Ternyata Itu Dia. Episode 5

Saat kata-kata terasa sulit untuk diungkapkan, diam adalah jawaban yang terbaik. Namun kita juga harus tahu bahwa tak satupun yang bisa menebak jawabannya, apakah ‘iya’ atau ‘tidak’. Kata-kata itu akan selalu terjebak didalam dirimu, selamanya.

“Kok kamu diam aja? Kepikiran Bimo ya?” Biyas menoleh sebentar lalu tersenyum. Dia duduk di bangku supir, matanya lurus memandang ke depan.

“Bimo bilang tadi dia ada urusan jadi dia pulang duluan.”

“Iya, tapi tetap aja dia ninggalin kamu.”

“Karena ada urusan.”

“Dia tinggalin kamu karena suatu urusan, menurutku sama sekali nggak keren.”

“Kalian berdua kenapa sih?”

Biyas menepikan mobilnya, “aku juga bingung kenapa Bimo selalu sensi kalo ketemu aku.”

“Tapi Bimo bukan orang yang gampang kesal, dia terlalu cuek untuk marah.”

“Nah kamu liat sendiri kan sikapnya gimana, kamu bisa nilai sendiri.”

“Aku kenal Bimo udah lama, aku tau dia.”

“Mungkin dia cemburu kalo kita deket lagi.”

Cemburu?

“Al, dengerin aku,” Biyas tampak panik.

“Bimo cemburu?” kataku masih belum percaya.

“Mungkin aja.”

Dahiku mengernyit dan mendadak memikirkannya. Jadi Bimo benar-benar suka padaku?

“Dengerin aku, Al.”

Biyas menarik tanganku dan membuyarkan lamunan. Aku menoleh, “aku harus-”

“AKU SERIUS SAMA KAMU,” sergah Biyas sebelum sempat aku selesaikan kalimatku.

Hening.

Lidahku kelu tak mampu membalas ucapannya, aku pasrah saat Biyas mengecup keningku.

“Aku mau kita menjalin hubungan secara resmi. Aku benar-benar serius,” tambahnya.

Aku sudah cukup lama menunggu dan menghayal kalau suatu saat Biyas akan mengatakan hal ini padaku dan aku melatih senyumku berjuta-juta kali di depan cermin. Tapi nyatanya, malam ini sulit bagiku untuk tersenyum saat mendengarnya langsung.

“Aku-” kataku hampir berbisik.

“Alena, kamu mau kan?”

Ya. Aku mau!

Kenapa aku tak mampu menjawabnya? Bukankah ini yang aku tunggu-tunggu? Kenapa aku malah memikirkan Bimo? Alena, say something!

“Aku butuh waktu,” kataku akhirnya.

Biyas mengusap wajahnya, “waktu?” sekelebat kekhawatiran menghantuinya.

Aku mengangguk pelan, “cuma mau memastikan sesuatu.”

“Oke, tapi jangan lama-lama ya,” sambungnya dan tersenyum.

Aku butuh memastikan perasaan itu. Aku perlu memastikan apakah Bimo benar memiliki perasaan suka terhadapku. Entah kenapa aku ingin mendengarnya sendiri, aku ingin penyataan itu keluar dari mulutnya sendiri.

***

Lama kupandangi nama Bimo di layar ponsel lalu kuletakkan kembali di atas nakas.

Kurebahkan tubuh di kasur dan memejamkan mata. Bayangan Bimo saat dia tersenyum berseliweran menghantuiku. Aku memutuskan untuk meraih kembali ponsel dan menekan nomornya, “Hei…” aku menggigit bibirku.

“Al, belum tidur?”

“Ada yang mau gue tanyain.”

“Ada apa?”

“Nggak bisa ditelfon, besok lo ada waktu nggak?”

“Serius banget emangnya?”

“Iya.”

“Hm, besok ada pemotretan sih, kalau emang penting banget dateng aja ke studio.”

“Oke.”

“Al?”

“Ya.”

Hening.

“Tadi filmnya bagus?”

“Oh, bagus,” kupejamkan mata “urusan yang tadi udah beres?” tanyaku.

“Udah. Sori ya tadi nggak nemenin sampe beres.”

“Nggak masalah.”

Percakapan ini mulai terasa canggung. Kami hanya diam untuk beberapa saat. Hanya terdengar suara napas beratnya, “tidur gih,” kata Bimo akhirnya.

“Oke,” bisikku.

***

Lama aku berdiri di depan pintu studio milik Bimo. Papan logo bertuliskan Bergas Bimo Photography terpampang jelas di atas pintu masuknya.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Aku berdiri di belakang memperhatikan Bimo memotret. Terkadang Bimo membetulkan posisi rambut sang model sebentar lalu mundur dan kembali memotret.

Bimo menoleh, menyadari keberadaanku, “hei,” sapanya.

Aku mengangkat alis, “hei,” balasku tersenyum.

“Bentar ya.”

Bimo mengganti lensa kameranya lalu kembali memotret, “oke, ganti baju dulu,” ucapnya dan mengecek hasilnya di laptop.

Dia menarik kursi di sebelahku dan menyuruhku duduk lalu menarik kursi satu lagi untuknya, “mau nanya apaan sih? Kayaknya di telfon serius.”

“Oh. Hm, aku cuma mau memastikan sesuatu aja,” kataku canggung.

“Memastikan apa?”

Aku menatapnya lama. Tiba-tiba keraguan merasuki diriku, bertanya-tanya apakah aku harus menanyakan hal ini pada Bimo.

