Aku dan kacamata hitamku – episode 3

Dalam sesi konsultasiku berikutnya bersama Dr. Darabi, aku bercerita tentang Sigit dan seluruh serangan kecemasan itu, dan dia mendengarkan dengan serius. Seharusnya aku tak memanggilnya dengan gelar dokter karena dia psikolog bukan psikiater. Aku hampir tak mengetahui perbedaannya setelah bulan ke 4, namun Dr. Darabi membiarkanku memanggilnya dengan gelar dokter, karena menurutnya aku boleh memanggilnya dengan sebutan apapun asal aku nyaman. 

Dia mendengarkan dengan serius, dia menulis dengan serius memakai huruf latin indah, dan dia bahkan mengetik di komputernya dengan serius. 

Dua tahun yang lalu mama menyimpulkan ada sesuatu yang nggak beres padaku. Masalahnya, depresi tidak punya gejala jelas seperi bintik-bintik atau suhu tubuh, jadi awalnya aku tak menyadarinya. Aku terus-terusan berkata “aku baik-baik aja” pada orang lain padahal aku tak baik-baik aja. Aku berpikir bahwa seharusnya memang baik-baik aja dan terus berkata pada diri sendiri, “memangnya aku kenapa? Kenapa aku tak baik-baik aja?”

Begitulah. Akhirnya mama mengajakku menemui dokter umum kami dan aku direferensikan ke sini. Waktu itu kondisiku agak kacau. Jujur saja, aku nggak terlalu ingat hari-hari pertama itu. Sekarang aku datang dua kali seminggu. Sebenarnya aku boleh datang lebih sering kalau mau. 

Setelah selesai bercerita pada Dr. Darabi tentang peristiwa sembunyi-di-balik-gorden itu, dia mengamati kuesioner dengan kotak centang yang kuisi ketika aku tiba. Isinya pertanyaan-pertanyaan seperti biasa.

Apa kamu merasa seperti kegagalan? Amat sangat.

Apa kamu ada kalanya berharap tak pernah ada? Amat sangat.

“Apa yang sekarang kamu rasakan setelah semua yang terjadi kemarin?” katanya dengan suara ramah dan tenang. 

“Hmm… Rasanya kayak terjebak” kataku ragu.

Kata terjebak terlontar bahkan sebelum aku memikirkannya. Aku baru tahu aku merasa terjebak.

“Terjebak?” 

“Maksudku bukan itu” aku mulai ragu dengan jawaban sebelumnya. Aku mulai gugup dan kembali membetulkan kacamata hitamku.

“Jadi maksudnya gimana?”

“Apa aku akan sembuh? Kayaknya aku nggak mungkin bisa sembuh” kataku mulai panik. 

“Kama..”

“Aku nggak mungkin bisa sekolah lagi. Sebentar lagi Juli dan aku masih seperti ini” aku mulai meracau.

“Kama, tenang dulu..”

“Tenang? Gimana aku bisa tenang?? Apa Dokter tahu rasanya dikunci di gudang sekolah sampai malam, aku berteriak sampai suaraku habis tapi tak satupun yang mendengarku. Aku nggak sanggup harus berhadapan dengan orang-orang itu lagi. Mereka yang gila, dokter. Bukan aku!”

“Kamu nggak gila, Kama”

Setetes air mata melelehi pipiku. Dr. Darabi memberiku tisu tanpa berkomentar. Aku mengusap mata, mengangkat kacamata hitamku sebentar lalu kembali menatap Dr. Darabi.

“Pertama, kamu nggak akan begini selamanya,” ucap Dr. Darabi “kondisi ini dapat disembuhkan sepenuhnya. DISEMBUHKAN SEPENUHNYA.”

Dia mengatakan itu padaku kira-kira seribu kali.

“Kama, kamu membuat kemajuan mengesankan sejak perawatan dimulai,” lanjutnya. “Sekarang baru bulan Mei, saya yakin kamu siap bersekolah bulan Juli nanti. Tapi itu akan membutuhkan-”

“Aku tahu” aku memeluk tubuh. “Kegigihan, latihan, dan kesabaran.”

“Kamu sudah melepaskan kacamata hitammu minggu ini?” tanya Dr. Darabi. 

Aku mengindikkan bahu.

“Sudah melakukan kontak mata dengan orang lain?”

Aku tak menjawab. Harusnya aku mencobanya. Dengan anggota keluarga. Hanya beberapa detik setiap hari.

“Kama?”

“Nggak,” gumamku, kepalaku tertunduk.

Kontak mata itu masalah besar. Masalah terbesar. Memikirkannya saja membuatku mual, sampai ke inti diriku.

“Saya punya ide lain dari yang kemarin” Dr. Darabi mendongak, “gimana kalau kamu bikin film dokumenter?”

“Apa?” Aku menatapnya bengong. Aku berharap cuma mendapatkan selembar kertas berisi latihan di dalamnya. 

