I’ve seen you drama – episode 7

Kupandangi titik air hujan yang membasahi jendela, aku meremas jemari dengan gelisah. Kuhembuskan nafas dijendela lalu kulukis gambar hati pada embun dikaca, “ibu, apa yang harus Adine lakukan sekarang..” bisikku dan kupejamkan mata.

Aku menuang air kedalam gelas dan mengeluarkan pil anti depresan lalu meminumnya. Sudah seminggu sejak kepergian ibu aku tak keluar kamar, aku masih merasa bersalah. Harusnya itu tak terjadi, harusnya aku masuk lebih cepat, harusnya tak kubiarkan Fajar mengoperasi ibu, seandainya aku tau lebih dulu, seandainya aku cek semuanya sendiri.

Berkali-kali aku mengingat kembali kejadian itu, aku mengulang tahapannya satu demi satu. Apakah aku melewatkan sesuatu? Dimana letak kesalahannya? 

“Pikirkan lah Adine, ingat kembali kronologisnya” bisikku.

Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku, “naya (ini aku)” kata Kang.

Aku tak membiarkan seorang pun masuk. Entah sudah berapa kali Kang meneleponku, segala cara sudah dia lakukan. Mulai dari meneleponku berkali-kali sampai pura-pura menjadi cleaning service.

“Adine.. butakhae (Adine.. tolonglah)” ucapnya mulai frustasi.

Aku bersandar dipintu dan menggigit kuku, “ka.. (pergilah)” jawabku seperti biasa.

“Tangsini muneul yeol ttaekkaji naneun yeogiseo (aku akan tetap berdiri disini sampai kamu buka pintunya)” balasnya.

“Hajima.. (jangan seperti itu..)” ucapku.

“Nan sangkwan obseo (aku nggak peduli)” katanya, “nomu neujge (sudah terlambat)” sambungnya.

“Hyo jae-ssi..” kataku pelan.

“Urineun hamkke hyonsileul jigsiheyahabnida. (Kita hadapi semuanya bersama-sama)” katanya, “nega nukkineun geol ihaehae, nal mitto (aku tahu persis apa rasanya diposisimu sekarang, percaya padaku)” sambungnya.

Kupejamkan mata, haruskah kubuka pintu untuknya? Kuakui sebagian dari diriku memang membutuhkannya, mungkin aku bisa memanfaatkannya, hanya untuk sementara saja sampai semuanya kembali normal, pikirku.

“Noreul ttonadallago hajima, jebal (jangan suruh aku pergi, aku mohon)” katanya.

Kubuka pintu perlahan, “hyo jae-ssi..” kataku memohon.

Kang mendorong pintu cepat dan menahannya dengan kaki lalu melangkah mendekatiku, raut wajahnya yang khawatir membuatku ingin mengandalkannya. 

Tangannya mendekap pipiku lalu dia dekatkan bibirnya ke telingaku, “na, neo johayo (aku, menyukaimu)” bisiknya.

Jantungku berdegup kencang dan aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, bahkan aku tak mampu menolaknya. Aku diam sangat lama, “ireojima (jangan lakukan ini)” bisikku.

“Na neo itjima anhayo (aku tidak bisa melupakanmu)” ucapnya. Kang menatap mataku lalu menarik nafasnya dalam-dalam, “naneunhaetsjiman, gurolsuobso! (Aku sudah berusaha, tapi tetap nggak bisa)” sambungnya.

Apa yang harus kulakukan? Pria ini, apa yang harus aku lakukan padanya. Haruskah aku menyerahkan hatiku padanya? Berpikirlah, Adine. Itu ide gila, kau tidak bisa percaya padanya begitu saja. Dia bukan siapa-siapa, dia hanya pria yang kau temui secara tak sengaja di bandara. Jangan gantungkan hidupmu padanya, Jangan balas perasaannya.

Jangan..! 

Kugenggam tangannya dipipiku, kupejamkan mataku dan kukecup tangannya, “dowajuseyo..(tolong aku..)” bisikku, “jebal.. (aku mohon..)” sambungku.

