Ternyata Itu Dia. Episode 12

Karma. Cepat atau lambat dan dengan berbagai cara ia akan datang dihadapan kita tepat sebelum tarikan nafasmu berakhir. Kita bisa saja bertemu dan bertatap mata dengannya atau kita bisa menunggu saat ia datang dengan cara menyelinap dari belakang. Bahkan faktanya, tak peduli seberapa kuat kita mencoba untuk menghindar, karma akan selalu menemukan kita. Dia mengikuti kita kerumah, dijalan pulang, didalam tidur bahkan karma muncul disaat kita sedang menikmati sarapan.

Bimo bangkit dari kursi lalu meraih ponselnya, “hei, sori tadi ada masalah sedikit. Aku jemput sekarang, oke?”

Bimo berhasil meninggalku sendirian, perasaan marah bercampur malu menjadi satu.

Mataku tertuju pada tas kecil miliknya yang tertinggal diatas meja. Baru saja aku hendak menoleh ke belakang ingin memberitahukannya tapi tiba-tiba aku berubah pikiran saat melihatnya kembali.

Bimo masih berbicara diponsel sambil senyum-senyum kecil. Sengaja kudorong tas miliknya hingga terjatuh tepat disaat tangannya menyentuh talinya.

Bimo mengernyitkan dahi, “seriously?” ucapnya tak percaya.

Aku berdiri menatapnya cuek, “what?” balasku sambil mengacuhkannya lalu meninggalkannya dibelakang.

***

“Menu spesial hari ini apaan nih, Al?”

Lisa mengambil papan menu dan bersiap untuk menuliskan daftar menu.

Short ribs!”

Aku melempar daging iga diatas meja dapur lalu menancapkan pisau besar tepat ditengah-tengahnya. Sambil membayangkan wajah Bimo, aku menghujamnya sekali lagi sekuat tenaga.

Lisa dan karyawan lain menatapku ngeri.

“Tulis juga menu spesial hari ini, semua serba pedas!!”

“Huh? Semuanya?”

“Yap, semua!”

Sejak kepergian Bimo, aku memutuskan untuk mempekerjakan Lisa direstoranku. Lisa bertugas sebagai kasir dan setiap pagi dia selalu mengambil papan menu lalu menuliskan menu spesial ditambah ukiran-ukiran keren menggunakan kapur yang dia diletakkan didepan pintu masuk.

Dan hari ini aku berhasil membuat pengunjung merasa puas dengan menu pilihanku.

Aku mengawali menu santapan hari ini dengan homemade sourdough yang disajikan dalam keranjang kawat hitam. Irisan roti segar yang menebarkan aroma wangi ragi. Disajikan dengan unsalted butter. Pori-pori rotinya merata dengan permukaan berwarna kecokelatan. Rasanya renyah gurih dengan tekstur empuk yang enak saat digigit.

Sebelum roti habis, kami mengeluarkan menu pembuka yaitu, dorset crab bisque atau sup kepiting yang kusajikan dalam mangkuk cekung dengan kuah dalam mangkuk saus terpisah. Kusajikan suwiran halus daging kepiting, diselingi irisan halus daun bawang dan kucai, tak lupa kutambahkan tobasco dan krim segar. Kuahnya berwarna orange creamy yang hangat dan saat dituangkan, menguapkan aroma wangi kepiting.

Dan disaat semua pengunjung tampak hampir puas, aku mengeluarkan menu andalan kami yang terakhir yaitu short ribs. Aku memasak dengan perasaan campur aduk. Mengingat Bimo merusak suasana hatiku kemarin, maka perasaan cinta, benci dan dendam yang masih tertinggal menjadi satu namun dengan proses kehati-hatian agar short ribs buatanku tetap berkualitas tinggi.

Kupastikan tampilan iga panggang ini sangat menggiurkan. Potongannya sedang, dengan mashed potatoes yang munjung lembut, digenangi jus daging dengan bercak minyak kehijauan dan taburan irisan bawang yang harum.

Slow cooking membuat daging iga sapi berwarna cokelat mengkilap. Sekali disentuh garpu maka akan terkoyak dan menampakkan serat dagingnya yang merah dadu. Jus dagingnya juga gurih dan harum. Sementara jamur chanterelle yang warnanya oranye muda berubah kecokelatan karena ditumis dengan mentega. Kenyal renyah dengan aroma earhty yang segar.

Pengunjung tampak mengangguk-angguk senang. Tak sedikit diantara mereka yang ingin bertemu denganku dan memberikan pujian.

“Sempurna!”

Oh, aku hampir lupa menceritakan bahwa restoran kami juga menyajikan cemilan crispy potato cake yang benar-benar renyah dan garing. Kentang yang kuserut memanjang kemudian disusun berlapis lalu kubentuk segi empat. Digoreng kering membuat rasanya renyah dan gurih. Dicocol saus sambal buatanku yang gurih dan kupastikan sangat pedas.

***

Jam menunjukkan pukul 23.00 dan aku masih mengecek bahan baku yang masih tersisa diruangan beku sambil mencatatnya satu persatu. Pintu terbuka dan Lisa terengah-engah masuk lalu memelukku erat.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

“Al. Lo pasti nggak percaya siapa yang datang.”

“Siapa?”

