I’ve seen your drama – episode 9

Kubaca sekali lagi surat warisan yang dipalsukan oleh ayah. Tak ada perubahan dalam pembagian harta, aku tetap menjadi pewaris tunggal. Lalu mataku mencari-cari kalimat pernyataan ibu, dan kutemukan ayah memalsukannya disana.

“..agar melaksanakan wasiat di atas, maka dengan ini anak kandung saya Adine Pramidita menerima seluruh harta..”

Aku membolak-balik lembarannya, mencari-cari hal lain yang dirubah oleh ayah. Namun, aku tetap tak menemukannya, “cuma ini?” tanyaku tak percaya pada Bisma.

Bisma mengangguk lalu bersandar dimeja kerjanya, “kita ada konferensi pers dua jam lagi” katanya. 

Aku mengernyitkan dahi saat kuperhatikan Bisma membetulkan dasinya, “konferensi pers?” tanyaku.

“Adine, kamu harus menjelaskan semua yang terjadi. Keluargamu bukan orang yang biasa-biasa saja di Indonesia, semua media sekarang sedang menyoroti kasus ini” jelasnya.

Apa yang harus kujelaskan..

Ketika seorang anak berusaha membongkar kebohongan ayahnya, yang ditemuinya hanyalah rangkaian kisah pengorbanan sang ayah. Sejak aku sadar bahwa kasih sayang ayah tak cukup untukku, kupikir sudah sewajarnya aku marah karenanya. Aku sama sekali tak memberikan kesempatan untuk ayah menunjukkan kasih sayangnya. Sampai akhirnya kasih sayang itu benar-benar hilang darinya. Maka yang tinggal hanyalah kesalahpahaman, rasa dendam dan kebencian. 

Aku meraih tas dan berjalan keluar ruangan. Kupejamkan mata sambil berjalan pelan, “apa yang harus aku lakukan..” bisikku. 

“Adine! Jangan lupa dua jam lagi ya. Nanti pak Didik yang jemput dihotel” teriak Bisma berdiri didepan pintu ruangannya.

Aku menoleh lalu mengangguk malas, “terserah..” kataku lalu mengeluarkan ponsel dan mengangkat telfon dari Kang. 

“Kkeutnassda? (Udah beres?)” tanya Kang langsung.

“Ne. (Iya)” jawabku pelan.

“Na bakke neol gidarigoisso. (Aku tunggu kamu di luar)” katanya lalu mematikan ponsel. 

Aku menekan tombol lobi pada elevator lalu memandangi pantulan diri dari cermin disampingnya. Rambutku berantakan sekali, pikirku. Kurapikan kebelakang dan mulai menguncirnya lalu kupandangi sekali lagi didepan cermin. Lama kupaksakan senyum berharap ada perubahan mood, tak peduli seberapa keras aku mencoba namun tetap saja tak berhasil.

                                         *

“Neo moggosipo? (Kamu mau makan?)” tanya Kang didalam mobil.

Kukenakan sabuk pengaman, “naneun abojireul mannagosipo. (Aku mau ketemu dengan ayah)” jawabku lalu menyalakan mobil, “i can drop you, you don’t have to accompany me” sambungku.

“Ani, naneun dongban (nggak, aku ikut)” jawabnya.

“Neoneun pilyo obso. (Kamu nggak perlu temani aku)” kataku.

“Hajiman nowa donghaenghago sipo. (Tapi aku ingin menemani kamu)” balasnya.

“Wae irosineun geoyeyo? (Kenapa kamu melakukan ini semua?)” tanyaku kesal.

“Wae dasi murohabnikka? (Kenapa kamu tanya lagi?)” tanyanya balik.

Aku memejamkan mata, “because i think you should have your own life” jelasku, “don’t you have your own schedule?” sambungku. 

“Opso (Nggak ada)” jawabnya bingung, “wae kabjagi igeol joahani? (Kenapa kamu tiba-tiba kayak gini?)” sambungnya.

“Wae hanguge dola oji geurae? (Kenapa kamu belum balik ke Korea?)” potongku.

“Naega gago sipni? (Kamu mau aku pergi?)” tanyanya balik. Kang menatapku bingung, “Wae? Naega noreul gwichanhge haessni? (Kenapa? Apa aku mengganggumu?!)” sambungnya kesal.

“ye! neo gwichanhge! (Iya! Kamu mengganggu!)” jawabku, “naneun michyeossdago saeng-gaghae! (Rasanya aku mau gila!)” sambungku kesal.

“Naneun noreul michigehani?? (Aku membuatmu gila??)” tanya Kang marah, ia melepaskan sabuk pengamannya, “naega noreul goelobhimyeon choeumbuto malheya hae! (Kalau aku mengganggumu, harusnya kamu katakan dari awal!)” sambungnya kesal.

“Naega mal haettjanha! (Aku sudah bilang!)” jawabku marah, “naneun keu siganeul kajilago malhaetta! (Aku sudah bilang untuk pergi waktu itu!)” sambungku.