                                        *

Aku memutuskan untuk menerimanya, kuberanikan diri untuk mencoba membuka hatiku sekali lagi. Aku harus belajar mempercayainya, walaupun aku harus siap kalau ini hanya sementara tapi paling tidak aku sudah berusaha mencobanya.

Aku tahu banyak hal yang menjadi penghalang untuk kami bersama. Berkencan dengan selebriti Korea memang bukan ide yang bagus, itu artinya Kang harus mempertaruhkan karirnya. Berbeda halnya di Indonesia atau negara lain, di Korea Kang harus menuruti semua aturan manajemen yang bertanggung jawab atas karirnya.

Hampir semua manajemen industri hiburan di Korea menerapkan aturan larangan memiliki pacar, bila manajemen mengetahui aku dan Kang berkencan, maka dia harus siap kehilangan penggemarnya. Akibatnya, Kang harus rela kehilangan kontrak kerjanya.

Selebriti Korea terkenal dengan fans fanatik mereka. Nggak sedikit dari para fans fanatik ini yang berdelusi dan menganggap para selebriti ini hanya milik mereka, Kang akan dianggap “mengkhianati fans”. Kehilangan fans akan mempengaruhi turunnya angka penjualan film dramanya dan ini konsekuensi yang harus ditanggung Kang saat dia memiliki pacar. Belum lagi serbuan komen-komen negatif yang ditujukan untukku dari para fansnya.

“Hwagsilhangayo? (Kamu yakin?)” tanyaku memastikan.

“Mm.” Kang mengangguk pasti, “naneun michyeossji man naneun deo isang sang-gwanhaji anhneunda. (Aku mungkin sudah gila, tapi aku nggak peduli lagi)” sambungnya.

“Ok, what should we do now?” tanyaku sambil menggigit bibir.

Kami masih berdiri didepan pintu, Kang meraih tanganku, “choum, i bangeso nagaya hae. (Pertama, kamu harus keluar dari kamar ini)” katanya.

“Uri eodilo galkoya? (Kita mau kemana?)” tanyaku.

“Do you want to go to amusement park?” ajaknya lalu menggandeng tanganku dan menariknya keluar kamar. 

“Wait!! I should change my outfit” kataku.

“Yeppoyo (cantik kok)” balasnya tersenyum kembali menarikku.

“W-Wait! I should take my purse” kataku lagi.

“A, ne! (Oh, iya)” balasnya.

Aku meraih tasku diatas meja sambil kupoleskan sedikit lipstick agar tak terlalu tampak pucat. Aku tak bisa menahan senyumku didepan cermin, “oke! Mari kita berkencan” kataku pada diri sendiri.

Kang menggandeng tanganku menuju lobi lalu meminta petugas resepsionis untuk memesankan mobil dengan supirnya, “please wait, sir” jawabnya.

“Ige bboya!! (Apa-apaan ini!!)” teriak salah seorang pria yang berjalan kearah kami. Tubuhnya pendek untuk standar ukuran laki-laki, berkulit putih dan memakai kacamata berbingkai hitam. Rambutnya disisir rapi mengkilat, kupikir matanya hampir keluar saking melototnya, ekspresinya tampak lucu sebenarnya. Mataku tertuju pada jaket bomber yang terlihat kebesaran untuk tubuh kecilnya. 

“Nugu? (Siapa?)” tanyaku pelan.

“Kim maenijo (manajer Kim)” jawab Kang tersenyum.

Manajer? Dia manajer Kang?

“Omo! (Astaga!)” kataku tak percaya, “ottokhae? (Gimana ini?)” sambungku.

Kang melirikku, tersenyum “kogjong mala.. (jangan khawatir..)” bisikknya.

“Neo wae gunyowaisso? (Kenapa kau bersamanya?)” tanyanya cepat dan melihatku dengan marah.

“Urin sagwigo issoyo (kami pacaran)” jawab Kang.

“Mworago?! Andwae..andwae. (Apa katamu?! Nggak boleh..nggak boleh)” balasnya menggeleng.

Kang tersenyum, “amudo nega yagsog, ​​alko! (Nggak ada yang tahu kok, aku janji!)” kata Kang.

