Ternyata Itu Dia. Episode 2

Butuh waktu agak lama untukku mencari kunci pintu depan restoran, aku merogoh tas cukup lama sebelum akhirnya menyerah dan mengeluarkan semua isi tas.

“Ketemu?”

Aku menengadah “nggak,” kataku pada Bimo.

Dengan cepat dia membukakan pintu restoran dengan kunci miliknya dan melangkah masuk.

“Kok lo dateng cepet? Kemaren gue bilang ke Lisa jam sebelas,” aku mengikuti Bimo masuk ke dalam.

“Emang sekarang jam berapa?”

“Sembilan,” aku menunjuk jam di dinding “dan gue belom siapin menu nya.”

“Nggak apa-apa nyantai aja. Gue setting tempat dulu.”

Aku memperhatikan Bimo mengeluarkan peralatan fotografi miliknya mulai dari kamera DSLR pro level, variasi lensa, laptop, background dan lainnya yang aku tak mengerti baik namanya ataupun kegunaannya.

Kutinggalkan Bimo yang sibuk mengutak-ngatik kameranya, aku menuju dapur dan menyiapkan menu untuk difoto. Sementara aku meracik bumbu dan mengiris bawang-bawangan, ponselku tak berhenti berdering.

“Bim, tolong liatin dong siapa yang nelfon,” aku berteriak dari ruang dapur.

Hening.

“Siapa Bim?”

Hening.

“Bim?”

“Apaan?”

Aku berhenti mengiris lalu mendekati Bimo, “Siapa?” tanyaku penasaran.

Bimo mengindikkan bahunya, “nggak tau.”

Aku mengernyitkan dahi dan mengambil ponsel di atas meja. Dengan cepat kubuka call history dan menemukan nomor tak dikenal menelfonku sebanyak lima kali dan dua pesan tak terbaca.

Buru-buru kubuka pesan itu,

“restoran kamu buka jam berapa? Ini Biyas.”

Bimo menangkap reaksi kagetku saat aku buru-buru menghapus pesan itu.

“Siapa?” tanyanya santai sambil tetap menyetel kameranya di tangan.

“Ng..nggak tau.”

Aku melirik Bimo dan dia menatap layar ponselku.

“Ketemu Biyas tadi malem?”

Aku menoleh, “Biyas?” aku mendekati Bimo penasaran, “lo tau dia ada di sini?”

Bimo mengangguk santai, “dia nanyain lo dateng apa nggak.”

Aku duduk bersila di atas meja di depan Bimo, “kenapa lo nggak bilang sih!”

“Kan gue udah bilang nggak usah dateng.”

“Yah tapi kan lo nggak bilang kalo dia ikut acara tadi malem,” aku merampas kamera dari tangannya.

“Alena!”

“Kenapa lo nggak bilang sama gue dia ada di Jakarta?” kataku dan menyembunyikan kameranya dibalik baju.

“Itu lensanya udah dibersihin.”

“Jawab dulu.”

Bimo menggaruk kepala lalu mengusap wajahnya dengan kesal.

“Iya, jadi Biyas nanya-nanya soal elo kemaren,” Bimo mulai menjelaskan pelan, “ya gue jawab seadanya aja, udah gitu.”

“Kapan tuh?”

“Seminggu yang lalu lah,” Bimo meminta kembali kameranya.

“Seminggu dan elo nggak ada ngomong apa-apa sama gue?!”

“Lupa,” mengulurkan tangannya dan kembali meminta kameranya.

“Lupa?!”

“Itu lensanya, Al.”

“Bim, lo kan tau perasaan gue kayak apa sama Biyas. Lo tau semuanya dan ini tuh urusan penting buat gue,” kataku memelas masih tetap memegang kameranya.

“Iya gue tau, yaudahlah santai aja kenapa sih?” kali ini Bimo mengambil paksa dari tanganku, “kalo emang kalian jodoh entar juga ada jalannya.”

Kugigit bibirku lalu tersenyum, “jodoh?”

Aku kembali ke dapur lalu melanjutkan mengiris bawang dan mengecek kembali rasa kaldu, “pas!” bisikku. Mendadak aku merasa bahagia dan aku tak bisa menghentikan senyuman ini.

“Dulu gue masih naif waktu dideketin sama Biyas, lo masih inget nggak?”

Aku melirik Bimo sebentar. Kali ini dia sibuk menyetel tripodnya dengan serius, “Bim?”

“Apa?”

“Menurut lo gue cantik atau tambah cantik?”

“Apaan sih, Al.”

“Tadi malem gue sebenernya grogi pas tiba-tiba dia duduk disebelah. Terus yah, dia kayaknya punya pacar deh, Bim.”

Kembali mengintip, “tapi keliatan kayak ceweknya yang sok manja gitu sih. Kayaknya mereka nggak serius.”

“Sekarang kan gue bukan gadis lugu lagi, sekarang gue wanita dewasa yang mampu mengendalikan hubungan. Menurut lo Biyas bakalan ngajak gue untuk serius nggak?”

Masih tersenyum.

Menghayal.

“Bim?”

Hening.

“Bimo?”

BAMM!!

Suara bantingan pintu depan membuatku terkejut dan berlari cepat ke depan. Kupandangi Bimo yang berjalan pergi dan sengaja meninggalkan peralatan fotografinya.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s