Ternyata Itu Dia. Episode 11

“Sejak kapan lo tidur di sini?”

Kepalaku masih terasa pusing saat kucoba mencerna suara yang berasal dari arah sampingku. Aku mengernyitkan dahi berusaha memahami apa yang terjadi. Dia berdiri di sana bersandar di tembok menatapku.

Aku berdiri perlahan lalu mendekatinya. Jarak kami hanya satu jengkal saat kusentuh dadanya dan kurasakan detak jantungnya. Kutatap matanya dan kurasakan deru nafasnya. Kami bertatapan lama hingga kusentuh pelan pipinya lalu bibirnya dan kupejamkan mata, “kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan gue. Kalau ini kenyataan, tolong yakinkan gue bahwa lo memang kembali.” bisikku.

Bimo mengusap pipiku lalu menyentuh bibirku pelan, “gue berharap ini mimpi, karena gue nggak mau cari masalah dengan istri orang.”

Aku tersenyum senang, aku tahu ini bukan mimpi atau bayangan, aku langsung tahu bahwa ini kenyataan, akhirnya dia kembali. Senyumku berubah menjadi tawa dan kutatap Bimo penuh kebahagiaan.

“Apa yang lucu?”

Aku menggeleng masih tersenyum.

Bimo menatapku bingung, “lo sama siapa kesini? Biyas tau kalo lo disini?”

Aku menggeleng, “dia nggak perlu tau.”

“Oke, lo harus pergi sekarang.”

“Nggak mau.”

“Al, gue nggak mau cari masalah.”

Aku menggeleng, tersenyum.

“Biyas nggak akan peduli dimana gue sekarang.”

“Oke, terserah. Tapi gue peduli, buat gue ini masalah.”

Aku masih tersenyum, kugigit bibir lalu kupeluk tubuhnya yang tegap.

“Whoa!”

Tangannya spontan menjauhkan tubuhku dari tubuhnya, “apaan nih?!”

Kutatap matanya lama dan tak berhenti tersenyum.

“Kenapa lo senyum-” Bimo menghentikan kalimatnya. Pupil matanya mendadak membesar dan perlahan ia mulai mengerti semuanya lalu menatapku tak percaya.

“Kalian nggak jadi-”

“Nope!” potongku semangat.

“Bersumpah demi ibu,” pintanya.

“Sumpah demi ibu,” kusilangkan dua jariku tepat di depannya.

Bimo memejamkan matanya, lalu dia mulai tersenyum dan kembali membuka matanya, menatapku lama.

“Jadi lo bukan istri orang?”

Aku menggeleng.

“Jadi nggak ada yang marah kalau lo berada disini malem-malem?”

Aku menggeleng.

“Jadi kalau gue sedekat ini dengan lo, yakin nggak ada yang mempermasalahkan?”

Bimo mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku. Aku bisa mencium aroma parfum dari lehernya. Aku bisa merasakan nafasnya. Kepalanya tertunduk dan tatapannya yang dalam langsung menusuk relung jantungku, rasa-rasanya hampir berhenti berdetak untuk beberapa detik.

“Jadi kalau lo nginep disini malem ini, nggak bakalan ada yang cari?” bisiknya.

Aku menggeleng pelan lalu menggigit bibirku.

“Nggak, jangan! Lo harus pulang.”

Aku mengernyitkan dahi, “yah, kenapa jangan?”

“KENAPA? Emangnya lo mau ngapain?”

Kututup mulutku cepat, “nggak ada,” kataku malu.

Bimo terkekeh, “pipi lo merah tuh.”

“Masa sih?” kupegang kedua pipi, terasa panas.

Bimo meraih tasku yang berada di atas meja lalu melirikku cepat, “lo malu?”

“Nggak kok. Panas kali disini.”

Bimo tertawa, “mau dilanjutin nggak yang tadi?” godanya.

Aku menggeleng lalu buru-buru memakai sepatu. Kubuka pintu dan cepat-cepat kulangkahkan kakiku keluar dari apartemennya.

“Tunggu, Al. Gue anterin.”

Bimo menyusul dan langsung merangkulku, “yakin nggak mau nginep? Udah malem loh,” godanya lalu mulai tertawa puas.

Brengsek!

***

Pagi ini aku terbangun berkat sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Cepat-cepat kuraih ponsel dan langsung menekan nomor Bimo.

“Hei,” ucapnya.

“Hai.”

“Udah bangun?”

“Udah, barusan aja.”

“Langsung nelfon?”

“Huh? Cuma mau memastikan, sih.”

Aku menggigit bibir.

“Nggak mimpi kok, tenang.”

Aku tersenyum lega, “thank God.”

“Buru mandi, gue tunggu di McDonald.”

“Oke.”

Kututup telfon dengan perasaan bahagia. Begini toh rasanya jatuh cinta, ucapku dalam hati.

***

Berulang kali aku mencoba baju hampir sejam namun tak satupun yang cocok. Tumpukan baju memenuhi tempat tidurku, semua warna sudah kucoba, kali ini aku benar-benar menyerah.

Akhirnya pilihanku jatuh pada celana jeans favorit yang sudah robek dibagian kantong belakang. Saat aku katakan jeans favorit, itu artinya celana yang hanya akan kalian temukan sekali seumur hidup. Celana jeans jenis langka yang apabila dipakai langsung terasa pas dan nyaman. Jeans ini tak akan pernah kubuang walaupun bentuknya sudah lusuh dan warnanya memudar.

Lalu aku mengambil blus atasan sembarangan dari lemari gantung dan langsung memakainya tanpa mengeceknya di depan cermin, aku sudah tak peduli seperti apa penampilanku setelah mencoba puluhan baju sejak tadi.

Aku berjalan penuh percaya diri menuju restoran McDonald tepat di simpang depan apartemenku. Rasanya tak sabar ingin bertemu Bimo, baru kali ini aku benar-benar merindukannya.

Bimo melambaikan tangannya saat melihatku, “disini.”

Aku tersenyum lalu melangkah cepat.

“Lama ya? Sori.”

Bimo tampak kesal, “ngapain aja sih?”

“Iya tadi gue beres-beres dulu.”

Ini kebohongan pertama sejak bertemu kembali dengannya. Tapi menurutku ini termasuk kategori ringan dan tak terlalu membahayakan bagi sebuah hubungan. Lagipula Bimo nggak akan curiga.

“Paling-paling lama milih baju.”

“Huh?”

Tertangkap basah.

“Ya kan?”

Aku pura-pura menggantungkan tas di sandaran kursi, “nggak kok,” ucapku meyakinkan.

“Lo kalo bohong ketauan banget, Al.”

Aku tertawa, “udah ah, laper nih.”

“Gue udah beliin, makan dulu nih.”

Kubuka kertas bungkus burger dengan perasaan senang dan melahapnya, “mau saos sambel dong.”

“Pelan-pelan makannya.”

Aku tersenyum, “hari ini kita jalan-jalan kemana?”

“Jalan-jalan?”

“Udah lama nggak ke dufan,” jawabku semangat.

“Dufan?”

“Iya dufan, oke?”

Bimo sibuk mengotak-ngatik ponselnya, “bentar,” katanya serius.

“Siapa sih?”

“Bentar, Al.”

Aku kembali mengunyah dan menghabiskannya dengan cepat. Kulirik Bimo sambil meneguk pepsi, “serius banget sih.”

Bimo meletakkan ponselnya lalu menatapku, tersenyum.

“Jalan-jalannya nggak hari ini ya.”

“Kenapa?”

“Gue nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Pokoknya nggak bisa, udah belom makannya?”

Aku menatapnya kesal, “udah.”

Bimo kembali mengecek ponsel lalu mengetik sebentar dan meletakkannya kembali.

Aku memperhatikannya, “siapa sih?”

“Nggak ada, jadi selama enam bulan gue menghilang, lo ngapain aja?” tanyanya mengalihkan pertanyaanku.

“Lo dulu yang cerita, gue mau tau semua detailnya.”

“Panjanglah kalo detail, garis besarnya aja ya.”

Aku mengangguk, “oke garis besarnya aja kalo gitu.”

“Jadi gue berubah pikiran malem sebelum gue berangkat. Besoknya gue beli tiket ke Bali dan memutuskan tinggal di sana. That’s all.”

That’s all? Tapi kenapa lo nggak ngabarin apa-apa ke gue?”

“Gue pikir lo udah nikah dan bahagia sama Biyas, buat apa gue hubungi lo lagi?”

“Pesawat lo tuh hilang, Bim.”

“Ya, trus?”

“Emang lo sama sekali nggak peduli gimana paniknya kita?”

Bimo mengendikkan bahu, “new place, new life.

“Gilak ya, lo egois banget.”

“Mana gue tau lo nggak jadi nikah, lo kan nggak bikin konferensi pers.”

“Bukan cuma gue yang panik, ibu, anak-anak studio, semuanya bahkan Biyas.”

Bimo menatapku lama, “gue nggak nyangka ternyata banyak juga yang kehilangan, ya?”

“Ya iyalah.”

“Maaf ya, harusnya gue langsung kabarin kalian waktu itu.”

Aku tersenyum.

“Yang penting sekarang lo udah balik lagi. Terus new life lo disana gimana?”

“Hmm, oke.”

“Oke gimana?”

“Gue buka studio baru, bisnis lancar, sejauh ini sih gue cocok hidup di sana.”

“Tunggu, jadi lo balik ke Jakarta ngapain?” tanyaku mulai bingung.

“Ada urusan sebentar.”

Aku menatap kesal, “oh, jadi lo balik bukan karena gue?”

“Kan gue nggak tahu lo nggak jadi nikah, Al.”

“Maksud gue, lo sama sekali nggak kepikiran buat ngabarin gue selama disini?”