“Neo michyeosso! (Apa kau sudah gila!)” balasnya.

“Ama (mungkin)” jawabnya nyengir.

“Geneun tangsini hyugareul ballihadago malhetsjiman wae yeogiwado deiteu? (Katanya kau ke bali untuk liburan, tapi kenapa kau ada disini dan malah berkencan?)” balasnya kali ini tampak seperti memohon.

“Tangsineun jongjongi gateun muesul manduleo? (Apa kamu sering buat dia kayak gini?)” bisikku pada Kang.

“Geneun hangsang-icheoleom! (Dia selalu seperti ini!)” jawab manajer Kim kesal, “jamkkan! neo hangugeo hal suisso? (Sebentar! Kau bisa bicara korea?)” sambungnya baru sadar.

Aku tersenyum dan membungkuk, “ne, nae ireum Adine, joheun tangsineul mannal (iya, kenalkan nama saya Adine, senang bertemu denganmu)” jawabku.

Manajer Kim membalas membungkuk, “ottokhae aneunkoya? (Bagaimana kamu bisa kenal dengannya?)” tanyanya.

“Excuse me, sir. The car is ready” potong petugas hotel lalu menunjuk mobil yang telah siap didepan pintu hotel. 

“Eodie ga? (Mau kemana?)” tanya manajer Kim panik.

Kang menggandeng tanganku keluar hotel, susah payah aku menyamakan langkahnya karena Kang sengaja mempercepat jalannya agar tak diikut manajer Kim.

“Yaa! Eodie ga?! (Hei! Mau kemana?!)” teriak manajer Kim sambil berlari mengejar kami.

“Ttaraojima! (Jangan ikuti aku!)” balas Kang ikut teriak.

Manajer Kim berlari cepat, “andwae! Tangsingwa hamkke gaya! (oh tidak! Aku harus ikut!)” jawabnya dan melompat kedalam mobil.

Kang menghentikan langkahnya, “naga! (Keluar!)” katanya kesal.

“Sirheo! (Nggak mau!)” jawab manajer Kim, “you jump, i jump! Remember, titanic? You jack, i rose..” sambungnya lalu mengenakan sabuk pengaman.

“Mwo?! (Apa?!)” tanya Kang semakin kesal.

Aku tak bisa menahan senyum melihat tingkah manajer Kim. Mereka berdua tampak seperti anak kecil yang sedang berebut kursi mobil.

“Salamduri noreul bondamyeon, (kalau orang-orang sampai melihat kalian berdua,)” ucap menajar Kim sambil menyilangkan tangannya didada, “kedeurun uisim seroul keotida. (Mereka akan curiga)” sambungnya.

“Geureso mwo? (Memangnya kenapa?)” balas Kang.

“He’s right..” kataku.

“Bwa! Geunyoneun ihaedonda.(tuh liatkan! Dia aja ngerti)” kata manajer Kim.

“Gwenchana..(nggak apa-apalah..)” bujukku.

“Najunge neol chugilkoya. (Aku akan membunuhmu nanti)” jawab Kang pada manajer Kim dan menggiringku masuk kedalam mobil lalu menutup pintunya.

Kang berlari menuju sisi pintu satu lagi, karena manajer Kim duduk ditengah, kami terpaksa duduk terpisah. Kang menutup pintunya dengan kesal, “wae jungkane anjaissda? (Kenapa kau duduk ditengah?)” tanya Kang kesal.

“Wae? Olin sijolbuto naneun jungkane anja joha (kenapa emang? Dari kecil aku memang suka duduk di tengah kok)” jawabnya.

“Neo jongmal jjajeungna! (Kau ini menjengkelkan sekali!)” ucap Kang kesal.

“Najunge gomawo halkoya. (Nanti juga kau akan berterima kasih padaku)” jawab manajer Kim.

“Naega wae? (Kenapa emang?)” tanya Kang penasaran.

“Naneun noui eomoniga uisimsulobji anhdologi modeun gosulhakoissda. (Aku kayak gini supaya ibumu nggak curiga)” jawab manajer Kim.

“Uri eommaga dolaga syeossda. (Ibuku sudah meninggal)” balas Kang marah.

