I’ve seen your drama – episode 5

Aku terbangun saat mendengar ketukan pintu, “non Adine?”. Dengan langkah lunglai sambil menguncir rambut kubuka pintu kamar, “ya mba. Kenapa?” tanyaku.

“Bapak panggil untuk makan dibawah, non” jawabnya. 

Aku mengangguk, “bentar lagi aku turun” kataku lalu kembali menutup pintu.

Kubasuh wajah seadanya dan mengganti pakaianku. 

Aku menuruni anak tangga satu demi satu sambil memandangi pajangan foto yang dipasang didinding. Kuperhatikan foto ibu disana, tampak cerah dan muda. Rambut ibu yang selalu dipotong pendek, tubuhnya yang kurus namun selalu tampak cantik karena mata ibu yang besar berwarna kecoklatan. Tak ada jalan lain selain menyembuhkannya, bahkan tak ada yang tersisa dirumah ini untukku selain ibu. 

Aku tiba diruang makan dan ayah sudah menunggu, “duduklah” ucapnya. Kupandang Rania yang duduk didepanku, tatapannya penuh kebencian. Aku pikir, terkadang orang memang takkan dewasa hanya karena usia, sebagian dari mereka adalah anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Rania adalah salah satunya atau mungkin dia makhluk sejenis alien. Oh, ya Tuhan! Aku berharap dia benar-benar alien.

“Adine, ayah sudah dengar semuanya dari Rania. Hal ini benar-benar buat ayah kecewa” ucap ayah memulai pembicaraan. 

“Nurunin aku dijalan tuh keterlaluan, ayah!” sambung Rania, “coba ayah bayangin, aku harus jalan jauh buat cari taksi” ucapnya.

“Adine, apa harus dipaksa untuk minta maaf sama adikmu? Kamu ini seorang kakak, apa pantas berbuat seperti itu terhadap adikmu sendiri?” ucap ayah.

Aku meletakkan sendok lalu kutatap ayah, “aku pikir ayah tau siapa disini yang harus minta maaf? apa perlu aku ungkit alasannya?” jawabku, “dan itu halte! Kalo lo nggak tau gimana nyari taksi di halte, mungkin lo harus sekolah lagi!” sambungku kesal sambil menunjuk Rania.

“Ayah! Ayah liatkan dia ngomongnya gimana?” rengeknya. 

“Adine! Minta maaf sekarang!” bentak ayah.

“Kenapa? Kenapa aku yang harus minta maaf!” balasku.

“Kakak! Kenapa bentak-bentak ayah?” ucap Rania.

“Gue nggak ngomong sama elo!” kataku kesal.

“Cukup! Ayah nggak mau dengar lagi apapun alasannya. Kamu jangan seperti anak-anak, apa susahnya minta maaf sama adik sendiri!” balas ayah.

“Dia bukan adik aku! Dia bukan siapa-siapa!” teriakku.

“Dia adikmu! Dia anak ayah dan ibu!! Kalau kelakuan kamu begini terus, ayah tak akan membiarkan kamu pegang rumahsakit, mungkin memang sebaiknya Rania yang pegang rumahsakit itu..” ucapnya.

Kutatap wajah Rania lekat-lekat. Kuperhatikan bibirnya tersenyum licik. Aku berdiri, “rumahsakit?” tanyaku heran, “apa hubungannya masalah ini dengan rumahsakit? ayah pikir aku peduli siapa yang mau pegang rumahsakit?! Terserah ayah mau kasih rumahsakit sama siapa, aku nggak peduli. Kalau otak dia sanggup untuk pegang rumahsakit, silahkan!” sambungku tak bisa menahan amarah lagi, “aku nggak lapar” kataku cepat dan menaiki tangga.

“Apa ini gara-gara kamu cemburu Rania mau nikah sama Bagas?!” kata ayah.

Langkahku terhenti.

Kukepalkan tangan menahan amarah, “cemburu?” tanyaku. 

Aku tersenyum sinis, “cemburu?” ulangku. 

“Kamu yang kabur waktu itu! Kenapa sekarang menyalahkan Rania?!” ucap ayah. 

“Iya! Kakak yang pergi ninggalin dia. Aku udah tau ceritanya semua dari Bagas” sambung Rania.

“Oh, wow. Really?” sindirku.

