I’ve seen your drama – eps 3

Aku mengunyah kentang goreng KFC dan melirik Bagas, “serius banget sih” kataku. Namun dia tak bergeming, “Gas, Bagas!” ulangku sedikit teriak. 

“Bentar bentar!” balasnya.

Aku mendekat dan mengintip dari balik bahunya, Bagas mengetik dengan sangat cepat, “yang ini ceritanya tentang apa?” tanyaku.

“Diem dulu” balasnya cuek.

Aku menggeser dudukku, menjauh “ch!” ucapku kesal.

Bagas menghentikan pekerjaannya dan membalikkan badannya kearahku, “bentar ya Adine sayang, dikit lagi beres” katanya.

Aku mengendikkan bahu dan meraih remote tv lalu menghidupkannya. Bagas tampak kesal namun tetap melanjutkan tulisannya. Suasana mendadak hening dan canggung. Hanya suara berisik bungkus kentang goreng KFC karena aku nggak berhenti mengunyah. 

Bagas menggaruk kepalanya kesal, aku tau dia pasti terganggu dengan suara kantong kentang goreng ini, tapi alih-alih menghentikannya, aku malah sengaja meremas kantong itu dengan keras. 

Bagas menutup layar laptopnya lalu menatapku. Cepat-cepat kualihkan pandanganku dan mengernyitkan dahi, pura-pura menatap tv. 

“Bagus filmnya?” kata dia akhirnya.

“Bagus” jawabku cepat, masih pura-pura serius.

“Tentang apa emang?” tanyanya lanjut. Bagas menggeser duduknya dan mendekat, “siapa pemainnya?” sambungnya.

Aku berpikir keras. Menggigit bibir bawahku, “tentang..”ucapku terputus. Aku melirik Bagas dan dia langsung tersenyum, “tentang kentang goreng ya?” katanya.

“Iya!” jawabku ketus.

Bagas tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya, saat dia tertawa perasaan bahagia langsung memenuhi dadaku. Lalu aku tak akan mampu menahan senyumku dan ikut tertawa bersamanya. 

“Makan yuk” ucapnya lalu berdiri.

“Udah kenyang, makan kentang” balasku ikut berdiri, “aku temenin aja ya” sambungku.

Bagas mengangguk lalu menggandeng tanganku. Kami berjalan keluar menuju warung langganan tak jauh dari kos-kosan.

“Ceritanya tentang kamu” katanya sambil jalan. Aku terlonjak senang, “oh ya? Serius?” ucapku.

“Udah beres? Kapan dipublish? Ceritanya gimana emang? Boleh baca nggak?” tanyaku nggak berhenti.

Bagas hanya senyum lalu merangkulku, “nggak dipublish sekarang” katanya.

“Yah, kenapa? Belom beres?” tanyaku balik.

“Belom, dikit lagi” jawabnya.

                                      *

“Ladies and gentlemen, welcome to Soekarno Hatta Airport in Jakarta. Local time is 15.45 and the temperature is 27’C …”

Aku terbangun dan kulirik jendela disamping, “akhirnya..” bisikku. 

Aku menarik nafas dalam-dalam dan kembali memejamkan mataku. Kenangan tentang masa lalu menggenang diingatanku, jantungku berdegup kencang.

Jakarta..

Ibu..

Bagas..

Dadaku terasa sesak, kutahan tangis didalam hati. Rasa perih itu muncul lagi, rasa yang sama persis seperti lima tahun yang lalu. Ternyata luka itu belum sembuh, pikirku. 

Masih segar diingatanku saat keluarga Bagas membatalkan pernikahan seminggu sebelum acara. Semua terjadi akibat kasus malpraktik di rumahsakit Ibu. Keluarga Bagas tak mau ambil resiko, mereka orang pemerintahan. Saat itu ayahnya menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, mereka nggak mau gara-gara kasus ini, nama baik keluarga besar Aryasatya tercemar.

“Kita pergi. Bagas, kita pergi aja. Kita tinggalin semua!” kataku waktu itu.

Aku memohon seperti sampah dihadapannya. “Adine, kamu yakin?” tanyanya ragu. Kutatap matanya dan mengangguk, “kamu mau kan?”sambungku tak bisa kutahan tangis. Aku memohon dan berlutut, aku menangis sekuat tenaga. 

Bagas memelukku erat, “jangan nangis Adine, kita pergi. Kita tinggalkan semuanya” jawabnya, “besok kita ketemu dibandara jam 9 pagi. Ok?” sambungnya.

Kuusap wajahku, “besok jam 9, dibandara?” kataku.

Bagas mengangguk lalu memelukku kuat. “Kita pergi Adine..kita pergi” ucapnya.

Sore itu. Terakhir kalinya aku melihat wajah Bagas. Keesokan harinya, aku seperti orang bodoh menunggu sendirian dibandara. Berulang kali kutelfon, namun ponselnya tak aktif. Dia tak pernah muncul. Sedangkan aku, aku tak memiliki cukup kekuatan untuk kembali kerumah. Setelah menentang ayah habis-habisan dan lari dari rumah, aku tak sanggup pulang.

Tapi hari ini, aku menginjakkan kakiku kembali disini. Aku menarik nafas dan melangkah menuju pintu keluar, adikku berdiri persis didepan pintu keluar. 

Dia tersenyum, cantik. Dari dulu Rania memang kesayangan ayah, cantik dan penurut. Rania diadopsi oleh Ibu, ibu kandungnya meninggalkan dia di rumahsakit. Setelah dua minggu, pihak rumahsakit mencari keberadaan keluarganya namun tak ada hasilnya. Akhirnya ayah dan ibu memutuskan untuk mengadopsinya, aku tak pernah suka dengan kehadirannya. Rania selalu menjadi pusat perhatian dikeluarga kami. Aku sempat mendengar ucapan ayah pada ibu malam itu, “biarkan Rania yang pegang rumahsakit” ucapnya. Tapi ibu tak setuju dan berujung pertengkaran hebat. 

 “Apa kabar, kak?” ucapnya canggung. 

Aku tak menjawab. Rania menelfon pak Didik untuk menjemput kami. “Pak, sekarang ya” katanya lembut. 

Tak lama mobil parkir didepan kami, pak Didik langsung keluar dan menghampiriku, “Ya Allah..non Adine. Apa kabar non? Saya kuangen bener loh non!” ucapnya semangat. Aku tersenyum dan menjabat tangan Pak Didik, “baik pak. Alhamdulillah” jawabku tersenyum. 

Pak Didik mengangkat koper dan meletakkannya dibagasi. Aku dan Rania duduk bersebelahan, dia sedang bicara diponselnya saat aku menghidupkan ponselku. 

“Iya, udah sampe. Baru aja. Langsung ketempat Ibu nih” ucapnya. 

Kubuka pesan Kang Hyo Jae, dan berpikir untuk membalasnya. “Naega dochaghaessseubnida (aku sudah sampai)” ketikku. 

“Love you too!” kata Rania lalu dia menutup ponselnya. 

“Non Rania kalo ngomong sama Mas Bagas romantis bener” kata pak Didik. 

“Pak Didik suka nguping ih!” jawabnya sambil tertawa. 

Aku menoleh ngeri dan tak percaya, Rania mengendikkan bahunya lalu tersenyum.
Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s