Ibunya meninggal? Benarkah? Saat dia mengatakan bahwa dirinya tahu persis apa yang aku rasakan ternyata bukan sekedar kata-kata. 

“Daleun eommaneun gyong-yongjini CEOibnida. (Ibumu yang satu lagi maksudku, manajemen CEO)” jawab manajer Kim sambil membetulkan kacamatanya.

Kang menoleh kearahku, “urin kayahani? (Kita jadi pergi atau nggak?)” tanyanya.

“Oh, dufan yah pak” kataku pada supir. 

“Baik” jawabnya mengangguk.

“Joha, deiteuhaja! (Oke, mari kita pergi kencan!)” ucap manajer Kim sambil bertepuk tangan senang.

Ponselku berdering dan aku merogohnya kedalam tas, setiap kali aku berusaha mengambil ponselku didalam tas pasti selalu membutuhkan waktu yang lama untuk mengambilnya. Rasanya aku ingin membalikkan tasku agar semua isinya tumpah dan akan lebih mudah menemukannya, pikirku.

Kupandangi layar ponsel, lama aku tatap nama yang muncul disana, Bisma Hengkara. Dia adalah pengacara keluarga, kesetiaannya pada ibu sudah hampir sepuluh tahun.

Kugigit bibir lalu kuangkat telfonnya, “Halo?” ucapku.

“Halo, Adine. Apa kabar?” balasnya.

“Baik,” tanyaku ragu.

“Bisa kita ketemu saja?” tanyanya.

“Bisa, tapi ada masalah apa?” kataku balik bertanya.

“Ini perihal warisan almarhum Ibu, siapa pemegang saham rumahsakit-” jawabnya.

Aku menarik nafas dalam, “kalo soal itu saya nggak tertarik membicarakannya” jawabku.

“Tapi ada sesuatu yang harus Adine ketahui” ucapnya serius.

Kupejamkan mata, “pak, saya minta maaf. Saya benar-benar nggak-”

“Surat wasiatnya palsu!” potongnya.

“Palsu?” tanyaku bingung.

Kang menoleh, “gwenchana? (Apakah baik-baik saja?)” tanyanya khawatir.

Aku meraih tangan Kang, “Siapa yang memalsukan?” tanyaku ngeri.

“Bisa bertemu siang ini dikantor saya?” ucap Bisma.

Aku mengangguk, “bisa, kebetulan saya sedang dijalan” jawabku.

Aku langsung mematikan ponsel dan menepuk bahu supir, “pak kita putar arah ya” kataku.

“Naneun daleun gose gaya hae. (Aku harus pergi ke tempat lain)” kataku pada Kang, “mian (maaf ya)” sambungku.

“Museun iriya? (Ada apa?)” tanyanya penasaran.

“Berhenti didepan, pak” kataku pada supir, “I’ll call you, sorry!” sambungku pada Kang.

Kubuka pintu dan berjalan buru-buru. 

Kang meraih tanganku, “jamkkan, naneun nowa hamkke galgoya. (Tunggu, aku ikut denganmu)” katanya.

“Hajima, nan gwenchana (jangan, aku nggak apa-apa kok)” jawabku tersenyum.

“Uriga hamkke damyeon hae, gieoghe? (Kita hadapi sama-sama, ingat?)” balasnya. Kang mengusap pipiku, “noneun ije deo isang honjaga anida. (Kamu tidak akan sendirian lagi mulai sekarang)” sambungnya.

Aku menarik nafas dalam lalu tersenyum senang, “arasso, hangsang hamkke halkeyo (baiklah, kita akan selalu bersama)” kataku.

“Yaa! naneun eottae! (Hoi!! Aku gimana?!)” teriak manajer Kim dari dalam mobil.

“Haengbokhan deiteu!! (Semoga kencanmu menyenangkan!!)” teriak Kang sambil tertawa.  

“Yaa! Yaa!!” manajer Kim berteriak semakin kencang bersamaan dengan mobilnya yang berjalan menjauh.

Kang menggandeng tanganku, “let’s go!” katanya lalu aku melangkah pasti kedepan bersamanya.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s