“Dia bilang lo nggak terima kenyataan dan nggak nyelesein masalah, malah kabur. Dia capek ngikutin maunya lo yang egois!” balas Rania.

Aku mendadak tertawa. Apa yang barusan Rania ucapkan terdengar lucu ditelingaku, “egois? capek?! Dia capek sama gue tapi sekarang dia pacaran sama lo?” aku kembali tertawa, “goodluck!” ucapku sinis.

“Lo iri! Lo iri karena gw mau nikah sama dia!” teriak Rania.

“Cukup!” potong ayah.

Aku menuruni anak tangga dan kembali ke ruang makan, “mungkin gue harus jelasin perbedaan antara lo sama gue,” jawabku mendekati Rania. 

“Pertama, gue punya kemampuan otak yang cukup tinggi untuk menganalisa situasi dengan cepat sehingga gue tau mana yang benar dan mana yang salah. Kedua, gue memiliki integritas yang tinggi terhadap harga diri gue jadi pantang bagi gue mengais-ngais sampah bekas orang lain dijalanan. Ketiga,” kataku dengan nada tenang, kutatap wajah Rania yang berubah menjadi ngeri. 

“Adine! Cukup!” bentak ayah.

“Ketiga, gue dan Bagas memang dulu pernah saling mencintai but it was gone for me because i instantly knew that moment whe HE LEAVE me five years ago he was a jerk and still a jerk until now! Gue nggak mungkin terima laki-laki sinting yang hampir nikah dengan “kakak” gue dengan cincin murahan berbentuk hati yang ada dijari manis lo itu.” sambungku.

Rania memandangi cincin dijari manisnya lalu menatapku dengan ekspresi yang hampir menangis, “lo bukan kakak gue!” katanya.

“Thank God, akhirnya lo ngerti sekarang” jawabku sambil tertawa, “oh, dan lo perlu tau kalo cincin itu bekas gue dulu. Nggak percaya? Dia pasti bilang cincin itu warisan nyokap dia, and you know what? that ring was not even real, kita beli itu dipasar loak. Itu palsu, lo bisa cek kalo nggak percaya.” sambungku.

Rania mulai menangis lalu akhirnya berteriak-teriak seperti orang gila, “puas!! Puas lo liat gue kayak gini?!!” teriaknya.

“Adine cukup! Mulai saat ini kamu bukan anak ayah! Nama kamu akan ayah hapus dari daftar keluarga!” bentak ayah.

“Sebenarnya anak ayah itu siapa sih? Aku atau Rania?” ucapku kesal, “yang lahir dari rahim ibu itu siapa? Darah daging ayah itu siapa? Atau aku harus tanya sama ibu sebenarnya ayah aku itu siapa?” tanyaku marah.

Plak!

Satu tamparan keras melayang tepat dipipiku. Kutatap ayah tak percaya lalu kulirik kembali Rania, awalnya dia sama terkejutnya denganku namun lama-lama dia tersenyum puas. 

Dasar wanita jalang, brengsek! 

“Minggat kamu!!” bentak ayah. 

Dadaku naik turun saking marahnya. Airmataku mengalir tanpa kusadari.

Aku berlari menuju kamar dan membanting pintu. Aku terduduk menangis. Kutahan suara tangis sekuat tenaga, karena tak ingin siapapun mendengarnya. 

Ponselku bergetar dan kupandangi layar. Satu pesan masuk dari Kang Hyo Jae, “yeogi isseoseo (aku udah sampai disini)” tulisnya.

                                        *

Kukemasi barang-barangku dan keluar dari rumah. Aku putuskan untuk menginap di rumahsakit bersama ibu. Kubuka pintu kamar ibu pelan supaya ibu tak terbangun mengingat sudah larut malam. Kuletakkan tasku perlahan diatas meja dan mulai merebahkan tubuhku diatas sofa. 

Kubuka layar ponsel dan mulai membuka satu persatu notifikasi, entah sudah berapa kali Kang Hyo Jae menghubungiku sejak tadi. Namun tak satupun kubalas pesannya, lagipula aku tak tau harus membalas apa.

“Adine?” suara pelan ibu membuyarkan lamunanku.

Aku menghampiri ibu, “iya bu, Adine tidur disini ya?” tanyaku dan memegang tangan ibu.

