Coffee latte

Leherku tertunduk lemas, tak ada alasan lagi kupikir. Ini benar-benar memalukan, pelayan menyebalkan.

Kutarik nafas dalam-dalam lalu kembali duduk dan menatapnya datar, “Baik”jawabku sambil mengindikkan bahu.

Dia masih tersenyum santai, ya Tuhan kenapa dia manis sekali. “Gak pernah keliatan, kantormu masih yang lama kan?”tanyanya. Aku mengangguk cepat lalu menatap rambutku yang basah di bahu dan pura-pura merapikannya. Matanya sekarang tertuju ke rambutku, “Tetep cantik kok”katanya. 

Whoa!! Aku merinding.

“Ekhm, kamu masih jadi anggota ikatan atsitek muda Bandung?”tanyaku mengalihkan.

“Ketua. Kantormu masih ikut kok, kemaren terakhir aku meeting sama bos kamu”jawabnya.

“Oh. Proyek baru itu ya?”sambungku.

Dia tak menjawab, malah mendekatkan tubuhnya ke meja lalu menatapku serius,

“Besok aku ke kantor kamu ya”katanya. 

“Mm, aku harus cek schedule dulu. Soalnya sering nggak dikantor”jawabku santai. Yes! jawaban yang bagus, Anja. Pilihan kata yang keren, rasanya aku ingin melambaikan sapu tangan ke orang-orang disini saking bangganya.

“Maksudku ketemu bos kamu”katanya, “Kita emang ada jadwal meeting kok”sambungnya santai.

“Oh!”kupejamkan mata sebentar, “Ya memang maksudku jadwal bos ku, memangnya jadwal siapa lagi? Haha”jawabku canggung, dan ketawa itu? Ketawa itu, ya Tuhan kenapa aku harus ketawa.

Kuteguk kopi ku sekali lagi lalu berdiri. Kali ini aku harus benar-benar pergi lalu menghilang dan jangan pernah muncul lagi didepannya. “Aku pamit”kataku dan meninggalkannya disana. Aku berjalan kearah barista dan meraih sandwich-ku.

“Anja, tunggu!”

Jangan menoleh. Jangan. Jangan!

Reaksi ku terkejut saat dia berhasil meraih bahuku, “Hei tunggu. Aku boleh pinjam ponselmu?”tanyanya “Kayaknya ponsel aku hilang”sambungnya.

Aku menatapnya bingung, sambil memberikan ponselku “hilang?”tanyaku.

Dia mengangguk cepat, wajahnya tampak serius. Tak lama setelah dia memencet nomor ponselnya terdengar deringan dan dengan santai dia meraih ponselnya dari saku celananya, “ternyata nggak hilang”katanya sambil senyum menatapku, “berarti ini nomer kamu ya?”sambungnya lalu mengembalikan ponselku.

Dia menepuk bahuku dan memanggil taksi lalu membukakan pintu, “Pulangnya hati-hati ya”katanya.

Aku menatapnya tak percaya. Pria ini benar-benar keparat, pikirku. 

“Nanti malem aku telfon, ok?”ucapnya lalu menutup pintu dan melambaikan tangannya. 

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s