Ternyata Itu Dia. Episode 10

Seseorang yang bijak mengatakan bahwa kita tak akan bisa terus maju sebelum kita mampu melepaskan masa lalu. Mungkin melepaskan merupakan hal yang mudah, namun untuk terus melanjutkan hidup adalah hal yang paling menyakitkan karena waktu tak mungkin berhenti, jarum detik tetap bergerak meskipun kita tak mampu berdiri. Itu sebabnya terkadang kita akan berjuang mati-matian dan memaksakan segala sesuatunya agar tetap sama walaupun kita tahu semuanya tak mungkin pernah sama lagi. Pada satu titik, kita tetap harus melepaskannya, melanjutkan hidup, karena tak peduli betapa menyakitkan kenyataan yang sedang kita hadapi, rasa sakit itu adalah satu-satunya jalan menuju kedewasaan.

Aku mondar mandir di depan tv sementara Biyas berbicara dengan pihak penerbangan. Untuk memastikan apakah nama Bimo ada dalam penerbangan itu.

“Oke, terimakasih banyak.”

Biyas menutup telfonnya lalu menoleh ke arahku.

“Gimana? Apa katanya?”

Tanganku gemetar.

Biyas meraih tanganku, “nama Bimo ada di dalam penerbangan itu,” ucapnya hati-hati.

Jantungku berdegup kencang. Mataku kembali berkaca-kaca. Kupejamkan mata, rasanya kakiku tak sanggup untuk berdiri.

“Tapi,” Biyas melanjutkan.

Aku membuka mataku, “tapi apa?”

“Dia nggak boarding.”

Aku menutup mulutku tak percaya. Bingung campur bahagia jadi satu. Kulirik tas di sofa lalu buru-buru mengambil dan lamgsung merogoh mencari-cari ponselku.

“Dia masih hidup!” kataku sambil terus berusaha mencari ponsel.

“Kita nggak tau dia dimana.”

“Tapi dia masih hidup, aku mau telfon dia sekarang.”

“Kita bisa cari tahu besok, Al.”

Aku mengernyitkan dahi, “besok?”

“Iya, sekarang sudah larut malam. Kamu butuh istirahat.”

“Aku nggak butuh istirahat, hp aku mana sih?!” balasku kesal sambil tetap merogoh-rogoh ke dalam tas.

“Tapi kamu baru keluar dari rumah sakit, Al.”

Aku menatap Biyas marah, mataku terasa panas saking kesalnya.

“Dia masih hidup dan aku nggak butuh istirahat! Kenapa? Kamu berharap Bimo di dalam pesawat itu kan? Kamu pengen dia mati kan? Aku tau! Aku tau!”

Biyas mundur satu langkah lalu berkacak pinggang dan menatapku marah, “kamu pikir hati aku terbuat dari apa? Kamu pikir yang panik di ruangan ini cuma kamu aja?! Kamu pikir aku nggak khawatir?! Bimo sahabatku juga! Aku juga berharap dia masih hidup tapi kita nggak tau dia dimana! Apa salahnya kita menunggu dan ya! menurutku kamu memang perlu istirahat!”

Biyas mengambil jaketnya dan berjalan cepat keluar lalu membanting pintunya.

Ruangan mendadak sunyi, semua orang terdiam bahkan ibu ikut mematung. Baru kali ini aku melihat Biyas marah.

“Alena,” Lisa berbisik mendekatiku pelan.

Aku tersadar, “Ya?”

“Tas nya..”

Lisa menunjuk tas di genggamanku.

“Kenapa tas nya?”

“Sori, itu tas gue.”

Aku mengernyit dan mengangkat tas sekali lagi, menatapnya lekat-lekat lalu membolak-baliknya, “oh crap!!” aku terduduk lemas.

Aku benar-benar tak stabil, aku tak bisa membedakan barang milikku dengan milik orang lain. Pantas saja sejak tadi aku tak menemukan ponselku. Mungkin Biyas benar, mungkin aku memang butuh istirahat.

***

Aku terbangun saat ponselku berdering tepat di sampingku. Kuraih pelan dan mengangkatnya, “halo?” suaraku serak dan berusaha untuk duduk.

“Alena..”

Mataku terbuka lebar.

“Bimo?”

Aku turun dari kasur dan menghidupkan lampu, “lo dimana? Lo dimana sekarang?”

Hening.

“Halo?”

Aku mulai menangis.

