Ternyata Itu Dia. Episode 11

“Sejak kapan lo tidur di sini?”

Kepalaku masih terasa pusing saat kucoba mencerna suara yang berasal dari arah sampingku. Aku mengernyitkan dahi berusaha memahami apa yang terjadi. Dia berdiri di sana bersandar di tembok menatapku.

Aku berdiri perlahan lalu mendekatinya. Jarak kami hanya satu jengkal saat kusentuh dadanya dan kurasakan detak jantungnya. Kutatap matanya dan kurasakan deru nafasnya. Kami bertatapan lama hingga kusentuh pelan pipinya lalu bibirnya dan kupejamkan mata, “kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan gue. Kalau ini kenyataan, tolong yakinkan gue bahwa lo memang kembali.” bisikku.

Bimo mengusap pipiku lalu menyentuh bibirku pelan, “gue berharap ini mimpi, karena gue nggak mau cari masalah dengan istri orang.”

Aku tersenyum senang, aku tahu ini bukan mimpi atau bayangan, aku langsung tahu bahwa ini kenyataan, akhirnya dia kembali. Senyumku berubah menjadi tawa dan kutatap Bimo penuh kebahagiaan.

“Apa yang lucu?”

Aku menggeleng masih tersenyum.

Bimo menatapku bingung, “lo sama siapa kesini? Biyas tau kalo lo disini?”

Aku menggeleng, “dia nggak perlu tau.”

“Oke, lo harus pergi sekarang.”

“Nggak mau.”

“Al, gue nggak mau cari masalah.”

Aku menggeleng, tersenyum.

“Biyas nggak akan peduli dimana gue sekarang.”

“Oke, terserah. Tapi gue peduli, buat gue ini masalah.”

Aku masih tersenyum, kugigit bibir lalu kupeluk tubuhnya yang tegap.

“Whoa!”

Tangannya spontan menjauhkan tubuhku dari tubuhnya, “apaan nih?!”

Kutatap matanya lama dan tak berhenti tersenyum.

“Kenapa lo senyum-” Bimo menghentikan kalimatnya. Pupil matanya mendadak membesar dan perlahan ia mulai mengerti semuanya lalu menatapku tak percaya.

“Kalian nggak jadi-”

“Nope!” potongku semangat.

“Bersumpah demi ibu,” pintanya.

“Sumpah demi ibu,” kusilangkan dua jariku tepat di depannya.

Bimo memejamkan matanya, lalu dia mulai tersenyum dan kembali membuka matanya, menatapku lama.

“Jadi lo bukan istri orang?”

Aku menggeleng.

“Jadi nggak ada yang marah kalau lo berada disini malem-malem?”

Aku menggeleng.

“Jadi kalau gue sedekat ini dengan lo, yakin nggak ada yang mempermasalahkan?”

Bimo mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku. Aku bisa mencium aroma parfum dari lehernya. Aku bisa merasakan nafasnya. Kepalanya tertunduk dan tatapannya yang dalam langsung menusuk relung jantungku, rasa-rasanya hampir berhenti berdetak untuk beberapa detik.

“Jadi kalau lo nginep disini malem ini, nggak bakalan ada yang cari?” bisiknya.

Aku menggeleng pelan lalu menggigit bibirku.

“Nggak, jangan! Lo harus pulang.”

Aku mengernyitkan dahi, “yah, kenapa jangan?”

“KENAPA? Emangnya lo mau ngapain?”

Kututup mulutku cepat, “nggak ada,” kataku malu.

Bimo terkekeh, “pipi lo merah tuh.”

“Masa sih?” kupegang kedua pipi, terasa panas.

Bimo meraih tasku yang berada di atas meja lalu melirikku cepat, “lo malu?”

“Nggak kok. Panas kali disini.”

Bimo tertawa, “mau dilanjutin nggak yang tadi?” godanya.

Aku menggeleng lalu buru-buru memakai sepatu. Kubuka pintu dan cepat-cepat kulangkahkan kakiku keluar dari apartemennya.

“Tunggu, Al. Gue anterin.”

Bimo menyusul dan langsung merangkulku, “yakin nggak mau nginep? Udah malem loh,” godanya lalu mulai tertawa puas.

Brengsek!

***

Pagi ini aku terbangun berkat sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Cepat-cepat kuraih ponsel dan langsung menekan nomor Bimo.

“Hei,” ucapnya.

“Hai.”

“Udah bangun?”

“Udah, barusan aja.”