Bimo menatapku lama lalu menggeleng pelan.

Aku menatapnya tak percaya. Perutku terasa mual. Aku merasakannya lagi, perasaan sama saat Biyas mengembalikan cincin pertunangan. Rasanya jantungku jatuh dengan kecepatan tinggi dan kakiku terasa dingin seakan-akan tak menyentuh lantai.

“Gue nggak percaya lo-”

“Ada yang perlu gue ceritakan sama lo,” potongnya.

Aku mengernyitkan dahi, “cerita apa?”

Bimo menarik nafas dalam-dalam dan menatapku, “selama di Bali-”

Ponsel Bimo berdering. Mataku dengan cepat melirik layar ponsel miliknya. Nama Katherine muncul di tengah layar ponselnya.

“Katherine?” tanyaku hampir berbisik.

Bimo memejamkan matanya lalu menjauhkan ponselnya, “Alena-”

“Lo punya pacar?” potongku.

Hening.

“Bim?”

“Gue nggak tau lo putus sama Biyas!”

“ENAM BULAN?!

“Enam bulan itu lama, banyak yang bisa terjadi dalam waktu enam bulan, Al.”

“Dan gue hampir gila!!”

But you didn’t..

Thank God!”

“Alena, dengerin gue dulu-”

“Jadi sekarang lo punya kebiasaan baru? Ketemu cewek sembarangan di Bali terus langsung pacaran, gitu?” potongku marah.

“Wow! Pertama, kita nggak punya hubungan apa-apa. Kedua, lo nggak berhak menentukan kapan dan dengan siapa gue boleh memiliki hubungan. Ketiga, bukan salah gue kalau lo nggak jadi nikah sama Biyas, oke? Lo sendiri yang memutuskan untuk memilih dia ketimbang gue. Dan yang terakhir, Katherine bukan perempuan sembarangan.”

Aku menggeleng tak percaya, “enam bulan, enam bulan dan lo udah bela dia habis-habisan.”

Bimo menyenderkan tubuhnya ke belakang, “kita bicarakan lagi masalah ini nanti, oke?”

“Sebentar,” kutatap matanya marah.

Ponsel Bimo kembali berdering dan nama Katherine muncul di layar. Bimo melirik ponselnya lalu menatapku.

“Lo angkat telfon itu, we’re done.”

“Nggak perlu kayak gini, Al.”

“Gue serius.”

“Alena. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

“Kita selesaikan sekarang, biar jelas.”

“Lo dalam keadaan marah, masalahnya jadi terlalu rumit.”

“Masalahnya sederhana, lo angkat atau lo nggak angkat. Beres!”

Bimo menatapku kesal. Ponselnya masih berdering dan aku benar-benar muak melihat nama itu muncul terus menerus diantara kami.

Sebagian orang mengambil keputusan semudah memilih rasa es krim. Apakah ini kehidupan yang ingin kita jalani? Apakah dia seseorang yang ingin kita cintai? Apakah selama ini kita sudah melakukan yang terbaik? Apakah kita seharusnya lebih kuat atau sebaiknya kita berbaik hati?

Putuskanlah. Tarik nafasmu dalam-dalam dan hembuskan perlahan lalu putuskan.

Bimo mengusap wajahnya kesal, “gue minta maaf, Al.”

Bimo bangkit dari kursi lalu meraih ponselnya, “hei, sori tadi ada masalah sedikit. Aku jemput sekarang, oke?”

Bersambung…

Advertisements

Ternyata Itu Dia. Episode 10

Seseorang yang bijak mengatakan bahwa kita tak akan bisa terus maju sebelum kita mampu melepaskan masa lalu. Mungkin melepaskan merupakan hal yang mudah, namun untuk terus melanjutkan hidup adalah hal yang paling menyakitkan karena waktu tak mungkin berhenti, jarum detik tetap bergerak meskipun kita tak mampu berdiri. Itu sebabnya terkadang kita akan berjuang mati-matian dan memaksakan segala sesuatunya agar tetap sama walaupun kita tahu semuanya tak mungkin pernah sama lagi. Pada satu titik, kita tetap harus melepaskannya, melanjutkan hidup, karena tak peduli betapa menyakitkan kenyataan yang sedang kita hadapi, rasa sakit itu adalah satu-satunya jalan menuju kedewasaan.

Aku mondar mandir di depan tv sementara Biyas berbicara dengan pihak penerbangan. Untuk memastikan apakah nama Bimo ada dalam penerbangan itu.

“Oke, terimakasih banyak.”

Biyas menutup telfonnya lalu menoleh ke arahku.

“Gimana? Apa katanya?”

Tanganku gemetar.

Biyas meraih tanganku, “nama Bimo ada di dalam penerbangan itu,” ucapnya hati-hati.

Jantungku berdegup kencang. Mataku kembali berkaca-kaca. Kupejamkan mata, rasanya kakiku tak sanggup untuk berdiri.

“Tapi,” Biyas melanjutkan.

Aku membuka mataku, “tapi apa?”

“Dia nggak boarding.”

Aku menutup mulutku tak percaya. Bingung campur bahagia jadi satu. Kulirik tas di sofa lalu buru-buru mengambil dan lamgsung merogoh mencari-cari ponselku.

“Dia masih hidup!” kataku sambil terus berusaha mencari ponsel.

“Kita nggak tau dia dimana.”

“Tapi dia masih hidup, aku mau telfon dia sekarang.”

“Kita bisa cari tahu besok, Al.”

Aku mengernyitkan dahi, “besok?”

“Iya, sekarang sudah larut malam. Kamu butuh istirahat.”

“Aku nggak butuh istirahat, hp aku mana sih?!” balasku kesal sambil tetap merogoh-rogoh ke dalam tas.

“Tapi kamu baru keluar dari rumah sakit, Al.”

Aku menatap Biyas marah, mataku terasa panas saking kesalnya.

“Dia masih hidup dan aku nggak butuh istirahat! Kenapa? Kamu berharap Bimo di dalam pesawat itu kan? Kamu pengen dia mati kan? Aku tau! Aku tau!”

Biyas mundur satu langkah lalu berkacak pinggang dan menatapku marah, “kamu pikir hati aku terbuat dari apa? Kamu pikir yang panik di ruangan ini cuma kamu aja?! Kamu pikir aku nggak khawatir?! Bimo sahabatku juga! Aku juga berharap dia masih hidup tapi kita nggak tau dia dimana! Apa salahnya kita menunggu dan ya! menurutku kamu memang perlu istirahat!”

Biyas mengambil jaketnya dan berjalan cepat keluar lalu membanting pintunya.

Ruangan mendadak sunyi, semua orang terdiam bahkan ibu ikut mematung. Baru kali ini aku melihat Biyas marah.

“Alena,” Lisa berbisik mendekatiku pelan.

Aku tersadar, “Ya?”

“Tas nya..”

Lisa menunjuk tas di genggamanku.

“Kenapa tas nya?”

“Sori, itu tas gue.”

Aku mengernyit dan mengangkat tas sekali lagi, menatapnya lekat-lekat lalu membolak-baliknya, “oh crap!!” aku terduduk lemas.

Aku benar-benar tak stabil, aku tak bisa membedakan barang milikku dengan milik orang lain. Pantas saja sejak tadi aku tak menemukan ponselku. Mungkin Biyas benar, mungkin aku memang butuh istirahat.

***

Aku terbangun saat ponselku berdering tepat di sampingku. Kuraih pelan dan mengangkatnya, “halo?” suaraku serak dan berusaha untuk duduk.

“Alena..”

Mataku terbuka lebar.

“Bimo?”

Aku turun dari kasur dan menghidupkan lampu, “lo dimana? Lo dimana sekarang?”

Hening.

“Halo?”

Aku mulai menangis.

“Bimo please..!” Dadaku terasa sesak dan tenggorokanku tercekat, “comeback..i choose you! I choose you, please comeback!

Aku merasakan airmata mengalir di pipi tepat sebelum aku membuka mata. Aku terbangun dari mimpi. Kutarik kembali selimut dan meringkuk menangis di dalamnya. Kubenamkan wajahku ke dalam bantal lalu berteriak sekuat-kuatnya.

***

Pagi ini aku duduk di sebelah jendela, menatap keluar ditemani ibu. Sejak tadi ibu sibuk berada di dapur menyiapkan segalanya mulai dari sarapan hingga menyeduhkanku kopi hangat.

“Sudah dicoba telfon lagi?”

Aku menoleh, “nomornya nggak bisa dihubungi, bu.”

Ibu duduk perlahan di sebelahku, “kita semua mengkhawatirkan Bimo, ibu ngerti perasaan kakak.”

Ibu menatapku lama, “tapi yang kakak lakukan terhadap Biyas, itu salah,” ibu mengambil ponselku lalu memberikan padaku, “bicarakan baik-baik dengannya. Ibu yakin dia bisa mengerti, Alena.”

“Apa Biyas bisa terima ya, bu?”

“Masalah ini bukan yang pertama kali bagi hubungan kalian, kan?”

“Maksud ibu?”

“Perasaan kakak terhadap Bimo, atau perasaan Bimo terhadap kakak. Hal ini bukan sesuatu yang baru bagi Biyas, kalian juga dulu pernah menghadapi masalah yang sama, kan?”

Aku mengernyitkan dahi, “Alena nggak ngerti, bu.”

Ibu mengusap pipiku lalu tersenyum, “ibu yakin Biyas pasti mengerti.”

Aku mulai mengetik pesan untuknya, “kita perlu bicara, pagi ini di restoranku?” tulisku.

Aku menyeruput kopiku tepat saat Biyas membalas pesanku, “oke.”

