Ternyata Itu Dia. Episode 4

Pelayan meletakkan segelas air putih dingin untukku dan satu cangkir kopi panas untuk Biyas.

“Thanks ya.” Biyas tersenyum.

Aku meliriknya dari balik gelas, “kamu emang nggak bisa liat yang bening dikit ya.”

Biyas tertawa, “itu namanya ramah.”

“Ramah yang terselubung.”

Dia masih tertawa namun tak membalas.

Kami memutuskan untuk nongkrong di kafe yang hanya berjarak beberapa ruko dari restoranku. Aku masih sangat kesal dengan Bimo dan Biyas membujukku untuk ngobrol santai dengannya.

Dan dia berhasil.

“Aku kesini mau cobain masakan kamu, malah minum kopi di pinggir jalan.”

“Restoran aku juga di pinggir jalan.”

“Bukan itu maksud aku.”

“Trus apa?”

“Nggak jadi, galak.”

Dia meneguk kopinya lalu menyenderkan tubuhnya ke belakang. Aku memperhatikan cara dia memainkan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja dan menatapku. Tersenyum.

“Kenapa kamu menghindar?” tanyanya.

“Aku belum siap.” Aku menggigit bibir. Ragu.

“Kamu perlu persiapan kayak gimana emangnya?”

“Biyas, aku tau kamu orang yang santai ketemu mantan yang sudah dua belas tahun nggak ketemu trus kayak nggak terjadi apa-apa, aku ngerti. Tapi buat aku, nggak segampang itu. Aku perlu waktu, perlu latihan.”

“Latihan? Kamu perlu latihan untuk ketemu sama aku?”

Aku mengendikkan bahu, “terakhir kali kita ketemu, kita putus masih inget?”

“Inget. So?”

“Ya, momen itu bikin trauma.”

Biyas kembali meneguk kopinya,

“Sama” Biyas menatapku serius.

“Nggak sama. Kamu move on dalam waktu kurang dari sebulan. Bukan kamu aja sih, rata-rata cowok emang begitu.”

“Nggak semua.”

“Semua.”

“Cowok punya cara yang berbeda saat menghadapi perpisahan. Mungkin kami keliatannya baik-baik aja, tapi faktanya nggak.”

“Faktanya kalian emang nggak kenapa-kenapa.”

“Cowok tuh sedih juga kali Al, cuma bedanya, kami nggak lapor di medsos kayak kalian.”

Aku mendadak salah tingkah. Kuteguk air agar tak terlalu kelihatan. Kupaksakan senyumku, “aku takut sih sebenernya.”

Biyas kembali tertawa. Aku selalu suka dengan caranya tertawa. Dan aku yakin semua wanita akan jatuh cinta saat melihatnya. Biyas adalah pria yang mudah dikagumi. Segala tentangnya adalah kelebihan. Dia selalu menjadi pusat perhatian, dia kesayangan para guru dengan kecerdasannya, dia idola bagi juniornya karena keramahannya, dia impian para cewek-cewek karena ketampanannya dan dia kesukaan para calon mertua karena kemapanannya.

Dan dia sekarang duduk di depanku dan dia baru saja menyatakan suka padaku bahkan tergila-gila.

“Aku nggak selera makan orang, tenang.”

“Syukurlah.” kataku tak bisa lagi menahan tawa.

“Aku selalu suka kalo liat kamu ketawa.”

“Sama” balasku.

Dia kembali menyenderkan tubuhnya ke belakang, “cantiik!” teriaknya.

“Apa?”

“Langitnya cantik.” jawabnya lalu menunjuk keatas.

Aku tersenyum sore itu. Rasa bahagia menjalar ke seluruh tubuh. Entah karena langitnya yang cantik atau karena Biyas yang ada di depanku.

Atau mungkin karena dua-duanya.