Ibu menggeser tubuhnya dan memberi isyarat agar aku tidur disampingnya. Aku tersenyum lalu menaiki tempat tidur ibu dan tidur disampingnya. Ibu memelukku dengan tangan lemahnya. Mencium aroma tubuh ibu spontan mengembalikan kembali kenangan masa kecil, saat aku masih tidur satu kasur dengannya, saat ibu selalu menceritakan kisah-kisah dongeng sebelum tidur.

“Kok Adine nggak tidur dirumah?” tanyanya.

“Adine pengen sama ibu aja” jawabku.

Sambil memainkan rambutku ibu bertanya, “Adine udah ngomong dengan ayah soal-”

“Adine nggak mau bahas masalah itu, bu” potongku.

“Jangan lari dari masalah, Adine” bisiknya.

Aku menengadah, kuperhatikan wajah ibu yang sudah keriput. Wajahnya pucat namun tetap cantik. Garis kerutan matanya terlihat sangat jelas, dia terlihat sangat letih dan tua. Dadaku terasa sesak, “yang penting sekarang ibu sembuh dulu” balasku.

Ibu melepas kalungnya dan memberikannya padaku, “ambil ini” katanya.

“Kok dikasih ke Adine, bu?” tanyaku heran.

“Buat Adine” jawabnya tersenyum.

Aku memandang heran ibu. Kuperhatikan liontin kalung berbentuk hati, “yeppeun (cantik)” bisikku. 

“Buka” kata ibu.

Aku mengernyitkan dahi lalu kubuka. Terdapat foto ibu berukuran sangat kecil dan fotoku disisi satunya. 

“Waktu terus berjalan, yang ada disekitar kitapun pasti berubah. Walaupun ibu tak selalu ada disisimu, berjanjilah untuk terus melihat masa depan. Ibu akan terus hidup disini,” ucapnya menunjuk dadaku, “selamanya..” sambungnya.

“Oh, Ibu..” kata-kataku tersendat, aku tak mampu meneruskannya.

“Kesayangan ibu..” bisiknya sambil mencium keningku, “sweet Adine..” sambungnya.

Ibu menghapus airmata dipipiku, “Ibu punya permintaan, janji sama ibu Adine penuhi permintaannya ya” katanya pelan.

“Mm” gumamku mengangguk.

“Biarkan Fajar yang operasi ibu besok” katanya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Ibu nggak mau Adine berada didekat ibu saat operasi.” jawab ibu.

Aku menatap heran, “kok ibu ngomong gitu?” tanyaku.

Ibu tersenyum, “Nggak akan terjadi apa-apa bu, Adine yang pastikan itu besok dimeja operasi. Prosedurnya cukup simpel, ibu tenang aja” balasku.

Ibu mengusap punggungku pelan, “Adine.. kalo memang prosedurnya simpel, harusnya Fajar aja cukup kan?” balas ibu.
Aku duduk dan memandangi ibu, “tapi bu-”

“Adine udah janji tadi” potong ibu. 

Ibu membelai wajahku, “semuanya akan baik-baik aja, Adine jangan khawatir..” bisik ibu.

Aku menangis dan mencium tangan ibu. Kembali kupeluk ibu, aku menangis sesunggukan dipelukan ibu, “saranghae eomma..(aku mencintaimu, ibu..)” kataku.

“Ajak ibu ke korea setelah selesai operasi, ya..” ucap ibu berusaha menahan tangisnya.

                                         *

Lama kuperhatikan diriku didepan cermin kamar mandi. Aku tertidur dipelukkan ibu tadi malam. Pagi ini aku bangun dengan wajah sembab karena menangis semalaman. Kutepuk-tepukkan wajahku  agar tak terlalu tampak pucat. Kupasang kalung pemberian ibu dan mendekapnya didada, lama sambil kupejamkan mata. 

“Gwenchana, everything will be fine” ucapku pada diri sendiri.

“Sudah siap?” tanya Fajar pada ibu. 

Aku berdiri disamping Fajar, “ibu biarkan Adine-” kataku.

“Kita udah bahas masalah ini kan?” potong ibu. Aku mengangguk pelan, “lo udah cek semua?” tanyaku memastikan.

“Yup!” jawab Fajar.

