Ternyata Itu Dia. Episode 7

Aku mencoba untuk membuka mata, aku bisa melihat tv yang menyala di depanku dan aku tahu aku sedang berada di rumah sakit namun aku tak melihat seorangpun disampingku. Kutelan ludah dan seketika rasa nyeri ditenggorokan menyerangku lalu kurasakan lelahnya tubuh sampai-sampai rasanya aku tak sanggup menggerakkan jariku.

Aku berusaha memanggil siapapun yang ada di sana namun aku tak bisa membuka mulutku. Kucoba kembali menggerakkan tangan kiri perlahan meraih kabel bantuan yang ada di sisi kanan. Seketika kulihat Bimo mendorong pintu dan melihatku.

Aku menoleh, “Bimo!” pekikku dalam hati. Masih tak mengerti kenapa aku tak bisa membuka mulutku.

Bimo meraih tanganku, “Al..”

Aku memeluknya dan kupejamkan mata, menangis.

“Jangan nangis,” bisiknya khawatir lalu balas memelukku, “plis.”

Bimo membantuku menaikkan sedikit sandaran dan aku bisa melihat gips pada kaki kiri, topangan siku kanan dan aku merasa sangat kesakitan pada bagian leher dan dada.

“Selamat pagi,” sapa seorang dokter bersama seorang suster yang langsung tersenyum melihatku.

“Pasien baru sadar dok. Alena ShaLenore, mengalami robek pada pelipis kanan, dislokasi siku kanan, dislokasi rahang bawah, pembengkakan lutut dan patah tulang kiri, memar leher disertai bengkak dan patah tulang rusuk kanan yang mengakibatkan collapsed lung,” jelas suster.

Dia mendekat lalu mengangkat jari telunjuknya tepat di depan mataku, “ikuti jari saya.”

“Apa maksudnya collapsed lung?” tanya Bimo bingung.

“Terjadi penimbunan udara pada rongga pleura, dinding tipis di antara paru-paru dan rongga dada. Jadi tekanan dari udara yang menumpuk memicu pengempisan paru-paru hingga kolaps.”

Dokter menatapku sebentar, “itu sebabnya kita terpaksa melubangi rongga dada pasien lalu memasukkan selang agar tekanan berkurang dan bentuk paru-paru kembali seperti semula.”

Aku menatap tak percaya, pantas saja sakitnya terasa di sekujur tubuhku sampai-sampai jariku saja tak sanggup kugerakkan .

Aku menunjuk mulutku.

“Oh itu,” dokter menatap Bimo lalu kembali menoleh kearahku, “kami harus mengunci rahang anda minimal selama 6 minggu karena dislokasi yang sangat parah.”

Enam minggu?!

Aku tak bisa bicara selama enam minggu?!

“Alena!”

Biyas masuk tergopoh-gopoh dan langsung mendorong Bimo lalu meraih tanganku, “yang mana yang sakit? Kasih tau aku yang mana yang sakit, Al. Harusnya aku nggak biarin kamu nyetir sendirian.”

“Harusnya emang nggak,” kata Bimo ketus.

Aku menatap Bimo lalu menggeleng, “jangan mulai,” kataku dalam hati.

“Baik, apabila tidak ada lagi yang ditanyakan-”

“Sebentar, jadi kondisi pasien seperti apa dok?” tanya Biyas panik.

“Tadi sudah dijelaskan secara rinci pada keluarga-” dokter menunjuk Bimo.

“Dia bukan keluarganya. Saya yang keluarganya, saya calon suaminya, kami baru aja tunangan.”

Awalnya dokter menatapku lalu beralih ke Bimo setelahnya Biyas dan kembali menatapku. Dokter menaikkan alisnya seolah-olah mengerti bahwa ini situasi cinta segitiga.

“Baik, nanti bisa dijelaskan kembali oleh mas yang bukan keluarganya ini,” dokter menunjuk Bimo.

Aku ingin tersenyum tapi rasanya sakit sekali untuk menggerakkan bibirku.

“Trus kapan pasien bisa pulang?” Biyas mengusap rahangku.

Aku mengerang kesakitan.

“Kenapa sayang? Ada yang sakit?” tanya Biyas bingung.

Bimo menepis tangan Biyas dari pipiku, “tangan lo yang bikin sakit,” lalu mereka memulai sinyal perang.

Biyas mengernyit kesal.

“Setidaknya pasien harus dirawat intensif selama 6 minggu disini, saya akan mengobservasi kemajuannya setiap hari.”

“Enam minggu?”

Dokter mengangguk, “mudah-mudahan bisa lebih cepat.”

“Tapi kenapa pasien kayak kesulitan bicara, dok?” Biyas masih tetap ingin mengusap rahangku.

Kali ini aku menepisnya dengan cepat.

Dokter tersenyum padaku lalu mengangguk pada Bimo, pamit.

***

“Dokter nelfon minta izin operasi, terlalu lama kalo nunggu gue datang ke sini.”

Bimo mulai menjelaskan kronologisnya. Biyas masih duduk di sampingku, “tapi kenapa dokter bisa nelfon lo?” Biyas penasaran.

Oh, tidak!

Terakhir kali orang yang kutelfon adalah Bimo. Mungkin pihak rumah sakit langsung mengecek call history dan menelfon panggilan terakhir tanpa pikir panjang.

Aku menggeleng pada Bimo.

“Nggak tau,” Bimo mengendikkan bahu lalu menatapku malas.

“Yang penting kamunya cepat ditangani, aku panik waktu tau kamu kecelakaan.” Biyas mengelus-ngelus tanganku.

Aku tersenyum.

“Lo lagi dimana waktu itu?” Bimo menatap Biyas serius.

“Waktu kapan?”

“Waktu dia nyetir sendirian.”

“Gue.. gue lagi ada kerjaan,” jawab Biyas gugup.

Tatapan sinis Bimo membuatku bingung. Aku menoleh kearah Biyas, mengernyitkan dahi.

“Aku sudah jelasin kamu waktu itu kan? Kamu liat sendiri aku sedang ada di persidangan waktu itu, ya kan?”

Aku berusaha mengingat, memang hari itu aku menelfon Biyas dan memintanya untuk mengantarku kerumah ibu, tapi dia sedang sibuk. Aku sama sekali nggak ingat pernah melihatnya di ruang sidang.

Aku menggeleng.

