Ternyata Itu Dia. Episode 3

Kami bertatapan cukup lama.

“Sori.” kata Bimo akhirnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu mengulum bibirnya.

“Gue-”

“Hai. Sori, sori gue telat ya?” Pintu terbuka dan Lisa menyapa dengan ceria.

Aku memaksa untuk tersenyum, “hai Lisa.”

“Kalian lagi ngobrol?”

“Nggak.” jawab Bimo cepat dan kembali menyiapkan peralatannya.

“Oke. Menunya udah siap Al?” Lisa berjalan menuju dapur, “yeah! Enak nih.” katanya dan mengambil sepiring Lobster Frittata.

Lisa meletakkannya di atas meja dan menatanya dengan indah lalu Bimo langsung memotretnya tanpa banyak bicara.

Aku mengintip dari balik dapur. Mataku tak henti menatap Bimo yang bolak balik memotret lalu melihat sekilas hasilnya di laptop.

“Next.”

Lisa kembali ke dapur dan menyerahkan piring yang telah difoto. Aku menyerahkan menu kedua Pizza Jamur Truffle Putih lalu Lisa kembali menatanya di atas meja.

Ponselku berdering tepat saat Bimo mengecek hasil foto. Aku langsung tahu siapa yang menelfon saat Bimo menatap layar ponsel yang berada di sebelah laptopnya lalu melirikku kesal.

“Halo?”

“Hei. Sibuk banget?”

“Ng, nggak juga.”

“Telfon nggak pernah diangkat, sms nggak pernah dibales. Mau mampir aja mumpung lagi di sekitaran restoran kamu.”

Kulirik Bimo, “orang-orang sekarang pake whatsapp.”

I am an oldschool person.”

“Who cares?” kataku memutar bola mata kesal.

Biyas tertawa, “aku mampir ya.”

“Sekarang?”

“Next!”

Lisa terperanjat saat Bimo berteriak. Aku menatapnya bingung.

“Sebentar,” kataku pada Biyas dan menuju dapur mengambil piring berikutnya dan menyerahkan pada Lisa.

“Iya sekarang. Oke?” sambung Biyas.

“Oke,” jawabku ragu sambil mengetuk-ngetukkan jari di meja dapur.

“Panasin lagi nih supnya.”

Lisa mengembalikan semangkuk sup yang sudah dingin dan menatapku bingung.

“Satu menit lagi sampe.”

Aku mematikan telfon, “kenapa?” tanyaku bingung.

Lisa melirik Bimo bingung, “disuruh panasin lagi supnya” bisiknya.

“Bim, ini nggak bisa dipanasin.”

“Gambarnya jelek.”

“Tapi kaldu foie gras nggak enak kalo dipanasin.”

“Bukan buat dimakan kok.”

“Tapi bentuk supnya nanti malahan jadi aneh.”

“Ya terserah aja.” jawabnya ketus masih menyetel kameranya.

Kuletakkan mangkuk sup di atas meja dapur dan mendekati Bimo, “lo kenapa sih?”

“Gue kenapa?” tanyanya balik kesal.

“Kalo lo nggak mau bantuin, ya bilang.”

“Justru ini gue lagi bantu. Gambarnya jelek, Al.”

“Yang sebelumnya nggak ada masalah tuh.”

“Emang sebelumnya nggak ada masalah, yang lain gambarnya emang bagus.”

“Trus mau gimana sekarang?” tanyaku mulai hilang kesabaran.

“Kalo nggak bisa dipanasin, bikin yang baru aja.”

“Nggak bisa, nggak sempet juga.”

Pintu restoran terbuka dan Biyas muncul dari balik pintu, “hei, udah siap?”

Bimo menoleh pada Biyas lalu menatapku kesal, “nggak sempet?” sindirnya.

Biyas berjalan mendekatiku, kami bertiga berdiri saling bertatapan satu sama lain. “bad time?” tanya Biyas bingung.

“Lo super aneh hari ini.” kataku kesal dan meraih tas di atas meja.

“Wow. Kenapa nih bro?”

“Terserah lo mau diapain supnya” aku membanting pintu dengan kesal dan melangkah pergi.

“Alena!” Biyas berusaha mengejarku dan meraih tangan.

