Ternyata Itu Dia. Episode 6

Tahukah kalian, memulai hubungan dengan suatu ketidakjujuran justru akan membawa kita semakin dekat dengan perpisahan. Mengatakan kejujuran yang akan membuat seseorang menangis jauh lebih baik dari pada satu kebohongan yang membuatnya tersenyum.

“YES!”

Aku bisa melihat mata Biyas berbinar saat kukatakan ‘ya’.

“Kamu nggak tau aku hampir gila nunggu jawaban dari kamu.”

Biyas memelukku erat. Saking eratnya sampai-sampai aku merasa sesak.

“Thank you,” Biyas menggenggam tanganku dan menatapku lama.

Kupaksakan senyum, “nggak perlu ucapan terimakasih.”

“Perlu! Dan kamu tau ini penting buat aku.”

Biyas tersenyum dan aku masih tetap mengagumi senyumannya, “aku janji, aku nggak akan tinggalin kamu demi apapun atau siapapun.”

Biyas lurus menatapku, “aku janji,” lalu kembali memelukku. Kupejamkan mata namun bayangan Bimo memenuhi seluruh pikiranku.

Saat kita mengatakan satu kebohongan, maka yang kita dapatkan hanyalah cerita kosong yang sempurna. Tak peduli sekecil apa kebohongan itu, kebohongan tetaplah kebohongan.

***

Aku sedang sibuk mempersiapkan acara pembukaan restoran yang sebentar lagi dimulai saat Biyas membuka pintu depan dan langsung tersenyum padaku, sedikit perasaan hangat menjalar di dalam tubuh. Walau bagaimanapun dia tetap pria yang aku kagumi.

“Sibuk?”

Biyas mendekatiku.

“Tinggal beberapa aja sih,” aku mengambil es krim dari freezer lalu menyerahkannya pada Biyas.

“Makan es krim bareng yuk,” ajakku.

“Oh, tunggu.”

Biyas berlari keluar dan membuka pintu mobilnya, aku menunggunya sambil duduk di teras depan saat Biyas menggandeng anak perempuan cantik yang tersenyum padaku.

Aku menatapnya bingung, “ini siapa?” tanyaku penasaran pada Biyas.

“Al kenalkan, ini putriku. Namanya Nada,” ucapnya senang.

Aku terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya Nada meraih tanganku dan menciumnya. Aku tersentak, “oh, hai Nada. Nama aku Alena.”

Saat Nada tersenyum, aku tahu dari mana dia mendapatkan senyuman itu. Dan aku langsung jatuh cinta padanya, “kamu cantik sekali,” kataku tersenyum.

Nada menggeleng, “tante yang cantik, ayah selalu bilang gitu.”

Aku menoleh pada Biyas, “kalian berdua sama-sama cantik,” ucapnya.

“Nada suka es krim nggak? Kita makan bareng-bareng yuk.”

Nada menengadah, “boleh ayah?” tanyanya polos.

“Boleh dong.”

Lalu aku menggiring Nada ke tempat duduk dan melahap es krim bersama. Hari itu matahari sangat terik, udara panas terasa membakar kulit untungnya kami memiliki hati yang sejuk entah karena es krim atau karena Nada yang tersenyum sepanjang waktu.

Aku menatap Biyas dan kukatakan di dalam hati berulang kali bahwa aku baik-baik saja. Bahwa ini adalah yang kuinginkan, bahwa semua yang ada disini adalah sempurna.

“Jam berapa mulai acaranya?”

“Sebentar lagi, udah pada dateng kok.”

“Oke, makan es krim nya udahan dulu. Kita bantuin tante Alena ya.”

Nada mengangguk, “asyik, aku suka bantu-bantu,” ucapnya riang.

Aku menggandeng tangannya lalu membuka pintu restoran, “nah Nada duduk disini,” kataku lalu menyerahkan balon, “Nada bantu tiupin balon yah, mau?”

“Mau.”

Aku meninggalkannya dengan Biyas dan kembali ke teras. Kali ini aku berdiri di depan restoran dan memperhatikan papan nama yang bertuliskan namaku disana. Aku tersenyum senang.

“Hei.”

Aku berbalik dan mendapati Bimo, “hei,” kataku canggung.

“Nama restorannya bagus.”

Thanks.”

Kami bertatapan cukup lama dalam diam.

“Makasih udah mau dateng,” kataku akhirnya.

“Kalo gue nggak dateng, siapa yang mau fotoin acaranya.”

“Iya sih,” kataku menggigit bibir.

Hening.

“Al, masalah kemaren-”

“Gue yang salah,” sergahku.

“Tentang pertanyaan lo kemaren,” Bimo menatapku serius, “lo berhak tau kalau gue-”

Sebelum sempat Bimo menyelesaikan kalimatnya, Nada berlari kearahku, “tante balonnya udah habis,” ucapnya.

Aku menatap Bimo panik. Entah kenapa aku tak ingin Bimo tahu kalau Nada adalah putri Biyas. Bimo mengangkat alisnya lalu mencoba merendahkan tubuhnya sehingga sejajar dengan Nada, “hai cantik.. nama kamu siapa?” tanya Bimo ramah.

“Nada.”

“Namanya bagus banget, cantik kayaknya orangnya.”

Nada menggeleng, “kata ayah tante Alena yang paling cantik.”

“Ayah?”

“Pada ngumpul disini semua ternyata,” Biyas keluar dan mendekati kami, “ayah cariin kemana-mana dari tadi.”

