Aku dan kacamata hitamku – episode 8

Setelah terapi berpegangan tangan, aku dan Sigit memutuskan menyusul mas Pandu ke dalam rumah. Kami berpikir untuk meringankan bebannya, siapa tahu mas butuh bantuan secara mental.

Dapur penuh dengan berbagai macam orang. Ada wanita tua mengenakan setelan kuno warna kuno dan gaya rambut yang benar-benar kuno. Ada wanita setengah baya berkepang dua dan memakai sendal jepit. Ada pasangan bertubuh subur yang kompak pakai sweater warna pink. Dan terakhir bapak-bapak beruban yang pakai jaket kulit naik skuter yamaha x-max. 

Sebenarnya skuter yamaha x-max itu lumayan keren. Tapi memang agak menghalangi jalan masuk orang lain. 

“Baiklah!” Mama datang dan menepuk tangan. “Selamat datang semuanya, terimakasih sudah bersedia ke sini hari ini. Karena acaranya dimulai jam tiga, saya sudah membeli bahan-bahannya..” mama mulai mengosongkan makanan dari tas belanja supermarket ke meja dapur. Mama membeli tomat, mentimun, selada, roti, ayam fillet dan ham. “Kita akan membuat sandwich hari ini, hm.. ada yang punya ide lain?”

“Roti gulung sosis?” kata wanita bertubuh subur tadi.

“Maksudnya beli roti gulung sosis atau buat roti gulung sosis?” kata mama sambil mengangguk.

“Ooh.” Wanita tadi tampak kebingungan. “Bukannya orang-orang suka roti gulung sosis, ya?”

“Ya sih. Tapi kita nggak ada roti gulung sosis atau sosisnya. Jadi-”

“Sayang banget,” komentar wanita itu, “soalnya orang-orang kan suka roti gulung sosis.”

Suaminya mengangguk, “iya bener.”

“Semuanya suka roti gulung sosis.” sambungnya.

Aku bisa melihat mama jadi agak tegang. “Mungkin lain kali,” ujarnya ceria. “Mungkin kita buat sandwich telur aja?”

“Mam!” kata mas Pandu ngeri. “Sandwich telur? Apaan!”

“Sandwich telur kan enak!” kata mama membela diri, “ya kan?”

“Maaf, menurutku kita bisa membuat yang lebih enak daripada sandwich telur.” Ada suara laki-laki memotong ucapan mama dan kami semua mendongak. Sosok yang belum pernah kulihat berderap memasuki dapur. Umurnya pasti tiga puluhan. Rambutnya cepak, tangannya full tato dan dia punya sekitar dua anting-anting di sebelah telinga dan memakai seragam koki.

“Saya Juna,” dia mengumumkan. “Kakek saya tinggal disekitar komplek ini.”

“Chef Juna?” Mama terbelalak melihatnya. “Chef Juna yang terkenal itu kan?”

Pria ini mengangguk sambil tersenyum, “saya punya waktu satu jam. Ini bahan yang ibu punya?” Dia membolak-balik belanjaan mama di kedua tangan. “Kayaknya kita bisa buat kebab dengan isian segar yang enak didalamnya ditambah salad Waldorf dan mungkin kita bisa panggang sebentar kulitnya terus dikasih saus lemon-tarragon..”

“Chef” wanita berbaju ungu melambaikan tangan di depan wajahnya. “Gimana cara kita mempertahankan salad-nya biar tetap segar?”

Chef Juna tampak heran, “oh, saya bawa kotak pendingin kok. Saya juga bawa peralatan katering, bisa dikembalikan besok.”

Wanita berbaju ungu tadi mengerjap kaget.

“Kotak pendingin?” Mama terlihat mulai bersemangat. “Peralatan katering? Wah!”

“Nggak masalah. Oke, jadi menu kita kebab isi salad waldorf ditambah beberapa-”

“Mm, kita bisa pake telurnya nggak?” Tanya mama, tampak malu. “Soalnya saya beli banyak banget buat sandwich telur tadinya, tapi kayaknya nggak ada yang minat”

“Kita bikin omelet,” kata chef Juna tanpa ragu. “Kita masukkan juga sosis, bawang putih, tumis sedikit bawang merah, kita bisa sajikan dalam irisan..”

Aku suka omelet. Chef Juna ini keren banget!

“Saya juga beli paprika, banyak.” Ujar mama penuh semangat, “bisa dimasukkan juga nggak?”

“Perfect.”

Chef Juna mengambil paprika dari mama dan membalikkannya dalam jemari. Kemudian dia membuka ransel dan menampakkan satu set pisau, semuanya dikemas rapi. Kami menyaksikan dengan antusias saat dia mengambil talenan dari meja dapur, menaruh paprika di sana dan mulai mencincang.

Semua orang di dapur menatap tertegun. Bahkan mas Pandu. Terutama mas Pandu. Chef Juna selesai dan semuanya bertepuk tangan, cuma mas Pandu yang masih terpana. 

“Loe.” Chef Juna melihat mas, “gue mau lo bertugas mengiris.”

“Tapi.” Mas menelan ludah. “Gue nggak bisa.”

“Gue ajarin, tenang.” Chef Juna menatap mas dari atas ke bawah. “Lo masak pake baju itu? Punya celemek?”