Come on, Alena! Aku nggak mungkin macem-macem. Itu pikiran gila,” ucapnya kesal.

“Kata orang sifat itu susah dirubah.”

“Bim, tolong jangan mulai. Lo udah nggak ada urusan disini.”

“Kenapa? Karena gue bukan keluarganya?”

Bimo dan Biyas mulai bertengkar.

“Tepat. Lo bukan siapa-siapa disini dan kita berdua udah muak lo selalu ada diantara gue dan Alena.”

Aku berusaha menghentikan pertengkaran ini namun aku tak sanggup bicara ataupun melerai mereka.

“Kalian berdua atau cuma lo doang?”

“Kita berdua.”

Bimo mulai tertawa, “Alena juga berarti? Alena muak sama gue? Coba lo cek lagi sama orangnya, bro.”

“Aku paling nggak suka sifat dia yang kayak gini, Al. Dari dulu kamu tau kan dia nggak berubah, masih aja kayak anak kecil!”

Biyas menoleh kearahku dengan kesal dan mengingatkanku lagi masa-masa SMA saat mereka selalu bertengkar karena hal sepele.

Aku menatap Bimo dan memberikan isyarat untuk berhenti bertengkar.

“Kamu percaya sama aku kan?” tanya Biyas.

Aku mengangguk lalu tersenyum dan Biyas kembali memelukku.

Kutatap Bimo yang masih tampak kesal, “gue jemput ibu dulu.”

***

Biyas mendorong kursi roda dan membawaku jalan-jalan keluar kamar. Akhirnya aku bisa menghirup udara segar, rasanya sumpek kali di dalam sana.

Kami berhenti di depan taman dan Biyas duduk di bangku sebelahku. Dia meraih tanganku lalu mengecupnya, “aku bisa gila kalo nggak sama kamu, Al.”

Aku tersenyum.

“Ibu kamu masih inget nggak sama aku?”

Aku mengangguk.

“Terakhir kali ketemu ibu kamu udah lama banget.”

Aku melihat Bimo datang bersama ibu. Wajah ibu tampak tua dan khawatir. Biyas berdiri lalu mencium tangan ibu, “apa kabar bu? Saya Biyas.”

Ibu tersenyum, “Biyas, ibu masih ingat.”

Ibu meraih tanganku, mata ibu berkaca-kaca, “ibu khawatir sekali, Alena.”

Aku tersenyum lalu mencium tangan ibu.

“Bimo tadi malam telfon ibu, katanya kakak kecelakaan. Tapi ibu bersyukur untung ada Bimo yang ngurus-ngurus semuanya.” ucap ibu lalu menatap Bimo.

“Kita kan udah seperti keluarga, bu.”

Bimo melirik Biyas senang, dia merasa menang.

Aku mengisyaratkan Bimo dan Biyas untuk meninggalkanku dan ibu berdua. Biyas mengecup tanganku lalu pamit, “aku tunggu di dalam.”

Ibu tersenyum melihat Biyas mengecup tanganku, “dia ganteng ya, kak.”

Aku menoleh, tersenyum.

“Kakak sudah yakin dengan pilihan kakak?”

Aku menatap ibu merasa bingung harus bereaksi apa.

“Bimo?” tanya ibu pelan, “ibu berharap dia baik-baik aja.”

Angin lembut menyentuh pipiku, terasa dingin. Ibu tersenyum lalu membelai rambutku, “kalau kita memiliki cinta, kita tak akan memerlukan apapun. Tapi kalau kita tidak memilikinya, apapun yang kita punyai tak terasa berharga.”

Airmataku mulai menggenang.

“Hiduplah dengan orang yang mengenalmu, Alena. Bukan dengan orang yang gila karenamu.”

Aku menatap ibu lama, entah kenapa airmataku jatuh tak tertahankan. Seolah-olah ibu bisa membaca isi hatiku.

Seharusnya kita tak pernah menunda untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan. Karena penyesalan datang tak pernah mengetuk pintumu atau mengabarimu dari jauh-jauh hari. Seharusnya kita tahu betapa pentingnya meluangkan waktu untuk mengatakan kepada orang terdekat kita bahwa kita mencintai mereka selagi mereka masih bisa mendengarkan.

Karena kita tak pernah tahu terakhir kali akan menjadi yang terakhir kalinya. Kita mengira akan ada lebih banyak waktu lagi, kita pikir kita memiliki waktu selamanya, tapi kenyataan tidak.

Ibu mengusap airmataku, “oh, Alena..”

Bersambung…

Advertisements

Ternyata Itu Dia. Episode 6

Tahukah kalian, memulai hubungan dengan suatu ketidakjujuran justru akan membawa kita semakin dekat dengan perpisahan. Mengatakan kejujuran yang akan membuat seseorang menangis jauh lebih baik dari pada satu kebohongan yang membuatnya tersenyum.

“YES!”

Aku bisa melihat mata Biyas berbinar saat kukatakan ‘ya’.

“Kamu nggak tau aku hampir gila nunggu jawaban dari kamu.”

Biyas memelukku erat. Saking eratnya sampai-sampai aku merasa sesak.

“Thank you,” Biyas menggenggam tanganku dan menatapku lama.

Kupaksakan senyum, “nggak perlu ucapan terimakasih.”

“Perlu! Dan kamu tau ini penting buat aku.”

Biyas tersenyum dan aku masih tetap mengagumi senyumannya, “aku janji, aku nggak akan tinggalin kamu demi apapun atau siapapun.”

Biyas lurus menatapku, “aku janji,” lalu kembali memelukku. Kupejamkan mata namun bayangan Bimo memenuhi seluruh pikiranku.

Saat kita mengatakan satu kebohongan, maka yang kita dapatkan hanyalah cerita kosong yang sempurna. Tak peduli sekecil apa kebohongan itu, kebohongan tetaplah kebohongan.

***

Aku sedang sibuk mempersiapkan acara pembukaan restoran yang sebentar lagi dimulai saat Biyas membuka pintu depan dan langsung tersenyum padaku, sedikit perasaan hangat menjalar di dalam tubuh. Walau bagaimanapun dia tetap pria yang aku kagumi.

“Sibuk?”

Biyas mendekatiku.

“Tinggal beberapa aja sih,” aku mengambil es krim dari freezer lalu menyerahkannya pada Biyas.

