I’ve seen your drama – final episode

Aku tak berhenti tersenyum sambil terus memandangi diriku didepan cermin elevator. Kali ini aku pastikan aku memakai gaun selutut berwarna hijau kesukaanku. Aku menoleh sekali lagi dan kupandangi diriku sebelum pintu elevator terbuka, “wanjonhan! (Sempurna!)” kataku lalu melangkah keluar.

Kang melambaikan tangannya. Aku berlari begitu melihatnya di lobi.

“Yaa, domang gajima! (Hei, jangan lari!)” teriaknya. 

Aku langsung memeluknya, “neomu giroyo? (Lama yah?)” tanyaku lalu tersenyum.

Kang menggeleng, “ani..(nggak kok..)” jawabnya lalu menggandeng tanganku, “gaja! (Ayo!)” ajaknya.

Hari ini kami memutuskan untuk berkencan seharian. Tadinya kami ingin pergi nonton dan nongkrong di mall. Tapi sudah sejak lama aku menginginkan piknik, rasanya lebih menyenangkan ngobrol diluar ketimbang suara berisik hingar bingar musik mall. 

Saking semangatnya, aku sengaja bangun pagi sekali untuk menyiapkan makanannya. Kang membentangkan kain diatas rerumputan hijau menghadap danau, sedangkan aku sibuk mengeluarkan bekal.

“What do you make for our meal?” tanyanya penasaran.

“Sandwich!!” kataku senang sambil menunjukkan roti isi kebanggaanku.

“Iljjig ilonaseo sendeuwichi man mandeulmyeon dwae? (Kamu bangun pagi-pagi cuma buat bikin sandwich?)” katanya tersenyum. Lalu senyumnya berubah menjadi tawa dan semakin lama dia tertawa semakin terlihat sangat menyebalkan. 

“Neoga gugeoseul wonhaji anheumyon, gugeoseul mogji mala! (Kalau kamu nggak mau, ya nggak usah makan!)” kataku kesal lalu menggigit sandwich-ku.

Cepat-cepat tangannya meraih sandwich dari tanganku, “joha! (Suka!)” katanya lalu menggigitnya.

“Nae geoya! (Itu punyaku!)” kataku.

Kang mengedipkan matanya dan membuatku menyerah, “masissni? (Enak nggak?)” tanyaku.

“Masshita! (Enak!)” jawabnya. 

“Kang hyo jae-ssi..” panggilku.

“Mm. (Iya)” jawabnya sambil mengunyah sandwich.

“Wae nareul johahani? (Kenapa kamu bisa suka sama aku?)” tanyaku.

Kang menoleh lalu menatap mataku, “chonnun (pandangan pertama)” jawabnya,  “Dangsineun misoga jeongmal areumdaweoyo, nol yoljunghanda (kamu memiliki senyum yang paling manis, sejak saat itu aku tergila-gila padamu)” sambungnya.

“Jeongmal? (Beneran?)” tanyaku tak percaya.

Kang mengangguk, “nareul wihae useojwoyo (coba berikan senyuman itu sekarang)” pintanya.

Aku tersenyum, “ireohke? (kayak gini?)” tanyaku memastikan.

“Whoaa! nega gyesog usneundamyeon naneun michyeo galsuitta. (Whoaa! Aku bisa gila kalau kamu senyum terus sepanjang hari)” ucapnya senang.

Aku ikut tertawa senang, “joldae nal tteonajimayo.. (jangan pernah tinggalkan aku..) ucapku.

Kang meraih tanganku, “yagsog halkke (aku janji)” balasnya, “noneun ottae? (Kalau kamu gimana?)” sambungnya.

“Mwo? (Apanya?)” tanyaku bingung.

“Wae nareul johahani? (Kenapa suka sama aku?)” tanyanya.

Aku menggigit bibirku, “hm..gyolko pogihaji mala. (Kamu nggak menyerah)” kataku. Kubalas tatapannya lama dan dalam, “amudo jeone jongmallo ssawosseubnida. (Belum pernah ada yang benar-benar memperjuangkanku sebelumnya)” sambungku.