“Wae dangsineun nae sarangeul badaseubnikka? (Lalu kenapa waktu itu kau menerima cintaku?)” tanyanya marah.

“Naneun noui sarangeul badadeuliji anheulkoya. (Aku tidak menerima cintamu)” jawabku memalingkan wajah.

“Mwo? (Apa?)” tanya Kang tak percaya.

Aku menggigit bibirku, ragu. Lama baru kujawab, “Sarangi aniya.. (itu bukan cinta..)” jawabku pelan, kupejamkan mata “ka.. (pergilah..)” sambungku berbisik.

Kang hyo jae menatapku lama, “dasi mal.. (katakan sekali lagi..)” ucapnya, “say it if you really-”

“Ka..( pergilah..)” potongku. 

Kang memalingkan wajahnya, “Joha, neo munje ara? jasinui gamjengi jinsil doel ttae hangsang saramdureul mireo beolibnida! (Oke aku pergi, kamu tau masalahmu apa? Kamu selalu mendorong orang untuk menjauh padahal mungkin saja perasaan mereka terhadapmu itu tulus!)” ucapnya kesal lalu membanting pintu.

Kutatap Kang berjalan menjauh, semakin jauh ia berjalan semakin aku merasa kesal pada diriku sendiri. 

                                        *

Petugas lapas menyuruhku untuk masuk ke salah satu ruangan, “disini anda dapat berkomunikasi dengan tahanan melalui telepon itu” katanya menunjuk telepon yang menggantung disamping kaca pemisah. 

Aku mengangguk lalu duduk sambil menunggu ayah datang. Mataku selalu tertunduk kebawah, “what have you done, Adine..” sesalku.

Aku berdiri saat kulihat ayah memasuki ruangan, wajah ayah tampak pucat tapi ia malah tersenyum. Ia meraih telepon dan menyuruhku untuk mengangkat telepon disampingku, “ayah..” kataku khawatir.

“Ayah baik-baik aja” balasnya masih tersenyum. 

“Maafkan Adine, ayah” ucapku.

“Bukankah ibu sudah katakan, apapun yang terjadi tak satupun karena kesalahanmu?” balas ayah.

Aku menengadah terkejut, “ayah tau.. surat ibu..” ucapku terbata-bata.

Ayah hanya tersenyum, “waktu pertama kali kami mengadopsimu, kamu masih sangat kecil tapi ayah tau kamu akan menjadi orang yang besar kelak. Begitu ayah melihat matamu, ayahpun tau saat itu juga kamu adalah anak gadis kesayangan ayah. Rasanya baru kemarin ayah membuatkanmu istana pasir, kamu suka sekali dengan pantai. Hampir tiap minggu kita pasti kesana. Kamu adalah penantian panjang ayah dan ibu, seluruh keluarga besar menyayangimu. Mereka selalu memuji dengan kepintaranmu, kecantikanmu, kesempurnaan yang pernah ada.” ucap ayah.

Aku mengernyitkan dahi, “tapi-” kataku.

“Lalu,” potong ayah lalu membetulkan kacamatanya, “lalu Rania datang. Dia tak secantik kamu, tak cukup pintar ataupun lucu dibandingkan kamu. Tak satupun keluarga besar kita memperhatikan dia. Tak ada yang bisa menggantikanmu, tidak dengan Rania. Bahkan tak ada yang mengingat ulangtahun pertamanya. Dia tak memiliki siapa-siapa kecuali ayah, dia cuma punya ayah sementara kamu, Adine, kamu memiliki segalanya.” sambung ayah.

Kutatap ayah dengan airmata yang menggenang dipelupuk mataku, “tapi Adine tetap butuh ayah..” ucapku.

Ayah mengangguk, “ayah tau. Maafkan karena ayah tak bisa menunjukkan kasih sayang ayah padamu didepan Rania, maafkan ayah karena berhenti bermain denganmu, maafkan ayah karena tak lagi membuatkan istana pasir untukmu, maafkan ayah karena selalu sembunyi-sembunyi memperhatikanmu. Maafkan ayah karena mengorbankan perasaanmu.”ucapnya.

Aku tertunduk diam tak mampu mengatakan apa-apa. Aku pikir kita takkan mengerti menjadi orangtua sebelum kita menjadi salah satunya. Mungkin suatu saat aku bisa mengerti ucapan ayah. Arti pengorbanan bagiku tak sama dengan arti pengorbanan yang ayah dan ibu lakukan. 

Kenapa aku selalu kehilangan semua orang yang kucintai? Kenapa aku selalu merasa ditinggalkan? 

“Adine, jangan pernah menyerah untuk kebahagiaanmu. Jangan melepaskannya demi apapun itu. Kamu pasti bahagia, Adine. Anak ayah anak yang cerdas, dari dulu kamu orang yang selalu kuat. Hukuman yang ayah terima tak sebanding dengan waktu yang telah ayah korbankan untukmu. Go..! Find your happiness..” sambung ayah tersenyum lalu meletakkan kembali telepon.