“Bimo please..!” Dadaku terasa sesak dan tenggorokanku tercekat, “comeback..i choose you! I choose you, please comeback!

Aku merasakan airmata mengalir di pipi tepat sebelum aku membuka mata. Aku terbangun dari mimpi. Kutarik kembali selimut dan meringkuk menangis di dalamnya. Kubenamkan wajahku ke dalam bantal lalu berteriak sekuat-kuatnya.

***

Pagi ini aku duduk di sebelah jendela, menatap keluar ditemani ibu. Sejak tadi ibu sibuk berada di dapur menyiapkan segalanya mulai dari sarapan hingga menyeduhkanku kopi hangat.

“Sudah dicoba telfon lagi?”

Aku menoleh, “nomornya nggak bisa dihubungi, bu.”

Ibu duduk perlahan di sebelahku, “kita semua mengkhawatirkan Bimo, ibu ngerti perasaan kakak.”

Ibu menatapku lama, “tapi yang kakak lakukan terhadap Biyas, itu salah,” ibu mengambil ponselku lalu memberikan padaku, “bicarakan baik-baik dengannya. Ibu yakin dia bisa mengerti, Alena.”

“Apa Biyas bisa terima ya, bu?”

“Masalah ini bukan yang pertama kali bagi hubungan kalian, kan?”

“Maksud ibu?”

“Perasaan kakak terhadap Bimo, atau perasaan Bimo terhadap kakak. Hal ini bukan sesuatu yang baru bagi Biyas, kalian juga dulu pernah menghadapi masalah yang sama, kan?”

Aku mengernyitkan dahi, “Alena nggak ngerti, bu.”

Ibu mengusap pipiku lalu tersenyum, “ibu yakin Biyas pasti mengerti.”

Aku mulai mengetik pesan untuknya, “kita perlu bicara, pagi ini di restoranku?” tulisku.

Aku menyeruput kopiku tepat saat Biyas membalas pesanku, “oke.”

Aku merasakan mual saat membaca balasan singkat darinya. Mungkin ini waktunya, mungkin Biyas merasakan apa yang kurasakan, bahwa hubungan ini tak berhasil, bahwa hubungan ini akan segera berakhir.

***

Aku membuka pintu restoran dan seketika bayangan Bimo menghantui seisi ruangan. Aku membayangkannya berdiri di tengah ruangan dengan kamera ditangannya dan sibuk memotret menu masakanku. Aku melihatnya berdiri di sudut ruangan dengan mata yang berkaca-kaca saat Biyas mengumumkan pertunangan kami.

Aku meletakkan tas di atas meja dapur lalu meraih ponsel dari dalam tas. Kutatap layar ponsel tak lama setelah pesan Biyas muncul, “aku udah di depan, kamu udah dimana?”

Cepat-cepat kubuka pintu restoran. Biyas berdiri tepat di depan pintu, Biyas memaksakan senyumnya, “hai.”

Jantungku berdegup kencang, “hai,” kataku kikuk.

Biyas menatapku lama, dia sama sekali berbeda. Aku tak lagi merasakan kehangatan dari kehadirannya, tatapannya begitu dingin dan tak ada senyuman ramah seperti biasa.

“Kamu mau duluan yang bicara atau aku?”

Kegelisahan langsung menggerogoti tubuhku, aku menarik kursi lalu duduk, “duduk dulu.”

Biyas ikut menarik kursi untuknya, “aku nggak akan lama-lama di sini.”

Mata kami bertatapan cukup lama sampai akhirnya aku memulai pembicaraan, “Biyas.”

“Aku minta maaf, aku udah berusaha. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mencoba segalanya demi hubungan kita tapi ternyata aku nggak bisa membohongi diri sendiri.”

“Aku tau.”

Biyas menyenderkan tubuhnya ke belakang, “ini bukan yang pertama.”

Aku menatap bingung.

“Masalah ini selalu ada sejak kita SMA? Dan sekarang, masalah ini terulang kembali.”

Aku mengernyitkan dahi, “aku nggak ngerti, waktu itu kita pacaran. Nggak ada masalah seperti ini,aku nggak ngerti apanya yang sama.”

Biyas menyilangkan tangannya lalu tersenyum, “masalah Bimo diantara kita sudah ada sejak dulu, Al.”

Aku menatapnya lama, “tapi itu nggak ada perasaan apa-apa, kita kan emang deket banget bertiga.”