“Hei!”

Biyas mengangkat kedua tangannya, “hp kamu ketinggalan,” sambil menunjuk ponselku di genggamannya. “Cuma mau kasih ke kamu, that’s all.”

Kupejamkan mata, “sori.”

“Santai.”

“Bimo ngeselin banget hari ini, aku nggak ngerti kenapa.”

“Aku ngerti.”

Kutatap mata Biyas. Dia menaikkan alis matanya dengan senyumannya yang khas.

“Maksudnya?”

“Bimo suka sama kamu. Sama halnya aku suka sama kamu. Kita berdua tergila-gila sama kamu.”

Bersambung…

Advertisements

Ternyata Itu Dia. Episode 2

Butuh waktu lama untuk mencari kunci pintu, aku merogoh tas cukup lama sebelum akhirnya aku menyerah dan mengeluarkan semua isi tas.

“Ketemu?”

Aku menengadah, “nggak” kataku pada Bimo.

Dengan cepat dia membukakan pintu restoran dan melangkah masuk.

“Kok lo dateng cepet? Kemaren gue bilang ke Lisa jam sebelas” aku mengikuti Bimo masuk ke dalam.

“Emang sekarang jam berapa?”

“Sembilan,” aku menunjuk jam di dinding “dan gue belom siapin menu nya.”

“Nggak apa-apa nyantai aja. Gue setting tempat dulu.”

Aku memperhatikan Bimo mengeluarkan peralatan fotografi miliknya mulai dari kamera DSLR pro level, variasi lensa, laptop, background dan lainnya yang aku tak mengerti baik namanya ataupun kegunaannya.

Aku meninggalkan Bimo yang langsung sibuk ngutak-ngatik kameranya lalu menuju dapur dan menyiapkan menu untuk difoto. Sementara aku meracik bumbu dan mengiris bawang-bawangan, ponselku tak berhenti berdering sejak tadi.

“Bim, tolong liatin dong siapa yang nelfon.” aku berteriak dari ruang dapur.

Hening.

“Siapa Bim?”

Hening.

“Bim?”

“Apaan?”

Aku berhenti mengiris lalu mendekati Bimo, “Siapa?” tanyaku penasaran.

Bimo mengindikkan bahunya, “nggak tau.”

Aku mengernyitkan dahi dan mengambil ponsel di atas meja. Dengan cepat kubuka call history dan menemukan nomor tak dikenal menelfonku sebanyak lima kali dan dua pesan tak terbaca.

Buru-buru kubuka pesan itu,

“Restoran kamu buka jam berapa? Biyas.”

Bimo menangkap reaksi kagetku saat aku buru-buru menghapus pesan itu.

“Siapa?” tanyanya santai sambil tetap menyetel kameranya di tangan.

“Ng..nggak tau.”

Aku melirik Bimo dan dia menatap layar ponselku.

“Ketemu Biyas tadi malem?”

Aku menoleh. “Biyas?” aku mendekati Bimo penasaran, “lo tau dia ada di sini?”

Bimo mengangguk santai, “dia nanyain lo dateng apa nggak.”

Aku duduk bersila di atas meja di depan Bimo, “kenapa lo nggak bilang sih!”

“Kan gue udah bilang nggak usah dateng.”

“Yah tapi kan lo nggak bilang kalo dia ikut acara tadi malem,” aku merampas kamera dari tangannya.

“Alena!”

“Kenapa lo nggak bilang sama gue dia ada di Jakarta?” kataku dan menyembunyikan kameranya dibalik baju.

“Itu lensanya udah dibersihin.”

“Jawab dulu.”

Bimo menggaruk kepala lalu mengusap wajahnya dengan kesal.

“Jadi Biyas nanya-nanya soal elo kemaren.” Bimo mulai menjelaskan pelan, “ya gue jawab seadanya aja, udah gitu.”

“Kapan tuh?”

“Seminggu yang lalu lah.” Bimo meminta kembali kameranya.

“Seminggu dan elo nggak ada ngomong apa-apa sama gue?!”

“Lupa.” Mengulurkan tangannya dan kembali meminta kameranya.

“Lupa?!”

“Itu lensanya, Al.”