“Langsung nelfon?”

“Huh? Cuma mau memastikan, sih.”

Aku menggigit bibir.

“Nggak mimpi kok, tenang.”

Aku tersenyum lega, “thank God.”

“Buru mandi, gue tunggu di McDonald.”

“Oke.”

Kututup telfon dengan perasaan bahagia. Begini toh rasanya jatuh cinta, ucapku dalam hati.

***

Berulang kali aku mencoba baju hampir sejam namun tak satupun yang cocok. Tumpukan baju memenuhi tempat tidurku, semua warna sudah kucoba, kali ini aku benar-benar menyerah.

Akhirnya pilihanku jatuh pada celana jeans favorit yang sudah robek dibagian kantong belakang. Saat aku katakan jeans favorit, itu artinya celana yang hanya akan kalian temukan sekali seumur hidup. Celana jeans jenis langka yang apabila dipakai langsung terasa pas dan nyaman. Jeans ini tak akan pernah kubuang walaupun bentuknya sudah lusuh dan warnanya memudar.

Lalu aku mengambil blus atasan sembarangan dari lemari gantung dan langsung memakainya tanpa mengeceknya di depan cermin, aku sudah tak peduli seperti apa penampilanku setelah mencoba puluhan baju sejak tadi.

Aku berjalan penuh percaya diri menuju restoran McDonald tepat di simpang depan apartemenku. Rasanya tak sabar ingin bertemu Bimo, baru kali ini aku benar-benar merindukannya.

Bimo melambaikan tangannya saat melihatku, “disini.”

Aku tersenyum lalu melangkah cepat.

“Lama ya? Sori.”

Bimo tampak kesal, “ngapain aja sih?”

“Iya tadi gue beres-beres dulu.”

Ini kebohongan pertama sejak bertemu kembali dengannya. Tapi menurutku ini termasuk kategori ringan dan tak terlalu membahayakan bagi sebuah hubungan. Lagipula Bimo nggak akan curiga.

“Paling-paling lama milih baju.”

“Huh?”

Tertangkap basah.

“Ya kan?”

Aku pura-pura menggantungkan tas di sandaran kursi, “nggak kok,” ucapku meyakinkan.

“Lo kalo bohong ketauan banget, Al.”

Aku tertawa, “udah ah, laper nih.”

“Gue udah beliin, makan dulu nih.”

Kubuka kertas bungkus burger dengan perasaan senang dan melahapnya, “mau saos sambel dong.”

“Pelan-pelan makannya.”

Aku tersenyum, “hari ini kita jalan-jalan kemana?”

“Jalan-jalan?”

“Udah lama nggak ke dufan,” jawabku semangat.

“Dufan?”

“Iya dufan, oke?”

Bimo sibuk mengotak-ngatik ponselnya, “bentar,” katanya serius.

“Siapa sih?”

“Bentar, Al.”

Aku kembali mengunyah dan menghabiskannya dengan cepat. Kulirik Bimo sambil meneguk pepsi, “serius banget sih.”

Bimo meletakkan ponselnya lalu menatapku, tersenyum.

“Jalan-jalannya nggak hari ini ya.”

“Kenapa?”

“Gue nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Pokoknya nggak bisa, udah belom makannya?”

Aku menatapnya kesal, “udah.”

Bimo kembali mengecek ponsel lalu mengetik sebentar dan meletakkannya kembali.

Aku memperhatikannya, “siapa sih?”

“Nggak ada, jadi selama enam bulan gue menghilang, lo ngapain aja?” tanyanya mengalihkan pertanyaanku.

“Lo dulu yang cerita, gue mau tau semua detailnya.”

“Panjanglah kalo detail, garis besarnya aja ya.”

Aku mengangguk, “oke garis besarnya aja kalo gitu.”

“Jadi gue berubah pikiran malem sebelum gue berangkat. Besoknya gue beli tiket ke Bali dan memutuskan tinggal di sana. That’s all.”

That’s all? Tapi kenapa lo nggak ngabarin apa-apa ke gue?”

“Gue pikir lo udah nikah dan bahagia sama Biyas, buat apa gue hubungi lo lagi?”

“Pesawat lo tuh hilang, Bim.”

“Ya, trus?”

“Emang lo sama sekali nggak peduli gimana paniknya kita?”

Bimo mengendikkan bahu, “new place, new life.

“Gilak ya, lo egois banget.”

“Mana gue tau lo nggak jadi nikah, lo kan nggak bikin konferensi pers.”