“Alena, nggak pernah ada yang namanya persahabatan antara wanita dan pria. Satu-satunya orang yang nggak tahu seperti apa perasaan Bimo ke kamu, ya cuma kamu.”

“Waktu itu kamu yang selingkuh, bukan aku.”

Biyas mengangguk, “aku akui masalah itu, aku minta maaf. Waktu itu aku sudah cukup muak dengan kalian dan cara kamu yang selalu membela Bimo, benar-benar membuat aku kesal.”

Hening.

“Alena, jangan menyerah.”

Kami bertatapan lama, “aku tahu berapa lama Bimo menunggu kamu, tapi dia nggak pernah menyerah. Aku berharap kamu juga melakukan hal yang sama untuk dia.”

Biyas melepaskan cincinnya lalu meletakkannya di atas meja.

“Alena, i let you go. Berjanjilah kamu nggak akan pernah menyerah, berjanjilah untuk selalu menempatkan harapan demi harapan diatas segalanya dan berjanjilah kalau kamu akan bahagia. Kamu pantas untuk bahagia, Alena.”

Biyas berdiri dan tersenyum, “aku selalu kalah, Al. Kamu nggak tau seberapa besar keinginanku untuk memenangkan hati kamu, namun tetap saja aku selalu kalah.”

Biyas meninggalkanku sendirian di restoran. Mencerna semua ucapannya, mencoba mengerti kata demi kata. Kuusap wajah dan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Seketika rasa lega menyeruak di dada.

Aku tersenyum.

Kutetapkan dalam hati bahwa mulai sekarang, aku akan hidup dengan bahagia. Setiap orang pasti memiliki harapan dan kesempatan. Aku akan terus bermimpi tentangnya, karena dengan mimpi aku mampu melanjutkan hidup. Aku akan selalu berharap bahwa suatu hari dirinya akan muncul dihadapanku, bahwa suatu saat Bimo pasti kembali. Dan dengan kesempatan yang kumiliki, aku akan hidup dengan penuh cinta bukan dengan ketakutan.

***

Enam bulan kemudian…

Sesuai janjiku, hari-hari kulewatkan dengan penuh semangat dan kuhabiskan hampir seluruh waktuku sibuk mengurus restoran.

Malam ini seperti biasa sepulang kerja aku selalu datang mengunjungi apartemen Bimo. Walaupun aku tahu apartemen itu kosong namun aku selalu sempatkan untuk berbaring sesaat hanya untuk memejamkan mata mengingat tentangnya.

Aku merogoh tas mencari-cari kunci pintu, cepat-cepat kubuka saat kutemukan kunci diantara isi tasku yang berantakan.

Aku meletakkan tas di atas meja lalu membaringkan tubuhku di atas sofa. Aroma parfumnya masih dapat kucium, aku tersenyum sambil mengingat keberadaannya.

Kupejamkan mata, “i miss you..” bisikku.

Tidur sebentar nggak ada salahnya, pikirku.

Kkraak!

Kubuka mata cepat dan jantungku berdegup kencang mendengar suara yang berderak dari luar pintu. Aku rasa orang-orang sudah banyak yang tahu kalau apartemen ini kosong.

Bagaimana kalau maling?

Aku harus bagaimana?

Aku berjalan hati-hati agar tak mengeluarkan suara. Segera kurogoh ponsel dan bersiap menelfon polisi sesaat sebelum pintu apartemen terbuka.

“Alena?”

Tubuhku mematung dan menatap dirinya tak percaya. Ponselku terjatuh dari genggamanku.

Bimo perlahan mendekatiku, “kenapa ada disini?”

Kupejamkan mata, “ini pasti mimpi..,” bisikku.

“Buka matanya.”

Aku mengernyitkan dahi lalu kubuka mata, “bukan mimpi?”

Bimo menggeleng lalu tersenyum, “bukan.”

Ponselku berdering dan aku tersentak. Kubuka mata dan menyadari bahwa aku kembali memimpikannya. Rasanya seperti nyata, aku benar-benar bisa mencium aroma tubuhnya dari jarak dekat.

Aku duduk perlahan. Meraih ponsel dan mematikan alarm lalu kembali memasukkannya ke dalam tas.

“Sejak kapan lo mulai tidur di sini?”

Aku menoleh dan menatapnya tak percaya. Dia berdiri disana, menyenderkan tubuhnya di tembok sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s