AKU DAN KACAMATA HITAMKU – final episode

Aku tak mengerti apa itu leukimia akut. Yang aku tahu bila seseorang mengidap penyakit leukimia seharusnya dia terlihat botak, pucat, kurus, selang infus dimana-mana dan tertidur lemah dikasur rumah sakit. Bukan malah main game online di rumah temannya, kerja part-time di Starbucks atau sibuk mengurusi remaja depresi sepertiku.

Plafon kamar terasa berputar setiap kali aku terbangun. Kupejamkan kembali dan kuusap perlahan air mataku. Bayangan wajahnya selalu muncul didepanku. Bahkan kadang aku mendengar suaranya memanggil lalu aku akan bangkit dari tempat tidur dan mulai mencarinya. Tak butuh waktu lama sampai aku menyadari bahwa suara itu hanya sisa kenangan yang ada dalam ingatan. Saat aku menyadarinya, aku kembali terjatuh dilantai. Menangis sesunggukan. 

Betapa aku sangat merindukannya..

Suara ketukan pintu di kamar memaksaku untuk berdiri dan membukanya. 

“Kama,” panggil ibu hampir berbisik. Wajahnya tampak sedih melihatku, “dokter Darabi datang, dia boleh masuk ke kamar?” 

Aku membuka pintu lebar-lebar lalu mengangguk, “boleh.” kataku.

Aku duduk di atas kasur dan memperhatikan Dr. Darabi masuk lalu mengambil kursi dan duduk di depanku.

“Kama,” panggilnya pelan, “saya datang untuk memberikan ini..”

Dr. Darabi menyerahkan buku tebal berwarna biru. “Ini apa?”

“Sigit selalu menulis semuanya di dalam jurnal. Saya rasa kamu berhak memiliki ini..” 

Jurnal? Jurnal ini miliknya?

Wajah Dr. Darabi tampak kacau. Sama parahnya denganku, mungkin lebih terguncang dibandingkan denganku. 

“Kenapa dokter nggak bilang kalau Sigit-”

“Dia yang melarang. Dia anak yang cukup keras kepala dan dia sangat tergila-gila denganmu.” 

Dr. Darabi berdiri dan mendekatiku, tangannya mengusap rambutku perlahan, “Kama, saya rasa ini terakhir kalinya kita bertemu.” ucapnya.

Aku menengadah, heran “terakhir?”

“Saya akan pindah minggu depan, saya sudah siapkan dokumen transfer untuk sesi  kamu selanjutnya. Dia teman seprofesi saya, dan saya yakin kamu akan baik-baik saja.”

“Tapi,”

“Maafkan saya, Kama.” Dr. Darabi berdiri dan berhenti di depan pintu. Menatapku dan mengusap airmatanya, “i’m sorry..” bisiknya lalu menutup pintu.

Aku tertunduk menatap buku jurnal Sigit. Airmataku menggenang dipelupuk mata, setelah Sigit pergi sekarang Dr. Darabi juga meninggalkanku. Aku menarik napas dalam empat hitungan dan menghembuskannya dalam hitungan ke tujuh. 

Kubuka perlahan halaman pertama. Tepat dua tahun yang lalu;

“Aku melihatnya. Aku melihatnya di sekolah.”

Kubalik halaman selanjutnya;

“Aku nggak tahan melihatnya di bully. Nindy keterlaluan.”

Halaman berikutnya;

“Dia nggak pernah muncul lagi di sekolah. Huft, sekolah rasanya membosankan!”

Dadaku sesak karena penasaran, semakin cepat kubuka halaman berikutnya. Kosong. Kubuka lagi dan masih kosong. Hingga beberapa lembar berikutnya tetap kosong sampai aku menemukan tulisannya kembali;

“Bingo! Akhirnya aku menemukannya di Starbucks. Namanya Kama, keren.”

Halaman berikutnya;

“Ternyata dia adiknya Pandu. Yeahh!”

Halaman berikutnya;

“Hari ini aku main kerumahnya, dia selalu pakai kacamata hitam. Aku harus cari tahu gimana cara ngajak dia ngobrol.”

Halaman berikutnya;

“Ternyata dia pasien ibu. Hari ini aku baca semua datanya. Semangat dong Kama, you can get back normal!”

