Aku dan kacamata hitamku – episode 5

Mama memosisikan diri di koridor, berkacak pinggang, mata yang melotot terfokus tepat ke pintu. Setelah sepuluh detik yang tegang, pintu terbuka dan aku terkesiap. Mas Pandu melenggang masuk seperti biasa dan menatap mama tanpa terlalu tertarik. Aku bisa melihat mama menegakkan tubuh dan menarik napas dalam-dalam. 

“Kok nggak bilang assalamualaikum, mas?” sapa mama dengan nada dingin yang membuatku bergidik, meskipun bukan aku yang dalam masalah.

Dua jam sebelumnya..

Mama membawa komputer mas Pandu ke kelas pilates. Aku membayangkan mama terseok-seok membawa komputer mas. Mama membawanya karena ingin teman mama memeriksa seberapa sering mas Pandu bermain game sepanjang minggu lalu.

Mas Pandu memakai earphone, jadi kupikir mas nggak merasakan nada dingin mama.

“Assalamualaikum..” balasnya dan berniat lewat tapi mama menusuk bahunya dengan jari. 

“Mas!” panggil mama, dan menunjuk telinga mas Pandu, “lepas!”

Sambil memutar bola mata mas Pandu melepas earphone dan menatap mama, “apa?”

“Jadi?” kata mama dengan nada yang lebih dingin.

“Apa?”

“JA-DI.”

Mama berniat ingin membuat mas Pandu gemetar ketakutan hanya dengan dua suku kata itu, tapi nggak berhasil. Mas Pandu kelihatan nggak sabar.

“Jadi? Maksud mama apa sih? Jadi apa?”

“Mama udah nunggu-nunggu kamu dari tadi, mas.” mama maju selangkah, matanya mirip laser. “Mama udah nunggu kamu lama banget!”

Mama benar-benar sedang meniru penjahat di film James Bond, bedanya kalau di film aslinya, penjahatnya punya kucing putih yang dielus-elus. 

“Kok komputer aku disana?” mas mendadak melihatnya, bertengger di meja koridor.

“Pertanyaan bagus!” jawab mama ramah. “Kamu mau kasih tahu mama tentang aktivitas berkomputermu selama kira-kira minggu lalu?”

Bahu mas merosot, “aku main LOC,” ucapnya dengan nada monoton.

“Cuma sekali itu?”

Mas Pandu membiarkan tas sekolahnya meluncur ke lantai. “Nggak tahulah, kepala aku sakit. Aku mau minum parasetamol.”

“Dan kenapa bisa gitu?” mama mendadak hilang kendali. “Apa gara-gara kamu sama sekali nggak tidur seminggu ini?”

“Apaan sih?” mas menatap mama dengan sorot kosong yang menyebalkan.

“Nggak usah belagak bego didepan mama!” mama sekarang sudah tersengal-sengal. “Teman mama, Arjun meriksa komputer kamu hari ini. Dan mama benar-benar nggak percaya”

“Siapa Arjun?” mas merengut.

“Ahli komputer,” kata mama penuh kemenangan. “Dia kasih tahu mama semuanya tentang kamu. Kami tahu semuanya sekarang.”

Aku melihat kelebatan rasa ngeri di wajah mas. “Dia baca email aku juga?”

“Nggak, dia nggak baca.” mama tampak teralihkan sebentar, “ada apa di email kamu emangnya?”

“Nggak ada apa-apa” jawab mas buru-buru dan melototin mama. “Ya ampun mam, sampai nge-hack komputer aku segala!”

“Mama takjub kamu bohong sama mama, mas! Kamu bangun jam dua pagi setiap malam seminggu ini! Iya kan?”

Mas mengendikkan bahu dengan ekspresi muram.

“Mas?!”

“Ya kalau si Arjun itu bilang gitu, ya udah pasti benerlah”

“Jadi emang benar! Mas, kamu ngerti nggak betapa seriusnya ini? Ngerti nggak? MENGERTI TIDAK?!” mama mendadak berteriak.

“Yah, emang mama ngerti betapa penting LOC buat aku?” mas balas membentak. “Gimana kalau aku jadi gamer profesional? Gimana?”

Mama memejamkan mata dan memijat dahi. “Kamu main dengan siapa? Apa mama kenal orangtua mereka? Apa mama perlu menelepon orangtua mereka?”

