Aku dan kacamata hitamku. Episode 1

Kubaca satu persatu pilihan minum yang tertulis diatas papan menu. Lama kuketukkan jemariku dimeja, “hmm..” gumamku gugup.

“Hmm..” balas kasir, “jadi?” katanya.

Aku pura-pura memperbaiki kacamata, “Coffee latte? Bukan, bukan! Jasmine tea aja” ralatku pelan.

“Oke, jasmine tea satu ya. Panas atau dingin?” tanyanya ramah.

“Hmm..panas aja. Eh, jangan! Dingin aja? Atau coffee latte?” tanyaku ragu.

Sang kasir tampak kesal, dia mengusap wajahnya, “mba mau kopi atau teh?” tanyanya sewot. 

Kutundukkan pandanganku, “teh aja kalo gitu..” kataku ragu.

“Oke! Teh panas satu, atas nama siapa?” potongnya langsung. 

“Hmm.. Kama” jawabku hampir berbisik.

“Siapa??” tanyanya ulang.

“Kama..” jawabku kikuk.

“Oke, terserah. Empat puluh delapan ribu, cash atau card?” ucapnya ketus.

“Hmm..” gumamku sambil mengeluarkan dompet. Aku menarik selembar uang lima puluh ribuan dan memberikannya dengan tangan yang gemetaran.

Ia mengambil cepat dan mengembalikan sisanya, “nanti dipanggil” katanya, “next!”. 

“Oh!” 

Aku membalikkan badan lalu pura-pura menggaruk leherku sambil mencari-cari tempat duduk kosong. 

Aku berjalan pelan menuju kursi kosong dipojok sambil terus berdoa semoga saja kakiku tak tersandung. Dadaku hampir meledak saking gugupnya. Ini pertama kali aku memberanikan diri untuk keluar rumah setelah beberapa tahun. Sebenarnya agak menyesal karena mengiyakan saran dari psikologku untuk pergi ketempat ramai sebagai bagian dari terapi. 

“Kama!!” teriak salah seorang sambil memukul pundakku.

Aku menoleh dan tenggorokanku terasa kering saking ngerinya. 

“Hmm.. Nindy?” ucapku tak percaya.

“Tuh kan bener, apa kata gue! Beneran dia,” ucapnya sambil menunjukku didepan teman-temannya. 

Nindy membungkuk dan mendekatkan wajahnya, “sekarang udah berani keluar rumah? Kapan-kapan gue main kerumah lo ya, kayak waktu dulu” bisiknya sinis. 

Aku pura-pura membetulkan kacamata lalu mengorek-ngorek isi tas, berusaha mengalihkan dari perhatian Nindy. 

“Pake kacamata didalam ruangan emangnya nggak gelap?” tanyanya sambil tertawa, “gue pinjem dong!” lalu menariknya cepat.

“Jangan!” cegatku namun telat, Nindy terlanjur mengambil dan melemparnya ke lantai, “ups! Maaf..” lalu pergi sambil tertawa bersama teman-temannya.

Nafasku menjadi sesak karena panik. Aku memejamkan mata, ketakutan. 

Somebody..please help!

Seseorang meraih tanganku lalu memberikan kacamata hitamku. Buru-buru aku memakainya dan membuka mata. Kudapati secangkir teh hangat dan sang kasir berdiri didepanku.

Kutundukkan pandanganku cepat. 

“Kama..” panggilnya lalu duduk didepanku. 

Kulirik perlahan kearahnya. Dia duduk disana dan menatapku.

“Are you okay?” ucapnya khawatir.

Bersambung…
 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s