Ternyata Itu Dia. Episode 9

Setiap orang memiliki luka di beberapa bagian tubuh, luka itu layaknya peta perjalanan rahasia yang memiliki ceritanya masing-masing. Kebanyakan dari luka lama kita sembuh dan tak meninggalkan apa-apa kecuali bekas luka. Tapi beberapa diantaranya tidak. Beberapa luka lama, kita bawa setiap saat dan walaupun bekas luka itu hilang, rasa sakit itu akan tetap tinggal di sana. Selamanya.

Hari ini merupakan hari terakhirku berada di rumah sakit. Seluruh dokter dan perawat hadir di ruangan untuk mengucapkan selamat jalan, “saya berharap tidak ketemu kamu lagi di rumah sakit ya,” ucap salah seorang dokter spesialis ahli bedah ortopedi.

Spontan semua tertawa, “terimakasih atas pelayanannya selama enam minggu saya di sini. Saya nggak betah jujur,” balasku bercanda.

“Tinggalkan semua rasa sakitnya di sini ya mbak Alena, yang dibawa pulang perasaan bahagia dan sehatnya aja,” salah seorang diantara mereka nyeletuk dari balik kerumunan perawat. Entah kenapa kata-kata itu seperti menusuk tepat di jantungku.

Kupaksakan senyum.

Apakah aku benar-benar sembuh?

Apakah lukaku benar-benar hilang?

***

Lama kutatap layar ponsel berharap Bimo menelfon atau seenggaknya memberikan kabar kepadaku. Semenjak kejadian waktu itu, tak pernah sekalipun dia datang ataupun membalas pesanku.

“Alena..” sapa ibu.

“Ya bu.”

Aku meletakkan kembali ponsel ke dalam tas.

Ibu tersenyum lalu meraih tanganku, “kita pulang? Nggak ada yang ketinggalan kan?”

Jantungku berdebar, rasanya masih perih di dada. Kutahan tangis, “nggak ada, bu.”

Kulangkahkan kaki keluar dari rumah sakit. Aku melihat Biyas berjalan mendekat lalu meraih tas di tangan ibu, “biar saya aja bu,” lalu menggenggam tanganku.

Biyas menggiring kami berjalan menuju parkiran mobil, “aku seneng akhirnya kamu bisa pulang,” katanya sambil tersenyum.

Kupaksakan senyum sambil tetap melirik ke arah parkiran berharap Bimo muncul diantara mobil-mobil.

“Kamu cari siapa, Al?”

Biyas menatapku lalu memasukkan tas ke dalam bagasi. Aku melirik ibu lalu menggeleng, “nggak ada.”

“Siapapun yang kamu cari, orangnya nggak ada disini.”

Biyas menatapku lama, “cuma ada aku disini didepan kamu, Al.”

“Aku tau.”

Aku menunduk mengalihkan pandangan. Mataku mulai berkaca-kaca.

Lama kutatap kaca jendela mobil, menghitung banyaknya mobil yang telah kami lewati sejak tadi. Sedangkan Biyas, tak hentinya berceloteh tentang semua teman-teman yang sudah menungguku di Jakarta, “mereka udah nggak sabar ketemu kamu,” katanya semangat.

Berulang kali kuteguhkan hati, kukuatkan diri menerima kenyataan bahwa Bimo tak akan berada didekatku lagi. Bahwa mulai sekarang, semua hari-hariku diisi bersama Biyas.

“Alena?”

Ibu menyentuh bahuku, aku tersentak “ya bu?”

“Dari tadi Biyas panggil kakak loh.”

Aku menoleh, “aku nggak denger, sori.”

“Kamu nggak apa-apa kan?” Biyas khawatir lalu meremas tanganku.

“Aku cuma agak capek.”

“Kamu tidur aja dulu, kita masih lama kok.”

Aku kembali mengecek ponsel. Satu pesan muncul dilayar, Lisa. Cepat-cepat kubuka.

“Al, hari ini pulang yah? Syukurlah.”

“Iya, Lisa. Thanks,” balasku.

“Btw, kita nggak jadi ikut Bimo ke New York loh. Dia pergi sendirian.”

Jantungku berdegup kencang begitu kubaca namanya, “kok nggak jadi? Dimana dia sekarang?”

“Ceritanya panjang, Al. Dia berangkat hari ini, lo nggak tau emangnya?”

“Hari ini?”

Iya Al. Kemarin dia pamit sama kita semua, dia nggak akan balik lagi kesini. Anak-anak semua sedih banget dan gue gak sengaja liat Bimo nangis tadi malem. Kira-kira dia kenapa yah, Al?”

Kuletakkan kembali ponsel di dalam tas dan kembali memandangi kaca jendela lalu mulai menghitung satu persatu mobil yang kami lewati. Kuusap airmata di pipi lalu kupejamkan mata, karena aku terlalu takut untuk membayangkan wajahnya.