Aku menggigit bibirku, menahan airmata agar tak jatuh membasahi lembaran jurnal. Sambil tetap kubuka halaman berikutnya;

“Kontak sepatu rasanya mendebarkan. Aku senang karena dia berhasil melakukannya, good job Kama!”

Halaman berikutnya;

“I’m in love with her!! Rasanya aku mau gila, hahaha.. besok kita janjian ketemuan di starbucks, kita coba shock terapi oke? Hope you’ll be ok tomorrow.”

Halaman berikutnya;

“Aku mengacaukan semuanya, maafkan aku karena terlalu agresif. Aku cuma ingin kamu sembuh dan kembali normal. Aku tau kamu pasti bisa, jangan menyerah!”

PS: aku menciumnya diatas kertas, itu masuk hitungan kan? Rasanya hampir gila!

Kubalik halaman berikutnya;

“Dari semua penyakit yang ada, kenapa harus leukimia?!!”

Halaman berikutnya;

Dear Kama,

Jika kamu membaca jurnal ini, itu artinya aku sudah tiada. Aku minta maaf karena telah menghancurkan hatimu. Aku minta maaf karena tak sempat melihat matamu, aku yakin matamu pasti indah. Aku minta maaf karena tak disampingmu saat pertama kali kamu kembali ke sekolah. Aku minta maaf karena sekarang aku akan memaksamu untuk berdiri sendiri, berjalan sendiri dan melanjutkan hidupmu. Hiduplah dengan bahagia, penuh cinta dan sukacita karena kamu berhak mendapatkannya. Apabila semuanya terasa berat, ingatlah semua yang sudah kita lalui, aku berjanji hal itu akan menjadikan semuanya lebih mudah. 

Kama, aku yakin kamu pasti sembuh. Kamu akan baik-baik saja tanpaku. Kamu harus tau bahwa aku mencintaimu sejak hari pertama aku melihatmu. Kamu tak tahu rasanya saat aku tahu kamu adiknya Pandu. Aku akan selalu ingat senyummu, saat pertama kali kita berpegangan tangan, aku tak mungkin lupa. Jangan pedulikan perkataan orang, dirimu lebih kuat dari kata-kata buruk mereka. Jangan bersedih saat aku tak pernah lagi datang kerumahmu. Oh, aku merindukan ruang nonton yang gelap itu. Aku berharap kamu menghidupkan lampunya nanti.

Aku harap kamu tak bersedih terlalu lama. Kamu bisa menyimpan atau membawa kemanapun jurnal ini. Aku harap bisa memberimu kekuatan. Senang mengenalmu, Kama. 

Salam,

Sigit yang tergila-gila padamu.

Tangisku pecah dan kupeluk erat jurnal di dada. 

                                        *

Satu bulan kemudian…

Aku memasuki mobil dan duduk di kursi depan. Mama meletakkan tas nya di kursi belakang. “Mas, tolong pegangin.”

“Siap.” Mas tersenyum.

Rasanya keluargaku benar-benar tenteram sekarang. Mas Pandu dan mama sudah jarang bahkan hampir tidak pernah bertengkar lagi. Mas tidak pernah main game online dan dirinya benar-benar serius dengan karir chef-nya. Dan mama cukup bangga dengan hal itu.

Sementara aku, hari ini genap sebulan Sigit meninggalkanku dan hari ini adalah hari pertamaku ke sekolah. Aku dinyatakan pulih total dan bisa memulai semuanya dari awal. Dadaku terasa penuh, perasaan senang dan ngeri bercampur aduk.

Mama sudah kembali bekerja. Aku dan mas Pandu menyuruhnya untuk kembali bekerja, awalnya mama ragu namun aku meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sejak mama kembali bekerja, dia terlihat lebih banyak tersenyum.

Pagi ini aku berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Aku menarik napas dalam empat hitungan dan mengeluarkannya dalam hitungan ke tujuh. 

“Siap?” tanya mas antusias.

Aku tersenyum lalu melepaskan kacamata hitamku dan menyangkutkannya di antara kancing baju.

“Siap!” Aku mengangguk.

Aku melangkah pasti menuju hidupku yang baru. 

Tanpa kacamata hitamku. 

Tamat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s