“Makan es krim bareng yuk,” ajakku.

“Oh, tunggu.”

Biyas berlari keluar dan membuka pintu mobilnya, aku menunggunya sambil duduk di teras depan saat Biyas menggandeng anak perempuan cantik yang tersenyum padaku.

Aku menatapnya bingung, “ini siapa?” tanyaku penasaran pada Biyas.

“Al kenalkan, ini putriku. Namanya Nada,” ucapnya senang.

Aku terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya Nada meraih tanganku dan menciumnya. Aku tersentak, “oh, hai Nada. Nama aku Alena.”

Saat Nada tersenyum, aku tahu dari mana dia mendapatkan senyuman itu. Dan aku langsung jatuh cinta padanya, “kamu cantik sekali,” kataku tersenyum.

Nada menggeleng, “tante yang cantik, ayah selalu bilang gitu.”

Aku menoleh pada Biyas, “kalian berdua sama-sama cantik,” ucapnya.

“Nada suka es krim nggak? Kita makan bareng-bareng yuk.”

Nada menengadah, “boleh ayah?” tanyanya polos.

“Boleh dong.”

Lalu aku menggiring Nada ke tempat duduk dan melahap es krim bersama. Hari itu matahari sangat terik, udara panas terasa membakar kulit untungnya kami memiliki hati yang sejuk entah karena es krim atau karena Nada yang tersenyum sepanjang waktu.

Aku menatap Biyas dan kukatakan di dalam hati berulang kali bahwa aku baik-baik saja. Bahwa ini adalah yang kuinginkan, bahwa semua yang ada disini adalah sempurna.

“Jam berapa mulai acaranya?”

“Sebentar lagi, udah pada dateng kok.”

“Oke, makan es krim nya udahan dulu. Kita bantuin tante Alena ya.”

Nada mengangguk, “asyik, aku suka bantu-bantu,” ucapnya riang.

Aku menggandeng tangannya lalu membuka pintu restoran, “nah Nada duduk disini,” kataku lalu menyerahkan balon, “Nada bantu tiupin balon yah, mau?”

“Mau.”

Aku meninggalkannya dengan Biyas dan kembali ke teras. Kali ini aku berdiri di depan restoran dan memperhatikan papan nama yang bertuliskan namaku disana. Aku tersenyum senang.

“Hei.”

Aku berbalik dan mendapati Bimo, “hei,” kataku canggung.

“Nama restorannya bagus.”

Thanks.”

Kami bertatapan cukup lama dalam diam.

“Makasih udah mau dateng,” kataku akhirnya.

“Kalo gue nggak dateng, siapa yang mau fotoin acaranya.”

“Iya sih,” kataku menggigit bibir.

Hening.

“Al, masalah kemaren-”

“Gue yang salah,” sergahku.

“Tentang pertanyaan lo kemaren,” Bimo menatapku serius, “lo berhak tau kalau gue-”

Sebelum sempat Bimo menyelesaikan kalimatnya, Nada berlari kearahku, “tante balonnya udah habis,” ucapnya.

Aku menatap Bimo panik. Entah kenapa aku tak ingin Bimo tahu kalau Nada adalah putri Biyas. Bimo mengangkat alisnya lalu mencoba merendahkan tubuhnya sehingga sejajar dengan Nada, “hai cantik.. nama kamu siapa?” tanya Bimo ramah.

“Nada.”

“Namanya bagus banget, cantik kayaknya orangnya.”

Nada menggeleng, “kata ayah tante Alena yang paling cantik.”

“Ayah?”

“Pada ngumpul disini semua ternyata,” Biyas keluar dan mendekati kami, “ayah cariin kemana-mana dari tadi.”

Bimo menatapku bingung dan aku tak sanggup untuk membuka mata.

“Al masuk yuk, udah mau dimulai acaranya,” ajak Biyas tanpa memperdulikan Bimo.

“Bim masuk yuk,” kataku canggung.

Aku menatapnya lemah, Bimo mengendikkan bahu, “duluan.”

Didalam orang-orang sudah menunggu agar acaranya dimulai. Mereka meminta untukku memberikan sambutan namun Biyas berjalan ke depan lalu menggandeng tanganku.

Semua teman-temanku menatap curiga, aku belum sempat bercerita apapun tentang hubunganku dengan Biyas. Mereka tampak berbisik-bisik.

“Sebelum semuanya dimulai aku dan Alena ingin mengumumkan sesuatu.”

Oh Tidak!

Jangan disini, plis.

Wajahku berubah menjadi panik saat kulihat Bimo masuk lalu ikut memperhatikanku.

“Semalam aku melamar Alena dan alhamdulillah she said yes. Kami akan menikah!” Biyas menggenggam erat tanganku lalu mengangkatnya seperti seseorang yang baru saja memenangkan perlombaan.

Spontan semua orang terkejut lalu diikuti tepuk tangan yang semakin lama semakin riuh, mereka memelukku dan berteriak, “congrats!”

Diantara pelukan demi pelukan kuperhatikan Bimo yang berdiri di sudut ruangan sedang menatapku. Matanya berkaca-kaca dan kupaksakan tersenyum walaupun akhirnya airmata tumpah ke pipiku. Harusnya aku bahagia tapi entah kenapa aku merasa sangat sedih.

“Tangis bahagia!” ucap salah satu temanku dan mereka kembali bersorak senang.

***

Aku menelurusi jalan lurus yang membosankan. Sudah 3 jam aku menyetir sendirian menuju rumah ibu. Aku memutuskan untuk mengunjungi ibu di kampung. Beliau tinggal sendirian di rumah peninggalan ayah, ia bersikeras tinggal disana hanya ditemani salah satu sepupuku.

Aku berada tak jauh dari rumah ibu saat beliau menelfonku, “sudah sampai mana, nak?” tanyanya lembut.

“Sebentar lagi, bu.”

“Hati-hati, Alena.”

“Iya, bu.”

Kuletakkan kembali ponsel diatas dasbor namun kulirik kembali. Aku menggigit kuku jemariku dan bertanya-tanya apakah aku harus memberitahu Bimo bahwa aku menemui ibu, mengingat mereka sangat dekat. Lagian aku yakin ibu pasti sangat merindukannya.

Ya, ibu.

Aku menelfonnya karena ibu, bukan karena alasan lain.

