Aku dan kacamata hitamku – episode 7

Dr. Darabi mendengarkan dengan sopan selama satu setengah jam selagi aku celoteh tentang Sigit. 

“Aku tau dokter mau bilang apa,” ucapku akhirnya “dokter pasti menganggap ciuman diatas kertas itu nggak masuk hitungan.”

“Nggak kok,” sahut Dr. Darabi serius. “Ciuman ya ciuman, fakta bahwa itu cuma diatas kertas nggak merubah arti sebenarnya.”

“Tapi sekarang dia nggak ada kabar, aku nggak bisa mulai komunikasi duluan. Aku pengen tau isi kepalanya tapi nggak bisa baca pikirannya. Aku nggak tau harus gimana, ini tuh bikin stress..” kataku panik.

Dr. Darabi menatapku datar, tak langsung menanggapi.

“Aku tau, aku tau. Reaksiku berlebihan dan aku  ‘sakit’ jadi situasinya nggak bisa kayak orang normal,” desahku.

“Seperti apa memangnya kalau orang normal?”

“Yah. Dokter taulah, mereka pasti santai aja menghadapi situasi kayak gini. Mereka nggak akan mungkin stress gara-gara hal sepele kayak gini.” jawabku.

Ada keheningan yang lama. Mulut Dr. Darabi berkedut. “Tau nggak, Kama?” katanya akhirnya, “normal atau ‘sakit’ sepertimu, stress karena penasaran dengan apa yang dipikirkan seorang cowok setelah menciummu nggak ada obatnya. TIDAK ADA.”

                                        *

Kemudian tiga hari setelah kejadian itu, aku dan mas Pandu sedang duduk-duduk di taman. Cuaca hari ini hangat jadi kami memutuskan main di luar.

Mas membaringkan tubuhnya di rerumputan, “Kama..”

“Hmm?” tanyaku ikut merebahkan tubuhku.

“Seandainya papa masih ada, mama mungkin lebih tenang.”

Hening.

“Mas sering pergokin mama buka-buka foto papa.” katanya.

“Mama nggak mungkin bisa kerja lagi ya, mas? Maksud aku, kalau mama kerja kan setidaknya dia nggak terlalu kesepian.”

“Kayaknya sih gitu.”

“Selamanya?”

“Mungkin.”

“Tapi kan karir mama dulu hebat banget.”

“Ya, tapi mama kan nggak mungkin bisa pergi kerja.”

Mas nggak mengatakannya tapi aku tahu apa maksudnya. Karena aku.

Karena aku, mama harus dirumah. Karena aku, mama terlihat selalu tegang dan lelah, bukannya bahagia. 

“Mama harusnya kerja. Mama kan suka bekerja.”

Mas mengendikkan bahu. “Yah, mudah-mudahan sih mama bisa kerja lagi nanti kalau, tau kan..”

Kalau aku membaik.

Kutatap matahari dari balik kacamata hitamku. Kalau aku membaik. Oke, aku bertekad ingin sembuh dengan cara apapun demi mama.

“Hai. Wow, asik banget di sini.” 

Tiba-tiba Sigit muncul menutupi cahaya matahari dari pandanganku. 

“Kalian kan dilarang main LOC, kenapa kamu..?”

“Mau ketemu kamu.” katanya senyum. “Nggak apa-apa kan?”

Tanpa ragu dia ikut merebahkan tubuhnya di sebelahku. 

Mas terlihat sama sekali nggak tertarik dengan fakta ini. Fakta bahwa aku dan Sigit ada apa-apanya.

“Pan, kayaknya nyokap lo nyariin tadi,” kata Sigit.

“Mau ngapain?” mas merengut. 

“Katanya lo sukarelawan?” kata Sigit. “Buat katering acara di mesjid? Kayaknya udah pada mulai.”

“Gue bukan sukarelawan,” bantah mas tampak marah. “Gue nggak menawarkan diri, gue dipaksa. Ini namanya kerja paksa!”

“Lo kan dapet pahala mas, menolong orang susah.”

“Kenapa nggak lo aja yang nolongin mama,” balas mas. “Lagian maksudnya lo bilang ‘orang susah’ apaan?”

“Itu kan ungkapan.”

“Ungkapan rasis.”

“Kayaknya lo udah harus pergi deh, Pan.” Sigit menyela, “bentar lagi nyokap lo ngamuk.”

“Nah, lo sama Kama? Nggak ikut?” tanya mas sewot.

“Aku kan harus nemenin tamu.”

“Tamu siapa? Dia kan temen gue.” Mas memelototiku.

“Pandu!” 

Kami mendengar mama berseru, “mas! Dimana kamu!” ulang mama. 

Mas berjalan gontai menuju rumah seperti tahanan dan aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali karena merasa sedikit gelisah.

Maksudku, aku baik-baik aja sih. Nggak panik atau apa. Cuma agak-

Yah. Agak gugup sih. 

“Kamu udah baikan sekarang?” 

Aku tersenyum, “jauh lebih baik. Kemaren kamu pasti mikir kalo aku sinting kan?”

Sigit tersenyum, “nggak”

“Nggak usah nyangkal, aku ngerasa aku memang sedikit gila.”

“Kamu harus ketemu dengan nenek aku. Dia bener-bener sinting. Dia menganggap kalo dia umurnya 25. Kalo ngaca, dia kira kami sekeluarga menipu dia. Dia nggak bisa melihat kenyataan. Dia pake rok mini, pengen pergi clubbing dan dia pake make-up lebih tebel daripada nenek-nenek yang ada di komplek sini.”

“Keren amat!”

“Dia tuh.. tau kan?” Sigit mengendikkan bahu, “kadang itu tuh lucu, tapi sebenernya ini menyedihkan. Intinya dia bukan 25 tahun, kan? Otaknya yang sakit yang memberitahu itu, kan?”

“Ya sih.”

“Aku pengen bilang ini sebenernya sama kamu, sebelumnya. Setelah kejadian starbucks,” Sigit terdengar berempati. “Nenek aku bukan 25 tahun dan kamu bukan.. kamu nggak gila.”

Dan tiba-tiba saja aku paham apa yang dilakukannya, apa yang coba dilakukannya.

“Thanks.” kataku. “Terimakasih karena udah..tau kan? Mengerti. Memahami.”

“Aku nggak terlalu memahami, tapi paling nggak..”

“Kamu paham. Lebih dari kebanyakan orang.”

“Yah.” Sigit terdengar canggung. “Gitulah..”

Aku merasakan tangannya bergerak ke arahku. Ibu jari kami bertemu dan kulitnya yang lembab dan hangat dan mirip seperti yang kubayangkan. Ibu jarinya melingkari ibu jariku dan aku mengelak main-main dan dia tertawa.

“Jadi kamu oke dengan kontak jempol?”

“Kontak jempol nggak masalah.” Aku mengangguk.

Sigit menggenggam tanganku erat. “Aku bener-bener suka sama kamu, Kama. Aku rasa sekarang aku yang gila.” ucapnya.

Kupejamkan mata lalu tersenyum. Aku mencoba menikmati masa sekarang dan tak terlalu memikirkan apa yang ada di dalam kepalanya.

“Aku juga..” bisikku.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s