Coffee latte

Mataku kosong menatap layar monitor, pikiranku entah kemana yang pasti tidak diruangan ini. Sudah sejam aku hanya menatap draft layout tanpa mengerjakan apapun. Aku menyesal karena telah membuat Elang merasa bersalah. Harusnya aku tidak mengungkit hal yang sudah lama. Harusnya aku tidak bertingkah seperti anak kecil. Harusnya aku tidak membiarkan dia keluar dari ruangan ini. 

Cepat-cepat aku membuka pintu ruanganku begitu mendengar suaranya dilorong kantor, meetingnya pasti sudah beres pikirku. Aku melihatnya sedang berbicara dengan Hendri atasanku, “Anja!”teriak Hendri memanggilku.

Aku berjalan cepat kearah mereka, “Kenalkan ini Elang, dia arsitek yang mengerjakan proyek kita”katanya.

Aku tersenyum dan mengulurkan tangan, “Hai”kataku.

Dia menepuk bahu Hendri, “Ok. Gue balik dulu”ucapnya lalu melangkah pergi.

Aku menoleh kebelakang dan menatapnya tak percaya. 

“Jangan tersinggung ya, dari dulu emang orangnya cuek banget sama cewek”ucap Hendri.

“Uh?”kataku bingung.

“Maksud gue Elang. Dia emang terkenal cuek sama cewek. Bawaan orok”ulang Hendri dan meninggalkanku sendirian dilorong, masih tak percaya.

*

Setiap dua menit sekali aku mengecek ponsel berharap siapa tau Elang menelfon atau mengirim pesan. Namun tak satupun pesan atau panggilan darinya muncul. 

Aku tau ini sama sekali sikap tidak profesional, duduk didepan klien tapi aku sama sekali tidak mendengarkannya. Tanganku sibuk bolak-balik mengecek ponsel lalu memasukkannya kembali kedalam tas. 

Mataku sibuk mencari-cari kalau saja dia duduk diantara teman-teman kantornya. Mereka sedang mengadakan meeting di cafe ini. Sudah beberapa hari ini aku sering datang kesini walau hanya memesan coffee latte. Aku berharap bisa bertemu dengannya dan meminta maaf. 

“Coffee latte nya mba Anja”ucap pelayan membuyarkan lamunan dan tanganku bergerak terlalu cepat meraih gelas yang masih berada diatas nampan.

PRAANG!!

Mulutku menganga begitu melihat pecahan gelas kopi bertaburan dilantai, “Maaf. Maaf mas. Aduh, maaf banget”kataku panik. 

“Nggak apa-apa mba. Kita ganti ya kopi nya”jawabnya sambil membersihkan pecahan gelas dilantai.

Saat itu aku masih panik dan sedang membersihkan tumpahan kopi dibajuku. Saat itulah pintu cafe terbuka dan Elang masuk kedalam, dia berjalan kearah teman-temannya. Tanpa senyum, dia menatapku lalu melirik pelayan yang masih membersihkan pecahan gelas. 

Aku ingin menyapanya dari jauh namun dia sama sekali tidak memberikan kesempatan untukku. Dia sibuk dengan teman-temannya tanpa sekalipun melihat kearahku. 

*

Malam ini aku kedatangan sahabat lama dari jakarta. Jadi kami ngobrol-ngobrol lama di hotel tempat dia menginap. 

“Eh dibawah ada cafe loh, kayaknya lumayan ok tadi gue liat. Cobain yuk”kata  Yuri.

Aku mengangguk setuju, lagian ini baru jam sebelas. Kami berniat menghabiskan semalaman suntuk sambil minum kopi. Lagian besok hari minggu, tidak perlu ke kantor pagi-pagi. 

Kami memilih duduk dipojok belakang. Aku menarik kursi lalu duduk menghadap depan, disaat yang sama mataku dan matanya bertatapan. Dia duduk tepat didepanku, dia sudah disitu sejak tadi. Dia sudah tau aku disini dari tadi. 

Mulutku terbuka hendak menyapanya tapi dia mengalihkan pandangannya. Dia berbicara dengan temannya dan mengacuhkanku semalaman. Sedangkan aku, aku sama sekali mengacuhkan Yuri.

Mereka berempat, aku melihat dua wanita yang duduk disebelahnya. Mataku tak berhenti menatapnya, entah sudah berapa kali cewek itu menepuk bahunya bahkan mengelus pipinya berusaha membuatnya tertawa. Aku tau dia hanya pura-pura ketawa, aku tau dia hanya pura-pura senyum.

“Gue ngantuk nih, balik ke atas yuk”ajak Yuri.

“Gue anter lo keatas aja deh”jawabku.

“Lo ga tidur disini aja?”tanyanya.

Aku menggeleng, “gue balik aja, rumah gue kan deket”kataku.

Aku mengantarkan Yuri sampai dipintu kamarnya. Kulirik jam, 3.20 dini hari. Saat aku turun, cafe tadi sudah tutup. Aku memejamkan mata sebentar lalu berjalan pelan menuju rumah. Untung saja rumahku hanya berjarak sepuluh menit dari sini, jadi aku bisa pulang berjalan kaki.

“Jam segini baru pulang”ucap seseorang dari arah belakang. Aku menoleh dan melihat dia berjalan kearahku, “Kamu nggak tau berapa lama aku tungguin dari tadi”sambungnya.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s