***

Aku membaringkan tubuhku yang lelah di atas kasur. Ibu dan Biyas masih sibuk membereskan barang-barang di luar. Sementara aku sudah hampir tiga jam berada di dalam kamar, cuma tidur-tiduran.

Ibu mengetuk pintu kamar lalu membukanya, “kakak masih tidur?”

Aku bangkit dan duduk perlahan, “udah bangun, bu.”

“Temen-temennya udah pada dateng, yuk kita temui dulu.”

“Bimo udah pergi, bu.”

Ibu menatapku sedih, “kakak sudah memilih, kan? Bimo terima. Sekarang pergi merupakan pilihan dia, kakak harus terima.”

“Tapi dia nggak bilang apa-apa, dia pergi gitu aja.”

“Dia titip kamu, Alena.” Ibu menatapku lama lalu mengusap rambutku, “dia bilang tolong jaga Alena untuk dia.”

“Dia bilang-” tenggorokanku terasa tercekat. Aku tak sanggup berkata-kata hanya airmata yang mengalir di pipi.

“Lepaskan dia, Alena. Lepaskan dia seperti dia melepasmu. Ibu selalu berdoa semoga salah satu diantara kalian bisa bertahan dengan pilihan masing-masing.”

Ibu mengusap airmataku, “nah sekarang, ayo kita temui teman-teman kakak. Semua orang sudah menunggu.”

Ibu menggiringku keluar kamar. Saat itu semua orang ada disana, teman-teman lamaku, para karyawan restoran dan kru studio termasuk Lisa. Wajah mereka tampak bahagia, mereka tersenyum seolah-olah ini hari ulangtahunku.

Satu persatu mulai memelukku dan mulai bercerita betapa mereka sangat merindukan kehadiranku. Lama kelamaan aku mulai merasakan kehangatan akan kehadiran mereka. Rasanya menyenangkan menjadi orang yang dirindukan. Aku mulai bisa tersenyum dan melupakan Bimo sejenak dari pikiranku.

Aku duduk di sofa diantara teman-teman yang asyik ngobrol lalu aku meraih remot tv dan menyalakannya. Enam minggu aku terbaring di rumah sakit membuatku sama sekali buta tentang berita. Aku sama sekali nggak tahu apa yang terjadi selama berada di rumah sakit.

Jariku refleks memencet chanel berita dan menemukan breaking news.

“Ssh,” kataku pelan.

Aku mengeraskan suara tv, “diam!” teriakku.

Semua orang spontan terdiam dan menatapku bingung.

Kengerian memompa darahku dengan cepat saat kudengar pembaca berita mengatakan bahwa pesawat dari soekarno-hatta menuju New York hilang kontak. Aku berdiri dan mendekati tv lalu mengeraskan kembali volume suaranya. Itu penerbangan Bimo.

Tanganku gemetar dan remot terjatuh dari genggamanku. Biyas meraih tanganku namun cepat-cepat kutepis.

Penerbangan itu baru saja menempuh 94 menit sebelum akhirnya hilang dari radar.

Kupandangi wajah mereka satu-satu. Tak satupun dari mereka bergeming, mereka seperti patung. Kupandangi Lisa, matanya berkaca-kaca, lalu kulihat ibu sedang menutup mulutnya tak percaya.

Aku berlari ke arah pintu namun Biyas memelukku, “aku harus pergi,” suaraku bergetar.

“Alena, tenang dulu.”

“Aku harus pergi!!”

“Kamu tenang dulu.”

“Aku nggak bisa tenang!! Kenapa kamu suruh aku tenang?!”

“Kita nggak bisa berbuat apa-apa sekarang! Kamu mau ngapain?”

“I didn’t get to see him! I didn’t get to tell him goodbye because of you!!”

“Alena..”

“Harusnya kamu lepasin aku! Harusnya kamu lepasin aku dari dulu!!”

Biyas memelukku, “maafin aku, Alena.”

Aku meronta dan menangis sesunggukan dipelukan Biyas. Aku benar-benar terjatuh lemah, aku tak sanggup berdiri.

“Bimo pasti butuh pertolongan, Biyas tolong dia.. kita tolong dia..

“Maafkan aku..” bisik Biyas.

“I want him.. i want him..”

Aku mendengar suaraku yang hampir berbisik sebelum akhirnya aku menutup mata karena tubuhku tak mampu menahan kesedihan.

Seandainya kita mau mendengarkan kata hati kita, andai saja kita bisa memilih dengan lebih bijak. Mungkin kita bisa menghindari penyesalan terbesar yang pernah ada dalam hidup kita, penyesalan dimana kita melepaskan sesuatu yang berharga dan membiarkannya pergi begitu saja.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s