AKU DAN KACAMATA HITAMKU – episode 9

KELUARGAKU YANG TENTERAM DAN PENYAYANG – TRANSKRIP FILM

Kamera memasuki dapur, tempat mas Pandu membungkuk di depan laptop.

“Kira-kira mama mau belikan gue satu set pisau nggak yah?” tanya mas.

“Berapa harganya emang?”

Mas pandu mengklik tombol browsing di laptop, “yang ini tiga juta.” menunjukkan satu set pisau profesional yang super keren.

Aku terdiam.

“Gue butuh pisau bagus, kata chef Juna gue boleh datang dan belajar sama dia di kitchen nya. Tapi gue harus mulai dari cuci piring atau yang lain-lain buat bantu. Dan kalau gue mau cuci piring dan lain-lain tadi, dia janji mau ngajarin gue.”

Mas Pandu mendongak dan seluruh wajahnya berseri. 

“Cool!”

“Lo tau nggak, kemaren dia bakar ayam pake obor gas, itu gila. Gue pengen kayak dia. Gue harus jadi chef. Harus!”

Aku senang karena akhirnya mas Pandu menemukan tujuan hidupnya, paling nggak dia sudah melupakan tentang game online nya. Paling nggak, dia sekarang memiliki cita-cita yang masuk akal dan aku yakin hal ini akan sangat menenangkan mama.

                                         *                 

Belakangan ini, aku jauh lebih sering tertawa setiap menemui Dr. Darabi. Dulu dia lebih banyak berbicara dan aku lebih banyak mendengarkan. Namun sekarang keadaan berbalik. Banyak banget yang mau aku ceritakan padanya, tentang Sigit, perjalananku ke luar rumah, berbicara dengan orang asing dan aku nggak panik sedikitpun..

“Jadi menurut aku, kayaknya aku selesai,” kataku begitu mengakhiri cerita. “Aku beres.”

“Beres?”

“Sembuh.”

Dr. Darabi mengetuk-ngetukkan pensil sambil merenung. “Maksud kamu..”

“Ya dokter taulah. Aku udah baik-baik aja. Udah normal.”

“Kamu jelas memang sudah mencapai kemajuan yang sangat bagus. Saya senang, Kama. Sangat senang.”

“Bukan cuma kemajuan bagus,” kataku tak sabar. “Aku kembali normal. Bulan depan aku sudah bisa bersekolah layaknya orang normal.”         

“Mmhhm.” Dr. Darabi memberikan jeda sopan sebelum membantahku. “Kamu masih pake kacamata hitam. Kamu juga masih mengonsumsi obat.”              

“Dokter nggak perlu senegatif itu sih.”

“Kama, saya cuma mau kamu realistis.”

“Aku realistis.”

Dr. Darabi mendesah, “Kama, saya senang kalau kamu benar-benar sembuh. Tapi banyak banget pasien yang pulih dari suatu episode seperti yang kamu lalui akan mengalami kemunduran. Dan itu nggak apa-apa. Itu normal.”

“Yah. Aku kan udah mengalami semua kemunduran itu.” Aku menatapnya datar. “Aku sudah selesai dengan kemunduran, oke? Aku nggak akan mengalaminya lagi. Itu nggak akan terjadi.”

“Saya tau kamu frustasi, Kama-”

“Aku berpikiran positif. Apa salahnya?”

“Nggak ada. Tapi jangan terlalu berlebihan. Jangan memberi dirimu sendiri tekanan. Resikonya kamu bisa memberi dirimu sendiri kemunduran yang nyata nanti.”

“Aku udah baik-baik aja,” kataku tegas.

“Iya, benar.” Dr. Darabi mengangguk, “tapi kamu itu rapuh. Bayangkan piring porselen yang diperbaiki yang belum sepenuhnya kering.”

“Aku piring?” kataku sinis tapi Dr. Darabi tak terpancing.

“Saya pernah punya pasien beberapa tahun lalu, sangat mirip dengan kamu, dia juga berada dalam fase kesembuhan yang sama. Dia memutuskan sesi terapinya yang sebenarnya sangat bertentangan dengan saran saya.”

“Trus, apa yang terjadi?” Aku nggak tahan untuk bertanya.

“Beberapa bulan kemudian suasana hatinya merosot ke kondisi terburuk. Dia benar-benar terpuruk.” 

Aku merasa kengerian menjalan keseluruh tubuhku. 

Dr. Darabi mengamatiku, mulutnya berkedut, “omong-omong, bagaimana aktifitas kamu akhir-akhir ini? Menyenangkan?” berusaha mencairkan suasana.

“Yes. Menyenangkan.”