Aku merasakan mual saat membaca balasan singkat darinya. Mungkin ini waktunya, mungkin Biyas merasakan apa yang kurasakan, bahwa hubungan ini tak berhasil, bahwa hubungan ini akan segera berakhir.

***

Aku membuka pintu restoran dan seketika bayangan Bimo menghantui seisi ruangan. Aku membayangkannya berdiri di tengah ruangan dengan kamera ditangannya dan sibuk memotret menu masakanku. Aku melihatnya berdiri di sudut ruangan dengan mata yang berkaca-kaca saat Biyas mengumumkan pertunangan kami.

Aku meletakkan tas di atas meja dapur lalu meraih ponsel dari dalam tas. Kutatap layar ponsel tak lama setelah pesan Biyas muncul, “aku udah di depan, kamu udah dimana?”

Cepat-cepat kubuka pintu restoran. Biyas berdiri tepat di depan pintu, Biyas memaksakan senyumnya, “hai.”

Jantungku berdegup kencang, “hai,” kataku kikuk.

Biyas menatapku lama, dia sama sekali berbeda. Aku tak lagi merasakan kehangatan dari kehadirannya, tatapannya begitu dingin dan tak ada senyuman ramah seperti biasa.

“Kamu mau duluan yang bicara atau aku?”

Kegelisahan langsung menggerogoti tubuhku, aku menarik kursi lalu duduk, “duduk dulu.”

Biyas ikut menarik kursi untuknya, “aku nggak akan lama-lama di sini.”

Mata kami bertatapan cukup lama sampai akhirnya aku memulai pembicaraan, “Biyas.”

“Aku minta maaf, aku udah berusaha. Aku berusaha sekuat tenaga untuk mencoba segalanya demi hubungan kita tapi ternyata aku nggak bisa membohongi diri sendiri.”

“Aku tau.”

Biyas menyenderkan tubuhnya ke belakang, “ini bukan yang pertama.”

Aku menatap bingung.

“Masalah ini selalu ada sejak kita SMA? Dan sekarang, masalah ini terulang kembali.”

Aku mengernyitkan dahi, “aku nggak ngerti, waktu itu kita pacaran. Nggak ada masalah seperti ini,aku nggak ngerti apanya yang sama.”

Biyas menyilangkan tangannya lalu tersenyum, “masalah Bimo diantara kita sudah ada sejak dulu, Al.”

Aku menatapnya lama, “tapi itu nggak ada perasaan apa-apa, kita kan emang deket banget bertiga.”

“Alena, nggak pernah ada yang namanya persahabatan antara wanita dan pria. Satu-satunya orang yang nggak tahu seperti apa perasaan Bimo ke kamu, ya cuma kamu.”

“Waktu itu kamu yang selingkuh, bukan aku.”

Biyas mengangguk, “aku akui masalah itu, aku minta maaf. Waktu itu aku sudah cukup muak dengan kalian dan cara kamu yang selalu membela Bimo, benar-benar membuat aku kesal.”

Hening.

“Alena, jangan menyerah.”

Kami bertatapan lama, “aku tahu berapa lama Bimo menunggu kamu, tapi dia nggak pernah menyerah. Aku berharap kamu juga melakukan hal yang sama untuk dia.”

Biyas melepaskan cincinnya lalu meletakkannya di atas meja.

“Alena, i let you go. Berjanjilah kamu nggak akan pernah menyerah, berjanjilah untuk selalu menempatkan harapan demi harapan diatas segalanya dan berjanjilah kalau kamu akan bahagia. Kamu pantas untuk bahagia, Alena.”

Biyas berdiri dan tersenyum, “aku selalu kalah, Al. Kamu nggak tau seberapa besar keinginanku untuk memenangkan hati kamu, namun tetap saja aku selalu kalah.”

Biyas meninggalkanku sendirian di restoran. Mencerna semua ucapannya, mencoba mengerti kata demi kata. Kuusap wajah dan menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Seketika rasa lega menyeruak di dada.

Aku tersenyum.

Kutetapkan dalam hati bahwa mulai sekarang, aku akan hidup dengan bahagia. Setiap orang pasti memiliki harapan dan kesempatan. Aku akan terus bermimpi tentangnya, karena dengan mimpi aku mampu melanjutkan hidup. Aku akan selalu berharap bahwa suatu hari dirinya akan muncul dihadapanku, bahwa suatu saat Bimo pasti kembali. Dan dengan kesempatan yang kumiliki, aku akan hidup dengan penuh cinta bukan dengan ketakutan.

***

Enam bulan kemudian…

Sesuai janjiku, hari-hari kulewatkan dengan penuh semangat dan kuhabiskan hampir seluruh waktuku sibuk mengurus restoran.

Malam ini seperti biasa sepulang kerja aku selalu datang mengunjungi apartemen Bimo. Walaupun aku tahu apartemen itu kosong namun aku selalu sempatkan untuk berbaring sesaat hanya untuk memejamkan mata mengingat tentangnya.

Aku merogoh tas mencari-cari kunci pintu, cepat-cepat kubuka saat kutemukan kunci diantara isi tasku yang berantakan.

Aku meletakkan tas di atas meja lalu membaringkan tubuhku di atas sofa. Aroma parfumnya masih dapat kucium, aku tersenyum sambil mengingat keberadaannya.

Kupejamkan mata, “i miss you..” bisikku.

Tidur sebentar nggak ada salahnya, pikirku.

Kkraak!

Kubuka mata cepat dan jantungku berdegup kencang mendengar suara yang berderak dari luar pintu. Aku rasa orang-orang sudah banyak yang tahu kalau apartemen ini kosong.

Bagaimana kalau maling?

Aku harus bagaimana?

Aku berjalan hati-hati agar tak mengeluarkan suara. Segera kurogoh ponsel dan bersiap menelfon polisi sesaat sebelum pintu apartemen terbuka.

“Alena?”

Tubuhku mematung dan menatap dirinya tak percaya. Ponselku terjatuh dari genggamanku.

Bimo perlahan mendekatiku, “kenapa ada disini?”

Kupejamkan mata, “ini pasti mimpi..,” bisikku.

“Buka matanya.”

Aku mengernyitkan dahi lalu kubuka mata, “bukan mimpi?”

Bimo menggeleng lalu tersenyum, “bukan.”

Ponselku berdering dan aku tersentak. Kubuka mata dan menyadari bahwa aku kembali memimpikannya. Rasanya seperti nyata, aku benar-benar bisa mencium aroma tubuhnya dari jarak dekat.

Aku duduk perlahan. Meraih ponsel dan mematikan alarm lalu kembali memasukkannya ke dalam tas.

“Sejak kapan lo mulai tidur di sini?”

Aku menoleh dan menatapnya tak percaya. Dia berdiri disana, menyenderkan tubuhnya di tembok sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 9

Setiap orang memiliki luka di beberapa bagian tubuh, luka itu layaknya peta perjalanan rahasia yang memiliki ceritanya masing-masing. Kebanyakan dari luka lama kita sembuh dan tak meninggalkan apa-apa kecuali bekas luka. Tapi beberapa diantaranya tidak. Beberapa luka lama, kita bawa setiap saat dan walaupun bekas luka itu hilang, rasa sakit itu akan tetap tinggal di sana. Selamanya.

Hari ini merupakan hari terakhirku berada di rumah sakit. Seluruh dokter dan perawat hadir di ruangan untuk mengucapkan selamat jalan, “saya berharap tidak ketemu kamu lagi di rumah sakit ya,” ucap salah seorang dokter spesialis ahli bedah ortopedi.

Spontan semua tertawa, “terimakasih atas pelayanannya selama enam minggu saya di sini. Saya nggak betah jujur,” balasku bercanda.

“Tinggalkan semua rasa sakitnya di sini ya mbak Alena, yang dibawa pulang perasaan bahagia dan sehatnya aja,” salah seorang diantara mereka nyeletuk dari balik kerumunan perawat. Entah kenapa kata-kata itu seperti menusuk tepat di jantungku.

Kupaksakan senyum.

Apakah aku benar-benar sembuh?

Apakah lukaku benar-benar hilang?

***

Lama kutatap layar ponsel berharap Bimo menelfon atau seenggaknya memberikan kabar kepadaku. Semenjak kejadian waktu itu, tak pernah sekalipun dia datang ataupun membalas pesanku.

“Alena..” sapa ibu.

“Ya bu.”

Aku meletakkan kembali ponsel ke dalam tas.

Ibu tersenyum lalu meraih tanganku, “kita pulang? Nggak ada yang ketinggalan kan?”

Jantungku berdebar, rasanya masih perih di dada. Kutahan tangis, “nggak ada, bu.”

Kulangkahkan kaki keluar dari rumah sakit. Aku melihat Biyas berjalan mendekat lalu meraih tas di tangan ibu, “biar saya aja bu,” lalu menggenggam tanganku.

Biyas menggiring kami berjalan menuju parkiran mobil, “aku seneng akhirnya kamu bisa pulang,” katanya sambil tersenyum.

Kupaksakan senyum sambil tetap melirik ke arah parkiran berharap Bimo muncul diantara mobil-mobil.

“Kamu cari siapa, Al?”

Biyas menatapku lalu memasukkan tas ke dalam bagasi. Aku melirik ibu lalu menggeleng, “nggak ada.”

“Siapapun yang kamu cari, orangnya nggak ada disini.”

Biyas menatapku lama, “cuma ada aku disini didepan kamu, Al.”

“Aku tau.”

Aku menunduk mengalihkan pandangan. Mataku mulai berkaca-kaca.

Lama kutatap kaca jendela mobil, menghitung banyaknya mobil yang telah kami lewati sejak tadi. Sedangkan Biyas, tak hentinya berceloteh tentang semua teman-teman yang sudah menungguku di Jakarta, “mereka udah nggak sabar ketemu kamu,” katanya semangat.

