Aku dan kacamata hitamku – episode 6

Aku sedang duduk di dapur, berkutat dengan tombol rekam di kameraku ketika mas Pandu terseok-seok datang lalu membuka kulkas.

“Oh, mas.” kataku mengangkat kepala, teringat sesuatu. “Aku belum wawancara mas, boleh nggak kalo sekarang?”

“Aku nggak mau diwawancara.”

Mas membenci semua orang dan segala-galanya. Wajahnya pucat. Matanya merah. Tampak kurang sehat dibandingkan saat dia bermain game sepanjang waktu.

“Oke.” jawabku sambil mengindikkan bahu. Aku mengambil Tango wafer dari toples yang masih tergeletak di meja. “Jadi..” kataku berusaha santai, “aku cuma penasaran aja sih..”

“Apa?”

“Sigit bakalan dateng lagi nggak?” Kalimat itu keluar terburu-buru dan terdengar berlawanan dengan santai. 

Mas Pandu menoleh dan menatapku galak, “ngapain Sigit datang kesini?”

“Yah..kan soalnya..” kataku bingung.

Mata mas sangat buram dan penuh amarah sampai-sampai aku berjengit. “Lagian aku dikeluarin dari tim.”

“Dikeluarin dari tim?” tanyaku menatapnya kaget, “tapi kan pendiri tim itu mas sendiri”

“Iya kemaren, sekarang kan aku nggak bisa main lagi.”

Suaranya teredam dan pelan. Seperti mau menangis, aku belum pernah lagi lihat mas Pandu menangis sejak papa meninggal dua tahun yang lalu.

“Mas.” kataku iba, “udah coba ngomong lagi sama mama?”

“Mau ngomong apa sama mama?” bentaknya. “Buat apa? Supaya dia bisa bersorak riang gembira?”                                     

“Nah, mas.”  tegur mama yang mendadak muncul dari tangga. Mama lalu mengambil cangkir dan menyeduh kopinya di atas meja. 

Kemarin aku memergoki mama membaca buku Bagaimana Bicara pada Anak Remaja Anda karangan Dr. Sarah Percy. Aku masih nggak percaya mama mau membayar 125.000 rupiah untuk buku penuh gambar kartun jelek. 

“Mama lihat handuk kamu berantakan di lantai kemarin, mama sangat terkejut, gimana perasaan mas mengenai masalah ini?” sambung mama dengan nada aneh dan ganjil.

“Hah?” mas Pandu menatap mama.

“Menurut mama kita bisa menemukan solusi untuk masalah handuk itu bareng-bareng,” lanjut mama. “Menurut mama itu bisa menjadi tantangan yang mengasyikkan.”
Mas menatapku, terheran-heran dan aku mengendikkan bahu.

“Gimana menurut mas?” desak mama. “Kalau kira-kira kamu yang mengurus rumah ini, apa saran mas mengenai handuk itu?”

“Nggak tau.” jawab mas malas, “jadiin lap dapur kali.”

Aku melihat mama sedikit frustasi dengan jawaban mas tapi tetap menyungging senyum anehnya,”mama mendengarkanmu, mas” katanya, “ide menarik.”

“Bukan.” mas menatap mama curiga.

“Iya, menarik kok.”

“Mam, aku jawab ngasal supaya mama kesel, apanya yang menarik..”

“Mama mendengarkanmu.” balas mama mengangguk, “mama mendengarkanmu, mas. Mama bisa memahami sudut pandang kamu. Yang mas bilang itu beralasan.”

“Aku nggak punya sudut pandang!” sergah mas, “lagian mama ini ngomong apa sih,  ‘mama mendengarkanmu’ apa-apaan.”

“Mama baca buku,” kataku memberitahu mas. “Judulnya Bagaimana Bicara pada Anak Remaja Anda.”

“Pantesan!” mas memutar bola mata.

“Jangan bentak-bentak mama!” mama langsung keluar dari mode jinak dan penurut.

“Ya makanya jangan ngomong pake bahasa robot dong!” seru mas, “palsu kali!”

“Harga bukunya Rp 125.000,” kataku sambil tertawa. 

Ada keheningan. Kupikir mama berjuang agar nggak lepas kendali. Dari cara mama meremas serbet menjadi bola kecil, seperti energi besar yang cukup sulit untuk diserap. Dan akhirnya mama mendongak sambil kembali senyum.