Kuusap pipinya lembut, “It feels good to have someone who really cares about me.” kataku.

Kamu akan menjadi alasan kenapa aku akan terus tersenyum, menemaniku ketika satu persatu dari mereka mulai meninggalkanku, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kujatuhkan. 

Kang tersenyum, “saranghaeyo.. (aku mencintaimu..)” bisiknya.

“Nado saranghae.. (Aku juga mencintaimu..)” balasku.

                                       *

Satu minggu kemudian…

Kang menggandeng tanganku erat, kami berjalan pasti memasuki gedung resepsi pernikahan Bagas dan Rania. Kang meyakinkanku untuk tetap datang walaupun awalnya aku menolak, “gwenchanheulkoya, yagsog hae. (Semuanya akan baik-baik saja, aku janji)” katanya waktu itu.

Aku menarik nafas panjang saat kulihat mereka berdua berdiri diatas panggung. Hari ini benar-benar datang, pernikahan yang kupikir takkan pernah terjadi, namun hari ini keberadaan mereka disana adalah kenyataan yang harus kuterima. 

Aku mulai menyapa keluarga besar dan memperkenalkan Kang kepada mereka. Sebagian dari mereka sangat menyukai Kang namun beberapa dari keluarga ibu mempersoalkan tentang kewarganegaraannya, “kamu bakalan tetap di Indonesia kan, Adine? Kan sekarang kamu yang pegang rumahsakit” ucap salah satu pamanku. 

Kulirik Kang sekilas, kupaksakan senyumku.

“Mwoga munje ya? (Ada apa? Kenapa?)” tanya Kang bingung. 

Aku menggeleng, “amugosdo (nggak ada apa-apa)” bisikku kikuk, “hwajangsile gal pilyogaisso. (Aku mau ke toilet sebentar)” sambungku lalu berjalan buru-buru melewati kerumunan. 

Aku berdiri menghadap cermin. Kukeluarkan lipstik dari dalam tas pesta dan memoleskan sedikit dibibirku. Kupejamkan mata dan mulai memikirkan perkataan paman barusan. Apa yang harus kulakukan, aku tak mungkin meninggalkan rumahsakit tapi aku juga tak ingin jauh darinya. 

Aku mengambil ponsel dari tas dan menekan nomor Bisma.

“Hei..” sapanya langsung.

“Hai. Ada yang perlu aku bicarakan. Bisa ketemu besok pagi?” balasku.

“Ada apa, Adine?” tanyanya penasaran.

Aku menggeleng, “nggak bisa lewat telfon. Besok pagi jam 9? Dikantor? Oke?” ucapku cepat.

“Hm, oke..” jawabnya.

Aku langsung mematikan telfon lalu melirik sebentar ke cermin dan tersenyum. Tepatnya sebelum pintu keluar aku melihat Kang sedang berbicara dengan Bagas. Kulangkahkan kakiku pelan-pelan mendekati mereka lalu bersembunyi dibelakang tembok dibelakang mereka lalu mulai menguping pembicaraan mereka.

“I know who you are. Does love for celebrities like you exist?” tanya Bagas sinis.

Kang melangkah mendekati Bagas, “What if I told you that what we had was real” balasnya. 

“You’re wasting her time” kata Bagas kembali.

Kang membetulkan dasinya lalu tersenyum sinis, “What if i told you that i will keep her for long time and never let her go, not even for a second!” balas Kang kali ini terdengar sangat kesal.

“I bet..” ucap Bagas sinis.

“Yeah, you can bet with your fools thought. If i were you, i will not be able standing infront of her and see her face because you know why? I must be an idiot for leaving her for someone who is not even half of her. You should be ashamed!” ucap Kang kesal. 

“What did you just said?!” balas Bagas lalu menarik kerah Kang.

Kang menepis tangan Bagas cepat, “sorry bro.. you can’t touch celebrities carelessly. You must know which level your class is!” ucap Kang lalu merapikan jasnya dan berjalan meninggalkan Bagas.

