Coffee latte

Kamu nggak tau berapa lama aku nungguin dari tadi…

Dia berjalan mendekatiku, kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Ia mengenakan kaus putih dan sneakers putih saint laurent andalannya. 

Aku masih mematung persis pajangan wax yang ada di museum madame tussauds tapi bukan figur angelina jolie atau charlize theron, aku lebih mirip lilin-lilin sebesar lidi yang biasa dicari orang saat mati lampu. Pucat, tak memiliki bodyline, benar-benar lurus dan kaku dan tak menarik.

Dia berhenti tepat didepanku, lalu perlahan ia menyingkirkan poniku yang berantakan kebelakang telinga. 

“Sekarang aku bisa lihat mata kamu”katanya, lalu dia mundur selangkah dan meletakkan kedua tangannya dipinggang “Aku nggak melewati self space kamu kan?”sambungnya.

Aku memberanikan melangkah maju mendekatinya lalu perlahan kulingkarkan lenganku ditubuhnya dan memeluknya. “Aku sama sekali nggak keberatan kamu melewati self space-ku”jawabku hampir berbisik.

“Aku minta maaf karena sudah mengusir kamu dari ruanganku hari itu”sambungku.

Kurasakan lengannya memelukku erat lalu ia menempelkan dagunya dibahuku. Kutenggelamkan wajahku didadanya dan kami berpelukan lama.

Perlahan kulepaskan pelukannya dan dia tersenyum menatapku. “Kita ulang yuk kenalannya”ucapnya sambil senyum.

“Ulang?”tanyaku.

Dia mundur lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman, “Elang”katanya.

Kusambut salamnya, “Anja”balasku dan tersenyum.

Dia merangkulku, “Rumah kamu deket sini ya? Aku anterin pulang ya”ucapnya.

Aku mengangguk dan kami berjalan bersama menuju rumahku.

“Eh, aku mau tanya”katanya sambil jalan.

“Apa?”tanyaku.

“Nama panjang kamu siapa?”tanyanya.

“Anja galya oilien”jawabku.

“Pantesan banyak gaya”katanya.

“Galyaaaaa”balasku sambil tertawa.

“Oo. Pasti suka banget sama lukisan ya?”ucapnya sambil ngangguk-ngangguk.

Tawaku spontan meledak. Kupukul lengannya lalu dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat, “Nama kamu aneh gitu sih?”sambungnya.

“Udah deh jangan bahas terus”kataku masih tertawa.

“Trus oilien itu maksudnya apa? Itu yang paling aneh tau”ucapnya.

Lalu kami tertawa bersama. Malam itu rumahku terasa jauh. Sepuluh menit rasanya seperti semalaman. Malam itu aku membuka pintu hati lebar-lebar dan menerima Elang dengan senyuman lebar. Entah ceritaku akan berakhir happy ending atau sad ending, yang pasti malam itu kami berdua bahagia.
Tamat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s