“Mas, mama paham kamu frustasi dengan kehidupan saat ini,” ujarnya dalam nada ramah. “Makanya mama mencarikan kamu beberapa kegiatan. Mas bisa jadi sukarelawan, kan?”

“Sukarelawan?” mas tampak tercengang, “sukarelawan apaan lagi? Sukarelawan PBB? Membangun pondok di Afrika?”

“Nggak. Sukarelawan membuat sandwich untuk acara panti asuhan di mesjid.”

“Bikin sandwich?” mas terperanjat, “mama nih becanda ya?”

“Mama udah bilang bisa pake dapur rumah kita untuk kateringnya. Kita semua ikut bantu kok.”

“Aku nggak mau buat sandwich.”

“Mama mendengarkanmu, mas.” kata mama, “tapi kamu harus ikut bantu juga dan tolong jangan bentak-bentak.”

“Siapa yang bentak-bentak.”

“Mama mendengarkanmu, mas” ucap mama gigih, “tapi kamu tadi bentak-bentak.”

“Mam, stop, oke?”

“Mama mendengarkanmu.”

“Stop!”

“Mama mendengarkan.”

“Stop mam, ya Allah!” mas menempelkan dua kepalan tinju di kepala. “Oke. Mas ikutan acara apalah itu terserah! Mama puas sekarang?”

Mas Pandu menjauhi meja dan mama tersenyum kecil. Dia menang!

                                       *

Mama akhirnya membelikanku ponsel atas saran Dr. Darabi. Menurutnya itu ide yang bagus, karena aku bisa memulai membangun komunikasi dengan orang di luar rumah. Oke itu langkah pertama. Langkah keduanya aku mendapatkan nomor Sigit dari mas Pandu. Langkah ketiga aku harus menelepon dia. 

Aku memasukkan nomor Sigit dan memandanginya lama. Aku berusaha membayangkan bagaimana memulai obrolan. Aku mencatat beberapa kata-kata dan frasa siapa tahu aku butuh ( saran Dr. Darabi). Aku membayangkan skenario positif.

Tapi aku masih belum mampu untuk meneleponnya jadi kuputuskan untuk mengirimkan whatsapp.

Hai Sigit, ini Kama.

Adiknya Pandu.

Kamu masih utang diwawancara nih.

Aku menduga nggak akan ada jawaban, atau setidaknya harus menunggu lama, tapi ponselku langsung berdengung;

Hayuk. Kapan?

Aku belum memikirkannya. Kapan? Besok minggu, dia punya waktu seharian.

Besok? Kamu mau ke rumah? Jam 11?

Aku menekan send dan kali ini ada sedikit jeda sebelum dia menjawab;

Di starbucks aja. Aku sekalian part-time.

Sentakan panik menjalariku mirip api superpanas. Starbucks? Dia udah sinting apa? Lalu pesan berikutnya datang;

Lagian, ayo kita coba shock terapi. Gimana?

Tapi.. tapi.. tapi..

Starbucks?

Besok?

Jemariku gemetaran. Kulitku terasa panas. Aku menarik napas empat hitungan dan menghembuskannya tujuh hitungan lalu berusaha membayangkan Dr. Darabi. Apa saran dia kira-kira? Apa yang bakal dia katakan?

Aku bisa mendengar suaranya di kepalaku, “sudah waktunya untuk langkah yang lebih besar. Kamu harus mendorong disi sendiri, Kama. Saya yakin kamu bisa mengatasinya.”

Kutatap ponsel sampai layarnya buram di depan mataku, kemudian mengetikkan pesan sebelum aku berubah pikiran.

Oke. See you there.

                                        *

Akhirnya aku tiba di starbucks. Kudorong pintu hingga terbuka dan di sanalah Sigit, duduk di meja dekat pintu masuk. Dia memakai jins dan kaus putih dan tampak ganteng walaupun memakai afron hijau starbucks.

“Kamu berhasil!” katanya senang. Wajahnya cerah begitu melihatku dan dia melompat bangkit.

“Ya!”

“Aku kira kamu nggak bakalan bisa”

“Aku kira juga gitu” kataku mengaku.

“Tapi nyatanya kamu berhasil! Kamu sembuh!”

Antusias Sigit begitu menular sehingga aku balas nyengir lebar-lebar.

“Aku udah pesenin kopi untuk kamu, sini duduk” ajaknya.

