I’ve seen your drama – episode 8

Kang hyo jae tak melepas genggamannya sedikitpun, dia malah meminta Bisma menjelaskan permasalahannya dalam bahasa Inggris. Awalnya Bisma keberatan, “dia perlu tau, jadi jelaskan saja dalam bahasa inggris” kataku.

“Baik kalau begitu” jawabnya mengangguk lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam brankasnya, “the real letters is in here” ucapnya.

Kotak ini, kotak yang sama yang pernah aku lihat waktu kecil. Aku selalu bertanya pada ibu apa isinya, “nanti kalo Adine udah besar ibu kasih tau” jawab ibu waktu itu.

Kang mengangkat kotak itu dan membolak-baliknya dengan teliti, “ki.. (kunci)” ucapnya lalu menatapku, “yolsoeisso? (Kamu punya kuncinya?)” tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi, “kunci..?” bisikku heran.

“Kotak itu memang dikunci, almarhum mengatakan kalau kamu punya kuncinya” ucap Bisma.

Aku punya kuncinya? Kunci yang mana? Ibu tak pernah menitipkan kunci apapun padaku.

“I don’t have it!” kataku bingung.

Kang kembali membolak-balikkan kotak itu. Kupejamkan mata berusaha mengingat kembali apakah ibu pernah memberikan kuncinya, apa mungkin aku yang lupa. 

Kalau surat yang asli ada di dalamnya, jadi yang dipegang oleh ayah dan Rania memang palsu. Mereka tak mungkin memiliki kuncinya. Ibu bilang hanya aku yang punya kuncinya, tapi aku sama sekali tak pernah melihatnya.

“Siapa yang memalsukan suratnya?” tanyaku penasaran.

Bisma menarik nafas panjang. Lama baru ia jawab,  “Bapak Adhimurti sendiri yang memalsukan surat itu” jawabnya.

Ayah!

“Ayah yang melakukannya?” tanyaku tak percaya.

Bisma mengangguk, “benar, kita punya semua bukti dan saksinya” ucapnya.

Aku mematung tak percaya. Jantungku berdegup kencang, aku merasakan aliran darah yang deras diseluruh tubuhku. Ayah yang melakukannya? Bagaimana bisa?

Hanya karena demi Rania ayah tega melakukannya ini pada ibu. Aku mengepalkan tanganku, “aku harus bertemu dengannya!” kataku marah.

Kang meletakkan kotak itu dipangkuanku, “hateu moyang (bentuk hati)” ucapnya, “simjang moyang yolsoe (kuncinya berbentuk hati)” sambungnya lalu menunjuk lubang kuncinya.

Kalung itu..!

                                        *

Aku melangkah masuk kerumah dalam keadaan marah. Kutemui Rania dan Bagas diruang keluarga, mataku tertuju pada undangan pernikahan yang tertumpuk diatas meja. Baru seminggu ibu meninggal, mereka sudah kelihatan bahagia karena mau menikah, brengsek.

Rania berdiri menghampiriku, “ngapain lo kesini?” tanyanya sombong.

Kutatap matanya nanar, “gue nggak ada urusan sama lo” jawabku.   

Kang meraih tanganku tepat saat Bagas menghampiri. Mereka saling bertatapan, lama. 

“Who are you?” tanya Bagas penasaran.

“Her boyfriend” jawab Kang cepat.

“Dimana ayah?” tanyaku pada Rania.

“Since when?” tanya Bagas kembali pada Kang.

“Wae? (Kenapa emangnya?)” jawab Kang tak peduli.

“Kang hyo jae oppa? Annyeong! (Abang Kang hyo jae? Hai)” sapa Rania cengengesan.

Kang sama sekali tak membalas sapaannya. Matanya masih tertuju pada Bagas. 

“Panggilkan ayah!” kataku.

“Ada apa ini?” tanya ayah menghampiri, ayah membetulkan kacamatanya, “siapa dia?” sambungnya sambil menunjuk Kang.

Kang membungkuk hormat pada ayah, “my name is Kang hyo jae” jawabnya sopan.

“Kenapa ayah melakukannya?” tanyaku langsung.