Lisa menelan ludahnya dengan susah payah, “Bimo, Al. Dia masih hidup, dia kembali lagi, dia datang kesini!” kata Lisa akhirnya.

“Oh,” jawabku cuek lalu kembali mengecek dari rak ke rak.

“Oh? Cuma oh? Lo denger nggak sih gue ngomong apa?”

“Denger.”

Lisa tampak heran, “kok..? Bukannya..?”

“Bilang sama dia, kita udah tutup.”

“Tapi-”

Kubuka pintu dan meninggalkan Lisa didalam dengan kebingungannya. Aku melirik Bimo yang sedang dikerumuni para karyawan restoran, mereka tampak senang sekaligus tak percaya.

“Alena! Sini,” teriak salah satu diantara mereka.

Aku mengangguk kecil sambil memaksakan senyuman. Kudorong pintu kantor dan menutupnya cepat-cepat. Jantungku kembali berdetak kencang. Perlahan kuraih kursi dan duduk menghadap jendela. Kusingkapkan tirai sedikit hingga tampak wajah Bimo dari kejauhan.

“Asshole!

Aku mengalihkan pandangan dan mulai menyusun kertas-kertas yang berserakan dimeja. Suara ketukan diikuti pintu yang terbuka tiba-tiba membuatku terperanjat, “hei,” kata Bimo dengan ciri khasnya memasukkan tangan kedalam saku celana.

“Mau apa?”

“Mau makan,” Bimo tersenyum.

“Kita udah tutup.”

“Kayaknya restoran lain masih ada yang buka.”

Aku mengendikkan bahu, “nggak tau.”

“Alena,” Bimo menatapku serius.

Aku berdiri dan meraih tas, “gue mau pulang,” kataku sambil meraih gagang pintu.

Bimo mencengkram lenganku, “Al..,” bisiknya.

“Apa lagi sih, Bim?”

“Nggak tau kenapa setiap ketemu lo, gue jadi nggak tau mau ngomong apa.”

“Ya mungkin memang nggak ada lagi yang perlu diomongin.”

“Semua masalah pasti bisa dibicarakan baik-baik, Al.”

“Oh memangnya kita ada masalah apa ya?”

“Ayolah Al, jangan kayak anak kecil.”

“Siapa yang kayak anak kecil? Gue? Anak kecil nggak akan mau nungguin orang yang udah mati terus hidup lagi, Bim. Gue hampir percaya bahwa lo memang sudah mati. Lo nggak perlu repot-repot menata hati seperti gue, lo move on dalam waktu enam bulan setelah kehilangan gue. Sedangkan gue? Lo tiba-tiba muncul setelah enam bulan sejak pesawat lo hilang terus dengan senangnya lo bilang kalo lo udah punya pacar karena enam bulan waktu yang cukup buat lo memutuskan ‘oh kayaknya gue udah bisa punya pacar, nih!‘ dan berharap gue nggak bersikap seperti anak kecil? Mungkin lo perlu cek ke dokter, mungkin lo pernah nabrak sesuatu pas naik motor, mungkin kepala lo terbentur trotoar atau entah apalah itu yang membuat lo geger otak dan mulai berpikir nggak rasional!”

“Gue minta maaf,”

“Dan setelah enam bulan dua hari lo akhirnya minta maaf!”

“Gue minta maaf, Alena..,” bisiknya.

Aku mengendikkan bahu lalu kubuka pintu dan Lisa tiba-tiba muncul dihadapanku, “yuk!”

Aku menatapnya bingung, “yuk kemana?”

“Makan-makan.”

Aku menggeleng, “No!

“Ish, Bimo baru aja bangkit dari kematian loh, Al. Kita harus rayakan dong.”

Kutatap satu persatu wajah karyawan, mereka tampak bahagia tersenyum indah. Lalu kembali kutatap Lisa.

“Kok bengong?” Lisa merangkulku, “ayoo!”

Bimo mendahuluiku merangkul salah satu karyawan lalu menoleh kebelakang dan menaikkan alisnya.

***

Kita akhirnya memutuskan makan malam direstoran dekat jalan pulang. Semua tampak senang dengan kembalinya Bimo.

Waktu menunjukkan pukul 01.15 dan satu persatu dari mereka mulai pamit hingga tinggal aku dan Bimo. Aku berdiri, “gue balik dulu.”

Bimo meraih tasku lalu menggeser kursi dan mempersilahkanku untuk jalan. Bimo mengantarku sampai dihalte tak jauh dari restoran lalu menyetop taksi untukku.

Thanks,” ucapku.

Bimo meraih tanganku dan menarikku sesaat sebelum aku melangkahkan kaki masuk kedalam taksi.

Jantungku berdegup kencang saat kedua tangannya membelai pipiku.

“Gue minta maaf karena sudah membuat lo menunggu cukup lama. Gue berharap lo bersedia menambah waktu lo sedikit lagi untuk gue.”

“Ini bukan tentang apa yang menjadi maunya gue, tapi ini tentang apa yang lo mau, Bim.”

Kami bertatapan cukup lama hingga kurasakan semua aliran darah berlomba menuju wajahku. Bimo tampak tenang, matanya tampak puas menatap wajahku lekat-lekat.

“Gue cinta lo, Al.”

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s