Aku dan kacamata hitamku – episode 4

Aku mendengar mama menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar mas Pandu. Lalu keributan pun dimulai. 

“MAMA TUH NGGAK LOGIS!” suara mas Pandu mendadak menggema di seantero rumah. 

Sigit meraih tanganku cepat dan membawaku turun. Otak ku memerintahkan untuk segera melejit ke sudut terjauh ruangan. 

“TOLONG JANGAN BENTAK MAMA DIDEPAN TEMANMU!” balas mama menghardik.

Secara naluriah aku menutupkan tangan di telinga dan bertanya-tanya apakah harus melarikan diri ke kamarku. Aku mendongak- dan itu dia. Itu Sigit berjongkok didepanku, “kamu mau minum?” tanyanya cemas.

Aku membalikkan badan, menatap dinding lekat-lekat dan bergumam, “nggak..”

Sigit beralih dari jongkok sekarang duduk di depanku. Dia menggeser tubuhnya agak jauh, berusaha menjaga jarak agar aku nyaman. 

Dia tersenyum. Aku membetulkan kacamata lalu ikut tersenyum sedikit.

“Mirip seulas jeruk” kataku tanpa berpikir apa maksudnya.

“apanya yang seulas jeruk?” 

“Senyumnya, mirip seulas jeruk..” kataku gugup.

Aku bisa melihat senyum kecilnya, dia terlihat senang dan mengangguk-ngangguk “oh ya? Ibu aku bilang mirip bulan sabit.”

Dia menggeser sedikit lebih dekat. Radarku tegang dan siaga penuh. “Tadi lagi main sama mas?” suaraku terdengar agak serak.

“Tadi Pandu cuma ngebantuin aja, dia nggak main. Dia cuma menginstruksikan aja, tapi tadi mama kamu ngomel kayaknya dia dilarang main termasuk duduk sama aku”

Aku mengangguk, “orangtua kamu juga stres soal game komputer?”

“Nggak juga sih” jawab Sigit. “Mereka lebih stres dengan nenek. Dia agak gila, maksud aku-”

Dia berhenti bicara mendadak dan ada keheningan menusuk. Aku butuh tiga detik untuk memahami sebabnya.

Jadi itu yang dipikirkannya tentang aku, menghantamku dengan debuk mengerikan.

Keheningan semakin parah. Aku bisa merasakan kata gila melayang-layang di udara.

“Maaf,” kata Sigit.

“Nggak apa-apa kok,” balasku hampir agresif. “Kamu nggak ada bilang apa-apa kok”

Dan itu benar. Dia nggak bilang apa-apa. Dia berhenti d tengah-tengah kalimat.

Cuma menurutku berhenti ditengah-tengah kalimat itu adalah hal yang buruk. Nama situasinya disebut pasif agresif karena kita nggak bisa mendebat apa yang mereka katakan. 

Kesunyian terus berlasung dan harus ada yang memecahkannya, “seriusan nggak apa-apa, aku emang gila. Terserahlah.” kataku tegang.

“Bukan!” Sigit kedengaran benar-benar kaget. Kaget, malu, nggak nyaman. Agak tersinggung. 

“Kamu sama sekali nggak mirip dengan nenekku,” tambahnya lalu tertawa kecil seperti menikmati lelucon pribadi. “Kalau kamu ketemu dengan dia, kamu pasti ngerti maksud aku” jelasnya santai.

Dia tertawa dan aku merasakan siraman kelegaan. Kalau bisa tertawa, berarti dia nggak jijik kan?

“Jadi kayaknya aku nggak bisa kesini lagi sampai hukuman Pandu dicabut”

“Ya, kayaknya” jawabku.

“Mama kamu mungkin nganggep aku pengaruh buruk”

“Mama nganggep semua hal adalah pengaruh buruk” kataku sambil memutar bola mata, walaupun dia nggak bisa melihat. 

“Kapan kamu ke Starbucks lagi?” 

Aku merasakan udara di sekelilingku teras menyengat. Pergi ke luar. Aku merasakan desakan untuk meringkuk dan memejamkan mata.