“Melakukan apa?” tanyanya balik, “ada apa ini, Bisma?” sambungnya bertanya pada Bisma yang dari tadi berdiri dibelakangku.

“Ayah memalsukan surat wasiat ibu demi apa?” tanyaku marah, “demi dia?” aku menunjuk Rania.

Ayah tampak bingung, “kamu ngomong apa, Adine?” tanyanya.

“Jangan pura-pura nggak tau, ayah. Aku punya kotak ibu!” jawabku.

Ekspresi ayah mendadak ketakutan, “kotak? Tapi kotak itu dikunci!” katanya.

“Ibu memberikan kuncinya sama aku!” balasku.

“Ibu sendiri yang memberikan kuncinya? Jangan dibuka, Adine!” kata ayah panik.

Aku mengernyitkan dahi, “kenapa? Katakan padaku kenapa ayah memalsukannya! Kenapa ayah tega sekali, kalau memang karena rumahsakit, aku sudah bilang aku nggak peduli! Tapi kenapa sampai harus memalsukannya!” teriakku.

Kang merengkuh bahuku, “Adine..” ucapnya berusaha menenangkanku.

“Adine, percaya sama ayah. Jangan buka kotaknya..” balasnya.

“Percaya? Aku pasti sudah gila mau mempercayai ayah sekarang!” jawabku.

“Ayah tau selama ini kamu pasti membenci ayah, tapi kali ini ayah memohon jangan buka kotaknya” kata ayah.

“Katakan alasannya, ayah! Kenapa ayah melakukan ini semua? Hanya karena harta ayah mengkhianati ibu seperti ini?” tanyaku bingung.

“Maafkan ayah..” ucap ayah menyesal.

Aku memejamkan mataku, hatiku terasa hancur, “Bisma, aku mengajukan tuntutan atas ayahku. Tolong urus semuanya!” kataku melangkah pergi.

“Adine! Apa-apaan ini!” teriak Rania bingung.

Aku menggenggam tangan Kang dan keluar dari rumah. Rasanya menyesakkan sekali didalam sana. Dadaku hampir pecah saking sesaknya.

“Adiiinneeee!!” teriak Rania dari kejauhan.

                                        *

Aku kembali ke hotel dan membawa kotak itu. Kuletakkan diatas meja lalu kupandangi lama. Inikah alasannya ibu memberikan kalung miliknya waktu itu. 

Kudekap kalung itu didada lalu kupejamkan mata, “ibu selalu ada disini..”. Masih terngiang ditelingaku kata-kata ibu malam itu. Rasanya masih tak percaya ibu sudah pergi meninggalkanku. Lalu kotak ini, apa yang ibu simpan disini. Kenapa ayah tak ingin aku membukanya.

Kulepas kalung itu dan menempelkan liontin pada lubang kuncinya lalu kutekan perlahan.

Klik!

Jadi memang benar kalung ini kuncinya. Kubuka pelan dan kutemukan satu map putih besar, jepit rambut berbentuk kupu-kupu dari perak lalu mataku tertuju pada sepucuk surat yang berada diatas map. Kubuka perlahan surat itu,

Kesayangan ibu, Adine…

Ibu tau kakak tidak mau pulang, tapi ibu masih percaya suatu saat anak ibu pasti datang. Ibu tak berani bayangkan dimana anak ibu sekarang. Mungkinkah anak ibu baik-baik saja disana? Atau mungkinkah anak ibu kedinginan disana? Bagaimana ibu bisa tau?

Masih lekat dalam ingatan, gadis kecil ibu yang cantik saat memakai gaun warna hijau yang ibu belikan dulu dengan rambut panjang hitam yang selalu dijepit bagian sampingnya. Taukah kakak, ibu masih menyimpan jepit itu karena hanya itu satu-satunya obat kerinduan yang ibu punya. Masih ingatkah saat pertama kalinya kakak pergi ke pesta ulangtahun teman sekolah. Saat ibu menjemput jam 11 malam tapi kakak marah-marah karena ingin lebih lama bersama teman-teman. Waktu itu kakak berusia 15 tahun, maafkan ibu karena dimata ibu, kakak selalu menjadi gadis kecil ibu.