“Bim, lo kan tau perasaan gue kayak apa sama Biyas. Lo tau semuanya dan ini tuh urusan penting buat gue,” kataku memelas masih tetap memegang kameranya.

“Iya gue tau, yaudahlah santai aja kenapa sih?” kali ini Bimo mengambil paksa dari tanganku, “kalo emang kalian jodoh entar juga ada jalannya.”

Kugigit bibirku, tersenyum, “jodoh?”

Aku kembali ke dapur lalu melanjutkan mengiris bawang dan mengecek kembali rasa kaldu, “pas!” bisikku. Mendadak aku merasa bahagia dan aku tak bisa menghentikan senyuman ini.

“Dulu gue masih naif waktu dideketin sama dia, lo masih inget nggak?”

Aku melirik Bimo sebentar. Kali ini sedang menyetel tripodnya dengan serius, “Bim?”

“Mm?”

“Menurut lo gue cantik atau tambah cantik?”

“Apa sih.”

“Tadi malem gue sebenernya grogi pas tiba-tiba dia duduk disebelah. Terus yah, dia kayaknya punya pacar deh, Bim.”

Kembali mengintip, “tapi keliatan kayak ceweknya yang sok manja gitu sih. Kayaknya mereka nggak serius.”

“Sekarang kan gue bukan gadis lugu lagi, sekarang gue wanita dewasa yang mampu mengendalikan hubungan. Menurut lo Biyas bakalan ngajak gue untuk serius nggak?”

Masih tersenyum. Menghayal.

“Bim?”

Hening.

“Bimo?”

BAMM!!

Pintu terbanting dengan keras dan aku berlari menuju pintu depan. Kupandangi Bimo yang berjalan menjauh dari balik kaca dan meninggalkan peralatan fotografinya.

Bersambung…

Oh sayang.

Saat kau dihadapkan diantara dua pilihan.

Masa lalu yang menggantung atau masa depan yang belum jelas.

Dimana kau akan berdiri?

Atau kau mungkin sedang meringkuk putus asa?

Oh bersiaplah sayang. Kau takkan tahu mungkin saja dia menghantammu dari belakang.

20.19

Fiy.

Ternyata itu Dia. Episode 1

Aku membuka ulang pesan masuk pada email cuma mau memastikan waktu acaranya sekali lagi. Kubaca pelan-pelan, jelas di sana tertulis acara dimulai jam 19.30

Kulirik jam tangan, 20.50

“Oh crap!”

Kutekan nomor Bimo dan terdengar nada masuk. Aku mengetuk-ngetuk tumit sambil menunggu jawaban.

“Apa?” kata Bimo galak.

“Lo dateng kan? Plis plis gue nggak mau sendirian.”

“Nggak.”

“Bim, plis.”

“Males.”

“Bim, gue udah di depan pintu lobi. Masa gue balik lagi?” panik menyerbuku dan aku mulai berjalan mondar mandir nggak karuan.

“Pulang ajalah. Lagian ntar kalo lo ketemu dia gimana?”

“Gue udah cek ricek dia nggak akan dateng. Ayo dong Bim, kita belom pernah dateng acara reunian SMA kan?”

“Bye!” Klik.

“Bimo!” aku berteriak dan petugas hotel mulai mengkhawatirkanku.

Aku menggaruk kening sambil berpikir apa sebaiknya aku pulang saja?

Jangan. Jangan pulang. Aku sudah membawa cukup banyak brosur di dalam tasku. Aku memberanikan diri untuk melangkah masuk dan petugas hotel dengan cepat membukakan pintu untukku.

Oke, aku cuma perlu ngobrol sebentar, memberikan brosur keparat ini lalu pulang. Aku nggak mau berlama-lama di sana apalagi tanpa Bimo.

Bimo adalah sahabat dekatku sejak SMA. Aku pernah naksir dia waktu dulu tapi seiring berjalannya waktu, ternyata aku menyadari lebih nyaman berteman ketimbang pacaran. Bimo cukup populer dikalangan cewek-cewek, jadi berada di dekatnya sangat membantu percaya diriku berada ditengah-tengah keramaian.

Sialnya dia nggak mau datang malam ini dan aku harus menghadapi semuanya sendirian.

