My journal part 5 – Sabar.

Tepatnya seminggu yang lalu, gue baca twitternya ustad Yusuf Mansur. Beliau menyarankan untuk membaca surat 18 (AL-KAHF) dihari Jumat agar mendapatkan Fadhillahnya.

“Nggak usah banyak tanya, baca aja dulu!” ujarnya.

Tanpa ba-bi-bu, gue langsung ambil Al-Qur’an dan membacanya pelan-pelan. Beres 2 lembar gue berhenti, dalam hati berkata “Kok gak habis-habis? Panjang amat sih”

Gue berhenti dan membaca artinya. Cuma cerita tentang beberapa pemuda yang dikejar kaum kafir lalu mereka bersembunyi di gua. Mereka tertidur selama 300 tahun 9 hari. Namun, mereka merasa hanya tertidur setengah hari.

“Oh..cuma itu?” pikir gue. Apa Fadhillahnya??

Ceritanya, pagi ini gue lanjutkan baca surat AL-KAHF karena masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Akhirnya, sampailah gue pada cerita tentang Nabi Musa tentang perjalanan panjangnya akan arti sabar.

Sengaja gue tulis ayatnya, biar ceritanya original 🙂

Surat Al-Kahf (18), Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Ayat:
65. Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.

66. Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?

67. Dia menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan sanggup SABAR bersamaku.

68. Dan bagaimana engkau akan bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?

69. Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun”

70. Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

71. Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

72. Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?

73. Dia (Musa) berkata, “Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”

74. Maka berjalanlah keduanya hingga keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

75. Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

76. Dia (Musa) berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku.”

77. Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh, lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.”

78. Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.”

79. Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.

80. Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.

81. Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).

82. Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang dibawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau TIDAK SABAR terhadapnya.”

Jumat ini, tanggal 5 Oktober 2012, tepat jam 10.00 pagi. Gue menemukan Fadhillah dari surat AL-KAHF.

Yaitu tentang Sabar.

Ternyata, SABAR itu nggak seringan seperti ucapannya.

Ternyata, SABAR itu penuh dengan perjuangan.

Ternyata, SABAR itu memang nggak ada batasnya.

Dan ternyata, SABAR itu ada ilmunya.

Semoga hidupmu bahagia and have a nice weekend 😉

Cheers,
Fitri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s