Berulang kali kuteguhkan hati, kukuatkan diri menerima kenyataan bahwa Bimo tak akan berada didekatku lagi. Bahwa mulai sekarang, semua hari-hariku diisi bersama Biyas.

“Alena?”

Ibu menyentuh bahuku, aku tersentak “ya bu?”

“Dari tadi Biyas panggil kakak loh.”

Aku menoleh, “aku nggak denger, sori.”

“Kamu nggak apa-apa kan?” Biyas khawatir lalu meremas tanganku.

“Aku cuma agak capek.”

“Kamu tidur aja dulu, kita masih lama kok.”

Aku kembali mengecek ponsel. Satu pesan muncul dilayar, Lisa. Cepat-cepat kubuka.

“Al, hari ini pulang yah? Syukurlah.”

“Iya, Lisa. Thanks,” balasku.

“Btw, kita nggak jadi ikut Bimo ke New York loh. Dia pergi sendirian.”

Jantungku berdegup kencang begitu kubaca namanya, “kok nggak jadi? Dimana dia sekarang?”

“Ceritanya panjang, Al. Dia berangkat hari ini, lo nggak tau emangnya?”

“Hari ini?”

Iya Al. Kemarin dia pamit sama kita semua, dia nggak akan balik lagi kesini. Anak-anak semua sedih banget dan gue gak sengaja liat Bimo nangis tadi malem. Kira-kira dia kenapa yah, Al?”

Kuletakkan kembali ponsel di dalam tas dan kembali memandangi kaca jendela lalu mulai menghitung satu persatu mobil yang kami lewati. Kuusap airmata di pipi lalu kupejamkan mata, karena aku terlalu takut untuk membayangkan wajahnya.

***

Aku membaringkan tubuhku yang lelah di atas kasur. Ibu dan Biyas masih sibuk membereskan barang-barang di luar. Sementara aku sudah hampir tiga jam berada di dalam kamar, cuma tidur-tiduran.

Ibu mengetuk pintu kamar lalu membukanya, “kakak masih tidur?”

Aku bangkit dan duduk perlahan, “udah bangun, bu.”

“Temen-temennya udah pada dateng, yuk kita temui dulu.”

“Bimo udah pergi, bu.”

Ibu menatapku sedih, “kakak sudah memilih, kan? Bimo terima. Sekarang pergi merupakan pilihan dia, kakak harus terima.”

“Tapi dia nggak bilang apa-apa, dia pergi gitu aja.”

“Dia titip kamu, Alena.” Ibu menatapku lama lalu mengusap rambutku, “dia bilang tolong jaga Alena untuk dia.”

“Dia bilang-” tenggorokanku terasa tercekat. Aku tak sanggup berkata-kata hanya airmata yang mengalir di pipi.

“Lepaskan dia, Alena. Lepaskan dia seperti dia melepasmu. Ibu selalu berdoa semoga salah satu diantara kalian bisa bertahan dengan pilihan masing-masing.”

Ibu mengusap airmataku, “nah sekarang, ayo kita temui teman-teman kakak. Semua orang sudah menunggu.”

Ibu menggiringku keluar kamar. Saat itu semua orang ada disana, teman-teman lamaku, para karyawan restoran dan kru studio termasuk Lisa. Wajah mereka tampak bahagia, mereka tersenyum seolah-olah ini hari ulangtahunku.

Satu persatu mulai memelukku dan mulai bercerita betapa mereka sangat merindukan kehadiranku. Lama kelamaan aku mulai merasakan kehangatan akan kehadiran mereka. Rasanya menyenangkan menjadi orang yang dirindukan. Aku mulai bisa tersenyum dan melupakan Bimo sejenak dari pikiranku.

Aku duduk di sofa diantara teman-teman yang asyik ngobrol lalu aku meraih remot tv dan menyalakannya. Enam minggu aku terbaring di rumah sakit membuatku sama sekali buta tentang berita. Aku sama sekali nggak tahu apa yang terjadi selama berada di rumah sakit.

Jariku refleks memencet chanel berita dan menemukan breaking news.

“Ssh,” kataku pelan.

Aku mengeraskan suara tv, “diam!” teriakku.

Semua orang spontan terdiam dan menatapku bingung.

Kengerian memompa darahku dengan cepat saat kudengar pembaca berita mengatakan bahwa pesawat dari soekarno-hatta menuju New York hilang kontak. Aku berdiri dan mendekati tv lalu mengeraskan kembali volume suaranya. Itu penerbangan Bimo.

Tanganku gemetar dan remot terjatuh dari genggamanku. Biyas meraih tanganku namun cepat-cepat kutepis.

Penerbangan itu baru saja menempuh 94 menit sebelum akhirnya hilang dari radar.

Kupandangi wajah mereka satu-satu. Tak satupun dari mereka bergeming, mereka seperti patung. Kupandangi Lisa, matanya berkaca-kaca, lalu kulihat ibu sedang menutup mulutnya tak percaya.

Aku berlari ke arah pintu namun Biyas memelukku, “aku harus pergi,” suaraku bergetar.

“Alena, tenang dulu.”

“Aku harus pergi!!”

“Kamu tenang dulu.”

“Aku nggak bisa tenang!! Kenapa kamu suruh aku tenang?!”

“Kita nggak bisa berbuat apa-apa sekarang! Kamu mau ngapain?”

“I didn’t get to see him! I didn’t get to tell him goodbye because of you!!”

“Alena..”

“Harusnya kamu lepasin aku! Harusnya kamu lepasin aku dari dulu!!”

Biyas memelukku, “maafin aku, Alena.”

Aku meronta dan menangis sesunggukan dipelukan Biyas. Aku benar-benar terjatuh lemah, aku tak sanggup berdiri.

“Bimo pasti butuh pertolongan, Biyas tolong dia.. kita tolong dia..

“Maafkan aku..” bisik Biyas.

“I want him.. i want him..”

Aku mendengar suaraku yang hampir berbisik sebelum akhirnya aku menutup mata karena tubuhku tak mampu menahan kesedihan.

Seandainya kita mau mendengarkan kata hati kita, andai saja kita bisa memilih dengan lebih bijak. Mungkin kita bisa menghindari penyesalan terbesar yang pernah ada dalam hidup kita, penyesalan dimana kita melepaskan sesuatu yang berharga dan membiarkannya pergi begitu saja.

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 8

Kehidupan memberikan kita beberapa pilihan. Ya atau tidak. Masuk atau keluar. Atas atau bawah. Lalu kita akan menemukan beberapa pilihan yang sulit seperti, cinta atau benci. Menjadi pemberani atau pengecut. Memberi atau meminta. Melawan atau menyerah. Jadi, berhati-hatilah dengan pilihanmu, karena kita tak mungkin menukarnya kembali.

Aku masih terbaring di kasur rumah sakit dan rasa bosan sudah memenuhi kepalaku. Lukaku berangsur-angsur mulai sembuh, walaupun tangan dan kakiku yang masih terasa sakit namun setidaknya hari ini mereka sudah membuka kunci rahangku.

Hari ini tepat minggu ke empat dan ibu tak pernah seharipun meninggalkanku. Biyas dan Bimo secara bergantian menemani walaupun terkadang mereka masih tetap ‘perang’ masalah pembagian jadwal jaga.

Biyas mengetuk pintu, “hei, aku punya kejutan untuk kamu.”

Biyas masuk diikuti Nada yang bersembunyi dibelakangnya, “tante Alena!” teriaknya senang begitu melihatku.

Aku tersenyum lalu merentangkan tangan siap memeluknya, “Nada!”

Tubuh mungilnya yang hangat menentramkan hatiku yang sumpek.

“Nada kangen banget.”

“Oh ya? Sama tante juga.”

Ibu ikut tersenyum begitu melihat Nada, “halo gadis kecil siapa ini?” tanya ibu.

“Namanya Nada, bu. Puterinya Biyas.”

Nada dengan cepat mencium tangan ibu lalu tersenyum malu. Ibu melirikku sebentar lalu mengajak Nada untuk membeli es krim, “kita jajan es krim yuk,” lalu menggiringnya keluar.

“Maaf ya, aku baru ajak dia sekarang soalnya hari ini pas rahang kamu dibuka kuncinya.”

Biyas duduk di atas kasur, “kangen denger suara kamu, Al.”

“Sama.”

“Apa rasanya bisa bersuara lagi?”

“Rasanya pengen kampanye.”

Biyas tertawa, “Alena untuk Presiden 2019!”

Aku tak tahan untuk tertawa, “cocok nggak?”

“Jangan ah, nanti yang masak dirumah kita siapa kalo kamu jadi presiden?”

“Rumah kita?”

“Iya.”

“Biyas, masalah rencana pernikahan-”

“Pas banget kamu bahas, aku bawa katalog contoh undangan nih,” potong Biyas lalu mengeluarkan beberapa lembar contoh undangan beserta album katalognya dari dalam tasnya.

“Ini dia.”

Aku menatap bingung.

“Bingung ya? Sama aku juga,” Biyas mengambil undangan berwarna putih dengan garis tepi berwarna emas, “yang ini gimana?”

Undangan itu terlihat sangat cantik. Tapi bukan karena banyaknya pilihan yang membuatku bingung, “Biyas..”

“Atau yang ini?” Dia kembali mengambil contoh undangan berwarna merah lalu memegang keduanya.

“Biyas, tunggu dulu..”

“Ada apa, Al? Kamu nggak suka?”

“Ada yang ingin aku katakan.”

“Kamu masih capek? Aku simpen di sini aja ya contohnya.”

Bukan itu. Bukan.

Aku menatapnya lama, aku tak tahu barus memulai dari mana. Aku tak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya.

“Biyas, dengarkan aku-”

Biyas meraih tanganku, “jangan Alena,” suaranya mendadak menjadi berat dan serius.