Aku mengisi daftar absen lalu panitia memberikan pin untuk disematkan di bajuku. Aku membaca sepintas tulisannya, “Reuni Akbar SMANSA 2017”.

Kutarik nafas dalam-dalam lalu berjalan pelan. Seorang wanita melintas di depanku, “permisi,” katanya, dia memakai baju yang cukup seksi dan oh wanginya, dia pasti menelan botol parfumnya.

Aku menghindar dan mendekati meja kue lalu mengambilnya satu. Aku duduk dan mulai berpura-pura menikmati kue sambil melihat-lihat apakah ada orang yang kukenal. Aku menganggukkan kepala berusaha menikmati musik.

“Tumben nggak sama Bimo.”

Aku menoleh.

Kenapa dia ada disini? Kenapa? Aku sudah pastikan bahwa namanya tidak ada ke panitia. Tapi kenapa dia sekarang malah duduk di sebelahku. Masih dengan gayanya yang khas. Cuek dan keren.

Tidak. Tidak!

Jangan mulai, Alena.

“Dua belas tahun.” dia tersenyum, “akhirnya kita ketemu lagi.”

Aku berdehem dan canggung, “lama juga ya.”

“Kamu masih sama. Cantik.”

“Makasih.” jawabku malas.

“Kok nggak bawa keluarganya?”

Aku tersenyum maksa, “belum nikah.”

“Oh. Bimo?”

Aku menggeleng, “aku baru buka restoran.” kataku semangat.

“Wow! Kamu beneran jadi chef?” katanya antusias.

Aku tersenyum.

“Kamu keren.”

“Keluarga kamu nggak dibawa juga?” tanyaku penasaran. Seharusnya aku nggak tanya pertanyaan konyol ini.

Biyas tersenyum, “udah cerai.”

Hening.

“Biyas kamu di sini dari tadi? Aku mau pulang aja ah.” wanita ini langsung melingkarkan lengannya ke bahu Biyas. Aku menengadah dan langsung menyadari ternyata dia wanita seksi yang menelan botol parfum tadi.

Kutatap Biyas sebentar dan tersenyum mengerti. Aku mengeluarkan brosur restoranku dan menyerahkan padanya lalu berdiri pamit.

Ponselku bergetar dan muncul pesan dilayarnya.

“Nomor kamu masih belum ganti? Ini aku, Biyas.”

Mungkin bagi sebagian orang ditakdirkan untuk tidak berubah. Mungkin bagi sebagian orang kebiasaan buruk bersifat permanen. Mungkin bagi sebagian orang gelar brengsek melekat seumur hidupnya.

Kutekan gambar tong sampah.

Apakah anda yakin ingin menghapus pesan ini?

Absolutely.

Bersambung…

TALANG 1965
Udara pagi ini tak seperti biasanya, hari ini terasa sangat dingin. Kutatap langit awan mendung yang berat, “jan lupo kok ujan ambiak daun pisang untuak payuang” kata amak lalu memberikanku batu tulis sambil tersenyum, “elok-elok dijalan, Kirai.”

Kuraih batu tulis lalu tersenyum, “iyo amak, assalamualaikum” kucium tangan amak. Aku berjalan pelan menyusuri jalan setapak lalu menoleh kebelakang sebentar dan kudapati amak masih berdiri di depan rumah mengamatiku. 

Kupandangi langit sekali lagi, kali ini awan tak lagi ragu untuk menurunkan hujannya, kurasakan tetesan air menyentuh hidungku. Cepat-cepat kupatahkan daun pisang dan menjadikannya sebagai payung sambil terus kutelusuri jalan setapak. Hujan semakin deras dan aku berlari secepat mungkin, tak jarang kakiku tersandung bebatuan di jalan. 

“Kirai!”

Kuhentikan langkah dan menoleh kebelakang cepat, “Ida!” teriakku.

“Tunggua, molah kito basamo” Ida berlari.

“Jalan elok-elok, Ida” kataku khawatir.

“Lari, Kirai! Kok talambek musiti kanai berang pak Zai” balasnya sambil menarik tanganku. 