Saat usia kakak beranjak remaja, ibu berusaha sebaik mungkin untuk tetap berada disisimu, namun kakak selalu menolak karena ingin memiliki ruang sendiri. Maafkan ibu yang selalu lupa untuk mengetuk pintu kamar karena ibu hanya ingin mencium keningmu saat kakak tertidur pulas. 

Saat ibu membuka mata pagi ini di rumahsakit, ibu tak tau bagaimana caranya memberitahukan semuanya. Ibu tau waktu ibu tak banyak, dan ibu ingin anak ibu tau betapa ibu sangat mencintaimu. My sweet Adine.. ketahuilah bahwa apapun yang terjadi tak satupun karena kesalahanmu. Jangan bersedih karena tak lagi bisa melihat ibu. Suatu saat kita akan bersama lagi, percayalah. Selamat tinggal kesayangan ibu, kuatkan dirimu, jangan pernah takut karena ibu selalu bersamamu.

Love,

Ibu.

Tanganku bergetar saat kubaca surat ibu. Kudekap surat itu dan kubaringkan diriku di lantai, seketika aku merasakan perih didada yang menyeruak keseluruh tubuhku. Tangisku pecah diantara keheningan malam yang dingin. Bagaimana bisa aku berdiri sendiri tanpa ibu disisiku. Bagaimana bisa aku kuat berjalan sendiri tanpa ibu disisiku. Bagaimana bisa aku menghadapi semua ini sendirian tanpa ibu disisiku.

Aku terbangun begitu mendengar dering telepon. Kudapati diriku tertidur dilantai dan masih menggenggam surat ibu. Aku berdiri dan berjalan pelan lalu kuangkat telepon, “halo?” kataku. 

“Wae hyudae jeonhwaga kkeojyo issni? (Kenapa ponselmu mati?)” tanya Kang.

“Mian, naneun jami delotsda (maaf, aku ketiduran)” jawabku.

“Sangjaleul yeolo bosyossubnikka? (Apa kamu sudah buka kotaknya?)” tanyanya.

Mataku tertuju pada kotak yang masih terbuka diatas meja, “imi (sudah)” jawabku.

“Pyonjileul hwagin haessni? (Apa kamu sudah cek suratnya?)” tanyanya kembali.

“Ajig (belum)” kataku lemah.

“Naneun lobieisso, nal gidaryo (aku di lobi sekarang, tunggu aku)” ucapnya lalu menutup telfonnya.

Kuletakkan kembali telepon dan berjalan menuju toilet. Setidaknya aku harus membasuk wajahku sebelum Kang datang, pikirku.

Kupandangi wajahku yang berantakan didepan cermin. Kubasuh wajahku lalu tersenyum. Kamu pasti bisa Adine, kataku pada diri sendiri. 

Aku berjalan menuju pintu begitu mendengar suara bel. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kubuka pintu, “morning..” kataku dan kupaksakan tersenyum.

Kang mengernyitkan dahinya, “are you ok?” tanyanya.

Aku mengangguk, “munje obsda (semuanya baik-baik aja)” jawabku, “the letters, shall we check?” sambungku mengalihkan perhatiannya.

Aku mengambil map putih dari dalam kotak dan membukanya didepan Kang. Kubaca sekilas, didalam surat tertera semua harta ibu diberikan kepadaku dan aku berhak melakukan apa saja atas harta itu. 

Aku tak terlalu peduli dengan isinya lalu kubuka lembaran dibelakangnya, surat keterangan adopsi. 

“Kenapa ibu menyimpan surat adopsi Rania disini juga?” bisikku bingung dan aku mulai membacanya pelan-pelan.

Kurasakan panas dimataku, tanganku mendadak dingin dan kakiku terasa lemas. Aku sama sekali tak mengerti. 

Ini apa!

“Adine.. Gwenchana? (Kamu baik-baik saja?)” tanya Kang khawatir, “otteoni jagsong? (apa yang tertulis disana?)” sambungnya.

Kubalik sekali lagi lembaran surat keterangan warisan didepan, kali ini kubaca perlahan dan hati-hati dan kutemukan tulisan itu disana.