“Aku tau,” potongnya.

“Apa yang kamu tau?”

“Kamu, Bimo. Kalian..”

“Aku-”

Dia menatap dalam mataku, “jika kamu tidak mencintai aku, aku mungkin tak akan mencinta. Lalu jika aku tidak bisa mencintaimu, aku mungkin tak akan bisa mencintai siapapun.”

Aku melihatnya. Aku melihat matanya yang mulai berkaca-kaca, aku melihat wajahnya yang memohon, aku melihat semuanya.

“Jika kamu memiliki sedikit cinta untukku dalam hidupmu, aku mohon bertahanlah pada cinta itu. Aku berjanji akan membuat cintamu bertambah setiap harinya.”

Ketika kita tak mampu untuk menjadi pemberani, maka kita harus puas hidup sebagai pengecut. Ketika kita tak mampu mengatakan yang sebenarnya, maka kita harus puas dengan cerita palsu. Ketika kita mengorbankan orang yang kita kasihi, maka kita harus puas hidup dengan kosongnya hati.

Aku meraih contoh undangan berwarna putih. Airmataku menetes tepat ditengahnya. Aku menatap Biyas dan menangis, “semoga cintaku bertambah setiap harinya.”

***

Aku duduk di bangku taman. Mataku lurus menatap pohon di kejauhan. Tanganku memegang kartu undangan berwarna putih. Aku sudah memilihnya. Aku menyukai warna putih dan aku sudah memilihnya. Tak ada waktu untuk kembali. Tak ada waktu untuk menyesal. Aku memilihnya, titik.

“Dicari kemana-mana, ternyata ada di sini.”

Aku menoleh dan menemukan Lisa berdiri di belakangku. Aku tersenyum, “dari kapan di situ?”

“Barusan kok, eh udah bisa ngomong?”

Aku mengangguk, “akhirnya.”

Lisa duduk di sampingku, “Bimo udah cerita belum dia dapat tawaran kerjaan?”

Aku mengernyit, “tawaran kerjaan?”

“Iya.”

“Kerjaan apa?”

“Ya fotografi.”

“Maksudnya dimana?”

“Di luar dan kalo deal kita semua bakalan diajak, anak-anak studio excited banget.”

Lisa tersenyum senang.

“Di luar maksudnya?”

“Di luar negeri, Al. Eh, itu contoh undangan?” Lisa meraih kartu undangan dari tanganku dan membolak-baliknya, “bagus banget ih.”

“Sekarang dia dimana?”

“Jadinya tanggal berapa acaranya?”

“Lisa, dimana Bimo?”

“Acaranya mau dimana?”

“Lisa!”

Lisa terkejut menatapku lalu mengembalikan kartu undangan ke tanganku, “dia lagi di lobi tadi, katanya mau ke kantin dulu.”

“Nyari gue?”

Bimo muncul dari belakang sambil menyeruput kopi dan spontan Lisa langsung berdiri, “aku ke dalam dulu,” lalu berlari gesit ke dalam.

“Dapet tawaran kerja?” tanyaku langsung.

“Proyek gede, lumayan,” Bimo berdiri di depanku, “eh udah bisa ngomong?”

“Kok nggak cerita?”

“Apanya?”

“Kata Lisa kerjanya di luar, maksudnya di luar tuh dimana?”

“Langsung cerewet gitu ya.”

“Bimo!”

Bimo mengernyit, “kenapa jadi marah sih?”

“Ya habisnya lo nggak jawab.”

Bimo duduk di sampingku, “santai dong, tadinya mau cerita hari ini.”

“Trus?”

“Trus apa, Al? Iya ini kan baru ketemu, baru mau cerita.”

“Di luar dimana? Duh, bertele-tele banget sih.”

Bimo menatapku bingung, “lo sendiri udah ngomong sama Biyas soal kita?” lalu menatap kartu undangan di bangku.

Dengan cepat tangannya meraih dan membolak-baliknya, “apaan nih?”

Aku memejamkan mata lalu menarik napas dalam, “masalah itu..”

“Ini apaan?!” Bimo mendekatkan kartu undangan itu tepat di depan mataku.

“Contoh undangan.”

Dahinya mengernyit, “contoh undangan? Lo belom ngomong sama dia?”

“Masalahnya terlalu rumit.”

“Masalahnya nggak rumit, lo tinggal bilang kalau rencana pernikahannya batal.”

“Nggak segampang itu.”

“Kita udah sepakat, Alena. Lo pasti bisa. Katakan yang sebenarnya.”

Aku menggeleng.

Bimo meraih tanganku, “Alena, dengerin gue-”

Aku menarik kembali tanganku.

“Gue udah memilih,” tak sanggup menatap matanya, “gue pilih Biyas, maafkan gue.”

Bimo mengusap wajahnya, “bisa gitu, ya? Beberapa hari yang lalu lo bilang pilih gue, hari ini lo berubah jadi pilih dia. Kenapa?”

“Bim, plis.”

“Karena dia kaya?”

“Bimo, jangan mulai.”

“Karena kata-kata puitisnya?”

“Dia lebih membutuhkan gue.”

“Omong kosong!”

“Bimo..”

“Alena,” Bimo berdiri tepat di depanku, “pilihan lo gampang ‘gue’ atau ‘dia’ dan gue tau dia hebat, tapi Alena, I love you. Sampai di titik hal yang paling gue benci tentang lo tapi gue tetap cinta. So, pick me! Choose me! Love me!”

Mataku mulai berkaca-kaca dan aku menarik bajunya hingga dia merendahkan tubuhnya sejajar dengan mataku.

“Ini tentang apa yang lo inginkan, bukan apa yang dia inginkan,” Bimo mengusap wajahku lembut.

“Lo mau gue berlutut? Gue berlutut sekarang.”

Aku menggeleng.

“Gue harus apa, Al?”

“Berhenti, tolong.”

“Belum terlambat buat katakan yang sebenarnya, Al.”

“Dia tau.”

“Dia tau?”

“Dia tau tentang perasaan gue yang sebenarnya. Dia tau gue mencintai elo.”

“Terus kenapa-”

“Gue tetap memilih Biyas. Keputusan gue udah bulat dan acaranya bulan depan,” potongku.

Hening.

Bimo berdiri lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana, “gue baru tau ternyata lo segampang ini.”

“Bimo!”

“Kenapa nggak pilih yang lebih kaya atau lebih keren dari Biyas sekalian? Banyak kok, mau gue kenalin?”

“Memangnya kenapa kalo gue pilih Biyas? Apa yang salah dari itu? Nggak ada! Lo tau kenapa nggak ada? Karena Biyas punya semua yang gue mau, dia punya kualitas seorang suami. Dan lo mau tau sifat lo yang paling menyebalkan? Lo selalu kekanak-kanakan dan gue muak. Gue benar-benar sudah muak!”

Bimo menatapku marah. Aku bisa melihatnya menahan amarah.

“New York.”

Aku mengernyit bingung.

“Proyeknya di new york, tadinya gue tolak tapi sepertinya gue harus terima tawarannya.”

Hening.

“Sejauh itu?”

“Lo adalah orang yang gue harap bisa gue lupakan saat gue pergi nanti dan lo ingat kata-kata gue ini, Al. Ketika gue pergi, lo akan merindukan gue dan ketika lo merasakan rindu itu, lo akan menyadari bahwa lo cuma bisa menyalahkan diri lo sendiri. Dan gue berharap kesalahan itu membuat lo sakit, seperti rasa sakit yang gue rasakan sekarang!”

Bimo mengambil kembali kartu undangan dan membukanya, “lo nggak mencintai gue, Alena. Lo cuma nggak mau merasa sendirian, dan gue cuma sekedar cukup untuk memenuhi ego lo atau mungkin gue bisa membuat lo merasa lebih baik selama ini karena hidup lo yang menyedihkan, tapi lo sama sekali nggak mencintai gue. Karena lo seharusnya tidak menghancurkan seseorang yang lo cintai.”

Aku melihatnya menangis, kali ini dia benar-benar meneteskan airmatanya.

“Dan apapun yang ada diantara kita, yang pernah ada atau tidak, IT’S OVER!”

Bimo melempar kartu undangan tepat di wajahku dan meninggalkanku.

Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bahagia. Mungkin hidup tentang menghargai sedikit kebahagiaan. Mengagumi suatu perjuangan kecil. Hidup mengajarkan tentang rasa syukur yang tak selalu berhubungan dengan sukacita. Kesedihan dan kekecewaan merupakan rambu-rambu kehidupan dan kita hanya perlu melewatinya. Karena di penghujung jalan, kita hanya perlu berdiri sendiri dan bertahan dengan apa yang kita miliki.

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 7

Aku mencoba untuk membuka mata, aku bisa melihat tv yang menyala di depanku dan aku tahu aku sedang berada di rumah sakit namun aku tak melihat seorangpun disampingku. Kutelan ludah dan seketika rasa nyeri ditenggorokan menyerangku lalu kurasakan lelahnya tubuh sampai-sampai rasanya aku tak sanggup menggerakkan jariku.

Aku berusaha memanggil siapapun yang ada di sana namun aku tak bisa membuka mulutku. Kucoba kembali menggerakkan tangan kiri perlahan meraih kabel bantuan yang ada di sisi kanan. Seketika kulihat Bimo mendorong pintu dan melihatku.

Aku menoleh, “Bimo!” pekikku dalam hati. Masih tak mengerti kenapa aku tak bisa membuka mulutku.

Bimo meraih tanganku, “Al..”

Aku memeluknya dan kupejamkan mata, menangis.

“Jangan nangis,” bisiknya khawatir lalu balas memelukku, “plis.”