*

AKU DAN KACAMATA HITAMKU – final episode

Aku tak mengerti apa itu leukimia akut. Yang aku tahu bila seseorang mengidap penyakit leukimia seharusnya dia terlihat botak, pucat, kurus, selang infus dimana-mana dan tertidur lemah dikasur rumah sakit. Bukan malah main game online di rumah temannya, kerja part-time di Starbucks atau sibuk mengurusi remaja depresi sepertiku.

Plafon kamar terasa berputar setiap kali aku terbangun. Kupejamkan kembali dan kuusap perlahan air mataku. Bayangan wajahnya selalu muncul didepanku. Bahkan kadang aku mendengar suaranya memanggil lalu aku akan bangkit dari tempat tidur dan mulai mencarinya. Tak butuh waktu lama sampai aku menyadari bahwa suara itu hanya sisa kenangan yang ada dalam ingatan. Saat aku menyadarinya, aku kembali terjatuh dilantai. Menangis sesunggukan. 

Betapa aku sangat merindukannya..

Suara ketukan pintu di kamar memaksaku untuk berdiri dan membukanya. 

“Kama,” panggil ibu hampir berbisik. Wajahnya tampak sedih melihatku, “dokter Darabi datang, dia boleh masuk ke kamar?” 

Aku membuka pintu lebar-lebar lalu mengangguk, “boleh.” kataku.

Aku duduk di atas kasur dan memperhatikan Dr. Darabi masuk lalu mengambil kursi dan duduk di depanku.

“Kama,” panggilnya pelan, “saya datang untuk memberikan ini..”

Dr. Darabi menyerahkan buku tebal berwarna biru. “Ini apa?”

“Sigit selalu menulis semuanya di dalam jurnal. Saya rasa kamu berhak memiliki ini..” 

Jurnal? Jurnal ini miliknya?

Wajah Dr. Darabi tampak kacau. Sama parahnya denganku, mungkin lebih terguncang dibandingkan denganku. 

“Kenapa dokter nggak bilang kalau Sigit-”

“Dia yang melarang. Dia anak yang cukup keras kepala dan dia sangat tergila-gila denganmu.” 

Dr. Darabi berdiri dan mendekatiku, tangannya mengusap rambutku perlahan, “Kama, saya rasa ini terakhir kalinya kita bertemu.” ucapnya.

Aku menengadah, heran “terakhir?”

“Saya akan pindah minggu depan, saya sudah siapkan dokumen transfer untuk sesi  kamu selanjutnya. Dia teman seprofesi saya, dan saya yakin kamu akan baik-baik saja.”

“Tapi,”

“Maafkan saya, Kama.” Dr. Darabi berdiri dan berhenti di depan pintu. Menatapku dan mengusap airmatanya, “i’m sorry..” bisiknya lalu menutup pintu.

Aku tertunduk menatap buku jurnal Sigit. Airmataku menggenang dipelupuk mata, setelah Sigit pergi sekarang Dr. Darabi juga meninggalkanku. Aku menarik napas dalam empat hitungan dan menghembuskannya dalam hitungan ke tujuh. 

Kubuka perlahan halaman pertama. Tepat dua tahun yang lalu;

“Aku melihatnya. Aku melihatnya di sekolah.”

Kubalik halaman selanjutnya;

“Aku nggak tahan melihatnya di bully. Nindy keterlaluan.”

Halaman berikutnya;

“Dia nggak pernah muncul lagi di sekolah. Huft, sekolah rasanya membosankan!”

Dadaku sesak karena penasaran, semakin cepat kubuka halaman berikutnya. Kosong. Kubuka lagi dan masih kosong. Hingga beberapa lembar berikutnya tetap kosong sampai aku menemukan tulisannya kembali;

“Bingo! Akhirnya aku menemukannya di Starbucks. Namanya Kama, keren.”

Halaman berikutnya;

“Ternyata dia adiknya Pandu. Yeahh!”

Halaman berikutnya;

“Hari ini aku main kerumahnya, dia selalu pakai kacamata hitam. Aku harus cari tahu gimana cara ngajak dia ngobrol.”

Halaman berikutnya;

“Ternyata dia pasien ibu. Hari ini aku baca semua datanya. Semangat dong Kama, you can get back normal!”