                                         *

Sesuai jadwal, aku dijemput oleh Pak Didik tepat dua jam setelah Bisma mengingatkanku. Aku memasuki ruangan diikuti dengan kilatan lampu kamera yang dari tadi tak berhenti memotretku. Aku duduk tepat disebelah Bisma, saking gugupnya sudah dua kali aku menegak air didepanku. 

Bisma memberikan kode agar aku bisa memulai pernyataanku. Dengan gugup kuraih mikrofon didepanku, “selamat sore..” kataku akhirnya.

“Saya – Adine Pramidita – selaku anak sulung dari bapak Adhimurti Jatmika dan almarhum ibu Haira Anjani menjelaskan bahwa surat warisan keluarga telah dipalsukan oleh ayah saya bapak Adhimurti dan telah dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negri. Saat ini bapak Adhimurti sedang menjalani masa tahanan selama 6 tahun. Sangat disayangkan kesalahpahaman yang terjadi antara anak dan ayah mengharuskan peristiwa ini terjadi. Pada akhirnya, yang dibutuhkan hanyalah sebuah komunikasi yang baik diantaranya. Kesalahpahaman yang terjadi antara saya dan ayah saya sudah diselesaikan dengan baik-baik. Kejadian ini merupakan pukulan terberat keluarga kami. Oleh sebab itu saya mengharapkan teman-teman media memberikan ruang privasi bagi anggota keluarga untuk saat ini, terimakasih” ucapku. 

Kuputuskan untuk membuat pernyataan yang singkat dan jelas.

“Jangan ada pertanyaan” bisikku pada Bisma. Lalu aku berdiri dan menundukkan kepala sebentar pamit kepada para media.

“Apa isi pernyataan palsu bapak Adhimurti?! Kesalahpahaman yang seperti apa yang terjadi antara anda dan ayah anda?!” tanya salah satu media.

Aku menoleh, “no komen” jawabku.

“Apa benar anda bukan anak kandung keluarga bapak Jatmika?!” tanya salah satu jurnalis. Aku menatapnya lama, “pertanyaan anda tidak relevan” kataku.

“Apa hubungan anda dengan calon suami adik anda? Apa benar anda ditinggal nikah?” ucap salah seorang diantara mereka. 

“Apa benar ibu anda meninggal karena anda telat masuk keruang operasi?” pertanyaan lainnya bermunculan dan semakin tak beraturan.

Aku berjalan keluar cepat-cepat tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Aku terus berjalan hingga masuk kedalam mobil. 

“Jalan pak” kataku pada pak Didik.

“Baik, non” jawab pak Didik.

Kupejamkan mata dan kembali teringat pesan ayah terakhir kali, “go..! Find your happiness..” kata ayah waktu itu.

..kamu tau masalahmu apa? Kamu selalu mendorong orang untuk menjauh padahal mungkin saja perasaan mereka terhadapmu itu tulus!

Kata-kata terakhir Kang dari tadi berseliweran dipikiranku. 

Kang hyo jae..

Happiness..

Aku menekan nomor Kang hyo jae dan menelfonnya namun ponselnya tak aktif. Kuputuskan untuk menghampirinya dihotel tempatnya menginap.

Aku berjalan menuju meja resepsionis dan menanyakan namanya. 

“Kang hyo jae sudah check out barusan saja, mba” ucapnya.

Check out?!

“Oh, makasih mba” kataku panik. Aku mondar mandir seperti orang kehilangan. Kutelfon kembali nomornya namun tetap tak aktif. 

Aku berlari menuju restoran dan mencarinya namun aku tak melihatnya sama sekali. Kucoba mencarinya disekitar kolam renang, tapi tetap tak menemukannya. Sampai akhirnya aku menyerah mencarinya.

Aku duduk disalah satu sofa lobi. Selalu saja begini, pikirku. Selalu saja terlambat, selalu saja menyesal, selalu saja kehilangan. 

Aku tertunduk lemas, “babo.. (bodoh..)” kataku pada diri sendiri.

“Nal chajgoisso? (Kamu mencariku?)”

Aku menoleh dan menemukan dia disana. Berdiri tepat didepanku. Aku memeluknya erat, saking kuatnya rasanya aku tak ingin melepaskannya.

“Nan noreul ilhgo sipji anhayo.. (aku tak mau kehilanganmu)” kataku. 

Kang memelukku erat, “amumal hajima (jangan katakan apa-apa)” balasnya.

Aku beridiri dihadapannya, kutatap matanya lama lalu tersenyum.

“Mwo? (Apa?)” tanya Kang curiga.

“Pegoppayo (aku lapar)” kataku tersenyum senang.

Kang tertawa lalu menggandengku, “uriga mogja!! (Ayo kita makan!!)” katanya tersenyum.

Menurutku cinta tidak mengenal hambatan. Cinta melewati rintangan, melompati pagar hambatan, dan menembus tembok untuk sampai ke tempat tujuan yang penuh harapan.

Kebahagianku, aku tau ada bersamanya. Aku harus berjuang sekali lagi setidaknya sebelum aku mati. Jika aku menemukan seseorang yang aku cintai dalam hidupku, maka aku akan hidup pada cinta itu. 

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s