Bimo membantuku menaikkan sedikit sandaran dan aku bisa melihat gips pada kaki kiri, topangan siku kanan dan aku merasa sangat kesakitan pada bagian leher dan dada.

“Selamat pagi,” sapa seorang dokter bersama seorang suster yang langsung tersenyum melihatku.

“Pasien baru sadar dok. Alena ShaLenore, mengalami robek pada pelipis kanan, dislokasi siku kanan, dislokasi rahang bawah, pembengkakan lutut dan patah tulang kiri, memar leher disertai bengkak dan patah tulang rusuk kanan yang mengakibatkan collapsed lung,” jelas suster.

Dia mendekat lalu mengangkat jari telunjuknya tepat di depan mataku, “ikuti jari saya.”

“Apa maksudnya collapsed lung?” tanya Bimo bingung.

“Terjadi penimbunan udara pada rongga pleura, dinding tipis di antara paru-paru dan rongga dada. Jadi tekanan dari udara yang menumpuk memicu pengempisan paru-paru hingga kolaps.”

Dokter menatapku sebentar, “itu sebabnya kita terpaksa melubangi rongga dada pasien lalu memasukkan selang agar tekanan berkurang dan bentuk paru-paru kembali seperti semula.”

Aku menatap tak percaya, pantas saja sakitnya terasa di sekujur tubuhku sampai-sampai jariku saja tak sanggup kugerakkan .

Aku menunjuk mulutku.

“Oh itu,” dokter menatap Bimo lalu kembali menoleh kearahku, “kami harus mengunci rahang anda minimal selama 6 minggu karena dislokasi yang sangat parah.”

Enam minggu?!

Aku tak bisa bicara selama enam minggu?!

“Alena!”

Biyas masuk tergopoh-gopoh dan langsung mendorong Bimo lalu meraih tanganku, “yang mana yang sakit? Kasih tau aku yang mana yang sakit, Al. Harusnya aku nggak biarin kamu nyetir sendirian.”

“Harusnya emang nggak,” kata Bimo ketus.

Aku menatap Bimo lalu menggeleng, “jangan mulai,” kataku dalam hati.

“Baik, apabila tidak ada lagi yang ditanyakan-”

“Sebentar, jadi kondisi pasien seperti apa dok?” tanya Biyas panik.

“Tadi sudah dijelaskan secara rinci pada keluarga-” dokter menunjuk Bimo.

“Dia bukan keluarganya. Saya yang keluarganya, saya calon suaminya, kami baru aja tunangan.”

Awalnya dokter menatapku lalu beralih ke Bimo setelahnya Biyas dan kembali menatapku. Dokter menaikkan alisnya seolah-olah mengerti bahwa ini situasi cinta segitiga.

“Baik, nanti bisa dijelaskan kembali oleh mas yang bukan keluarganya ini,” dokter menunjuk Bimo.

Aku ingin tersenyum tapi rasanya sakit sekali untuk menggerakkan bibirku.

“Trus kapan pasien bisa pulang?” Biyas mengusap rahangku.

Aku mengerang kesakitan.

“Kenapa sayang? Ada yang sakit?” tanya Biyas bingung.

Bimo menepis tangan Biyas dari pipiku, “tangan lo yang bikin sakit,” lalu mereka memulai sinyal perang.

Biyas mengernyit kesal.

“Setidaknya pasien harus dirawat intensif selama 6 minggu disini, saya akan mengobservasi kemajuannya setiap hari.”

“Enam minggu?”

Dokter mengangguk, “mudah-mudahan bisa lebih cepat.”

“Tapi kenapa pasien kayak kesulitan bicara, dok?” Biyas masih tetap ingin mengusap rahangku.

Kali ini aku menepisnya dengan cepat.

Dokter tersenyum padaku lalu mengangguk pada Bimo, pamit.

***

“Dokter nelfon minta izin operasi, terlalu lama kalo nunggu gue datang ke sini.”

Bimo mulai menjelaskan kronologisnya. Biyas masih duduk di sampingku, “tapi kenapa dokter bisa nelfon lo?” Biyas penasaran.

Oh, tidak!

Terakhir kali orang yang kutelfon adalah Bimo. Mungkin pihak rumah sakit langsung mengecek call history dan menelfon panggilan terakhir tanpa pikir panjang.

Aku menggeleng pada Bimo.

“Nggak tau,” Bimo mengendikkan bahu lalu menatapku malas.

“Yang penting kamunya cepat ditangani, aku panik waktu tau kamu kecelakaan.” Biyas mengelus-ngelus tanganku.

Aku tersenyum.

“Lo lagi dimana waktu itu?” Bimo menatap Biyas serius.

“Waktu kapan?”

“Waktu dia nyetir sendirian.”

“Gue.. gue lagi ada kerjaan,” jawab Biyas gugup.

Tatapan sinis Bimo membuatku bingung. Aku menoleh kearah Biyas, mengernyitkan dahi.

“Aku sudah jelasin kamu waktu itu kan? Kamu liat sendiri aku sedang ada di persidangan waktu itu, ya kan?”

Aku berusaha mengingat, memang hari itu aku menelfon Biyas dan memintanya untuk mengantarku kerumah ibu, tapi dia sedang sibuk. Aku sama sekali nggak ingat pernah melihatnya di ruang sidang.

Aku menggeleng.

Come on, Alena! Aku nggak mungkin macem-macem. Itu pikiran gila,” ucapnya kesal.

“Kata orang sifat itu susah dirubah.”

“Bim, tolong jangan mulai. Lo udah nggak ada urusan disini.”

“Kenapa? Karena gue bukan keluarganya?”

Bimo dan Biyas mulai bertengkar.

“Tepat. Lo bukan siapa-siapa disini dan kita berdua udah muak lo selalu ada diantara gue dan Alena.”

Aku berusaha menghentikan pertengkaran ini namun aku tak sanggup bicara ataupun melerai mereka.

“Kalian berdua atau cuma lo doang?”

“Kita berdua.”

Bimo mulai tertawa, “Alena juga berarti? Alena muak sama gue? Coba lo cek lagi sama orangnya, bro.”

“Aku paling nggak suka sifat dia yang kayak gini, Al. Dari dulu kamu tau kan dia nggak berubah, masih aja kayak anak kecil!”

Biyas menoleh kearahku dengan kesal dan mengingatkanku lagi masa-masa SMA saat mereka selalu bertengkar karena hal sepele.

Aku menatap Bimo dan memberikan isyarat untuk berhenti bertengkar.

“Kamu percaya sama aku kan?” tanya Biyas.

Aku mengangguk lalu tersenyum dan Biyas kembali memelukku.

Kutatap Bimo yang masih tampak kesal, “gue jemput ibu dulu.”

***

Biyas mendorong kursi roda dan membawaku jalan-jalan keluar kamar. Akhirnya aku bisa menghirup udara segar, rasanya sumpek kali di dalam sana.

Kami berhenti di depan taman dan Biyas duduk di bangku sebelahku. Dia meraih tanganku lalu mengecupnya, “aku bisa gila kalo nggak sama kamu, Al.”

Aku tersenyum.

“Ibu kamu masih inget nggak sama aku?”

Aku mengangguk.

“Terakhir kali ketemu ibu kamu udah lama banget.”

Aku melihat Bimo datang bersama ibu. Wajah ibu tampak tua dan khawatir. Biyas berdiri lalu mencium tangan ibu, “apa kabar bu? Saya Biyas.”

Ibu tersenyum, “Biyas, ibu masih ingat.”

Ibu meraih tanganku, mata ibu berkaca-kaca, “ibu khawatir sekali, Alena.”

Aku tersenyum lalu mencium tangan ibu.

“Bimo tadi malam telfon ibu, katanya kakak kecelakaan. Tapi ibu bersyukur untung ada Bimo yang ngurus-ngurus semuanya.” ucap ibu lalu menatap Bimo.

“Kita kan udah seperti keluarga, bu.”

Bimo melirik Biyas senang, dia merasa menang.

Aku mengisyaratkan Bimo dan Biyas untuk meninggalkanku dan ibu berdua. Biyas mengecup tanganku lalu pamit, “aku tunggu di dalam.”

Ibu tersenyum melihat Biyas mengecup tanganku, “dia ganteng ya, kak.”

Aku menoleh, tersenyum.

“Kakak sudah yakin dengan pilihan kakak?”

Aku menatap ibu merasa bingung harus bereaksi apa.

“Bimo?” tanya ibu pelan, “ibu berharap dia baik-baik aja.”

Angin lembut menyentuh pipiku, terasa dingin. Ibu tersenyum lalu membelai rambutku, “kalau kita memiliki cinta, kita tak akan memerlukan apapun. Tapi kalau kita tidak memilikinya, apapun yang kita punyai tak terasa berharga.”

Airmataku mulai menggenang.

“Hiduplah dengan orang yang mengenalmu, Alena. Bukan dengan orang yang gila karenamu.”

Aku menatap ibu lama, entah kenapa airmataku jatuh tak tertahankan. Seolah-olah ibu bisa membaca isi hatiku.

Seharusnya kita tak pernah menunda untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan. Karena penyesalan datang tak pernah mengetuk pintumu atau mengabarimu dari jauh-jauh hari. Seharusnya kita tahu betapa pentingnya meluangkan waktu untuk mengatakan kepada orang terdekat kita bahwa kita mencintai mereka selagi mereka masih bisa mendengarkan.

Karena kita tak pernah tahu terakhir kali akan menjadi yang terakhir kalinya. Kita mengira akan ada lebih banyak waktu lagi, kita pikir kita memiliki waktu selamanya, tapi kenyataan tidak.

Ibu mengusap airmataku, “oh, Alena..”

