I’ve seen your drama – episode 6

“Jeon namja chingu?! (Mantan pacar?!)” tanya Kang tak percaya.

Aku mengangguk lalu meneguk minumanku. Kami duduk di salah satu kafe rumahsakit. 

“Keuge nega han iyuya? Wae? Bukeurowoyo? (Itu sebabnya kamu lari tadi? Kenapa? Malu?)” tanyanya bingung.

Aku menggeleng, “pegoppayo (aku lapar)” jawabku sambil memanggil pelayan, “mba, mau pesen dong” kataku.

Dengan wajah kebingungan Kang menatapku lalu pelayan bergantian, “pegoppayo? Keuga wae yeogie? (Lapar? Siapa dia, kenapa dia disini?)” tanyanya bingung.

Aku tersenyum, “gunyoneun weitoida, tangsini moggo sipo? (Dia pelayan, kamu mau makan apa?)” tanyaku, “nasi goreng satu yah mba” sambungku pada pelayan.

Kang mengeluarkan ponsel lalu mulai mengetik.

“Hyo Jae-ssi, mogulle? (Kamu mau makan nggak?)” tanyaku sekali lagi.

Kang menatapku sebentar lalu kembali ke ponselnya.

Aku mengetuk-ngetuk meja, “yaa, moggo sipni? (Hei, Kamu mau makan apa nggak?)” tanyaku sekali lagi.

“Jamsimanyo (tunggu sebentar)” balasnya singkat.

“Dia nggak makan mba, dia turis nyasar disini” sambungku pada pelayan kesal.

Pelayan tersenyum, “baik mba, jadi pesanannya cuma nasi goreng aja satu ya?” katanya memastikan.

Aku mengangguk dan tersenyum, “iya” balasku.

Kang meletakkan ponselnya, “kkeutnan! mwoya? (Selesai! Gimana tadi?)” tanyanya.

“Opsoyo! (nggak ada!)” jawabku kesal.

“Aigo.. Eomsaljaengi (ya ampun..kekanakan sekali)” balasnya. 

Kang menyilangkan tangan didadanya, “naega yochonghal su isssubnida? (Boleh aku bertanya sesuatu?) tanyanya.

“Wae geurae? (Ada apa?)” tanyaku balik.

“Neo ajigdo gereul saranghae? (kamu masih sayang sama dia?)” tanyanya serius.

Aku terdiam, “wae geuroke butag hana? (Kenapa kamu tanya itu?)” kataku kikuk.

“Wae andwae? (Kenapa nggak boleh?)” balasnya.

“Urineun chinguga anida. (Kita bukan teman)” jawabku cepat.

“Urineun mueosibnikka? Yeonin? (Jadi kita apa? Sepasang kekasih?)” tanya Kang usil.

“Yaa! Kamhihaji ma! (Hei! Jangan macam-macam!)” jawabku panik.

Kang spontan tertawa, “jullaeyo? (Mau nggak?)” sambungnya.

“Chugullae?! (Lo mau mati?!)” ancamku.

Pelayan datang membawa pesananku dan meletakkannya diatas meja, “makasih ya mba” kataku tersenyum. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat Kang yang masih tertawa, “gila” bisikku.

“Oh!” ucapnya ketakutan lalu buru-buru pergi.

“Neo mworago haessni? (Kamu bilang apa sama dia?)” tanya Kang curiga.

Aku meniup nasi goreng yang panas dihadapanku, aroma uapnya membuatku semakin lapar. Aku tersenyum senang. 

“Masissni?? (Enak?)” tanyanya tersenyum.

Aku menyuap satu sendok dan menikmatinya, “Masshita! (lezat!)” kataku senang. Lalu aku mulai melahapnya seperti orang gila yang kelaparan. 

“Chonchoni mani duseyo (makanlah pelan-pelan)” ucapnya lalu memberikan tisu, “ppyam ssal (nasi di pipimu)” sambungnya lalu membersihkan sisa nasi di pipiku.

Aku meletakkan kembali sendoknya. Kutatap wajahnya lama. Pria ini, apa aku bisa mempercayainya? Apa aku memang membutuhkannya disini? Kenapa aku bisa bersamanya disini?

“Ijeon jilmun.. (pertanyaan kamu tadi..)” kataku.

Kang menyenderkan duduknya, “Geurol gachiga issni? (Apakah dia sangat berarti bagimu?)” tanyanya serius.

“Nado molla..(aku juga nggak tau..)” kataku pelan, “joldae nan doraboji ankesso (aku tidak mau lagi melihat kebelakang)” sambungku. 

Kenangan itu mendadak muncul lagi. Saat semuanya baik-baik saja, saat tak ada yang kami pikirkan kecuali bersama. Bagas yang nekat melepaskan gelar dokternya disemester terakhir demi menulis dan alasan dia melakukan itu semua karena aku. Dia nekat melamarku saat lari pagi dan membeli cincin pada salah seorang pedagang yang berada didekat situ. Dulu semuanya baik-baik saja. Dan ibu.. ibu yang paling bahagia saat kukatakan kami akan menikah. Ibu yang mempersiapkan semuanya. Sampai akhirnya orangtua Bagas datang dan membatalkan semuanya. Selain aku, orang yang paling terpukul adalah ibu.