“..agar melaksanakan wasiat di atas, maka dengan ini saya mengangkat Adine Pramidita sebagai anak kandung saya dan menerima seluruh harta..”

“Yaa! Adine..malhae (Hei! Adine..bicara padaku)” ucap Kang.

Aku tak mampu mengatakan apa-apa, aku hanya bisa menatap Kang diam. Aku bersimpuh dilantai tak percaya, inikah alasannya kenapa ayah menyuruhkan jangan membuka kotaknya? Agar aku tak membaca ini semua? Ayah tak ingin aku tau yang sebenarnya! 

Kang merengkuh bahuku panik, “museun iri?! Mal! (Apa yang terjadi?! Katakan padaku!)” teriaknya.

“Aku bukan..” kataku tercekat, “aku bukan anak ibu..” sambungku.

“Mworagu? naneun ihaehaji moshanda. (Apa yang kamu katakan? Aku nggak ngerti)” tanya Kang panik.

“Naneun geunyoui aiga anigo, naneun amudo anieossda! (Aku bukan anaknya, aku bukan siapa-siapa!)” teriakku histeris.

Kang menatapku bingung lalu memelukku, “uljima..uljimayo..jebal.. (jangan menangis.. jangan menangis..aku mohon)” bisiknya.

Rania!

Bagaimana dengannya? Kubuka sekali lagi surat warisan itu, kembali kubaca perlahan namun aku tetap tak menemukan namanya dalam wasiat ibu. 

Aku mengeluarkan semua isi map, kutemukan surat adopsi lainnya. Namanya ada disana, Rania juga merupakan anak angkat ibu. Kami berdua sama-sama diadopsi oleh ibu dan ayah. Aku tak berbeda denganya, sama sekali tak ada bedanya. 

Perbedaan kami hanya masing-masing ibu dan ayah memiliki kasih sayang yang berlebih terhadap diriku dan Rania. Ayah melakukannya demi aku! Bukan karena yang lain tapi karena aku!

Aku membereskan lembaran-lembaran dokumen dan berdiri buru-buru.

“Odiganeunkoya? (Kamu mau kemana?)” tanya Kang bingung.

Aku berlari mengambil tas dan meraih ponselku. 

Sial..! Ponselku mati.

“Neo jonhwa jwo! (Berikan aku ponselmu!)” pintaku cepat.

Kang memberikan ponselnya, “nuguege jonhwahago sipni? (Kamu mau telfon siapa?)” tanyanya.

Aku menekan nomor Bisma, “naneun sosongeul chwisohaeyahetta. (Aku harus membatalkan tuntutannya)” jawabku cepat.

Kang menatapku panik, “sosong? (Tuntutan?)” tanyanya, “Abojie daehan sosong? (Tuntutan terhadap ayahmu?)” tanyanya.

“Wae gyesog jilmunhani?! (Kenapa kamu tanya terus dari tadi?!)” jawabku marah.

Terdengar nada sambung, “halo, Bisma?” kataku.

“Ya. Siapa ini?” tanyanya balik.

“Adine..” ucap Kang merengkuh bahuku. Aku menepisnya, marah. 

“Ini aku, Adine! Batalkan tuntutannya!” balasku panik. 

“Adine..” panggil Kang.

“Dagchyeo! (Diam!)” balasku marah pada Kang.

“Bicara yang jelas, Adine” ucap Bisma.

“Cancel the lawsuit!” teriakku.

“Mos hagesso.. (Tidak bisa..)” jawab Kang.

“Apa maksud kamu, Adine?” tanya Bisma.

Aku menatap Kang, “Wae? (Kenapa?)” tanyaku heran.

Bisma terdengar panik, “tuntutan itu, kita tak bisa membatalkannya” jawabnya.

“Ojesbame gyongchali tangsin abojireul chepohaessubnida. (Polisi telah menahan ayahmu tadi malam)” ucapnya.

“Dia terbukti memalsukan dokumen berharga dan diancam hukuman maksimal 6 tahun, ayahmu adalah tahanan sekarang,” jawab Bisma.

“I’m sorry..” ucap Kang dan Bisma bersamaan.
Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s