Ternyata Itu Dia. Episode 7

Aku mencoba untuk membuka mata, aku bisa melihat tv yang menyala di depanku dan aku tahu aku sedang berada di rumah sakit namun aku tak melihat seorangpun disampingku. Kutelan ludah dan seketika rasa nyeri ditenggorokan menyerangku lalu kurasakan lelahnya tubuh sampai-sampai rasanya aku tak sanggup menggerakkan jariku.

Aku berusaha memanggil siapapun yang ada di sana namun aku tak bisa membuka mulutku. Kucoba kembali menggerakkan tangan kiri perlahan meraih kabel bantuan yang ada di sisi kanan. Seketika kulihat Bimo mendorong pintu dan melihatku.

Aku menoleh, “Bimo!” pekikku dalam hati. Masih tak mengerti kenapa aku tak bisa membuka mulutku.

Bimo meraih tanganku, “Al..”

Aku memeluknya dan kupejamkan mata, menangis.

“Jangan nangis,” bisiknya khawatir lalu balas memelukku, “plis.”

Bimo membantuku menaikkan sedikit sandaran dan aku bisa melihat gips pada kaki kiri, topangan siku kanan dan aku merasa sangat kesakitan pada bagian leher dan dada.

“Selamat pagi,” sapa seorang dokter bersama seorang suster yang langsung tersenyum melihatku.

“Pasien baru sadar dok. Alena ShaLenore, mengalami robek pada pelipis kanan, dislokasi siku kanan, dislokasi rahang bawah, pembengkakan lutut dan patah tulang kiri, memar leher disertai bengkak dan patah tulang rusuk kanan yang mengakibatkan collapsed lung,” jelas suster.

Dia mendekat lalu mengangkat jari telunjuknya tepat di depan mataku, “ikuti jari saya.”

“Apa maksudnya collapsed lung?” tanya Bimo bingung.

“Terjadi penimbunan udara pada rongga pleura, dinding tipis di antara paru-paru dan rongga dada. Jadi tekanan dari udara yang menumpuk memicu pengempisan paru-paru hingga kolaps.”

Dokter menatapku sebentar, “itu sebabnya kita terpaksa melubangi rongga dada pasien lalu memasukkan selang agar tekanan berkurang dan bentuk paru-paru kembali seperti semula.”

Aku menatap tak percaya, pantas saja sakitnya terasa di sekujur tubuhku sampai-sampai jariku saja tak sanggup kugerakkan .

Aku menunjuk mulutku.

“Oh itu,” dokter menatap Bimo lalu kembali menoleh kearahku, “kami harus mengunci rahang anda minimal selama 6 minggu karena dislokasi yang sangat parah.”

Enam minggu?!

Aku tak bisa bicara selama enam minggu?!

“Alena!”

Biyas masuk tergopoh-gopoh dan langsung mendorong Bimo lalu meraih tanganku, “yang mana yang sakit? Kasih tau aku yang mana yang sakit, Al. Harusnya aku nggak biarin kamu nyetir sendirian.”

“Harusnya emang nggak,” kata Bimo ketus.

Aku menatap Bimo lalu menggeleng, “jangan mulai,” kataku dalam hati.

“Baik, apabila tidak ada lagi yang ditanyakan-”

“Sebentar, jadi kondisi pasien seperti apa dok?” tanya Biyas panik.

“Tadi sudah dijelaskan secara rinci pada keluarga-” dokter menunjuk Bimo.

“Dia bukan keluarganya. Saya yang keluarganya, saya calon suaminya, kami baru aja tunangan.”

Awalnya dokter menatapku lalu beralih ke Bimo setelahnya Biyas dan kembali menatapku. Dokter menaikkan alisnya seolah-olah mengerti bahwa ini situasi cinta segitiga.

“Baik, nanti bisa dijelaskan kembali oleh mas yang bukan keluarganya ini,” dokter menunjuk Bimo.

Aku ingin tersenyum tapi rasanya sakit sekali untuk menggerakkan bibirku.

“Trus kapan pasien bisa pulang?” Biyas mengusap rahangku.

Aku mengerang kesakitan.

“Kenapa sayang? Ada yang sakit?” tanya Biyas bingung.

Bimo menepis tangan Biyas dari pipiku, “tangan lo yang bikin sakit,” lalu mereka memulai sinyal perang.

Biyas mengernyit kesal.

“Setidaknya pasien harus dirawat intensif selama 6 minggu disini, saya akan mengobservasi kemajuannya setiap hari.”

“Enam minggu?”

Dokter mengangguk, “mudah-mudahan bisa lebih cepat.”

“Tapi kenapa pasien kayak kesulitan bicara, dok?” Biyas masih tetap ingin mengusap rahangku.

Kali ini aku menepisnya dengan cepat.

Dokter tersenyum padaku lalu mengangguk pada Bimo, pamit.

***

“Dokter nelfon minta izin operasi, terlalu lama kalo nunggu gue datang ke sini.”

Bimo mulai menjelaskan kronologisnya. Biyas masih duduk di sampingku, “tapi kenapa dokter bisa nelfon lo?” Biyas penasaran.

Oh, tidak!

Terakhir kali orang yang kutelfon adalah Bimo. Mungkin pihak rumah sakit langsung mengecek call history dan menelfon panggilan terakhir tanpa pikir panjang.

Aku menggeleng pada Bimo.

“Nggak tau,” Bimo mengendikkan bahu lalu menatapku malas.

