TALANG 1965
Udara pagi ini tak seperti biasanya, hari ini terasa sangat dingin. Kutatap langit awan mendung yang berat, “jan lupo kok ujan ambiak daun pisang untuak payuang” kata amak lalu memberikanku batu tulis sambil tersenyum, “elok-elok dijalan, Kirai.”

Kuraih batu tulis lalu tersenyum, “iyo amak, assalamualaikum” kucium tangan amak. Aku berjalan pelan menyusuri jalan setapak lalu menoleh kebelakang sebentar dan kudapati amak masih berdiri di depan rumah mengamatiku. 

Kupandangi langit sekali lagi, kali ini awan tak lagi ragu untuk menurunkan hujannya, kurasakan tetesan air menyentuh hidungku. Cepat-cepat kupatahkan daun pisang dan menjadikannya sebagai payung sambil terus kutelusuri jalan setapak. Hujan semakin deras dan aku berlari secepat mungkin, tak jarang kakiku tersandung bebatuan di jalan. 

“Kirai!”

Kuhentikan langkah dan menoleh kebelakang cepat, “Ida!” teriakku.

“Tunggua, molah kito basamo” Ida berlari.

“Jalan elok-elok, Ida” kataku khawatir.

“Lari, Kirai! Kok talambek musiti kanai berang pak Zai” balasnya sambil menarik tanganku. 

*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s