“Dan Sigit masih..” dia berhenti bicara tanpa terlalu kentara.

“Sigit.” Aku mengangguk, “dia masih Sigit. Ngomong-ngomong dia titip salam.”

“Oh!” Dr. Darabi terkejut, “yah, sampaikan salam dari saya juga.”

“Dan dia bilang, ‘good job’.”

Ada keheningan dan senyum kecil merambati wajah Dr. Darabi, “yah. Bilang sama dia good job juga.”

Dr. Darabi memberikan kuesioner seperti biasa dan aku berbohong sedikit waktu mengisi kotak centangku.

Apakah kamu merasakan kecemasan hampir setiap hari? Tidak.

Apakah kamu mendapati kecemasanmu sukit dikontrol? Tidak.

Dr. Darabi membaca kuesioner itu dengan alis terangkat saat aku menyerahkannya.

“Kan aku udah bilang,” kataku pada Dr. Darabi. “Aku beres. Aku selesai. Pulih total.”

                                       *

Sekarang jam tujuh malam dan aku sendirian di rumah. Mas Pandu katanya mau balik ke sekolah ada kerja kelompok. Mama akhirnya memutuskan untuk ‘me time’ pergi ke spa. 

Aku mengirim whatsapp ke Sigit dan bercerita tentang Dr. Darabi. Aku bilang kalau aku ingin ketemu dan menyuruhnya ke rumah.

                                       *

Itu dua jam yang lalu dan Sigit belum juga balas. Aku memeriksa sinyal ponsel ke sejuta kalinya dan hasilnya baik-baik aja. Mungkin dia sibuk atau apalah.

                                       *

Jam sepuluh malam dia belum juga membalas. Padahal dia selalu membalas. Selalu dalam rentang waktu satu jam. Biasanya dia pasti bisa membalas whatsapp-ku entah dia sedang di kelas, makan malam keluarga atau dari mana saja.

                                      *

Sekarang jam sebelas dan dia masih belum membalas.

                                       *

Tengah malam. Tak ada pesan.

                                       *

Jam satu pagi, aku nggak bisa tidur. Aku bahkan nggak bisa berbaring. Aku mondar mandir di kamar, berjuang menenangkan pusaran pikiran tapi pikiranku bagaikan puting beliung. 

Aku mengeluarkan clonazepam dari kemasan blister-nya lalu menatapnya lama. 

“Aku sudah sembuh. Aku sembuh.”

Aku membuangnya ke dalam toilet dan menyiram semuanya. 

“Aku nggak butuh pil.” 

                                         *

Ponselku bergetar di bawah bantal dan seketika aku terbangun. Aku menatap jam, pukul 03.00 subuh dan aku melirik layar ponsel. Mas Pandu.

Keningku mengernyit, “Halo, mas?”

“Kama, jangan panik oke?”

“Ada apa?”

“Pokoknya jangan panik!”

Pintu kamarku terbuka dengan kasar. Mama muncul tergopoh-gopoh sambil memakai kimono tidurnya, “Kama, sayang..” mama mendekatiku lalu mengusap rambutku.

Aku menelan ludah, bagaimana bisa aku tidak panik?

“Ada apa?” tanyaku panik!

                                         *

Aku setengah berlari menuju ruang gawat darurat. Ini nggak mungkin, aku nggak percaya. Ini nggak masuk akal.

Kudorong pintu masuk dan mendapati Dr. Darabi di sana. Menangis. 

“Oh, Kama..” tangisnya pecah begitu melihatku lalu memelukku.

“Dokter? Kenapa ada di sini?” tanyaku heran.

Mas Pandu membuka tirai dan aku melihatnya. Wajah Sigit yang kaku dan pucat. Tak bisa kupercaya Sigit meninggalkanku. Kubekap mulutku dan aku terjatuh, menangis dan berteriak seperti orang gila. 

Saat mas Pandu mengatakan bahwa Sigit baru saja meninggal aku tak langsung percaya. Bahkan saat mama berusaha meyakinkanku bahwa berita itu benar aku masih tak bisa percaya. 

Dia tak pernah cerita bahwa dirinya mengidap leukimia. Aku tak pernah melihatnya kesakitan sekalipun. Dia sama sekali tak terlihat sakit bagiku. Dia baik-baik saja. Kemarin sore kami baru saja makan es krim kesukaanku sama-sama. 

Kepalaku pusing, dan aku butuh sandaran. Dr. Darabi memelukku sambil menangis. Aku masih tak mengerti kenapa dokter ada di sini. 

“Dia anakku, Kama..” bisiknya. “Sigit anakku, satu-satunya..”

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s