My journal part 8 – Dunia gue yang gelap

Sama sekali nggak pernah terpikirkan menjadi buta dalam sehari. Cuma, pernah bertanya-tanya apa yang dipikirkan oleh orang buta. Well, ternyata Allah menjawab pertanyaan gue dengan menjadikan gue buta selama 2 hari.
Minggu pagi, seperti biasa gue denger suara Mia ngoceh, kalo bangun pagi dia pasti langsung ngoceh. Pas gue buka mata, astaghfirullah perih banget. Spontan gue teriak, gue coba buka lagi tapi tetep perih.

Gue panggil abie* panik karena gak bisa buka mata and perih. Dia bilang, coba buka pelan-pelan. Udah gue coba berkali-kali tapi tetep nggak bisa. Kengerian langsung merasuki pikiran gue, buta diumur 27 tahun bukan ide yang bagus!

Dengan susah payah gue bangkit dari tempat tidur, meraba-raba pintu kamar mandi dan pelan-pelan mencuci muka gue. Berharap dengan adanya sedikit ketenangan akan membantu mengurangi rasa sakit. Hasilnya nihil, rasa sakitnya tambah parah dan airmata gue terus mengalir. Cepat-cepat gue tetesin obat mata berharap bisa membantu, bukannya membantu malah menambah rasa perih.

Sampai siang hari gue bertahan untuk nggak ke dokter, lagian dokter mana yang praktek hari minggu?

Gue makan dengan mengira-ngira gimana memotong lauknya, menyuapnya, memegang sendok garpunya, meminum, mandi, semua gue pake kira-kira. Nggak pernah terbayangkan sebelumnya gue bakalan nggak bisa melihat sama sekali.
Malam hari, akhirnya gue putuskan untuk ke Emergency Room di Rumah Sakit Awal Bros. Untung ada abie* yang selalu nemenin, mapah gue kemana-mana. Dokter jaga mulai meriksa pelan-pelan mata gue, menghujani dengan puluhan pertanyaan.
“Dari kapan kayak gini?”
“Coba buka matanya?”
“Nggak bisa ya? Buka dikit juga gak bisa?”
“Kok baru dateng jam segini?”
“Aduh..parah ini lho..”

Sama sekali tidak menenangkan, pikir gue.

“Sebelumnya pake contact lens ato nggak?”

CONTACT LENS!!!

Kepala gue rasanya seperti ditampar..contact lens, itu penyebabnya!!
Gue langsung jawab iya pas ditanya itu. “Nah…curiganya karena contact lens, sebentar saya telfon dulu dokter spesialis mata ya..”

Lima belas menit kemudian dokternya balik lagi, “saya kasih tetes mata antibiotik sama saya cuci matanya dengan air steril, besok pagi datang kesini untuk cek dengan dokter spesialis mata supaya tahu pasti penyebabnya..”

Besok paginya gue ditemani abie* datang ke praktek dokter mata. Setelah dicek, ternyata kornea mata gue terkikis. Kemungkinan besar saat melepas contact lens, bagian yang tajam menyayat selaput mata tepat ditengahnya. Untuk bisa menumbuhkan lagi, mata gue harus diperban dan ditekan. Karena dengan cara ditekan kornea mata bisa me-rebuild sendiri secara otomatis. Subhanallah, keren banget ya sistem yang Allah punya.

FITRI SI BAJAK LAUT!!!

Senin itu, seharian penuh gue persis bajak laut.
Gue berjalan dengan meraba-raba, cuma bisa mendengar suara Mia tanpa bisa melihat wajah lucunya. Sedih dan miris merasuki hati gue. Sekali lagi sabar gue diuji. Sekali lagi gue belajar, sabar itu butuh ilmu, butuh waktu dan tidak ada batasnya.

Selasa tanggal 19 Maret 2013 tepat jam 6 pagi, alhamdulillah gue masih dikasi kesempatan untuk melihat lagi. Allah masih mempercayakan mata ini untuk gue. Rasa syukur meluap-luap dari dalam tubuh.

Dua hari gue menjalani kehidupan seperti orang buta, dua hari dunia gue menjadi gelap dan dua hari pertanyaan gue terjawab sudah.

*abie – my husband.

Semoga hidupmu bahagia.
Cheers,

F. Ardyani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s