Aku menggigit bibirku sambil mendengarkan nada masuk. Tak butuh waktu lama untuk Bimo mengangkat telfonku, “halo-”

Klik.

Kutekan tombol merah cepat. Jantungku berdegup kencang dan rasa panas mulai menjalari pipiku.

Bodoh!

“Ngapain sih gueee?!”

Ponselku kembali berdering dan tentu saja Bimo balik menelfonku. Panik menyerbu dengan cepat sampai-sampai aku harus memakirkan mobil di pinggir jalan.

Aku menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, “halo?” sapaku.

“Hei,” jawabnya lirih.

“Ng..”

“Ada apa?”

“Nggak, gue cuma mau bilang lagi dijalan mau kerumah ibu.”

“Ibu?”

“Iya, gue ke rumah ibu.”

“Nyetir sendirian?”

“Iya, lagi sendirian kok,” jawabku agak semangat dan berlebihan.

“Oh, oke.”

“Bim masalah yang kemaren-”

“Nggak usah dibahas lagi, sudahlah.”

“Tapi gue masih ingin mendengar jawabannya, Bim.”

Lama Bimo tak menjawab hanya terdengar deru nafasnya yang berat lalu akhirnya dia mengatakan, “hati-hati, Al.”

Klik.

Aku masih memegang ponselku di telinga agak lama sebelum akhirnya aku sadar kalau Bimo telah menutup telfonnya beberapa detik yang lalu.

Kuletakkan ponsel kembali diatas dasbor dengan perasaan lemah lalu menginjak gas dan memutar stir mobilku kembali ke jalan.

Butuh beberapa detik sampai akhirnya aku sadar suara klakson memekakkan telingaku. Sudah terlambat saat aku menyadari bahwa truk bermuatan pasir menghantam keras tepat di pintu pengemudi.

Rasanya seperti bergerak lambat saat kurasakan tubuhku melayang akibat hantaman yang keras. Aku merasa sakit yang teramat sangat ketika kepalaku terbentur kaca jendela dan rasanya ingin muntah karena mobil ini tak berhenti berguling.

Aku berusaha membuka mata, walaupun sangat sulit karena kesakitan namun aku berusahan meraih ponsel yang tergeletak tepat di sebelahku.

Kutekan tombol redial dan pengeras suara.

“Kenapa lagi, Al?”

“Bim..” rintihku.

“Al?”

Sayup-sayup aku mendengar orang yang berteriak dari luar untuk mencari pertolongan. Sebelum akhirnya aku menutup mata karena tak kuat menahan sakit yang teramat sangat. Terakhir yang kuingat adalah suara Bimo yang berteriak memanggilku di ponsel.

“ALENAA!!”

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 5

Saat kata-kata terasa sulit untuk diungkapkan, diam adalah jawaban yang terbaik. Namun kita juga harus tahu bahwa tak satupun yang bisa menebak jawabannya, apakah ‘iya’ atau ‘tidak’. Kata-kata itu akan selalu terjebak didalam dirimu, selamanya.

“Kok kamu diam aja? Kepikiran Bimo ya?” Biyas menoleh sebentar lalu tersenyum. Dia duduk di bangku supir, matanya lurus memandang ke depan.

“Bimo bilang tadi dia ada urusan jadi dia pulang duluan.”

“Iya, tapi tetap aja dia ninggalin kamu.”

“Karena ada urusan.”

“Dia tinggalin kamu karena suatu urusan, menurutku sama sekali nggak keren.”

“Kalian berdua kenapa sih?”

Biyas menepikan mobilnya, “aku juga bingung kenapa Bimo selalu sensi kalo ketemu aku.”

“Tapi Bimo bukan orang yang gampang kesal, dia terlalu cuek untuk marah.”

“Nah kamu liat sendiri kan sikapnya gimana, kamu bisa nilai sendiri.”

“Aku kenal Bimo udah lama, aku tau dia.”

“Mungkin dia cemburu kalo kita deket lagi.”

Cemburu?

“Al, dengerin aku,” Biyas tampak panik.

“Bimo cemburu?” kataku masih belum percaya.

“Mungkin aja.”

Dahiku mengernyit dan mendadak memikirkannya. Jadi Bimo benar-benar suka padaku?

“Dengerin aku, Al.”

Biyas menarik tanganku dan membuyarkan lamunan. Aku menoleh, “aku harus-”

“AKU SERIUS SAMA KAMU,” sergah Biyas sebelum sempat aku selesaikan kalimatku.

Hening.

Lidahku kelu tak mampu membalas ucapannya, aku pasrah saat Biyas mengecup keningku.

“Aku mau kita menjalin hubungan secara resmi. Aku benar-benar serius,” tambahnya.

Aku sudah cukup lama menunggu dan menghayal kalau suatu saat Biyas akan mengatakan hal ini padaku dan aku melatih senyumku berjuta-juta kali di depan cermin. Tapi nyatanya, malam ini sulit bagiku untuk tersenyum saat mendengarnya langsung.

“Aku-” kataku hampir berbisik.

“Alena, kamu mau kan?”

Ya. Aku mau!

Kenapa aku tak mampu menjawabnya? Bukankah ini yang aku tunggu-tunggu? Kenapa aku malah memikirkan Bimo? Alena, say something!

“Aku butuh waktu,” kataku akhirnya.

Biyas mengusap wajahnya, “waktu?” sekelebat kekhawatiran menghantuinya.

Aku mengangguk pelan, “cuma mau memastikan sesuatu.”

“Oke, tapi jangan lama-lama ya,” sambungnya dan tersenyum.

Aku butuh memastikan perasaan itu. Aku perlu memastikan apakah Bimo benar memiliki perasaan suka terhadapku. Entah kenapa aku ingin mendengarnya sendiri, aku ingin penyataan itu keluar dari mulutnya sendiri.

***

Lama kupandangi nama Bimo di layar ponsel lalu kuletakkan kembali di atas nakas.

Kurebahkan tubuh di kasur dan memejamkan mata. Bayangan Bimo saat dia tersenyum berseliweran menghantuiku. Aku memutuskan untuk meraih kembali ponsel dan menekan nomornya, “Hei…” aku menggigit bibirku.

“Al, belum tidur?”

“Ada yang mau gue tanyain.”

“Ada apa?”

“Nggak bisa ditelfon, besok lo ada waktu nggak?”

“Serius banget emangnya?”

“Iya.”