“Yang penting kamunya cepat ditangani, aku panik waktu tau kamu kecelakaan.” Biyas mengelus-ngelus tanganku.

Aku tersenyum.

“Lo lagi dimana waktu itu?” Bimo menatap Biyas serius.

“Waktu kapan?”

“Waktu dia nyetir sendirian.”

“Gue.. gue lagi ada kerjaan,” jawab Biyas gugup.

Tatapan sinis Bimo membuatku bingung. Aku menoleh kearah Biyas, mengernyitkan dahi.

“Aku sudah jelasin kamu waktu itu kan? Kamu liat sendiri aku sedang ada di persidangan waktu itu, ya kan?”

Aku berusaha mengingat, memang hari itu aku menelfon Biyas dan memintanya untuk mengantarku kerumah ibu, tapi dia sedang sibuk. Aku sama sekali nggak ingat pernah melihatnya di ruang sidang.

Aku menggeleng.

Come on, Alena! Aku nggak mungkin macem-macem. Itu pikiran gila,” ucapnya kesal.

“Kata orang sifat itu susah dirubah.”

“Bim, tolong jangan mulai. Lo udah nggak ada urusan disini.”

“Kenapa? Karena gue bukan keluarganya?”

Bimo dan Biyas mulai bertengkar.

“Tepat. Lo bukan siapa-siapa disini dan kita berdua udah muak lo selalu ada diantara gue dan Alena.”

Aku berusaha menghentikan pertengkaran ini namun aku tak sanggup bicara ataupun melerai mereka.

“Kalian berdua atau cuma lo doang?”

“Kita berdua.”

Bimo mulai tertawa, “Alena juga berarti? Alena muak sama gue? Coba lo cek lagi sama orangnya, bro.”

“Aku paling nggak suka sifat dia yang kayak gini, Al. Dari dulu kamu tau kan dia nggak berubah, masih aja kayak anak kecil!”

Biyas menoleh kearahku dengan kesal dan mengingatkanku lagi masa-masa SMA saat mereka selalu bertengkar karena hal sepele.

Aku menatap Bimo dan memberikan isyarat untuk berhenti bertengkar.

“Kamu percaya sama aku kan?” tanya Biyas.

Aku mengangguk lalu tersenyum dan Biyas kembali memelukku.

Kutatap Bimo yang masih tampak kesal, “gue jemput ibu dulu.”

***

Biyas mendorong kursi roda dan membawaku jalan-jalan keluar kamar. Akhirnya aku bisa menghirup udara segar, rasanya sumpek kali di dalam sana.

Kami berhenti di depan taman dan Biyas duduk di bangku sebelahku. Dia meraih tanganku lalu mengecupnya, “aku bisa gila kalo nggak sama kamu, Al.”

Aku tersenyum.

“Ibu kamu masih inget nggak sama aku?”

Aku mengangguk.

“Terakhir kali ketemu ibu kamu udah lama banget.”

Aku melihat Bimo datang bersama ibu. Wajah ibu tampak tua dan khawatir. Biyas berdiri lalu mencium tangan ibu, “apa kabar bu? Saya Biyas.”

Ibu tersenyum, “Biyas, ibu masih ingat.”

Ibu meraih tanganku, mata ibu berkaca-kaca, “ibu khawatir sekali, Alena.”

Aku tersenyum lalu mencium tangan ibu.

“Bimo tadi malam telfon ibu, katanya kakak kecelakaan. Tapi ibu bersyukur untung ada Bimo yang ngurus-ngurus semuanya.” ucap ibu lalu menatap Bimo.

“Kita kan udah seperti keluarga, bu.”

Bimo melirik Biyas senang, dia merasa menang.

Aku mengisyaratkan Bimo dan Biyas untuk meninggalkanku dan ibu berdua. Biyas mengecup tanganku lalu pamit, “aku tunggu di dalam.”

Ibu tersenyum melihat Biyas mengecup tanganku, “dia ganteng ya, kak.”

Aku menoleh, tersenyum.

“Kakak sudah yakin dengan pilihan kakak?”

Aku menatap ibu merasa bingung harus bereaksi apa.

“Bimo?” tanya ibu pelan, “ibu berharap dia baik-baik aja.”

Angin lembut menyentuh pipiku, terasa dingin. Ibu tersenyum lalu membelai rambutku, “kalau kita memiliki cinta, kita tak akan memerlukan apapun. Tapi kalau kita tidak memilikinya, apapun yang kita punyai tak terasa berharga.”

Airmataku mulai menggenang.

“Hiduplah dengan orang yang mengenalmu, Alena. Bukan dengan orang yang gila karenamu.”

Aku menatap ibu lama, entah kenapa airmataku jatuh tak tertahankan. Seolah-olah ibu bisa membaca isi hatiku.

Seharusnya kita tak pernah menunda untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan. Karena penyesalan datang tak pernah mengetuk pintumu atau mengabarimu dari jauh-jauh hari. Seharusnya kita tahu betapa pentingnya meluangkan waktu untuk mengatakan kepada orang terdekat kita bahwa kita mencintai mereka selagi mereka masih bisa mendengarkan.

Karena kita tak pernah tahu terakhir kali akan menjadi yang terakhir kalinya. Kita mengira akan ada lebih banyak waktu lagi, kita pikir kita memiliki waktu selamanya, tapi kenyataan tidak.

Ibu mengusap airmataku, “oh, Alena..”

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s