Bimo menatapku bingung dan aku tak sanggup untuk membuka mata.

“Al masuk yuk, udah mau dimulai acaranya,” ajak Biyas tanpa memperdulikan Bimo.

“Bim masuk yuk,” kataku canggung.

Aku menatapnya lemah, Bimo mengendikkan bahu, “duluan.”

Didalam orang-orang sudah menunggu agar acaranya dimulai. Mereka meminta untukku memberikan sambutan namun Biyas berjalan ke depan lalu menggandeng tanganku.

Semua teman-temanku menatap curiga, aku belum sempat bercerita apapun tentang hubunganku dengan Biyas. Mereka tampak berbisik-bisik.

“Sebelum semuanya dimulai aku dan Alena ingin mengumumkan sesuatu.”

Oh Tidak!

Jangan disini, plis.

Wajahku berubah menjadi panik saat kulihat Bimo masuk lalu ikut memperhatikanku.

“Semalam aku melamar Alena dan alhamdulillah she said yes. Kami akan menikah!” Biyas menggenggam erat tanganku lalu mengangkatnya seperti seseorang yang baru saja memenangkan perlombaan.

Spontan semua orang terkejut lalu diikuti tepuk tangan yang semakin lama semakin riuh, mereka memelukku dan berteriak, “congrats!”

Diantara pelukan demi pelukan kuperhatikan Bimo yang berdiri di sudut ruangan sedang menatapku. Matanya berkaca-kaca dan kupaksakan tersenyum walaupun akhirnya airmata tumpah ke pipiku. Harusnya aku bahagia tapi entah kenapa aku merasa sangat sedih.

“Tangis bahagia!” ucap salah satu temanku dan mereka kembali bersorak senang.

***

Aku menelurusi jalan lurus yang membosankan. Sudah 3 jam aku menyetir sendirian menuju rumah ibu. Aku memutuskan untuk mengunjungi ibu di kampung. Beliau tinggal sendirian di rumah peninggalan ayah, ia bersikeras tinggal disana hanya ditemani salah satu sepupuku.

Aku berada tak jauh dari rumah ibu saat beliau menelfonku, “sudah sampai mana, nak?” tanyanya lembut.

“Sebentar lagi, bu.”

“Hati-hati, Alena.”

“Iya, bu.”

Kuletakkan kembali ponsel diatas dasbor namun kulirik kembali. Aku menggigit kuku jemariku dan bertanya-tanya apakah aku harus memberitahu Bimo bahwa aku menemui ibu, mengingat mereka sangat dekat. Lagian aku yakin ibu pasti sangat merindukannya.

Ya, ibu.

Aku menelfonnya karena ibu, bukan karena alasan lain.

Aku menggigit bibirku sambil mendengarkan nada masuk. Tak butuh waktu lama untuk Bimo mengangkat telfonku, “halo-”

Klik.

Kutekan tombol merah cepat. Jantungku berdegup kencang dan rasa panas mulai menjalari pipiku.

Bodoh!

“Ngapain sih gueee?!”

Ponselku kembali berdering dan tentu saja Bimo balik menelfonku. Panik menyerbu dengan cepat sampai-sampai aku harus memakirkan mobil di pinggir jalan.

Aku menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, “halo?” sapaku.

“Hei,” jawabnya lirih.

“Ng..”

“Ada apa?”

“Nggak, gue cuma mau bilang lagi dijalan mau kerumah ibu.”

“Ibu?”

“Iya, gue ke rumah ibu.”

“Nyetir sendirian?”

“Iya, lagi sendirian kok,” jawabku agak semangat dan berlebihan.

“Oh, oke.”

“Bim masalah yang kemaren-”

“Nggak usah dibahas lagi, sudahlah.”

“Tapi gue masih ingin mendengar jawabannya, Bim.”

Lama Bimo tak menjawab hanya terdengar deru nafasnya yang berat lalu akhirnya dia mengatakan, “hati-hati, Al.”

Klik.

Aku masih memegang ponselku di telinga agak lama sebelum akhirnya aku sadar kalau Bimo telah menutup telfonnya beberapa detik yang lalu.

Kuletakkan ponsel kembali diatas dasbor dengan perasaan lemah lalu menginjak gas dan memutar stir mobilku kembali ke jalan.

Butuh beberapa detik sampai akhirnya aku sadar suara klakson memekakkan telingaku. Sudah terlambat saat aku menyadari bahwa truk bermuatan pasir menghantam keras tepat di pintu pengemudi.

Rasanya seperti bergerak lambat saat kurasakan tubuhku melayang akibat hantaman yang keras. Aku merasa sakit yang teramat sangat ketika kepalaku terbentur kaca jendela dan rasanya ingin muntah karena mobil ini tak berhenti berguling.

Aku berusaha membuka mata, walaupun sangat sulit karena kesakitan namun aku berusahan meraih ponsel yang tergeletak tepat di sebelahku.

Kutekan tombol redial dan pengeras suara.

“Kenapa lagi, Al?”

“Bim..” rintihku.

“Al?”

Sayup-sayup aku mendengar orang yang berteriak dari luar untuk mencari pertolongan. Sebelum akhirnya aku menutup mata karena tak kuat menahan sakit yang teramat sangat. Terakhir yang kuingat adalah suara Bimo yang berteriak memanggilku di ponsel.

“ALENAA!!”

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s