Aku mengalihkan pandanganku dan menyapu air mata diujung mata.

“Uljimayo.. (jangan menangis..)” ucapnya pelan. 

Kang mendekatkan tubuhnya kearahku, “tangsinege sangcheo jul su inneun yuilhan sarameun tangsin jasinida (Satu-satunya orang yang dapat menyakiti hatimu adalah dirimu sendiri)” katanya lalu mengusap pipiku. 

“Noreul seulpege mandeulji mala. (Jangan biarkan orang lain membuatmu sedih)” sambungnya.

Aku menatapnya terkejut, namun entah kenapa aku membiarkan tangannya menyentuh wajahku, “Kang Hyo Jae-ssi..” kataku hampir berbisik.

“Wae tangsini chwiyag, (kenapa kamu rapuh sekali)” katanya menatapku, “noreul bohohago sipda (jadi membuatku ingin melindungimu)” sambungnya.

Aku pura-pura meneguk minumanku, “naneun yaghaji anhda, nan geunyang- (Aku nggak rapuh, aku cuma-)”

“Narang gatchi isseo (tetaplah bersamaku)” potongnya.

“Mwo? (Apa?)” tanyaku tak percaya.

“Uriga hamkke (kita bersama-sama aja)” jawabnya tersenyum, “Aratji? (Oke yah?)” sambungnya.

“Naneun, hal sueobsda (Aku, nggak bisa)” jawabku dan melepaskan tangannya. 

“Wae? (Kenapa?)” tanyanya.

Aku menggigit bibirku, “naneun kegosi joheun saenggak yeoja chingu namsong yumyong insa anin keos katayo (aku pikir, punya pacar selebriti bukan ide yang bagus)” 

Kang menunduk dan mengalihkan pandangannya, “Geureohkuna.. (oh gitu ya..)” bisiknya.

Aku mengangguk, “Mm.., geureohjiman, sanghwangeun tangsinui gyengryeoge ​​buliigeul jul geosibnida.. (lagipula, hal ini akan merugikan karir kamu)” kataku, “majjyo? (Iya kan?)” tanyaku ragu.

Kang menatapku lama dan menarik nafasnya dalam-dalam, “ne, majja.. (Iya, betul..)” bisiknya.
                                      *

Berdiri didepan pintu masuk ruang operasi bukan hal yang mudah bagiku. Aku terus menerus melihat jam dan menggigit kuku sambil mondar mandir.

“Sontobeul mulji maseyo (jangan gigit kukumu)” kata Kang lalu menurunkan tanganku.

“Something’s wrong” balasku lalu mengintip kedalam.

“Isanghan? (Aneh?)” tanyanya penasaran.

“I 10 puniossda (ini sudah lewat sepuluh menit)” jawabku gelisah, “2 siganioyahanda (harusnya cuma dua jam)” sambungku.

“Deo manheun sigani pilyohal suissda (mungkin mereka butuh waktu lebih lama)” balas Kang.

Aku menggeleng, “ani, igeo swibji. (Nggak, harusnya ini gampang)” kataku kembali menggigit kuku, “na deurolkka? (Apa harusnya aku masuk aja?)” sambungku.

Kang menatapku heran, “na? (Masuk?)” tanyanya lalu kembali menurunkan tanganku, namun kali ini ia tak melepasnya,”are you allowed?” sambungnya.

“I’m neurosurgeon” jawabku kali ini menggigit bibirku, “after all, this is my mom’s hospital” sambungku.

“Mwo??! (Apa??!) Neurosurgeon?!!” tanya Kang teriak.

“Solihaji ma!(jangan teriak-teriak!)” balasku.

“Who is he, Adine?” sapa Rania yang tiba-tiba berada dibelakangku. 

Aku sama sekali tak membalas sapanya. Tak habis pikir kenapa dia masih punya muka menyapaku seolah-olah tak terjadi apa-apa.

“Annyeonghaseyo, joneun kang hyo jae (hai, kenalkan saya Kang Hyo Jae)” ucap Kang.

“Kang hyo jae?!! The actor Kang hyo jae? Omg!!” teriaknya tak percaya sambil menutup mulutnya. “Really?! I’m your fan, big fan, Rania” ucapnya girang dan menghentak-hentakkan kaki. ” I don’t know that you’re friend of my sister!!” sambungnya teriak masih menghentakkan kaki.

Kang melirikku lalu tersenyum kepada Rania, “i don’t know that Adine has a sister, nice to meet you” balasnya masih menjabat tangannya.

“Nice to meet you too, can i take a picture with you?” tanya Rania girang lalu mengeluarkan ponselnya, “saranghaeyo (aku mencintaimu)” katanya kali ini berjingkrak-jingkrak.

Aku memutar kedua bola mataku, “dodaeche.. (apa sih..)” bisikku malas.