“Hm, besok ada pemotretan sih, kalau emang penting banget dateng aja ke studio.”

“Oke.”

“Al?”

“Ya.”

Hening.

“Tadi filmnya bagus?”

“Oh, bagus,” kupejamkan mata “urusan yang tadi udah beres?” tanyaku.

“Udah. Sori ya tadi nggak nemenin sampe beres.”

“Nggak masalah.”

Percakapan ini mulai terasa canggung. Kami hanya diam untuk beberapa saat. Hanya terdengar suara napas beratnya, “tidur gih,” kata Bimo akhirnya.

“Oke,” bisikku.

***

Lama aku berdiri di depan pintu studio milik Bimo. Papan logo bertuliskan Bergas Bimo Photography terpampang jelas di atas pintu masuknya.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Aku berdiri di belakang memperhatikan Bimo memotret. Terkadang Bimo membetulkan posisi rambut sang model sebentar lalu mundur dan kembali memotret.

Bimo menoleh, menyadari keberadaanku, “hei,” sapanya.

Aku mengangkat alis, “hei,” balasku tersenyum.

“Bentar ya.”

Bimo mengganti lensa kameranya lalu kembali memotret, “oke, ganti baju dulu,” ucapnya dan mengecek hasilnya di laptop.

Dia menarik kursi di sebelahku dan menyuruhku duduk lalu menarik kursi satu lagi untuknya, “mau nanya apaan sih? Kayaknya di telfon serius.”

“Oh. Hm, aku cuma mau memastikan sesuatu aja,” kataku canggung.

“Memastikan apa?”

Aku menatapnya lama. Tiba-tiba keraguan merasuki diriku, bertanya-tanya apakah aku harus menanyakan hal ini pada Bimo.

“Al?”

Aku tersentak, “ya?”

“Lo mau memastikan apa?” tanya Bimo sekali lagi.

“Biyas bilang sesuatu.”

“Biyas? Dia ngomong apa?”

“Dia bilang kalau-”

“Kenapa harus selalu tentang dia sih, Al?” potong Bimo kesal lalu berdiri menuju laptopnya.

Aku menyusulnya, “kenapa lo selalu marah sih kalo gue sebut-sebut Biyas.”

Bimo menoleh, “dia bilang apa?”

“Kenapa lo marah?”

“Dia bilang itu? Dia bilang ke lo buat tanyain kenapa gue selalu marah denger namanya?” Bimo menatapku heran.

“Bukan. Itu gue yang nanya.”

“Jadi dia bilang apa?”

“Jawab dulu pertanyaan gue.”

Kali ini Bimo tampak benar-benar kesal, “gue sibuk, Al.”

Bimo kembali memotret dan meninggalkanku di belakang. Aku memperhatikan Lisa yang bolak-balik membantunya, terkadang Lisa ikut mengintip hasilnya. Dia seperti anak kecil yang selalu mengikuti kemana orangtuanya pergi, tubuhnya yang kecil dan selalu tersenyum membuat Lisa tampak gesit sekaligus menjadi favorit diantara kru studio.

“Oke, ganti baju lagi.”

Kuperhatikan Lisa menggiring model ke dalam ruang ganti dan Bimo menatapku sebentar lalu mengecek hasilnya di laptop.

Aku mendekatinya perlahan.

“Dia bilang,” aku menggigit bibirku.

“Bilang apa, Al?”

“Bilang…”

Bimo menoleh lalu berdiri menghadapku, “just say it.”

“Dia bilang lo suka sama gue,” kataku akhirnya.

Lalu mendadak seisi ruangan senyap tak bersuara dan menoleh ke arahku.

Dahinya mengernyit, Bimo menatapku bingung, “apa?”

Kali ini aku benar-benar merasa bodoh. Aku memejamkan mata tak tahan karena malu.

Ya ampun, Alena.

Ya Tuhan.

“Say something,” bisikku.

“Modelnya udah siap,” sergah Lisa langsung mencengkram lengan Bimo dan aku tak sengaja memperhatikannya.

Dahiku mengernyit, “kalian-”

“Al, tunggu bentar. Jangan kemana-mana, bentar aja, oke?” potong Bimo.

Aku mengangguk masih bingung. Bimo kembali memotret dan aku merasa sangat canggung. Kuraih tas dan berjalan keluar.

“Al!” teriak Bimo.

Kulangkahkan kakiku cepat dan mendorong pintu studio.

“Alena, tunggu!”

Bimo mengejar lalu meraih tanganku namun cepat-cepat kutepis, “maaf.”

“Nggak perlu minta maaf.”

“Harusnya gue nggak tanya hal itu, harusnya gue udah tau.”

“Tau apa?”

Aku berjalan mondar mandir panik, “tau kalau nggak mungkin lo suka sama gue dan Lisa,” aku tercekat berusaha menarik napas.

“Ya Tuhan, kenapa gue nggak ngeh,” aku benar-benar malu.

“Kenapa Lisa?”

“Lo sama Lisa, kalian cocok kok,” aku mengangguk berusaha tersenyum.

“Lo ngomong apa sih?”

Aku hampir menangis karena malu.

“Al..”

“Nggak perlu dibahas lagi, gue minta maaf.”

“Al denger dulu.”

“Nggak, lo yang denger gue.”

“Al, gue tau mungkin ini memalukan buat lo, but it’s ok-”

Dadaku naik turun dan napasku memburu. Aku merasakan panas menjalar di pipi.

“Malu? Gue nggak malu.”

“Gue ngerti,”

“Apanya yang malu?!”

“Alena..”

“Mungkin ini bisa membuat lo tambah mengerti, tadi malem Biyas ngajak serius sama gue,” aku berusaha tersenyum, “AKHIRNYA!” teriakku.

Bimo menatapku tak percaya, lama dia terdiam sampai akhirnya dia sanggup membuka mulutnya, “Alena…” bisiknya.

“Gue nggak peduli lo mau marah atau terserah lo mau buat apa. Harusnya lo seneng karena sahabat lo menemukan cinta sejatinya.”

“Cinta sejati?”

“Iya. Dan cinta sejati gue lebih baik dibanding yang lo punya, Lisa!”

Kali ini Bimo benar-benar diam. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu menatapku lama.

“Mungkin lo memang nggak butuh jawaban,” katanya tenang.

