Ternyata Itu Dia. Episode 8

Kehidupan memberikan kita beberapa pilihan. Ya atau tidak. Masuk atau keluar. Atas atau bawah. Lalu kita akan menemukan beberapa pilihan yang sulit seperti, cinta atau benci. Menjadi pemberani atau pengecut. Memberi atau meminta. Melawan atau menyerah. Jadi, berhati-hatilah dengan pilihanmu, karena kita tak mungkin menukarnya kembali.

Aku masih terbaring di kasur rumah sakit dan rasa bosan sudah memenuhi kepalaku. Lukaku berangsur-angsur mulai sembuh, walaupun tangan dan kakiku yang masih terasa sakit namun setidaknya hari ini mereka sudah membuka kunci rahangku.

Hari ini tepat minggu ke empat dan ibu tak pernah seharipun meninggalkanku. Biyas dan Bimo secara bergantian menemani walaupun terkadang mereka masih tetap ‘perang’ masalah pembagian jadwal jaga.

Biyas mengetuk pintu, “hei, aku punya kejutan untuk kamu.”

Biyas masuk diikuti Nada yang bersembunyi dibelakangnya, “tante Alena!” teriaknya senang begitu melihatku.

Aku tersenyum lalu merentangkan tangan siap memeluknya, “Nada!”

Tubuh mungilnya yang hangat menentramkan hatiku yang sumpek.

“Nada kangen banget.”

“Oh ya? Sama tante juga.”

Ibu ikut tersenyum begitu melihat Nada, “halo gadis kecil siapa ini?” tanya ibu.

“Namanya Nada, bu. Puterinya Biyas.”

Nada dengan cepat mencium tangan ibu lalu tersenyum malu. Ibu melirikku sebentar lalu mengajak Nada untuk membeli es krim, “kita jajan es krim yuk,” lalu menggiringnya keluar.

“Maaf ya, aku baru ajak dia sekarang soalnya hari ini pas rahang kamu dibuka kuncinya.”

Biyas duduk di atas kasur, “kangen denger suara kamu, Al.”

“Sama.”

“Apa rasanya bisa bersuara lagi?”

“Rasanya pengen kampanye.”

Biyas tertawa, “Alena untuk Presiden 2019!”

Aku tak tahan untuk tertawa, “cocok nggak?”

“Jangan ah, nanti yang masak dirumah kita siapa kalo kamu jadi presiden?”

“Rumah kita?”

“Iya.”

“Biyas, masalah rencana pernikahan-”

“Pas banget kamu bahas, aku bawa katalog contoh undangan nih,” potong Biyas lalu mengeluarkan beberapa lembar contoh undangan beserta album katalognya dari dalam tasnya.

“Ini dia.”

Aku menatap bingung.

“Bingung ya? Sama aku juga,” Biyas mengambil undangan berwarna putih dengan garis tepi berwarna emas, “yang ini gimana?”

Undangan itu terlihat sangat cantik. Tapi bukan karena banyaknya pilihan yang membuatku bingung, “Biyas..”

“Atau yang ini?” Dia kembali mengambil contoh undangan berwarna merah lalu memegang keduanya.

“Biyas, tunggu dulu..”

“Ada apa, Al? Kamu nggak suka?”

“Ada yang ingin aku katakan.”

“Kamu masih capek? Aku simpen di sini aja ya contohnya.”

Bukan itu. Bukan.

Aku menatapnya lama, aku tak tahu barus memulai dari mana. Aku tak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya.

“Biyas, dengarkan aku-”

Biyas meraih tanganku, “jangan Alena,” suaranya mendadak menjadi berat dan serius.

“Aku tau,” potongnya.

“Apa yang kamu tau?”

“Kamu, Bimo. Kalian..”

“Aku-”

Dia menatap dalam mataku, “jika kamu tidak mencintai aku, aku mungkin tak akan mencinta. Lalu jika aku tidak bisa mencintaimu, aku mungkin tak akan bisa mencintai siapapun.”

Aku melihatnya. Aku melihat matanya yang mulai berkaca-kaca, aku melihat wajahnya yang memohon, aku melihat semuanya.