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 6

Tahukah kalian, memulai hubungan dengan suatu ketidakjujuran justru akan membawa kita semakin dekat dengan perpisahan. Mengatakan kejujuran yang akan membuat seseorang menangis jauh lebih baik dari pada satu kebohongan yang membuatnya tersenyum.

“YES!”

Aku bisa melihat mata Biyas berbinar saat kukatakan ‘ya’.

“Kamu nggak tau aku hampir gila nunggu jawaban dari kamu.”

Biyas memelukku erat. Saking eratnya sampai-sampai aku merasa sesak.

“Thank you,” Biyas menggenggam tanganku dan menatapku lama.

Kupaksakan senyum, “nggak perlu ucapan terimakasih.”

“Perlu! Dan kamu tau ini penting buat aku.”

Biyas tersenyum dan aku masih tetap mengagumi senyumannya, “aku janji, aku nggak akan tinggalin kamu demi apapun atau siapapun.”

Biyas lurus menatapku, “aku janji,” lalu kembali memelukku. Kupejamkan mata namun bayangan Bimo memenuhi seluruh pikiranku.

Saat kita mengatakan satu kebohongan, maka yang kita dapatkan hanyalah cerita kosong yang sempurna. Tak peduli sekecil apa kebohongan itu, kebohongan tetaplah kebohongan.

***

Aku sedang sibuk mempersiapkan acara pembukaan restoran yang sebentar lagi dimulai saat Biyas membuka pintu depan dan langsung tersenyum padaku, sedikit perasaan hangat menjalar di dalam tubuh. Walau bagaimanapun dia tetap pria yang aku kagumi.

“Sibuk?”

Biyas mendekatiku.

“Tinggal beberapa aja sih,” aku mengambil es krim dari freezer lalu menyerahkannya pada Biyas.

“Makan es krim bareng yuk,” ajakku.

“Oh, tunggu.”

Biyas berlari keluar dan membuka pintu mobilnya, aku menunggunya sambil duduk di teras depan saat Biyas menggandeng anak perempuan cantik yang tersenyum padaku.

Aku menatapnya bingung, “ini siapa?” tanyaku penasaran pada Biyas.

“Al kenalkan, ini putriku. Namanya Nada,” ucapnya senang.

Aku terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya Nada meraih tanganku dan menciumnya. Aku tersentak, “oh, hai Nada. Nama aku Alena.”

Saat Nada tersenyum, aku tahu dari mana dia mendapatkan senyuman itu. Dan aku langsung jatuh cinta padanya, “kamu cantik sekali,” kataku tersenyum.

Nada menggeleng, “tante yang cantik, ayah selalu bilang gitu.”

Aku menoleh pada Biyas, “kalian berdua sama-sama cantik,” ucapnya.

“Nada suka es krim nggak? Kita makan bareng-bareng yuk.”

Nada menengadah, “boleh ayah?” tanyanya polos.

“Boleh dong.”

Lalu aku menggiring Nada ke tempat duduk dan melahap es krim bersama. Hari itu matahari sangat terik, udara panas terasa membakar kulit untungnya kami memiliki hati yang sejuk entah karena es krim atau karena Nada yang tersenyum sepanjang waktu.

Aku menatap Biyas dan kukatakan di dalam hati berulang kali bahwa aku baik-baik saja. Bahwa ini adalah yang kuinginkan, bahwa semua yang ada disini adalah sempurna.

“Jam berapa mulai acaranya?”

“Sebentar lagi, udah pada dateng kok.”

“Oke, makan es krim nya udahan dulu. Kita bantuin tante Alena ya.”

Nada mengangguk, “asyik, aku suka bantu-bantu,” ucapnya riang.

Aku menggandeng tangannya lalu membuka pintu restoran, “nah Nada duduk disini,” kataku lalu menyerahkan balon, “Nada bantu tiupin balon yah, mau?”

“Mau.”

Aku meninggalkannya dengan Biyas dan kembali ke teras. Kali ini aku berdiri di depan restoran dan memperhatikan papan nama yang bertuliskan namaku disana. Aku tersenyum senang.

“Hei.”

Aku berbalik dan mendapati Bimo, “hei,” kataku canggung.

“Nama restorannya bagus.”

Thanks.”

Kami bertatapan cukup lama dalam diam.

“Makasih udah mau dateng,” kataku akhirnya.

“Kalo gue nggak dateng, siapa yang mau fotoin acaranya.”

“Iya sih,” kataku menggigit bibir.

Hening.

“Al, masalah kemaren-”

“Gue yang salah,” sergahku.

“Tentang pertanyaan lo kemaren,” Bimo menatapku serius, “lo berhak tau kalau gue-”

Sebelum sempat Bimo menyelesaikan kalimatnya, Nada berlari kearahku, “tante balonnya udah habis,” ucapnya.

Aku menatap Bimo panik. Entah kenapa aku tak ingin Bimo tahu kalau Nada adalah putri Biyas. Bimo mengangkat alisnya lalu mencoba merendahkan tubuhnya sehingga sejajar dengan Nada, “hai cantik.. nama kamu siapa?” tanya Bimo ramah.

“Nada.”

“Namanya bagus banget, cantik kayaknya orangnya.”

Nada menggeleng, “kata ayah tante Alena yang paling cantik.”

“Ayah?”

“Pada ngumpul disini semua ternyata,” Biyas keluar dan mendekati kami, “ayah cariin kemana-mana dari tadi.”

Bimo menatapku bingung dan aku tak sanggup untuk membuka mata.

“Al masuk yuk, udah mau dimulai acaranya,” ajak Biyas tanpa memperdulikan Bimo.

“Bim masuk yuk,” kataku canggung.

Aku menatapnya lemah, Bimo mengendikkan bahu, “duluan.”

Didalam orang-orang sudah menunggu agar acaranya dimulai. Mereka meminta untukku memberikan sambutan namun Biyas berjalan ke depan lalu menggandeng tanganku.

Semua teman-temanku menatap curiga, aku belum sempat bercerita apapun tentang hubunganku dengan Biyas. Mereka tampak berbisik-bisik.

“Sebelum semuanya dimulai aku dan Alena ingin mengumumkan sesuatu.”

Oh Tidak!

Jangan disini, plis.

Wajahku berubah menjadi panik saat kulihat Bimo masuk lalu ikut memperhatikanku.

“Semalam aku melamar Alena dan alhamdulillah she said yes. Kami akan menikah!” Biyas menggenggam erat tanganku lalu mengangkatnya seperti seseorang yang baru saja memenangkan perlombaan.

Spontan semua orang terkejut lalu diikuti tepuk tangan yang semakin lama semakin riuh, mereka memelukku dan berteriak, “congrats!”

Diantara pelukan demi pelukan kuperhatikan Bimo yang berdiri di sudut ruangan sedang menatapku. Matanya berkaca-kaca dan kupaksakan tersenyum walaupun akhirnya airmata tumpah ke pipiku. Harusnya aku bahagia tapi entah kenapa aku merasa sangat sedih.

“Tangis bahagia!” ucap salah satu temanku dan mereka kembali bersorak senang.

***

Aku menelurusi jalan lurus yang membosankan. Sudah 3 jam aku menyetir sendirian menuju rumah ibu. Aku memutuskan untuk mengunjungi ibu di kampung. Beliau tinggal sendirian di rumah peninggalan ayah, ia bersikeras tinggal disana hanya ditemani salah satu sepupuku.

Aku berada tak jauh dari rumah ibu saat beliau menelfonku, “sudah sampai mana, nak?” tanyanya lembut.

“Sebentar lagi, bu.”

“Hati-hati, Alena.”

“Iya, bu.”

Kuletakkan kembali ponsel diatas dasbor namun kulirik kembali. Aku menggigit kuku jemariku dan bertanya-tanya apakah aku harus memberitahu Bimo bahwa aku menemui ibu, mengingat mereka sangat dekat. Lagian aku yakin ibu pasti sangat merindukannya.

Ya, ibu.

Aku menelfonnya karena ibu, bukan karena alasan lain.

Aku menggigit bibirku sambil mendengarkan nada masuk. Tak butuh waktu lama untuk Bimo mengangkat telfonku, “halo-”

Klik.

Kutekan tombol merah cepat. Jantungku berdegup kencang dan rasa panas mulai menjalari pipiku.

Bodoh!

“Ngapain sih gueee?!”

Ponselku kembali berdering dan tentu saja Bimo balik menelfonku. Panik menyerbu dengan cepat sampai-sampai aku harus memakirkan mobil di pinggir jalan.

Aku menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, “halo?” sapaku.

“Hei,” jawabnya lirih.

“Ng..”

“Ada apa?”

“Nggak, gue cuma mau bilang lagi dijalan mau kerumah ibu.”

“Ibu?”

“Iya, gue ke rumah ibu.”

“Nyetir sendirian?”

“Iya, lagi sendirian kok,” jawabku agak semangat dan berlebihan.

“Oh, oke.”

“Bim masalah yang kemaren-”

“Nggak usah dibahas lagi, sudahlah.”

“Tapi gue masih ingin mendengar jawabannya, Bim.”

Lama Bimo tak menjawab hanya terdengar deru nafasnya yang berat lalu akhirnya dia mengatakan, “hati-hati, Al.”

Klik.

Aku masih memegang ponselku di telinga agak lama sebelum akhirnya aku sadar kalau Bimo telah menutup telfonnya beberapa detik yang lalu.

Kuletakkan ponsel kembali diatas dasbor dengan perasaan lemah lalu menginjak gas dan memutar stir mobilku kembali ke jalan.

Butuh beberapa detik sampai akhirnya aku sadar suara klakson memekakkan telingaku. Sudah terlambat saat aku menyadari bahwa truk bermuatan pasir menghantam keras tepat di pintu pengemudi.