“Nggak!” kataku kasar, “itu..aku nggak bisa”

Keheningan lagi. Aku membungkuk lebih dalam. Aku dapat merasakan pertanyaan berputar-putar dalam kepalaku, seperti kenapa? Kok bisa? Emang kenapa?

“Kayak alergi dengan orang asing ya?” tanyanya. 

“Kayaknya gitu,” obrolan ini mulai melelahkan otakku. Aku mencengkram baju untuk menenangkan diri. Otot tendon menegang di kedua tanganku. 

“Alergi juga sama kontak mata?”

“Aku alergi sama segala macam kontak”

“Nggak, kok” katanya seketika. “Kamu nggak alergi sama kontak otak. Maksud aku, kamu masih bisa tulis pesan. Kamu juga ngobrol. Kamu masih pengen ngobrol sama orang, cuma mungkin kadang nggak bisa aja. Jadi harusnya tubuh kamu menyejajarkan diri dengan otak kamu” jelasnya.

Aku membisu beberapa lama. Sebelumnya nggak ada yang mengutarakannya seperti itu.

“Mungkin sih..” kataku akhirnya.

“Kalau kontak sepatu gimana?”

“Apa?”

“Kontak sepatu!”

“Apa itu kontak sepatu?” 

Dari sudut mata aku melihatnya mengulurkan sepatu olahraga dekil.

“Ayo,” katanya. “Kontak sepatu, yok.”

Aku nggak bisa bergerak. Aku kayak landak mini yang meringkuk membentuk bola. 

“Gerakkan kaki kamu,” ujar Sigit. “Nggak usah dilihat, gerakin aja.”

Sigit terdengar ngotot. Aku nggak percaya ini terjadi. Otakku sangat tak menyukai hal ini. Otakku menyuruhku menukik ke balik selimut. Sembunyi. Lari. Apa saja.

Siapa tahu kalau aku tak bereaksi, dia akan menyerah dan kita bisa lupakan kejadian semua ini.

“Ayo,” katanya menyemangati. “Berani taruhan kamu pasti bisa”

Dan sekarang suara Dr. Darabi di kepalaku. “Ayo dong, Kama..kamu harus mulai mendorong diri sendiri..” bisiknya.

Pelan-pelan, aku menggerakkan kaki melintasi karpet, sampai lis karet sepatuku menyentuh lis karet sepatunya. Tubuhku yang lain masih menghadap ke arah lain. Aku menatap tajam sepatu dan seluruh otakku terfokus pada sekelumit kaki yang bersentuhan dengan kakinya.

Aku merasa sesak napas. 

“Nah,” Sigit terdengar puas. “Benar kan?”

Sigit nggak terdengar sesak napas. Dia hanya terdengar tertarik, seolah aku membuktikan satu hal yang akan diceritakannya pada temannya atau ditulisnya di blog atau apalah. Dia melompat bangkit dan berkata, “sampai ketemu lagi,” dan pesona itu pun buyar.

“Sampai ketemu.”

“Bentar lagi aku diusir sama mama kamu kayaknya, jadi sebaiknya aku pulang dulu”

“Huh? Oh, iya”

Aku membungkuk, bertekad nggak akan memperlihatkan bahwa aku agak berharap dia tetap di sini. 

“Mungkin kapan-kapan aku bisa wawancara kamu untuk dokumenterku” kataku akhirnya.

“Oh ya?” Dia terdiam, “apa itu?”

“Aku lagi buat film dokumenter ini, dan harusnya aku mewawancarai orang yang datang ke rumah, so..”

“Oke. Sip. Nanti aku datang lagi setelah.. hmm tahu kan? Setelah Pandu boleh main game lagi.”

“Oh” gumamku terdengar kecewa.

“Hei,” panggilnya.

Aku menengadah.

Dia tersenyum, “aku pasti datang lagi kok. Tenang..” katanya sambil mengedipkan matanya lalu dia pun lenyap.
Bersambung..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s