“Bukan cuma gue yang panik, ibu, anak-anak studio, semuanya bahkan Biyas.”

Bimo menatapku lama, “gue nggak nyangka ternyata banyak juga yang kehilangan, ya?”

“Ya iyalah.”

“Maaf ya, harusnya gue langsung kabarin kalian waktu itu.”

Aku tersenyum.

“Yang penting sekarang lo udah balik lagi. Terus new life lo disana gimana?”

“Hmm, oke.”

“Oke gimana?”

“Gue buka studio baru, bisnis lancar, sejauh ini sih gue cocok hidup di sana.”

“Tunggu, jadi lo balik ke Jakarta ngapain?” tanyaku mulai bingung.

“Ada urusan sebentar.”

Aku menatap kesal, “oh, jadi lo balik bukan karena gue?”

“Kan gue nggak tahu lo nggak jadi nikah, Al.”

“Maksud gue, lo sama sekali nggak kepikiran buat ngabarin gue selama disini?”

Bimo menatapku lama lalu menggeleng pelan.

Aku menatapnya tak percaya. Perutku terasa mual. Aku merasakannya lagi, perasaan sama saat Biyas mengembalikan cincin pertunangan. Rasanya jantungku jatuh dengan kecepatan tinggi dan kakiku terasa dingin seakan-akan tak menyentuh lantai.

“Gue nggak percaya lo-”

“Ada yang perlu gue ceritakan sama lo,” potongnya.

Aku mengernyitkan dahi, “cerita apa?”

Bimo menarik nafas dalam-dalam dan menatapku, “selama di Bali-”

Ponsel Bimo berdering. Mataku dengan cepat melirik layar ponsel miliknya. Nama Katherine muncul di tengah layar ponselnya.

“Katherine?” tanyaku hampir berbisik.

Bimo memejamkan matanya lalu menjauhkan ponselnya, “Alena-”

“Lo punya pacar?” potongku.

Hening.

“Bim?”

“Gue nggak tau lo putus sama Biyas!”

“ENAM BULAN?!

“Enam bulan itu lama, banyak yang bisa terjadi dalam waktu enam bulan, Al.”

“Dan gue hampir gila!!”

But you didn’t..

Thank God!”

“Alena, dengerin gue dulu-”

“Jadi sekarang lo punya kebiasaan baru? Ketemu cewek sembarangan di Bali terus langsung pacaran, gitu?” potongku marah.

“Wow! Pertama, kita nggak punya hubungan apa-apa. Kedua, lo nggak berhak menentukan kapan dan dengan siapa gue boleh memiliki hubungan. Ketiga, bukan salah gue kalau lo nggak jadi nikah sama Biyas, oke? Lo sendiri yang memutuskan untuk memilih dia ketimbang gue. Dan yang terakhir, Katherine bukan perempuan sembarangan.”

Aku menggeleng tak percaya, “enam bulan, enam bulan dan lo udah bela dia habis-habisan.”

Bimo menyenderkan tubuhnya ke belakang, “kita bicarakan lagi masalah ini nanti, oke?”

“Sebentar,” kutatap matanya marah.

Ponsel Bimo kembali berdering dan nama Katherine muncul di layar. Bimo melirik ponselnya lalu menatapku.

“Lo angkat telfon itu, we’re done.”

“Nggak perlu kayak gini, Al.”

“Gue serius.”

“Alena. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

“Kita selesaikan sekarang, biar jelas.”

“Lo dalam keadaan marah, masalahnya jadi terlalu rumit.”

“Masalahnya sederhana, lo angkat atau lo nggak angkat. Beres!”

Bimo menatapku kesal. Ponselnya masih berdering dan aku benar-benar muak melihat nama itu muncul terus menerus diantara kami.

Sebagian orang mengambil keputusan semudah memilih rasa es krim. Apakah ini kehidupan yang ingin kita jalani? Apakah dia seseorang yang ingin kita cintai? Apakah selama ini kita sudah melakukan yang terbaik? Apakah kita seharusnya lebih kuat atau sebaiknya kita berbaik hati?

Putuskanlah. Tarik nafasmu dalam-dalam dan hembuskan perlahan lalu putuskan.

Bimo mengusap wajahnya kesal, “gue minta maaf, Al.”

Bimo bangkit dari kursi lalu meraih ponselnya, “hei, sori tadi ada masalah sedikit. Aku jemput sekarang, oke?”

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s