Aku mengalihkan pandangan. Jantungku berdebar kencang, entah karena marah atau karena takut dengan apa yang akan dikatakan Bimo selanjutnya.

“Gue harap kalian berdua bahagia dan perlu diingat gue nggak ada apa-apa sama Lisa. Harusnya lo cek dulu faktanya sebelum bicara dan tolong berhentilah merendahkan orang.”

Rasa sesak di dada naik menjadi gumpalan bola yang tercekat dan terasa sakit saat Bimo meninggalkanku sendirian diluar.

Airmataku menggenang di pelupuk mata bercampur dengan rasa malu dan menyesal.

Aku percaya persahabatan tumbuh dari rasa ketertarikan. Bagiku persahabatan adalah buah dari kepercayaan. Jika kalian melukai kepercayaan itu, maka tidak ada yang tersisa dari hubungan itu, tak peduli seberapa dekat jarakmu dengannya.

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 4

Pelayan meletakkan segelas air putih dingin untukku dan satu cangkir kopi panas untuk Biyas.

“Thanks ya.” Biyas tersenyum.

Aku meliriknya dari balik gelas, “kamu emang nggak bisa liat yang bening dikit ya.”

Biyas tertawa, “itu namanya ramah.”

“Ramah yang terselubung.”

Dia masih tertawa namun tak membalas.

Kami memutuskan untuk nongkrong di kafe yang hanya berjarak beberapa ruko dari restoranku. Aku masih sangat kesal dengan Bimo dan Biyas membujukku untuk ngobrol santai dengannya.

Dan dia berhasil.

“Aku kesini mau cobain masakan kamu, malah minum kopi di pinggir jalan.”

“Restoran aku juga di pinggir jalan.”

“Bukan itu maksud aku.”

“Trus apa?”

“Nggak jadi, galak.”

Dia meneguk kopinya lalu menyenderkan tubuhnya ke belakang. Aku memperhatikan cara dia memainkan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja dan menatapku. Tersenyum.

“Kenapa kamu menghindar?” tanyanya.

“Aku belum siap.” Aku menggigit bibir. Ragu.

“Kamu perlu persiapan kayak gimana emangnya?”

“Biyas, aku tau kamu orang yang santai ketemu mantan yang sudah dua belas tahun nggak ketemu trus kayak nggak terjadi apa-apa, aku ngerti. Tapi buat aku, nggak segampang itu. Aku perlu waktu, perlu latihan.”

“Latihan? Kamu perlu latihan untuk ketemu sama aku?”

Aku mengendikkan bahu, “terakhir kali kita ketemu, kita putus masih inget?”

“Inget. So?”

“Ya, momen itu bikin trauma.”

Biyas kembali meneguk kopinya,

“Sama” Biyas menatapku serius.

“Nggak sama. Kamu move on dalam waktu kurang dari sebulan. Bukan kamu aja sih, rata-rata cowok emang begitu.”

“Nggak semua.”

“Semua.”

“Cowok punya cara yang berbeda saat menghadapi perpisahan. Mungkin kami keliatannya baik-baik aja, tapi faktanya nggak.”

“Faktanya kalian emang nggak kenapa-kenapa.”

“Cowok tuh sedih juga kali Al, cuma bedanya, kami nggak lapor di medsos kayak kalian.”

Aku mendadak salah tingkah. Kuteguk air agar tak terlalu kelihatan. Kupaksakan senyumku, “aku takut sih sebenernya.”

Biyas kembali tertawa. Aku selalu suka dengan caranya tertawa. Dan aku yakin semua wanita akan jatuh cinta saat melihatnya. Biyas adalah pria yang mudah dikagumi. Segala tentangnya adalah kelebihan. Dia selalu menjadi pusat perhatian, dia kesayangan para guru dengan kecerdasannya, dia idola bagi juniornya karena keramahannya, dia impian para cewek-cewek karena ketampanannya dan dia kesukaan para calon mertua karena kemapanannya.

Dan dia sekarang duduk di depanku dan dia baru saja menyatakan suka padaku bahkan tergila-gila.

“Aku nggak selera makan orang, tenang.”

“Syukurlah.” kataku tak bisa lagi menahan tawa.

“Aku selalu suka kalo liat kamu ketawa.”

“Sama” balasku.

Dia kembali menyenderkan tubuhnya ke belakang, “cantiik!” teriaknya.

“Apa?”

“Langitnya cantik.” jawabnya lalu menunjuk keatas.

Aku tersenyum sore itu. Rasa bahagia menjalar ke seluruh tubuh. Entah karena langitnya yang cantik atau karena Biyas yang ada di depanku.

Atau mungkin karena dua-duanya.

*

Aku mengeluarkan semua bahan di atas meja dapur, mencoba resep baru Jollof rice. Hidangan ini sangat populer di Afrika Barat seperti Nigeria, Togo, Ghana, dan Liberia. Hidangan nasi ini diracik dengan beras, tomat, pasta tomat, bawang bombay, garam, pala, jahe, cabai, sayuran, dan daging.

Cuma kali ini aku mencoba berimprovisasi, kutambahkan bubuk ketumbar dan tomat yang sengaja tak kucincang. Aku tahu resep ini pasti menuai kecaman netizen karena sangat berbeda dengan resep aslinya.

Kuracik satu persatu hingga akhirnya aku selesai menata dengan sentuhan terakhir suwiran ayam di atasnya. Beragam bumbu rempah yang cerah menjadikan hidangan Jollof Rice berwarna kemerahan.

Kuletakkan di atas meja lalu memotretnya dengan kamera ponsel standar dan mempostingnya di blog.

Nice.”

Satu komen muncul dinotifikasi blog. Aku memencet tombol reply, “makasih.”

Lalu menyusul komen yang lain mulai bermunculan satu persatu.

“Menu ini kemaren nggak ada.”

Nama Bimo muncul dilayar ponsel, “kalau mau komen di blog dong.” balasku.

“Sama aja kan?”

Aku tak membalas. Lama kupandangi layar ponsel dan kuletakkan kembali di atas meja.

Sorry” tambahnya.

Tetap tak kubalas.

“Al? Kemaren gue emang berengsek.”

“Banget.”

“Maafin nggak?”

Kugigit bibir, “kemaren supnya diapain?” tulisku akhirnya.

“Ya difoto aja.”

“Bagus hasilnya?”

“Entar liat sendiri, anywayjustice league udah keluar.”