“Al?”

Aku tersentak, “ya?”

“Lo mau memastikan apa?” tanya Bimo sekali lagi.

“Biyas bilang sesuatu.”

“Biyas? Dia ngomong apa?”

“Dia bilang kalau-”

“Kenapa harus selalu tentang dia sih, Al?” potong Bimo kesal lalu berdiri menuju laptopnya.

Aku menyusulnya, “kenapa lo selalu marah sih kalo gue sebut-sebut Biyas.”

Bimo menoleh, “dia bilang apa?”

“Kenapa lo marah?”

“Dia bilang itu? Dia bilang ke lo buat tanyain kenapa gue selalu marah denger namanya?” Bimo menatapku heran.

“Bukan. Itu gue yang nanya.”

“Jadi dia bilang apa?”

“Jawab dulu pertanyaan gue.”

Kali ini Bimo tampak benar-benar kesal, “gue sibuk, Al.”

Bimo kembali memotret dan meninggalkanku di belakang. Aku memperhatikan Lisa yang bolak-balik membantunya, terkadang Lisa ikut mengintip hasilnya. Dia seperti anak kecil yang selalu mengikuti kemana orangtuanya pergi, tubuhnya yang kecil dan selalu tersenyum membuat Lisa tampak gesit sekaligus menjadi favorit diantara kru studio.

“Oke, ganti baju lagi.”

Kuperhatikan Lisa menggiring model ke dalam ruang ganti dan Bimo menatapku sebentar lalu mengecek hasilnya di laptop.

Aku mendekatinya perlahan.

“Dia bilang,” aku menggigit bibirku.

“Bilang apa, Al?”

“Bilang…”

Bimo menoleh lalu berdiri menghadapku, “just say it.”

“Dia bilang lo suka sama gue,” kataku akhirnya.

Lalu mendadak seisi ruangan senyap tak bersuara dan menoleh ke arahku.

Dahinya mengernyit, Bimo menatapku bingung, “apa?”

Kali ini aku benar-benar merasa bodoh. Aku memejamkan mata tak tahan karena malu.

Ya ampun, Alena.

Ya Tuhan.

“Say something,” bisikku.

“Modelnya udah siap,” sergah Lisa langsung mencengkram lengan Bimo dan aku tak sengaja memperhatikannya.

Dahiku mengernyit, “kalian-”

“Al, tunggu bentar. Jangan kemana-mana, bentar aja, oke?” potong Bimo.

Aku mengangguk masih bingung. Bimo kembali memotret dan aku merasa sangat canggung. Kuraih tas dan berjalan keluar.

“Al!” teriak Bimo.

Kulangkahkan kakiku cepat dan mendorong pintu studio.

“Alena, tunggu!”

Bimo mengejar lalu meraih tanganku namun cepat-cepat kutepis, “maaf.”

“Nggak perlu minta maaf.”

“Harusnya gue nggak tanya hal itu, harusnya gue udah tau.”

“Tau apa?”

Aku berjalan mondar mandir panik, “tau kalau nggak mungkin lo suka sama gue dan Lisa,” aku tercekat berusaha menarik napas.

“Ya Tuhan, kenapa gue nggak ngeh,” aku benar-benar malu.

“Kenapa Lisa?”

“Lo sama Lisa, kalian cocok kok,” aku mengangguk berusaha tersenyum.

“Lo ngomong apa sih?”

Aku hampir menangis karena malu.

“Al..”

“Nggak perlu dibahas lagi, gue minta maaf.”

“Al denger dulu.”

“Nggak, lo yang denger gue.”

“Al, gue tau mungkin ini memalukan buat lo, but it’s ok-”

Dadaku naik turun dan napasku memburu. Aku merasakan panas menjalar di pipi.

“Malu? Gue nggak malu.”

“Gue ngerti,”

“Apanya yang malu?!”

“Alena..”

“Mungkin ini bisa membuat lo tambah mengerti, tadi malem Biyas ngajak serius sama gue,” aku berusaha tersenyum, “AKHIRNYA!” teriakku.

Bimo menatapku tak percaya, lama dia terdiam sampai akhirnya dia sanggup membuka mulutnya, “Alena…” bisiknya.

“Gue nggak peduli lo mau marah atau terserah lo mau buat apa. Harusnya lo seneng karena sahabat lo menemukan cinta sejatinya.”

“Cinta sejati?”

“Iya. Dan cinta sejati gue lebih baik dibanding yang lo punya, Lisa!”

Kali ini Bimo benar-benar diam. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu menatapku lama.

“Mungkin lo memang nggak butuh jawaban,” katanya tenang.

Aku mengalihkan pandangan. Jantungku berdebar kencang, entah karena marah atau karena takut dengan apa yang akan dikatakan Bimo selanjutnya.

“Gue harap kalian berdua bahagia dan perlu diingat gue nggak ada apa-apa sama Lisa. Harusnya lo cek dulu faktanya sebelum bicara dan tolong berhentilah merendahkan orang.”

Rasa sesak di dada naik menjadi gumpalan bola yang tercekat dan terasa sakit saat Bimo meninggalkanku sendirian diluar.

Airmataku menggenang di pelupuk mata bercampur dengan rasa malu dan menyesal.

Aku percaya persahabatan tumbuh dari rasa ketertarikan. Bagiku persahabatan adalah buah dari kepercayaan. Jika kalian melukai kepercayaan itu, maka tidak ada yang tersisa dari hubungan itu, tak peduli seberapa dekat jarakmu dengannya.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s