“Gue cari sekarang,” kata mas buru-buru dan aku menahan kikikan. Mas mau pake celemek?

Chef Juna sekarang menggeledah lemari-lemari mama, menaruh berbagai bahan di seantero meja.

“Saya akan buat daftar belanja,” dia mengumumkan. “Kita butuh keju parmesan, sosis, bawang putih lagi..siapa yang bisa disuruh belanja?”

Sigit meraih dan mengangkat tanganku dan chef Juna langsung menatapku, “oke, kamu kalo gitu yang belanja.”

Aku menatap bingung. Aku? Belanja?

“Cool sunglasses anyway!” katanya sambil mengedipkan matanya.

                                         *

Saat ini belanja cukup oke buatku.

Memang nggak mudah sih tapi Sigit berada di sebelahku dan berkata, “masa bodohlah sama orang-orang disekitar kamu.” Jadi menurutku itu cukup untuk menenangkan pikiran yang semakin panik saat aku membeku akibat kengerian mendadak di pintu masuk supermarket.

Aku memaksakan diri tersenyum dan meremas tangan Sigit kuat-kuat. Aku melenggang masuk, berusaha keras berlagak menjadi seseorang yang nggak tertarik pada apa yang dipikirkan orang lain. Dan ternyata aku lumayan sukses.

                                        *

Ketika aku pulang, mengangkat dua tas belanjaan, langkahku mendadak terhenti karena tercengang. Mas Pandu berdiri di depan meja dapur, mencincang.

Mas memakai salah satu celemek mama dan memegang pisau dan dia sudah mempelajari cara melakukannya sekeren chef Juna. Cara cincang-cincang dia itu cepat. Wajahnya memerah dan benar-benar menikmati. Mas bahkan nggak sadar aku menonton.

“Great!” Chef Juna melihatku dan mengambil tas belanjaan. “Ayo keluarkan bawang putihnya.” Chef Juna mengendus bawang putih dan mengusap kulit setipis kertasnya. “Cantik. Oke, Pandu gue mau ini diiris halus. Semuanya.”

“Baik, Chef.”

Baik chef?

Oke, mas kenapa nih?

                                       *

Aku kembali ke taman dan menemukan Sigit duduk di bangku. Melihatnya membuatku merasa aman. Melihat senyumnya yang lebar dan bahagia dan hanya untukku, rasanya seakan teduh dan tenang.

“Hei. Udah beres?”

“Udah.” Kusentuh tangannya dan kami berpelukan.

“Aku punya satu tantangan buat kamu. Kamu tanya sama bapak yang lagi jalan itu, tanyain bebek vegetarian nggak?” 

“Emang iya gitu bebek vegetarian?”

“Ya nggaklah, mereka kan makan cacing. Udah sana tanyain.” Sigit mendorong bahuku dan aku bangkit sambil nyengir. Aku berdenyut oleh rasa takut tapi kupaksakan diri untuk bertanya dengan orang itu tentang bebek.

Aku kembali ke bangku dan tersenyum puas karena aku baru saja berhasil mengobrol dengan orang asing. 

“Oke. Sekarang tanyain sama yang jualan es krim itu dia jual yang rasa kelapa nggak?” Sigit mengangguk ke penjual es krim yang selalu mangkal di taman setiap sore.

“Dia nggak jual rasa kelapa.”

“Aku tau. Udah tanyain aja sana.”

“Gampang bangetlah,” jawabku bangga. “Yang lain aja.”

“Nggak mau. Kamu kesana gih, tanyain ke mas-mas yang jualan es krim itu.”

Aku menuju gerobak es krim dan dengan sabar menunggu giliran, lalu berkata, “mas, ada es krim yang rasa kelapa?”

Aku udah tahu jawabannya. Aku sudah tanya es krim kelapa setiap tahun sejak aku berumur delapan, tapi tukang es krim ini nggak pernah jual rasa kelapa.

“Hari ini ada,” jawab si penjual es krim, matanya berbinar. 

“Hah? Serius?”

“Ini dia. Es krim kelapa khusus buat Kama,” katanya dengan penuh semangat. “Cuma hari ini, spesial untuk Kama”

“Kok?” Aku mengerjap tak percaya, “ini beneran kelapa?”

Dia mengulurkan satu lagi es krim, “ini es krim cokelat chips untuk Sigit, semuanya sudah dibayar.”

“Aku suka banget rasa kelapa tapi mas kan nggak pernah jual rasa kelapa, kok tumben?”

“Ya, saya udah tau. Sigit yang bilang Kama suka rasa kelapa. Dia yang minta tolong hari ini jual yang rasa kelapa, khusus buat Kama.”

Aku berputar dan Sigit memperhatikan. Dia tersenyum.

Aku melingkarkan lengn di tubuhnya tanpa menjatuhkan kedua es krim lalu mengecupnya bibirnya. Sigit menatapku tak percaya lalu mengusap kepalaku.

“Enak?”

“Banget. Makasih ya..”

Kami menikmati es krim sore itu. Aku akan selalu mengingat momen ini, tepat saat ini, duduk di taman bersama Sigit dan lengannya merangkulku. Dia mengecup bibirku cepat, bibirnya rasa cokelat dan aku yakin bibirku rasa kelapa. 

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s