“Jika kamu memiliki sedikit cinta untukku dalam hidupmu, aku mohon bertahanlah pada cinta itu. Aku berjanji akan membuat cintamu bertambah setiap harinya.”

Ketika kita tak mampu untuk menjadi pemberani, maka kita harus puas hidup sebagai pengecut. Ketika kita tak mampu mengatakan yang sebenarnya, maka kita harus puas dengan cerita palsu. Ketika kita mengorbankan orang yang kita kasihi, maka kita harus puas hidup dengan kosongnya hati.

Aku meraih contoh undangan berwarna putih. Airmataku menetes tepat ditengahnya. Aku menatap Biyas dan menangis, “semoga cintaku bertambah setiap harinya.”

***

Aku duduk di bangku taman. Mataku lurus menatap pohon di kejauhan. Tanganku memegang kartu undangan berwarna putih. Aku sudah memilihnya. Aku menyukai warna putih dan aku sudah memilihnya. Tak ada waktu untuk kembali. Tak ada waktu untuk menyesal. Aku memilihnya, titik.

“Dicari kemana-mana, ternyata ada di sini.”

Aku menoleh dan menemukan Lisa berdiri di belakangku. Aku tersenyum, “dari kapan di situ?”

“Barusan kok, eh udah bisa ngomong?”

Aku mengangguk, “akhirnya.”

Lisa duduk di sampingku, “Bimo udah cerita belum dia dapat tawaran kerjaan?”

Aku mengernyit, “tawaran kerjaan?”

“Iya.”

“Kerjaan apa?”

“Ya fotografi.”

“Maksudnya dimana?”

“Di luar dan kalo deal kita semua bakalan diajak, anak-anak studio excited banget.”

Lisa tersenyum senang.

“Di luar maksudnya?”

“Di luar negeri, Al. Eh, itu contoh undangan?” Lisa meraih kartu undangan dari tanganku dan membolak-baliknya, “bagus banget ih.”

“Sekarang dia dimana?”

“Jadinya tanggal berapa acaranya?”

“Lisa, dimana Bimo?”

“Acaranya mau dimana?”

“Lisa!”

Lisa terkejut menatapku lalu mengembalikan kartu undangan ke tanganku, “dia lagi di lobi tadi, katanya mau ke kantin dulu.”

“Nyari gue?”

Bimo muncul dari belakang sambil menyeruput kopi dan spontan Lisa langsung berdiri, “aku ke dalam dulu,” lalu berlari gesit ke dalam.

“Dapet tawaran kerja?” tanyaku langsung.

“Proyek gede, lumayan,” Bimo berdiri di depanku, “eh udah bisa ngomong?”

“Kok nggak cerita?”

“Apanya?”

“Kata Lisa kerjanya di luar, maksudnya di luar tuh dimana?”

“Langsung cerewet gitu ya.”

“Bimo!”

Bimo mengernyit, “kenapa jadi marah sih?”

“Ya habisnya lo nggak jawab.”

Bimo duduk di sampingku, “santai dong, tadinya mau cerita hari ini.”

“Trus?”

“Trus apa, Al? Iya ini kan baru ketemu, baru mau cerita.”

“Di luar dimana? Duh, bertele-tele banget sih.”

Bimo menatapku bingung, “lo sendiri udah ngomong sama Biyas soal kita?” lalu menatap kartu undangan di bangku.

Dengan cepat tangannya meraih dan membolak-baliknya, “apaan nih?”

Aku memejamkan mata lalu menarik napas dalam, “masalah itu..”

“Ini apaan?!” Bimo mendekatkan kartu undangan itu tepat di depan mataku.

“Contoh undangan.”

Dahinya mengernyit, “contoh undangan? Lo belom ngomong sama dia?”

“Masalahnya terlalu rumit.”

“Masalahnya nggak rumit, lo tinggal bilang kalau rencana pernikahannya batal.”

“Nggak segampang itu.”

“Kita udah sepakat, Alena. Lo pasti bisa. Katakan yang sebenarnya.”

Aku menggeleng.

Bimo meraih tanganku, “Alena, dengerin gue-”

Aku menarik kembali tanganku.

