Aku dan kacamata hitamku. Episode 2

Dadaku mulai mengembang panik. Air mataku mulai terbit. Tenggorokanku rasanya membeku. Aku perlu-aku tak bisa-

Aku bisa mendengar suara psikologku. Potongan-potongan acak dari berbagai sesi kami. 

Tarik napas dalam empat hitungan, hembuskan dalam tujuh hitungan.  Tubuhmu yakin bahwa ancaman itu nyata, Kama. Tapi ancaman itu tidak nyata. 

“Hai,” katanya lagi. “Aku Sigit. Kamu nggak apa-apa?”.

Ancaman itu tidak nyata. Aku berjuang mencamkan kata-kata itu dalam benakku, tapi semuanya terbenam oleh kepanikan. Ini menenggelamkan. Ini mirip awan nuklir. 

Dadaku naik-turun oleh kengerian. Entah bagaimana aku berhasil beringsut melewatinya.

“Sori,” aku terengah dan berlari melintasi meja-meja mirip rubah yang diburu. Mendorong pintu kuat-kuat dan berlari keluar menuju rumah. Untung saja cafe ini berada dekat dengan persimpangan komplek rumahku. 

Aku tiba dihalaman rumah saat tetanggaku Robbi mendapatiku setengah berlari. Dia selalu menyindirku dengan panggilan “selebriti”. Awalnya dia pernah melihatku memakai kacamata hitam, turun dari mobil hujan-hujan dan dia berkomentar, “kenapa harus pakai kacatama hitam sih? Emangnya lo Angelina Jolie?” 

Aku bukan berusaha tampil keren. Kacamata hitam ini ada alasannya. Bahkan aku sama sekali nggak keren. Aku agak kurus, agak tak berkarakter, mengenakan kaus oblong hitam dan jins ketat. Dan aku selalu memakai kacamata hitam, bahkan dalam rumah. 

Aku masuk kerumah, menaiki tangga. Masuk ke kamar. Ke sudut terjauh. Berjongkok di balik gorden. Napasku terdengar mirip mesin piston. Aku butuh sebutir obat Clonazepam, tapi saat ini aku bahkan tak mampu keluar dari gorden untuk mengambilnya. Aku menggelayuti tirai seakan itulah satu-satunya hal yang akan menyelamatkanku.

“Kama?” Mama di pintu kamar, suara melengking cemas. “Sayang? Ada apa?”

“Mam… itu” aku menelan ludah. “Aku bertemu orang-orang..ada Nindy disana..”

“Oh, sayang..” kata mama, mendekat dan membelai kepalaku. “Nggak apa-apa sayang. Napas pelan-pelan aja yah. Kamu mau minum sebutir..”

Mama tak pernah menyebut kata obat keras-keras.

“Ya.” jawabku.

“Mama ambilkan, ya”

                                       *

Jadi, sekarang kalian sudah tahu.

Supaya kalian tak penasaran, inilah diagnosis lengkapnya. Gangguan kecemasan sosial, gangguan kecemasan umum, dan episode-episode depresi. 

                                      *

Sekarang hampir jam enam dan aku mengendap-endap ke dapur untuk mengambil Oreo, ada mama disana mondar-mandir, tegang. 

“Mam?” kataku.

“Udah hampir 5 jam mereka main video games, mama udah suruh mereka berhenti kira-kira 25 kali!”

Aku mengambil oreo dan membukanya dengan paksa. “Memangnya ada siapa?” tanyaku.

“Temannya mas Pandu dari sekolah. Mama belum pernah ketemu sebelumnya. Siapa tadi dia bilang namanya, Sigit kayaknya..”

Sigit. Kasir itu, aku tahu dia temannya mas Pandu. Aku selalu mendengar mas Pandu berbicara dengannya di telepon, dia pernah ke rumah sekali. Hanya sekitar lima menit, tapi aku selalu ingat wajahnya. 

Aku baru mau berniat memberitahukan mama bahwa dia pernah datang ke rumah dulu tapi mama sudah pergi dari dapur. Sejenak aku mendengar suaranya, “Kalian udah lama banget mainnya, anak muda!”

Anak muda.

Aku melesat ke pintu dan mengintip lewat celah. Sewaktu mas Pandu berderap di koridor mengejar mama, wajahnya bergetar karena marah.

“Kami belum sampai di akhir level! Mama nggak boleh kayak gitu dong! Matiin game langsung kayak gitu tadi, mama tuh nggak ngerti aturan main Land of Conquerors?” mas Pandu terdengar sangat marah.

“Land apa?!” tanya mama kesal.

“Jadi gini, LOC ini permainannya mengasyikkan. Kita mendapat hadiah. Dan tokoh-tokohnya lumayan bagus. Grafiknya luar biasa..”

Mama tampak bingung. Masalahnya mama nggak main game. Jadi agak mustahil menerangkan pada mama perbedaan antara LOC dengan pacman tahun 1970-an. 

“Memangnya harus main game? Bentuk sosialisasi itu nggak cuma main game seharian!” kata mama.

“Yah, terus mau ngapain?” tanya mas Pandu balik.

“Apa kek, kenapa kalian nggak main bulu tangkis aja” mamaku mengacungkan peralatan bulu tangkis butut pada mas. Netnya kusut dan aku bisa melihat bahwa bola koknya sudah digerogoti binatang.

Aku ingin tertawa melihat ekspresi mas Pandu.

“Mam..” dia tampak hampir tak bisa bicara karena ngeri. “Mama ketemu ini dimana sih?”

“Atau monopoli!” tambah mama ceria, “itukan seru tuh.”

Mas Pandu bahkan tak menjawab. Dia terlihat sangat ketakutan oleh gagasan mama bermain monopoli sampai-sampai aku bahkan merasa kasihan sama mas.

“Atau petak umpet?”

Aku mendengus tertawa dan membekapkan tangan di mulut. Aku nggak tahan. 

“Nggak apa-apa, bu” kata suara yang kukenal. Itu Sigit, tapi aku tak bisa melihatnya dari celah. “Gue pulang aja, Pan.”

“Mam.. tolonglah. Sekali ini aja” pinta mas frustasi.

“Pokoknya nggak, mas. Mama nggak mau lihat kamu main game online lagi!” 

Aku meninggalkan mama dan mas Pandu menuju ruang nonton. Aku duduk disana dan menyalakan TV. Ruangan ini adalah tempat keramatku. Tak ada yang berani menghidupkan lampu di ruangan ini kalau aku sedang berada disini. 

“Kama?” Suara Sigit mengejutkanku, dan aku terlompat kaget. Aku benar-benar melompat sungguhan. Aku punya refleks yang cukup peka. Over-sensitif. 

“Kamu adiknya Pandu?” 

Aku mematung tak percaya. 

Dia diambang pintu. Remaja tinggi kurus berambut hitam dengan tulang pipi lebar. Dia tersenyum, seharusnya tak seorangpun teman mas Pandu yang boleh tersenyum padaku. 

“Kamu selalu pakai itu?” Sigit mengangguk ke kacamata hitamku. 

“Hmm..” gumamku gugup.

Dia tersenyum, “kok aku seneng ya ternyata kamu adiknya Pandu” katanya mendekat.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s