Ayah dan Rania datang tepat saat suster membawa ibu ke ruang operasi. Ayah sama sekali tak melihatku, kulirik Rania bersama Bagas disampingnya. Aku meninggalkan mereka dan berjalan bersama Fajar menuju ruang operasi. 

Aku menggigit bibirku, “Prosedur VP Shunt harusnya gampang, pastikan penempatan kateter ke ventrikel otak-“.

“Ventrikulo-peritoneal shunting, diperlukan untuk menyalurkan kelebihan cairan dan meringankan tekanan pada otak. Kateter dimasukkan dalam otak untuk menyalurkan CSF untuk sistem ventrikuler dalam rongga perut. Adine, gue tau apa itu VP Shunt prosedur. Rileks..” potong Fajar.

Aku menggangguk lalu tersenyum, “sorry, cuma mau memastikan aja” balasku.

Aku berhenti tepat didepan pintu masuk restricted area. Aku menggenggam tangan ibu, “kita ketemu lagi setelah operasi ya bu” kataku tersenyum.

Ibu mencium keningku sebelum akhirnya masuk ke ruang operasi. Ponselku berdering, aku melirik sebentar lalu kumasukkan kembali ke dalam saku celana.

“Sampai ketemu dua jam lagi” kataku pada Fajar. 

“Angkat tuh telfon lo dari tadi bunyi terus, kayaknya penting” balasnya sambil tersenyum lalu masuk ke ruang operasi.

Aku berjalan keluar dan menekan nomor Kang Hyo Jae. Hanya terdengar satu kali nada masuk, “eodi? (Kamu dimana?)” tanyanya langsung.

“Haukeland hospital, neo yeogi orgeoya? (Kamu mau kesini?)” tanyaku balik.

“Ne, jamsi gidaryeo (iya, tunggu sebentar ya)” jawabnya. 

Aku duduk di bangku ruang tunggu dan memejamkan mata. Rasanya aneh berada di ruang tunggu operasi dan bukan didalam ruang operasinya. Aku mencium aroma kopi dan otomatis otak mengirim sinyal untuk membuka mataku. 

“Hei..” sapa Bagas berdiri didepanku menawarkan segelas kopi.

Kuhela nafas dan menatapnya malas. Bagas duduk disampingku, “kamu butuh kopi” katanya.

Ragu namun akhirnya kuambil kopi dari tangannya, “thanks!” ucapku.

“Ibu akan baik-baik aja, kamu jangan khawatir” katanya berusaha menenangkan, “and, i’m sorry..” sambungnya.

Aku menyeruput kopiku lalu menatapnya, “Bagas, aku benar-benar nggak tertarik sama cerita kalian.” balasku.

“Kamu tau buku itu tentang kamu, kan?” tanyanya.

“Mm” gumamku.

“Kamu alasan aku menulis, Adine” sambungnya. 

“Bagas. Dengerin aku baik-baik, aku sama sekali nggak ada tenaga untuk membicarakan masalah kita sekarang ini.” ucapku tenang, “i’m happy that you finally found the one. I hope you guys are happily ever after dan aku nggak peduli siapa dia dan cerita atau penjelasan dibalik semua hubungan kalian. So, please stop. Ok?” sambungku. 

“Aku masih merindukanmu” balasnya.

Aku tertegun, lama baru kujawab, “beberapa dari dalam diri kita mungkin berpikir bahwa saling berpegangan membuat kita kuat, tapi terkadang yang membuat kita kuat adalah melepaskan,” kataku dan kutatap matanya, “kamu telah merubahku Bagas dan aku tidak akan melupakanmu..” sambungku.

Aku berdiri, “thanks for the coffee” kataku akhirnya dan meninggalkan Bagas sendirian dibangku ruang tunggu.

Aku berjalan keluar menuju lobi. Rasanya aku butuh udara segar, pikirku. Aku tau Bagas mengejarku dan sengaja kupercepat langkahku. 

“Adine..!” teriaknya. Bagas menghentikan langkahnya tepat disaat Kang Hyo Jae berdiri didepan pintu masuk. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya, aku berlari dan langsung memeluknya.

“Yaa, gwenchana? (Hei, kamu nggak apa-apa?)” tanyanya bingung.

“Jamkkan, jamkkan ana.. (sebentar aja, peluk aku sebentar aja)” jawabku.
Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s