Justice league maksudnya?”

“Nonton, yes no?”

Telfon Biyas masuk tepat saat aku membalas pesan Bimo. “Hei?”

“Al, kamu suka wonder woman kan?”

“Kenapa gitu?”

“Nonton justice league mau nggak?”

Hening.

“Al?”

“Hm. Nonton sekarang?”

“Aku udah di depan ticketing sih, mau nggak? Buru.”

“Beli tiga yah.”

*

Aku mengetuk-ngetukkan jari pada pegangan eskalator. Menarik napas dalam lalu melangkah masuk ke dalam studio XXI.

“Hei.” Bimo datang dari arah belakang dan langsung merangkulku santai.

“Eh.”

“Lo beli online tiketnya? Tadinya gue yang mau traktir.”

“Hm. Bukan sih..”

“Jadi siapa?”

Bimo mendadak berhenti dan melepaskan rangkulannya saat Biyas melambaikan tangan dari jauh lalu berjalan menghampiri.

“Bim, tadi tuh-”

“Lo ajak dia?” Bimo menyeringai sinis.

“Hai Al, jadi orang ketiganya nih Bimo?” pancing Biyas.

“Orang ketiga?” tanya Bimo mulai kesal.

Aku memejamkan mata, “pas lo ngajakin tadi di whatsapp pas banget Biyas juga ngajakin ditelfon.”

Wajah Bimo berubah menjadi merah. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Ini merupakan ciri khas Bimo bila sedang kesal.

“Lagian kita udah lama kan nggak ngumpul bertiga. Dulu waktu sekolah kemana-mana kita selalu bertiga kan?”

“Filmnya udah mulai, Al.”

Aku menoleh, “kamu masuk duluan aja yah, nanti aku sama Bimo nyusul.”

“Iya, lo masuk duluan ngapa.”

“Masuk sama-sama ajalah” tantang Biyas.

Aku menarik tangan Bimo, “Bim, plis.”

Bimo mendekati Biyas, “ini yang terakhir, karena Al” kata Bimo lalu mengambil tiket dari tangan Biyas.

“Oke.” balas Biyas mengangkat tangannya, “peace bro!”

Aku menatap mereka panik.

“Yuk, cepetan filmnya udah mulai.” kataku canggung.

Bimo menarik tanganku lalu menggenggamnya, “you stay beside me.”

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 3

Kami bertatapan cukup lama.

“Sori.” kata Bimo akhirnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu mengulum bibirnya.

“Gue-”

“Hai. Sori, sori gue telat ya?” Pintu terbuka dan Lisa menyapa dengan ceria.

Aku memaksa untuk tersenyum, “hai Lisa.”

“Kalian lagi ngobrol?”

“Nggak,” jawab Bimo cepat dan kembali menyiapkan peralatannya.

“Oke. Menunya udah siap Al?” Lisa berjalan menuju dapur, “yeah! Enak nih,” katanya dan mengambil sepiring Lobster Frittata.

Lisa meletakkannya di atas meja dan menatanya dengan indah lalu Bimo langsung memotretnya tanpa banyak bicara.

Aku mengintip dari balik dapur. Mataku tak henti menatap Bimo yang bolak balik memotret lalu melihat sekilas hasilnya di laptop.

Next.”

Lisa kembali ke dapur dan menyerahkan piring yang telah difoto. Aku menyerahkan menu kedua Pizza Jamur Truffle Putih lalu Lisa kembali menatanya di atas meja.

Ponselku berdering tepat saat Bimo mengecek hasil foto. Aku langsung tahu siapa yang menelfon saat Bimo menatap layar ponsel yang berada di sebelah laptopnya lalu melirikku kesal.

“Halo?”

“Hei. Sibuk banget?”

“Ng, nggak juga.”

“Telfon nggak pernah diangkat, sms nggak pernah dibales. Mau mampir aja mumpung lagi di sekitaran restoran kamu.”

Kulirik Bimo, “orang-orang sekarang pake whatsapp.”

I am an oldschool person.”

“Who cares?” kataku memutar bola mata kesal.

Biyas tertawa, “aku mampir ya.”

“Sekarang?”

Next!”

Lisa terperanjat saat Bimo berteriak. Aku menatapnya bingung.

“Sebentar,” kataku pada Biyas dan menuju dapur mengambil piring berikutnya dan menyerahkan pada Lisa.

“Iya sekarang. Oke?” sambung Biyas.

“Oke,” jawabku ragu sambil mengetuk-ngetukkan jari di meja dapur.

“Panasin lagi nih supnya.”

Lisa mengembalikan semangkuk sup yang sudah dingin dan menatapku bingung.

“Satu menit lagi sampe.”

Aku mematikan telfon, “kenapa?” tanyaku pada Lisa bingung.

Lisa melirik Bimo bingung, “disuruh panasin lagi supnya,” bisiknya.

“Bim, ini nggak bisa dipanasin.”

“Gambarnya jelek.”

“Tapi kaldu foie gras nggak enak kalo dipanasin.”

“Bukan buat dimakan kok.”

“Tapi bentuk supnya nanti malahan jadi aneh.”

“Ya terserah aja,” jawabnya ketus masih menyetel kameranya.

Kuletakkan mangkuk sup di atas meja dapur dan mendekati Bimo, “lo kenapa sih?”

“Gue kenapa?” tanyanya balik kesal.

“Kalo lo nggak mau bantuin, ya bilang.”

“Justru ini gue lagi bantu. Gambarnya jelek, Al.”

“Yang sebelumnya nggak ada masalah tuh.”

“Emang sebelumnya nggak ada masalah, yang lain gambarnya emang bagus.”

“Trus mau gimana sekarang?” tanyaku mulai hilang kesabaran.

“Kalo nggak bisa dipanasin, bikin yang baru aja.”

“Nggak bisa, nggak sempet juga.”

Pintu restoran terbuka dan Biyas muncul dari balik pintu, “hei, udah siap?”

Bimo menoleh pada Biyas lalu menatapku kesal, “nggak sempet?” sindirnya.

Biyas berjalan mendekatiku, kami bertiga berdiri saling bertatapan satu sama lain. “bad time?” tanya Biyas bingung.

“Lo super aneh hari ini.” kataku kesal dan meraih tas di atas meja.

“Wow. Kenapa nih bro?”