Aku menggigit bibirku, menahan airmata agar tak jatuh membasahi lembaran jurnal. Sambil tetap kubuka halaman berikutnya;

“Kontak sepatu rasanya mendebarkan. Aku senang karena dia berhasil melakukannya, good job Kama!”

Halaman berikutnya;

“I’m in love with her!! Rasanya aku mau gila, hahaha.. besok kita janjian ketemuan di starbucks, kita coba shock terapi oke? Hope you’ll be ok tomorrow.”

Halaman berikutnya;

“Aku mengacaukan semuanya, maafkan aku karena terlalu agresif. Aku cuma ingin kamu sembuh dan kembali normal. Aku tau kamu pasti bisa, jangan menyerah!”

PS: aku menciumnya diatas kertas, itu masuk hitungan kan? Rasanya hampir gila!

Kubalik halaman berikutnya;

“Dari semua penyakit yang ada, kenapa harus leukimia?!!”

Halaman berikutnya;

Dear Kama,

Jika kamu membaca jurnal ini, itu artinya aku sudah tiada. Aku minta maaf karena telah menghancurkan hatimu. Aku minta maaf karena tak sempat melihat matamu, aku yakin matamu pasti indah. Aku minta maaf karena tak disampingmu saat pertama kali kamu kembali ke sekolah. Aku minta maaf karena sekarang aku akan memaksamu untuk berdiri sendiri, berjalan sendiri dan melanjutkan hidupmu. Hiduplah dengan bahagia, penuh cinta dan sukacita karena kamu berhak mendapatkannya. Apabila semuanya terasa berat, ingatlah semua yang sudah kita lalui, aku berjanji hal itu akan menjadikan semuanya lebih mudah. 

Kama, aku yakin kamu pasti sembuh. Kamu akan baik-baik saja tanpaku. Kamu harus tau bahwa aku mencintaimu sejak hari pertama aku melihatmu. Kamu tak tahu rasanya saat aku tahu kamu adiknya Pandu. Aku akan selalu ingat senyummu, saat pertama kali kita berpegangan tangan, aku tak mungkin lupa. Jangan pedulikan perkataan orang, dirimu lebih kuat dari kata-kata buruk mereka. Jangan bersedih saat aku tak pernah lagi datang kerumahmu. Oh, aku merindukan ruang nonton yang gelap itu. Aku berharap kamu menghidupkan lampunya nanti.

Aku harap kamu tak bersedih terlalu lama. Kamu bisa menyimpan atau membawa kemanapun jurnal ini. Aku harap bisa memberimu kekuatan. Senang mengenalmu, Kama. 

Salam,

Sigit yang tergila-gila padamu.

Tangisku pecah dan kupeluk erat jurnal di dada. 

                                        *

Satu bulan kemudian…

Aku memasuki mobil dan duduk di kursi depan. Mama meletakkan tas nya di kursi belakang. “Mas, tolong pegangin.”

“Siap.” Mas tersenyum.

Rasanya keluargaku benar-benar tenteram sekarang. Mas Pandu dan mama sudah jarang bahkan hampir tidak pernah bertengkar lagi. Mas tidak pernah main game online dan dirinya benar-benar serius dengan karir chef-nya. Dan mama cukup bangga dengan hal itu.

Sementara aku, hari ini genap sebulan Sigit meninggalkanku dan hari ini adalah hari pertamaku ke sekolah. Aku dinyatakan pulih total dan bisa memulai semuanya dari awal. Dadaku terasa penuh, perasaan senang dan ngeri bercampur aduk.

Mama sudah kembali bekerja. Aku dan mas Pandu menyuruhnya untuk kembali bekerja, awalnya mama ragu namun aku meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sejak mama kembali bekerja, dia terlihat lebih banyak tersenyum.

Pagi ini aku berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Aku menarik napas dalam empat hitungan dan mengeluarkannya dalam hitungan ke tujuh. 

“Siap?” tanya mas antusias.

Aku tersenyum lalu melepaskan kacamata hitamku dan menyangkutkannya di antara kancing baju.

“Siap!” Aku mengangguk.

Aku melangkah pasti menuju hidupku yang baru. 

Tanpa kacamata hitamku. 

Tamat.