*

Aku mengeluarkan semua bahan di atas meja dapur, mencoba resep baru Jollof rice. Hidangan ini sangat populer di Afrika Barat seperti Nigeria, Togo, Ghana, dan Liberia. Hidangan nasi ini diracik dengan beras, tomat, pasta tomat, bawang bombay, garam, pala, jahe, cabai, sayuran, dan daging.

Cuma kali ini aku mencoba berimprovisasi, kutambahkan bubuk ketumbar dan tomat yang sengaja tak kucincang. Aku tahu resep ini pasti menuai kecaman netizen karena sangat berbeda dengan resep aslinya.

Kuracik satu persatu hingga akhirnya aku selesai menata dengan sentuhan terakhir suwiran ayam di atasnya. Beragam bumbu rempah yang cerah menjadikan hidangan Jollof Rice berwarna kemerahan.

Kuletakkan di atas meja lalu memotretnya dengan kamera ponsel standar dan mempostingnya di blog.

Nice.”

Satu komen muncul dinotifikasi blog. Aku memencet tombol reply, “makasih.”

Lalu menyusul komen yang lain mulai bermunculan satu persatu.

“Menu ini kemaren nggak ada.”

Nama Bimo muncul dilayar ponsel, “kalau mau komen di blog dong.” balasku.

“Sama aja kan?”

Aku tak membalas. Lama kupandangi layar ponsel dan kuletakkan kembali di atas meja.

Sorry” tambahnya.

Tetap tak kubalas.

“Al? Kemaren gue emang berengsek.”

“Banget.”

“Maafin nggak?”

Kugigit bibir, “kemaren supnya diapain?” tulisku akhirnya.

“Ya difoto aja.”

“Bagus hasilnya?”

“Entar liat sendiri, anywayjustice league udah keluar.”

Justice league maksudnya?”

“Nonton, yes no?”

Telfon Biyas masuk tepat saat aku membalas pesan Bimo. “Hei?”

“Al, kamu suka wonder woman kan?”

“Kenapa gitu?”

“Nonton justice league mau nggak?”

Hening.

“Al?”

“Hm. Nonton sekarang?”

“Aku udah di depan ticketing sih, mau nggak? Buru.”

“Beli tiga yah.”

*

Aku mengetuk-ngetukkan jari pada pegangan eskalator. Menarik napas dalam lalu melangkah masuk ke dalam studio XXI.

“Hei.” Bimo datang dari arah belakang dan langsung merangkulku santai.

“Eh.”

“Lo beli online tiketnya? Tadinya gue yang mau traktir.”

“Hm. Bukan sih..”

“Jadi siapa?”

Bimo mendadak berhenti dan melepaskan rangkulannya saat Biyas melambaikan tangan dari jauh lalu berjalan menghampiri.

“Bim, tadi tuh-”

“Lo ajak dia?” Bimo menyeringai sinis.

“Hai Al, jadi orang ketiganya nih Bimo?” pancing Biyas.

“Orang ketiga?” tanya Bimo mulai kesal.

Aku memejamkan mata, “pas lo ngajakin tadi di whatsapp pas banget Biyas juga ngajakin ditelfon.”

Wajah Bimo berubah menjadi merah. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Ini merupakan ciri khas Bimo bila sedang kesal.

“Lagian kita udah lama kan nggak ngumpul bertiga. Dulu waktu sekolah kemana-mana kita selalu bertiga kan?”

“Filmnya udah mulai, Al.”

Aku menoleh, “kamu masuk duluan aja yah, nanti aku sama Bimo nyusul.”

“Iya, lo masuk duluan ngapa.”

“Masuk sama-sama ajalah” tantang Biyas.

Aku menarik tangan Bimo, “Bim, plis.”

Bimo mendekati Biyas, “ini yang terakhir, karena Al” kata Bimo lalu mengambil tiket dari tangan Biyas.

“Oke.” balas Biyas mengangkat tangannya, “peace bro!”

Aku menatap mereka panik.

“Yuk, cepetan filmnya udah mulai.” kataku canggung.

Bimo menarik tanganku lalu menggenggamnya, “you stay beside me.”

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s