidita telah resmi melepas seluruh saham rumahsakit dan menjadikannya sebagai perusahaan publik. 

Aku tersenyum puas, “good job, Adine..” bisikku.

Aku tersenyum pada Kang, “dangsineun hangugeso uriui munjelul choli hal junbileulhago isseubnikka? (Kamu sudah siap menghadapi masalah kita di Korea nanti?)” tanyaku.

Kang mengangguk pasti, “hangsang hamkke halkeyo! (Kita akan selalu bersama, ya kan!)” ucapnya yakin, “let’s go!” sambungnya.

Let’s go!
The End.