Ternyata itu Dia. Episode 1

Aku membuka ulang pesan masuk pada email cuma mau memastikan waktu acaranya sekali lagi. Kubaca pelan-pelan, jelas di sana tertulis acara dimulai jam 19.30

Kulirik jam tangan, 20.50

“Oh crap!”

Kutekan nomor Bimo dan terdengar nada masuk. Aku mengetuk-ngetuk tumit sambil menunggu jawaban.

“Apa?” kata Bimo galak.

“Lo dateng kan? Plis plis gue nggak mau sendirian.”

“Nggak.”

“Bim, plis.”

“Males.”

“Bim, gue udah di depan pintu lobi. Masa gue balik lagi?” panik menyerbuku dan aku mulai berjalan mondar mandir nggak karuan.

“Pulang ajalah. Lagian ntar kalo lo ketemu dia gimana?”

“Gue udah cek ricek dia nggak akan dateng. Ayo dong Bim, kita belom pernah dateng acara reunian SMA kan?”

“Bye!” Klik.

“Bimo!” aku berteriak dan petugas hotel mulai mengkhawatirkanku.

Aku menggaruk kening sambil berpikir apa sebaiknya aku pulang saja?

Jangan. Jangan pulang. Aku sudah membawa cukup banyak brosur di dalam tasku. Aku memberanikan diri untuk melangkah masuk dan petugas hotel dengan cepat membukakan pintu untukku.

Oke, aku cuma perlu ngobrol sebentar, memberikan brosur keparat ini lalu pulang. Aku nggak mau berlama-lama di sana apalagi tanpa Bimo.

Bimo adalah sahabat dekatku sejak SMA. Aku pernah naksir dia waktu dulu tapi seiring berjalannya waktu, ternyata aku menyadari lebih nyaman berteman ketimbang pacaran. Bimo cukup populer dikalangan cewek-cewek, jadi berada di dekatnya sangat membantu percaya diriku berada ditengah-tengah keramaian.

Sialnya dia nggak mau datang malam ini dan aku harus menghadapi semuanya sendirian.

Aku mengisi daftar absen lalu panitia memberikan pin untuk disematkan di bajuku. Aku membaca sepintas tulisannya, “Reuni Akbar SMANSA 2017”.

Kutarik nafas dalam-dalam lalu berjalan pelan. Seorang wanita melintas di depanku, “permisi,” katanya, dia memakai baju yang cukup seksi dan oh wanginya, dia pasti menelan botol parfumnya.

Aku menghindar dan mendekati meja kue lalu mengambilnya satu. Aku duduk dan mulai berpura-pura menikmati kue sambil melihat-lihat apakah ada orang yang kukenal. Aku menganggukkan kepala berusaha menikmati musik.

“Tumben nggak sama Bimo.”

Aku menoleh.

Kenapa dia ada disini? Kenapa? Aku sudah pastikan bahwa namanya tidak ada ke panitia. Tapi kenapa dia sekarang malah duduk di sebelahku. Masih dengan gayanya yang khas. Cuek dan keren.

Tidak. Tidak!

Jangan mulai, Alena.

“Dua belas tahun,” dia tersenyum, “akhirnya kita ketemu lagi.”

Aku berdehem dan canggung, “lama juga ya.”

“Kamu masih sama. Cantik.”

“Makasih,” jawabku malas.

“Kok nggak bawa keluarganya?”

Aku tersenyum maksa, “belum nikah.”

“Oh. Bimo?”

Aku menggeleng, “aku baru buka restoran,” kataku semangat.

“Wow! Kamu beneran jadi chef?” katanya antusias.

Aku tersenyum.

“Kamu keren.”

“Keluarga kamu nggak dibawa juga?” tanyaku penasaran. Seharusnya aku nggak tanya pertanyaan konyol ini.

Biyas tersenyum, “udah cerai.”

Hening.

“Biyas kamu di sini dari tadi? Aku mau pulang aja ah,” wanita ini langsung melingkarkan lengannya ke bahu Biyas. Aku menengadah dan langsung menyadari ternyata dia wanita seksi yang menelan botol parfum tadi.

Kutatap Biyas sebentar dan tersenyum mengerti. Aku mengeluarkan brosur restoranku dan menyerahkan padanya lalu berdiri pamit.

Ponselku bergetar dan muncul pesan dilayarnya.

“Nomor kamu masih belum ganti? Ini aku, Biyas.”

Mungkin bagi sebagian orang ditakdirkan untuk tidak berubah. Mungkin bagi sebagian orang kebiasaan buruk bersifat permanen. Mungkin bagi sebagian orang gelar brengsek melekat seumur hidupnya.

Kutekan gambar tong sampah.

Apakah anda yakin ingin menghapus pesan ini?

Absolutely.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s