“Kayaknya sih, nggak” sahut mas sinis, “mereka tinggal di Korea”

“Korea??” sepertinya itu pemicu terakhir mama. “Baik. Cukup udah, mas. Kamu di hukum selamanya. Nggak ada komputer. Nggak ada TV. Nggak ada apa-apa”

“Oke,” kata mas lesu.

“Kamu ngerti?” mama menatap tajam. “Kamu dihukum!”

“Iya, ngerti. Aku dihukum.”

Ada keheningan. Mama kelihatan nggak puas. “Kamu dihukum,” mama mencoba lagi, “SE-LA-MA-NYA”

“Iya apaan sih mam” sahut mas dengan kesabaran berlebihan. 

“Kok kamu nggak ada reaksi? Kenapa nggak ada reaksi?”

“Aku bereaksi mam. Aku dihukum. Terserahlah.”

“Mama langsung kunci komputer ini.”

“Ya.”

Ada keheningan ganjil dan tegang lagi. Mama mengamati mas Pandu lekat-lekat mencari jawaban. Kemudian tiba-tiba seluruh wajah mama seperti mendadak berbunyi dan terkesiap.

“Ya Allah. Kamu ini nggak menganggap serius masalah ini, ya? Mas, pasti kamu nih udah bikin rencana ngendap-ngendap di rumah malem-malem trus ngambil komputer kan?”

“Nggak.” mas Pandu terdengar cemberut, yang artinya Iya.

“Kamu pasti udah ngerencanain ngotak-ngatik kunci kan?”

“Nggak.”

“Mas pikir mama nggak bakalan tau ya? Ha? Mas pikir bisa ngalahin mama? Oke, liat nih ya!”

Mama mengambil komputer yang lumayan berat dan menaiki tangga, kabel terseret dibelakangnya.

“Mama buat komputer kamu lenyap selama-lamanya, mama bikin ini hancur berkeping-keping.”

“Hancur berkeping-keping gimana?” mas mendadak sadar.

“Kamu kan dihukum lagian, terus kenapa kalau komputernya hilang?” tukas mama.

“Mam, jangan aneh-aneh deh,” kata mas panik. “Mama mau ngapain?”

“Kamu disitu aja, anak muda!” Suara mama tiba-tiba terdengar sangat berbeda, menakutkan. 

“Mama mau ngapain sih?” tanya mas padaku dengan suara pelan.

“Nggak tau, tapi aku mau liat keatas”

Saat itulah Robbi teriak-teriak ke koridor dari taman, “pandu! Nyokap lo mau lempar komputer dari jendela!”

Komputer itu sebenarnya nggak hancur berkeping-keping saat mama melemparnya. Benda itu memantul dua kali dan mendarat menyamping. Malahan, nyaris nggak kelihatan pecah sedikitpun begitu tergeletak di rumput. Cuma ada sedikit serpihan beling dari layarnya.

Semua memandang komputer itu beberapa lama dan Robbi memotret lalu kembali masuk ke dalam rumah. Aku memandang mas Pandu, mas kelihatan hancur lebur malahan menurutku dia terguncang. Mas nggak banyak bicara sepanjang malam. 

Walaupun sebenarnya aku nggak terlalu peduli dengan komputer mas tapi aku jadi penasaran satu hal. Apakah ini artinya Sigit nggak akan pernah ke sini lagi?

                                        *

KELUARGAKU YANG TENTERAM DAN PENYAYANG

Aku menggerakkan kamera di dapur dan melihat mama duduk bersama secangkir kopi.

Mama mengangkat cangkir kopi lalu menaruhnya lagi tanpa meneguknya.

Mama menarik napas lalu menatap lurus ke kamera,

“Mungkin semuanya bakalan lebih mudah kalo masih ada papa..”

Hening.

“Mama ngerasa kesulitan sendirian gini, mama harus buat keputusan yang tepat dan kadang-kadang berat dan tetap harus menjalani semuanya.”

Hening.

“Mungkin nanti suatu hari mas Pandu bisa gantiin posisi Papa”

Hening.

“Yah, dia pasti bisa diandalkan suatu hari nanti”

Hening.

Kamera menyorot ponsel mama dan memfokuskan pada foto papa yang sedang merangkul mama. Mama buru-buru menutupinya dengan tangan. 

“Cuma kangen aja, kok.” kata mama tersenyum sambil menghapus airmatanya.
Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s