“Oh, oke.”

“Jadi kamu mau tanya apa dalam film dokumenter nya?” tanya Sigit.

“Oh, apa ya. Apa aja.”

“Ini bagian dari terapi?”

“Ya. Semacamnya.”

“Tapi kamu masih butuh terapi? Kamu kayak baik-baik aja loh.”

“Iya, aku emang baik-baik aja. Tapi sebenernya proyek ini..”

“Kalau kacamata hitamnya dilepas, kamu pasti keliatan normal total. Cobain..”

“Yah. Nanti aku cobain.”

“Cobain disini, sekarang.”

“Nanti aja”

“Sini coba aku lepasin” Sigit meraih kacamata hitamku dan aku langsung menarik diri. Keberanianku lumer. Suaranya terkesan menggertak seolah menghantamku.

“Sebentar!”

“Kenapa?” Sigit menatapku kebingungan.

“Nggak gini caranya.”

“Apanya?”

Aku menelan ludah dan mendorong kursi mundur. Aku harus melarikan diri. Aku nggak tau apa yang terjadi di kepalaku. Keadaan berbalik. Aku menyeruput frappuccino, berusaha rileks, tapi yang sebenarnya ingin kulakukan adalah mengambil serbet dan mengoyaknya kecil-kecil. Suara-suara disekelilingku semakin nyaring, semakin mengancam.

“Kama?” Sigit melambaikan satu tangan di depan wajahku yang membuatku berjengit. “Kama?”

“Aku nggak bisa” kataku mendorong kursi mundur dan berdiri.

“Kenapa?”

“Terlalu berisik.” kataku sambil membekapkan tangan di kedua telinga, “sorry..”

“Tapi tadi kamu baik-baik aja kok” ucap Sigit sambil mengikuti keluar. Dia terdengar marah, “barusan kamu tuh baik-baik aja! Kita kan cuma ngobrol..”

“Ya oke.”

“Ya oke apa maksudnya?”

“Nggak ada,” jawabku putus asa. “Nggak taulah,”

“Kalo gitu suruh diri kamu menghentikannya. Tau kan? Seperti pikiran yang menguasai tubuh.”

“Aku benar-benar minta maaf” kataku dengan suara yang agak berat. “Sebaiknya kita lupakan tentang film itu dan semuanya. Aku nggak bisa ketemu dengan kamu lagi, bye. Maaf. Maaf.”

                                         *

Dirumah, aku melangkah pelan ke dapur dan meringis begitu melihat pantulanku di cermin. Tampak pucat dan agak..sama sekali nggak menarik. Aku mendengar bunyi gemertak dari koridor lalu sesuatu jatuh ke keset dan aku terlonjak.

Ada pesan di keset – selembar kertas bergaris yang dirobek dari buku catatan dengan Kama tertera dalam tulisan tangan Sigit. Aku membuka dan membacanya:

“Kamu oke? Aku tadi whatsapp tapi ga dibales. Aku juga nggak mau ngebel takut kamu kaget, kamu nggak apa-apa kan?”

Aku mengambil bolpoin, berpikir sebentar.

“Aku nggak apa-apa, kok. Sori tadi aku panik”

Aku mendorongnya ke luar lewat celah dibawah pintu. Sesaat kemudian kertas itu muncul kembali.

“Tadi kamu keliatannya kacau banget, aku khawatir aja”

Aku memandangi kata-katanya.

“Sori.”

Hampir dengan seketika kertas itu masuk kembali bersama balasannya:

“Kamu mau bukain pintunya nggak?”

Semburan kengerian berpacu di sekujur tubuhku. Aku nggak bisa membiarkan dia melihatku yang menciut, pucat, lusuh. 

“Belum berani. Lain kali aja ya. Sori sori..”

Aku menahan napas setelah melayangkan surat itu. 

“Mengerti. Kalo gitu aku pergi dulu.”

Aku mati-matian memikirkan apa yang bisa kubalas. Namun seketika itu selembar kertas lagi masuk ke keset. Kertasnya dilipat dan diluarnya tertulis:

I have to give you this before i go..

Sesaat, aku nggak berani membukanya. Namun akhirnya aku membuka dan menatap kata-kata di dalamnya. Kepalaku mendadak beku. Napasku terengh begitu membacanya. Dia menulis:

“Ini ciuman.”
Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s