Coffee latte

Malam itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya Elang menelfonku. Perasaan suka itu mungkin hanya sesaat saja. Aku menjalankan hari-hari seperti biasa. Bekerja seperti layaknya orang gila yang tak mengenal waktu. Setahun berlalu dan semuanya baik-baik saja sampai aku kembali bertemu dengannya disini, di cafe ini, lagi-lagi karena kopi. 

Tidak ada yang berubah darinya. Tidak satupun. 

Aku menatap layar ponsel lama. Sejak kemaren sore sampai pagi ini panggilan masuk dari nomer yang tak kukenal muncul dilayarku. Aku tau ini dia. Aku yakin ini dia. Tapi tetap tak kuangkat. Kubiarkan menyala didalam tas. 

Kudorong kuat pintu kantor yang terbuat dari kaca. Berjalan cepat menuju ruanganku, “Ada yang nungguin lo dikantor”kata Olya menghentikan langkahku. Aku menatapnya heran, “Siapa?”tanyaku. “Lo liat aja sendiri”jawabnya sambil berlalu pergi. 

Pelan kubuka pintu ruanganku, dia berdiri menghadap jendela lalu menoleh kearahku begitu tau aku masuk. Kali ini dia tidak tersenyum seperti kemarin siang. Wajahnya tampak serius, “Hp kamu rusak?”tanyanya langsung. 

Aku tak menjawab. Kutarik kursi lalu duduk dan menghidupkan komputer, sengaja kusembunyikan wajahku dibalik monitor. Dia berjalan kearahku lalu berdiri didepan meja dan menggeser monitor yang menghalangi pandangannya, “hp kamu rusak?”tanyanya sekali lagi. 

Aku menatap heran, “Elang, aku punya self space!”jawabku ketus.

“Tidak mengangkat telfonku juga termasuk self space?”tanyanya balik.

“Kamu ini kenapa sih? Mau diangkat atau tidak itu terserah aku”tukasku.

Dia meletakkan tangannya diatas meja lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. “Kalau sedekat ini, apa aku melewati self space kamu?”tanyanya nekat. 

“Ini sudah keterlaluan”jawabku.

Dia menarik mundur tubuhnya. “Aku nggak ngerti kok kamu semarah ini?”katanya.

“Kalo kamu nggak mau keluar dari ruangan ini, aku panggil sekuriti”balasku.

“Kamu masih marah karena aku pura-pura kehilangan hp?”tanyanya.

Oh Tuhan! Ini menjengkelkan sekali.

Kuangkat telfon kantor lalu menekan nomor sekuriti. Baru saja kudengar nada sambung dengan cepat tangannya mengambil gagang telfon dari tanganku lalu meletakkan kembali diatas telfon.

“Anja, kamu masih marah?”tanyanya kembali.

“Elang, plis”kataku memohon.

“Aku cuma bercanda kemarin. Sama sekali nggak bermaksud buat kamu marah”sambungnya.

“Aku tidak marah”jawabku akhirnya.

“Benar? Jadi kamu mau angkat telfonku lagi setelah ini?”balasnya.

Iya! Aku mau.

“Tidak”kataku.

“Kenapa?”tanyanya.

“Memangnya kamu siapa? Memangnya aku harus mengangkat setiap kamu telfon?”kataku akhirnya dengan nada yang tinggi. Kali ini aku sudah tidak tahan.

“Tunggu. Tunggu dulu. Aku pikir kita, bukannya kita?”tanyanya heran.

“Apa?”tanyaku.

“Setahun aku menunggu kabar kamu, mencari tahu tentang kamu. Sampai akhirnya aku pindah ke Bandung, kamu pikir ini bercanda? Apa cuma aku disini yang punya perasaan suka?”ucapnya serius.

“Seingatku, kamu yang tidak muncul malam itu dihalte”kataku akhirnya. Aku memejamkan mata, tidak percaya kalau aku mengungkit lagi hal yang sudah basi.

“Halte? Halte apa?”tanyanya bingung, 

Aku diam. Menatapnya marah.

“Kamu nggak mungkin turun dari taksi kan?”sambungnya.

Aku menggigit bibirku. Mengalihkan pandanganku kearah jendela.

“Kamu turun?”tanyanya kembali.

Aku berjalan menuju pintu ruangan lalu membukanya, “aku rasa meetingnya sudah mulai”kataku mempersilahkannya untuk keluar.

“Anja.”ucapnya pelan. Dia mengusap wajahnya dan berjalan kearahku, “Aku benar-benar minta maaf”sambungnya lalu berjalan keluar. 

Aku menutup pintu pelan dan mendengar suara langkahnya yang menjauh.
Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s