“Hmm, yes sure” jawab Kang tersenyum lalu kembali melirikku, “ottokhae? (Gimana nih?)” bisiknya.

Aku mengendikkan bahu, “molla..! (Nggak taulah!)” balasku berbisik.

“Say kimchiiii!” ucap Rania masih girang lalu memeluk Kang.

Kang tampak tak nyaman namun tetap tersenyum. Sesekali melirik kearahku, pemandangan yang menggelikan pikirku. Aku masih mondar mandir dan menggigit kuku, Kang terus memperhatikanku sedangkan Rania tak berhenti bicara sejak tadi.

Kang mendekatiku, tersenyum “eonnido gwiyopta. (Adik kamu lucu juga)” katanya.

“Bwa eottoke haengbog (senang banget kayaknya)” kataku kesal.

“Wae? (Lah kenapa?)” tanya Kang heran.

“Opso! (Nggak ada!)” jawabku masih kesal.

“Yaa, neo wae guerae? (Hei, kamu kenapa sih?)” tanyanya balik, “jiltu? (Cemburu?)” sambungnya.

“Jiltu?? Mal jom hajima! (Cemburu? Udahlah berhenti ngomong!)” balasku masih mengintip.

“Kang hyo jae oppa, one more photo. Just one more” potong Rania sok imut. 

Menjengkelkan sekali!

Kang menarik tanganku, “gaibhago sipsubnida! (Kamu ikutan yuk!)” ajaknya.

Aku melepaskan tangannya, “Sirheo! (Nggak mau!) kataku menggeleng, “naneun durolkoya (Aku mau masuk.)” jawabku lalu mendorong pintu.

Aku berjalan cepat menuju area pembedahan dan berlari secepatnya begitu melihat kepanikan para perawat. 

“What happened!” teriakku panik.

“Asystole!” jawab Fajar yang sedang melakukan CPR.

Asystole adalah suatu keadaan dimana tidak ada aktivitas listrik. Secara klinis, pasien dalam keadaan tidak sadar, apnea dan tanpa nadi. 

“Minggir!!” kataku pada Fajar dan mengambil alih CPR, “charge 200 joule!!” kataku pada perawat agar segera menyiapkan defibrilator.

“Tolong ibu.. tolong, jangan sekarang!” bisikku masih melakukan CPR, “jelaskan kronologisnya!” kataku.

“Operasi berjalan baik, semuanya baik-baik aja. Pasien tiba-tiba mengalami henti jantung!” jawab Fajar.

Aku meraih defibrilator, “CLEAR!” teriakku untuk memastikan semua menjauh dari pasien.

Kuperhatikan monitor EKG, “no sign ROSC!” kata Fajar.

ROSC atau Return of Spontaneous Circulation adalah kembalinya aktivitas perfak jantung yang berkelanjutan yang terkait dengan usaha pernafasan yang signifikan setelah serangan jantung. Tanda-tanda ROSC meliputi pernapasan, batuk, atau gerakan dan denyut nadi teraba atau tekanan darah yang terukur.

“Charge 300 joule!” kataku kembali melakukan CPR selama dua menit.

Comeback please! Aku mohon..

Aku meraih kembali defibrilator, “CLEAR!” teriakku lalu menatap layar monitor. 

“No sign ROSC” ucap Fajar.

“Berikan epinephrine 1mg!” perintahku dan kembali melakukan CPR, “charge 360 joule!” kataku.

“Comeback!!!” teriakku marah masih melakukan CPR. 

Aku meraih kembali defibrilator, “CLEAR!!” ucapku lalu kutatap tak percaya garis mendatar yang melintang pada layar monitor EKG.

“Amiodarone 300mg!” ucapku kembali melakukan CPR.

“Adine..” ucap Fajar pelan.

“Shut up!” balasku.

“Adine..” ulangnya lalu menyentuh tanganku. Aku menepisnya, “ibu pasti kembali..dia harus kembali!!” kataku masih melakukan CPR.

“Adine.. i’m really sorry..” ucapnya.

“No, no, no!! comeback!! Please comeback!!” teriakku masih tetap melakukan CPR.

“Adine, berhentilah..” ucapnya pelan.

“Amiodarone 300mg!!!” teriakku pada perawat.

“Adine stop!!! Kita udah berusaha maksimal!!” bentak Fajar.

Aku menatapnya tak percaya. Fajar meraih tanganku lalu kuhentikan CPR, kupandangi sekali lagi layar monitor EKG, kupejamkan mata, “get out..” bisikku.

Kupandangi wajah ibu yang sudah membiru. Aku benar-benar tak percaya, rasanya seperti mimpi. Tangisku pecah tak bisa kutahan lagi. 

“Adine..” bisik Fajar lalu merengkuh bahuku.

“GET OOOUUTTT!!” teriakku histeris.

Aku terduduk lemas di ruang operasi. Aku menggenggam tangan ibu yang dingin dan pucat, kucium lalu kuusapkan ke pipiku.

“Kita ke korea ya bu.. ikut Adine ya bu..” ucapku diantara isak tangis.
Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s