“Gue udah memilih,” tak sanggup menatap matanya, “gue pilih Biyas, maafkan gue.”

Bimo mengusap wajahnya, “bisa gitu, ya? Beberapa hari yang lalu lo bilang pilih gue, hari ini lo berubah jadi pilih dia. Kenapa?”

“Bim, plis.”

“Karena dia kaya?”

“Bimo, jangan mulai.”

“Karena kata-kata puitisnya?”

“Dia lebih membutuhkan gue.”

“Omong kosong!”

“Bimo..”

“Alena,” Bimo berdiri tepat di depanku, “pilihan lo gampang ‘gue’ atau ‘dia’ dan gue tau dia hebat, tapi Alena, I love you. Sampai di titik hal yang paling gue benci tentang lo tapi gue tetap cinta. So, pick me! Choose me! Love me!”

Mataku mulai berkaca-kaca dan aku menarik bajunya hingga dia merendahkan tubuhnya sejajar dengan mataku.

“Ini tentang apa yang lo inginkan, bukan apa yang dia inginkan,” Bimo mengusap wajahku lembut.

“Lo mau gue berlutut? Gue berlutut sekarang.”

Aku menggeleng.

“Gue harus apa, Al?”

“Berhenti, tolong.”

“Belum terlambat buat katakan yang sebenarnya, Al.”

“Dia tau.”

“Dia tau?”

“Dia tau tentang perasaan gue yang sebenarnya. Dia tau gue mencintai elo.”

“Terus kenapa-”

“Gue tetap memilih Biyas. Keputusan gue udah bulat dan acaranya bulan depan,” potongku.

Hening.

Bimo berdiri lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana, “gue baru tau ternyata lo segampang ini.”

“Bimo!”

“Kenapa nggak pilih yang lebih kaya atau lebih keren dari Biyas sekalian? Banyak kok, mau gue kenalin?”

“Memangnya kenapa kalo gue pilih Biyas? Apa yang salah dari itu? Nggak ada! Lo tau kenapa nggak ada? Karena Biyas punya semua yang gue mau, dia punya kualitas seorang suami. Dan lo mau tau sifat lo yang paling menyebalkan? Lo selalu kekanak-kanakan dan gue muak. Gue benar-benar sudah muak!”

Bimo menatapku marah. Aku bisa melihatnya menahan amarah.

“New York.”

Aku mengernyit bingung.

“Proyeknya di new york, tadinya gue tolak tapi sepertinya gue harus terima tawarannya.”

Hening.

“Sejauh itu?”

“Lo adalah orang yang gue harap bisa gue lupakan saat gue pergi nanti dan lo ingat kata-kata gue ini, Al. Ketika gue pergi, lo akan merindukan gue dan ketika lo merasakan rindu itu, lo akan menyadari bahwa lo cuma bisa menyalahkan diri lo sendiri. Dan gue berharap kesalahan itu membuat lo sakit, seperti rasa sakit yang gue rasakan sekarang!”

Bimo mengambil kembali kartu undangan dan membukanya, “lo nggak mencintai gue, Alena. Lo cuma nggak mau merasa sendirian, dan gue cuma sekedar cukup untuk memenuhi ego lo atau mungkin gue bisa membuat lo merasa lebih baik selama ini karena hidup lo yang menyedihkan, tapi lo sama sekali nggak mencintai gue. Karena lo seharusnya tidak menghancurkan seseorang yang lo cintai.”

Aku melihatnya menangis, kali ini dia benar-benar meneteskan airmatanya.

“Dan apapun yang ada diantara kita, yang pernah ada atau tidak, IT’S OVER!”

Bimo melempar kartu undangan tepat di wajahku dan meninggalkanku.

Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bahagia. Mungkin hidup tentang menghargai sedikit kebahagiaan. Mengagumi suatu perjuangan kecil. Hidup mengajarkan tentang rasa syukur yang tak selalu berhubungan dengan sukacita. Kesedihan dan kekecewaan merupakan rambu-rambu kehidupan dan kita hanya perlu melewatinya. Karena di penghujung jalan, kita hanya perlu berdiri sendiri dan bertahan dengan apa yang kita miliki.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s