“Film dokumenter sederhana aja kok. Cukup dengan kamera digital kecil, nanti kita  carikan di sini untuk kamu” kata Dr. Darabi.

“Hmm..” aku menelan ludah, merasakan tanganku mengepal, “i don’t know..”

“You can!” Dr. Darabi tersenyum optimis, “saya tahu ini terasa berat dan menakutkan, Kama. Tapi menurut saya ini akan jadi proyek besar buat kamu”

“Oke, sebentar dok, aku nggak ngerti..” aku diam sejenak, berusaha mengendalikan diri. Kamera? Film? Apa-apaan ini?

“Bagian mana yang kamu nggak ngerti?” tanya Dr. Darabi

“Apa yang harus aku filmkan?”

“Apa saja. Apa saja yang kamu temukan. Arahkan saja kamera dan rekam. Rumah, orang-orang dirumah, lukisan, potret keluargamu”

Aku mendengus. Potret keluarga? “Sekalian aja judulnya Keluargaku yang tentram dan penyayang.”

“Boleh. Kalau kamu mau.” dia tertawa, “saya nggak sabar pengen nonton” lanjutnya tersenyum bangga.

                                      *

KELUARGAKU YANG TENTERAM DAN PENYAYANG

Aku mencoba merekam apa saja yang ada di dalam rumah, pelan-pelan kuarahkan kamera. Kamera bergerak mengitari koridor.

“Mas!” teriak mama.

Aku melihat mama berderap ke koridor berjalan kearahku. 

“Mas!” teriak mama sekali lagi, “Kama, mana mas? Oh, lagi merekam ya.” 

Mama langsung menyibak rambut ke belakang dan mengempiskan perut, “gimana? Mama keliatan oke kan?” katanya dengan senyum yang dipaksakan.

Mas Pandu melenggang ke koridor, aku menagkapnya dengan kameraku. 

“Mas! Apa ini? Mama ketemu ini di tas sekolah kamu” kata mama sambil mengacungkan bungkus rokok ke arahnya.

Mas Pandu tak menjawab, hanya melototi mama.

“Kamu olahraga per minggu berapa kali?” tanya mama galak.

“Lumayan sering” jawab mas bingung.

“Mas sadar nggak sih kalau racun tembakau ini bahaya buat tubuh kamu?”

Mas Pandu masih bengong.

“Kamu sadar, nggak!” bentak mama.

Aku tetap memegang kameraku erat, aku perlu merekam adegan ini, pikirku.

“Pokoknya besok kita olahraga! Besok lari bareng-bareng sama mama!” 

“Lari? Mam serius? LARI?” Mas Pandu memandangi ibu dengan tatapan mematikan. 

Bel pintu berdering dan mas menatap memperingatkan ke kamera.

“Kama.. itu Sigit, kayaknya lo harus.. tau kan? Menjauh” kata mas.

“Oh, thanks” kataku.

“Mas! Dengar mama nggak?”

“Oke mam, oke” jawab mas menggaruk kepalanya.

Mama menghilang ke dapur. Mas Pandu menuju pintu depan. Aku bergerak mundur tapi kameraku menyorot pintu depan.

Mas membuka pintu depan dan menampakkan Sigit. 

“Hai.” ucap mas.

Sigit menatap kamera yang cepat-cepat berayun menjauh dan mundur.

“Hai.” sapanya tanpa suara padaku.

Nafasku tertahan. Kuperbesar gambar wajahnya lalu memutar ulang rekamannya.

Dia ganteng.

“Hai..” bisikku.

                                         *

Aku duduk di ruang tv. Kupastikan semua aman, Sigit berada di atas dan kuyakin mereka pasti sedang bermain video games. 

Kubuka kacamata hitamku pelan-pelan. Aku menyipitkan mata menatap tv, “Kama.”  Aku mendengar suara mas Pandu.

“Sigit kirim ini.”

Kacamata hitamku kembali terpasang begitu aku mengangkat kepala dari mas. Mas Pandu mengulurkan secarik kertas terlipat.

“Oh,” kataku bingung dam mengambil kertas itu darinya. “Oke.”

Ketika mas Pandu berlalu, aku membuka kertas itu dan membaca tulisan tangan yang asing.

“Hai..maaf soal waktu itu. Aku nggak bermaksud buat kamu panik.”

Oh Tuhan.

Aku berpikir sejenak, lalu menulis di bawahnya:

“Nggak kok, aku yang minta maaf. Aku punya masalah aneh ini. Bukan gara-gara kamu kok.” tulisku.

Aku beranjak pelan dan mengendap-endap ke atas menuju kamar mas Pandu. Aku mengetuk pintu pelan, “mas..” bisikku.

Aku benar-benar tak siap saat Sigit membuka pintunya. Aku mematung sambil menggenggam kertas itu. Dia tersenyum lalu mengambilnya dari tanganku. 

“Aku tunggu-tunggu ini dari tadi.” katanya senang.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s