Aku tersenyum senang dan berlari mengikuti Kang dari belakang. Kulirik Bagas sekilas dan tersenyum sinis. Kuraih tangan Kang, “neo jongmal johasso (kamu keren banget tadi)” ucapku senang.

Kang tersenyum dan merangkulku, “guneun naega nugunji araya hae! (Dia harus tau siapa aku sebenarnya!)” jawab Kang percaya diri.

“Neo nugu ni? (Memangnya kamu siapa?)” tanyaku usil.

Kang menatapku, “namja chingu, dangsinui namja chingu! (Pacar, pacarmu yang sangat keren!)” balasnya.

Aku mengangguk setuju. Aku berjalan menuju pintu keluar dengan perasaan bebas. Rasanya seperti menjalani kehidupan yang baru, kuputuskan untuk meninggalkan semua yang ada dibelakangku dan melangkah berani bersamanya. 

“Neo naeil narang gat-iga, keurohji? (Kamu besok ikut denganku, kan?)” tanya Kang didalam mobil, “uriga hangugulo dolagal ttaeya. (Sudah waktunya kita pulang ke Korea)” sambungnya.

Kembali ke korea..?

Kang menatapku heran, “majjyo? (Iya kan?)” tanyanya kembali memastikan.

Aku paksakan senyum dan mengangguk ragu, “mm. (Iya)” jawabku pelan.

“Wae geurae? (Ada apa?)” tanya Kang curiga.

Aku menggeleng dan tetap kupaksakan senyumku.

                                        *

Kulangkahkan kakiku cepat-cepat menuju kantor Bisma. Kuketuk pintu ruangannya tiga kali lalu mendengar suara Bisma mempersilahkanku masuk.

“Bisma, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku!” kataku langsung.

Awalnya Bisma tampak bingung namun setelah kujelaskan panjang lebar akhirnya dia mengerti. 

“Kamu yakin, Adine?” tanya Bisma memastikan sekali lagi.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk, “aku yakin!” kataku yakin.

“Baik kalau memang maunya seperti itu, aku akan mengurus semuanya” balasnya.

Aku berdiri pamit, “thanks a lot!” kataku dan menjabat tangannya.

“Nggak masalah” jawabnya.

Aku pikir Tuhan membiarkan semuanya terjadi dengan satu alasan. Semua itu adalah sebuah proses belajar dan aku harus melewati setiap tingkatannya. Aku yakin yang kulakukan adalah yang terbaik untuk semuanya.

Aku menghampiri Kang dan menyambut tangannya yang siap menggandengku. Kami sama-sama memasuki ruang tunggu bandara, kali ini bukan sebagai orang asing namun sebagai sepasang kekasih. 

Aku mengerti semuanya sekarang, kekuatan tidak datang dari kemenangan. Kekuatan datang dari seberapa besar usaha kita untuk melewati kesulitan dan memutuskan untuk tidak menyerah, itulah kekuatan yang sebenarnya. 

Aku bertemu dengannya di bandara waktu itu bukan suatu kebetulan melainkan sebagai titik awal hidupku yang baru. Kang mengajarkanku bahwa masa depan yang bahagia dimulai dengan satu langkah kedepan bukan dengan menoleh kebelakang.

Aku menghentikan langkahku dan menatap layar kaca didepan ruang tunggu, “jamkkan. (Tunggu sebentar)” kataku pada Kang.

“Wae geurae? (Ada apa?)” tanyanya.

Aku tersenyum saat melihat Bisma menyatakan pada siaran langsung konferensi pers bahwa Adine Pramidita telah resmi melepas seluruh saham rumahsakit dan menjadikannya sebagai perusahaan publik. 

Aku tersenyum puas, “good job, Adine..” bisikku.

Aku tersenyum pada Kang, “dangsineun hangugeso uriui munjelul choli hal junbileulhago isseubnikka? (Kamu sudah siap menghadapi masalah kita di Korea nanti?)” tanyaku.

Kang mengangguk pasti, “hangsang hamkke halkeyo! (Kita akan selalu bersama, ya kan!)” ucapnya yakin, “let’s go!” sambungnya.

Let’s go!
The End.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s