“Terserah lo mau diapain supnya” aku membanting pintu dengan kesal dan melangkah pergi.

“Alena!” Biyas berusaha mengejar dan meraih tanganku namun cepat-cepat kutepis.

“Hei!”

Biyas mengangkat kedua tangannya, “maaf, ini hp kamu ketinggalan,” sambil menunjuk ponselku di genggamannya.

“Cuma mau kasih ke kamu, that’s all.”

Kupejamkan mata, “sori.”

“Santai.”

“Bimo ngeselin banget hari ini, aku nggak ngerti kenapa.”

“Aku ngerti.”

Kutatap mata Biyas. Dia menaikkan alis matanya dengan senyumannya yang khas.

“Maksudnya?”

“Bimo suka sama kamu.”

Perasaanku campur aduk begitu mendengar pernyataan Biyas. Sebagian dari diriku tak mempercayainya namun sebagian lagi berharap kalau itu benar.

“Bimo? Dia…”

Biyas mengangguk, “begitu juga dengan aku,” Biyas meraih tanganku, “kita berdua tergila-gila sama kamu.”

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 2

Butuh waktu agak lama untukku mencari kunci pintu depan restoran, aku merogoh tas cukup lama sebelum akhirnya menyerah dan mengeluarkan semua isi tas.

“Ketemu?”

Aku menengadah “nggak,” kataku pada Bimo.

Dengan cepat dia membukakan pintu restoran dengan kunci miliknya dan melangkah masuk.

“Kok lo dateng cepet? Kemaren gue bilang ke Lisa jam sebelas,” aku mengikuti Bimo masuk ke dalam.

“Emang sekarang jam berapa?”

“Sembilan,” aku menunjuk jam di dinding “dan gue belom siapin menu nya.”

“Nggak apa-apa nyantai aja. Gue setting tempat dulu.”

Aku memperhatikan Bimo mengeluarkan peralatan fotografi miliknya mulai dari kamera DSLR pro level, variasi lensa, laptop, background dan lainnya yang aku tak mengerti baik namanya ataupun kegunaannya.

Kutinggalkan Bimo yang sibuk mengutak-ngatik kameranya, aku menuju dapur dan menyiapkan menu untuk difoto. Sementara aku meracik bumbu dan mengiris bawang-bawangan, ponselku tak berhenti berdering.

“Bim, tolong liatin dong siapa yang nelfon,” aku berteriak dari ruang dapur.

Hening.

“Siapa Bim?”

Hening.

“Bim?”

“Apaan?”

Aku berhenti mengiris lalu mendekati Bimo, “Siapa?” tanyaku penasaran.

Bimo mengindikkan bahunya, “nggak tau.”

Aku mengernyitkan dahi dan mengambil ponsel di atas meja. Dengan cepat kubuka call history dan menemukan nomor tak dikenal menelfonku sebanyak lima kali dan dua pesan tak terbaca.

Buru-buru kubuka pesan itu,

“restoran kamu buka jam berapa? Ini Biyas.”

Bimo menangkap reaksi kagetku saat aku buru-buru menghapus pesan itu.

“Siapa?” tanyanya santai sambil tetap menyetel kameranya di tangan.

“Ng..nggak tau.”

Aku melirik Bimo dan dia menatap layar ponselku.

“Ketemu Biyas tadi malem?”

Aku menoleh, “Biyas?” aku mendekati Bimo penasaran, “lo tau dia ada di sini?”

Bimo mengangguk santai, “dia nanyain lo dateng apa nggak.”

Aku duduk bersila di atas meja di depan Bimo, “kenapa lo nggak bilang sih!”

“Kan gue udah bilang nggak usah dateng.”

“Yah tapi kan lo nggak bilang kalo dia ikut acara tadi malem,” aku merampas kamera dari tangannya.

“Alena!”

“Kenapa lo nggak bilang sama gue dia ada di Jakarta?” kataku dan menyembunyikan kameranya dibalik baju.

“Itu lensanya udah dibersihin.”

“Jawab dulu.”

Bimo menggaruk kepala lalu mengusap wajahnya dengan kesal.

“Iya, jadi Biyas nanya-nanya soal elo kemaren,” Bimo mulai menjelaskan pelan, “ya gue jawab seadanya aja, udah gitu.”

“Kapan tuh?”

“Seminggu yang lalu lah,” Bimo meminta kembali kameranya.

“Seminggu dan elo nggak ada ngomong apa-apa sama gue?!”

“Lupa,” mengulurkan tangannya dan kembali meminta kameranya.

“Lupa?!”

“Itu lensanya, Al.”

“Bim, lo kan tau perasaan gue kayak apa sama Biyas. Lo tau semuanya dan ini tuh urusan penting buat gue,” kataku memelas masih tetap memegang kameranya.

“Iya gue tau, yaudahlah santai aja kenapa sih?” kali ini Bimo mengambil paksa dari tanganku, “kalo emang kalian jodoh entar juga ada jalannya.”

Kugigit bibirku lalu tersenyum, “jodoh?”

Aku kembali ke dapur lalu melanjutkan mengiris bawang dan mengecek kembali rasa kaldu, “pas!” bisikku. Mendadak aku merasa bahagia dan aku tak bisa menghentikan senyuman ini.

“Dulu gue masih naif waktu dideketin sama Biyas, lo masih inget nggak?”

Aku melirik Bimo sebentar. Kali ini dia sibuk menyetel tripodnya dengan serius, “Bim?”

“Apa?”

“Menurut lo gue cantik atau tambah cantik?”

“Apaan sih, Al.”

“Tadi malem gue sebenernya grogi pas tiba-tiba dia duduk disebelah. Terus yah, dia kayaknya punya pacar deh, Bim.”

Kembali mengintip, “tapi keliatan kayak ceweknya yang sok manja gitu sih. Kayaknya mereka nggak serius.”

“Sekarang kan gue bukan gadis lugu lagi, sekarang gue wanita dewasa yang mampu mengendalikan hubungan. Menurut lo Biyas bakalan ngajak gue untuk serius nggak?”

Masih tersenyum.

Menghayal.

“Bim?”

Hening.

“Bimo?”

BAMM!!

Suara bantingan pintu depan membuatku terkejut dan berlari cepat ke depan. Kupandangi Bimo yang berjalan pergi dan sengaja meninggalkan peralatan fotografinya.

Bersambung…