Rasanya seperti bergerak lambat saat kurasakan tubuhku melayang akibat hantaman yang keras. Aku merasa sakit yang teramat sangat ketika kepalaku terbentur kaca jendela dan rasanya ingin muntah karena mobil ini tak berhenti berguling.

Aku berusaha membuka mata, walaupun sangat sulit karena kesakitan namun aku berusahan meraih ponsel yang tergeletak tepat di sebelahku.

Kutekan tombol redial dan pengeras suara.

“Kenapa lagi, Al?”

“Bim..” rintihku.

“Al?”

Sayup-sayup aku mendengar orang yang berteriak dari luar untuk mencari pertolongan. Sebelum akhirnya aku menutup mata karena tak kuat menahan sakit yang teramat sangat. Terakhir yang kuingat adalah suara Bimo yang berteriak memanggilku di ponsel.

“ALENAA!!”

Bersambung…

Ternyata Itu Dia. Episode 5

Saat kata-kata terasa sulit untuk diungkapkan, diam adalah jawaban yang terbaik. Namun kita juga harus tahu bahwa tak satupun yang bisa menebak jawabannya, apakah ‘iya’ atau ‘tidak’. Kata-kata itu akan selalu terjebak didalam dirimu, selamanya.

“Kok kamu diam aja? Kepikiran Bimo ya?” Biyas menoleh sebentar lalu tersenyum. Dia duduk di bangku supir, matanya lurus memandang ke depan.

“Bimo bilang tadi dia ada urusan jadi dia pulang duluan.”

“Iya, tapi tetap aja dia ninggalin kamu.”

“Karena ada urusan.”

“Dia tinggalin kamu karena suatu urusan, menurutku sama sekali nggak keren.”

“Kalian berdua kenapa sih?”

Biyas menepikan mobilnya, “aku juga bingung kenapa Bimo selalu sensi kalo ketemu aku.”

“Tapi Bimo bukan orang yang gampang kesal, dia terlalu cuek untuk marah.”

“Nah kamu liat sendiri kan sikapnya gimana, kamu bisa nilai sendiri.”

“Aku kenal Bimo udah lama, aku tau dia.”

“Mungkin dia cemburu kalo kita deket lagi.”

Cemburu?

“Al, dengerin aku,” Biyas tampak panik.

“Bimo cemburu?” kataku masih belum percaya.

“Mungkin aja.”

Dahiku mengernyit dan mendadak memikirkannya. Jadi Bimo benar-benar suka padaku?

“Dengerin aku, Al.”

Biyas menarik tanganku dan membuyarkan lamunan. Aku menoleh, “aku harus-”

“AKU SERIUS SAMA KAMU,” sergah Biyas sebelum sempat aku selesaikan kalimatku.

Hening.

Lidahku kelu tak mampu membalas ucapannya, aku pasrah saat Biyas mengecup keningku.

“Aku mau kita menjalin hubungan secara resmi. Aku benar-benar serius,” tambahnya.

Aku sudah cukup lama menunggu dan menghayal kalau suatu saat Biyas akan mengatakan hal ini padaku dan aku melatih senyumku berjuta-juta kali di depan cermin. Tapi nyatanya, malam ini sulit bagiku untuk tersenyum saat mendengarnya langsung.

“Aku-” kataku hampir berbisik.

“Alena, kamu mau kan?”

Ya. Aku mau!

Kenapa aku tak mampu menjawabnya? Bukankah ini yang aku tunggu-tunggu? Kenapa aku malah memikirkan Bimo? Alena, say something!

“Aku butuh waktu,” kataku akhirnya.

Biyas mengusap wajahnya, “waktu?” sekelebat kekhawatiran menghantuinya.

Aku mengangguk pelan, “cuma mau memastikan sesuatu.”

“Oke, tapi jangan lama-lama ya,” sambungnya dan tersenyum.

Aku butuh memastikan perasaan itu. Aku perlu memastikan apakah Bimo benar memiliki perasaan suka terhadapku. Entah kenapa aku ingin mendengarnya sendiri, aku ingin penyataan itu keluar dari mulutnya sendiri.

***

Lama kupandangi nama Bimo di layar ponsel lalu kuletakkan kembali di atas nakas.

Kurebahkan tubuh di kasur dan memejamkan mata. Bayangan Bimo saat dia tersenyum berseliweran menghantuiku. Aku memutuskan untuk meraih kembali ponsel dan menekan nomornya, “Hei…” aku menggigit bibirku.

“Al, belum tidur?”

“Ada yang mau gue tanyain.”

“Ada apa?”

“Nggak bisa ditelfon, besok lo ada waktu nggak?”

“Serius banget emangnya?”

“Iya.”

“Hm, besok ada pemotretan sih, kalau emang penting banget dateng aja ke studio.”

“Oke.”

“Al?”

“Ya.”

Hening.

“Tadi filmnya bagus?”

“Oh, bagus,” kupejamkan mata “urusan yang tadi udah beres?” tanyaku.

“Udah. Sori ya tadi nggak nemenin sampe beres.”

“Nggak masalah.”

Percakapan ini mulai terasa canggung. Kami hanya diam untuk beberapa saat. Hanya terdengar suara napas beratnya, “tidur gih,” kata Bimo akhirnya.

“Oke,” bisikku.

***

Lama aku berdiri di depan pintu studio milik Bimo. Papan logo bertuliskan Bergas Bimo Photography terpampang jelas di atas pintu masuknya.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Aku berdiri di belakang memperhatikan Bimo memotret. Terkadang Bimo membetulkan posisi rambut sang model sebentar lalu mundur dan kembali memotret.

Bimo menoleh, menyadari keberadaanku, “hei,” sapanya.

Aku mengangkat alis, “hei,” balasku tersenyum.

“Bentar ya.”

Bimo mengganti lensa kameranya lalu kembali memotret, “oke, ganti baju dulu,” ucapnya dan mengecek hasilnya di laptop.

Dia menarik kursi di sebelahku dan menyuruhku duduk lalu menarik kursi satu lagi untuknya, “mau nanya apaan sih? Kayaknya di telfon serius.”

“Oh. Hm, aku cuma mau memastikan sesuatu aja,” kataku canggung.

“Memastikan apa?”

Aku menatapnya lama. Tiba-tiba keraguan merasuki diriku, bertanya-tanya apakah aku harus menanyakan hal ini pada Bimo.

“Al?”

Aku tersentak, “ya?”

“Lo mau memastikan apa?” tanya Bimo sekali lagi.

“Biyas bilang sesuatu.”

“Biyas? Dia ngomong apa?”

“Dia bilang kalau-”

“Kenapa harus selalu tentang dia sih, Al?” potong Bimo kesal lalu berdiri menuju laptopnya.

Aku menyusulnya, “kenapa lo selalu marah sih kalo gue sebut-sebut Biyas.”

Bimo menoleh, “dia bilang apa?”

“Kenapa lo marah?”

“Dia bilang itu? Dia bilang ke lo buat tanyain kenapa gue selalu marah denger namanya?” Bimo menatapku heran.

“Bukan. Itu gue yang nanya.”

“Jadi dia bilang apa?”

“Jawab dulu pertanyaan gue.”

Kali ini Bimo tampak benar-benar kesal, “gue sibuk, Al.”

Bimo kembali memotret dan meninggalkanku di belakang. Aku memperhatikan Lisa yang bolak-balik membantunya, terkadang Lisa ikut mengintip hasilnya. Dia seperti anak kecil yang selalu mengikuti kemana orangtuanya pergi, tubuhnya yang kecil dan selalu tersenyum membuat Lisa tampak gesit sekaligus menjadi favorit diantara kru studio.

“Oke, ganti baju lagi.”

Kuperhatikan Lisa menggiring model ke dalam ruang ganti dan Bimo menatapku sebentar lalu mengecek hasilnya di laptop.

Aku mendekatinya perlahan.

“Dia bilang,” aku menggigit bibirku.

“Bilang apa, Al?”

“Bilang…”

Bimo menoleh lalu berdiri menghadapku, “just say it.”

“Dia bilang lo suka sama gue,” kataku akhirnya.

Lalu mendadak seisi ruangan senyap tak bersuara dan menoleh ke arahku.

Dahinya mengernyit, Bimo menatapku bingung, “apa?”

Kali ini aku benar-benar merasa bodoh. Aku memejamkan mata tak tahan karena malu.

Ya ampun, Alena.

Ya Tuhan.

“Say something,” bisikku.

“Modelnya udah siap,” sergah Lisa langsung mencengkram lengan Bimo dan aku tak sengaja memperhatikannya.

Dahiku mengernyit, “kalian-”

“Al, tunggu bentar. Jangan kemana-mana, bentar aja, oke?” potong Bimo.

Aku mengangguk masih bingung. Bimo kembali memotret dan aku merasa sangat canggung. Kuraih tas dan berjalan keluar.

“Al!” teriak Bimo.

Kulangkahkan kakiku cepat dan mendorong pintu studio.

“Alena, tunggu!”

Bimo mengejar lalu meraih tanganku namun cepat-cepat kutepis, “maaf.”

“Nggak perlu minta maaf.”

“Harusnya gue nggak tanya hal itu, harusnya gue udah tau.”

“Tau apa?”

Aku berjalan mondar mandir panik, “tau kalau nggak mungkin lo suka sama gue dan Lisa,” aku tercekat berusaha menarik napas.

“Ya Tuhan, kenapa gue nggak ngeh,” aku benar-benar malu.

“Kenapa Lisa?”

“Lo sama Lisa, kalian cocok kok,” aku mengangguk berusaha tersenyum.

“Lo ngomong apa sih?”

Aku hampir menangis karena malu.

“Al..”

“Nggak perlu dibahas lagi, gue minta maaf.”

“Al denger dulu.”

“Nggak, lo yang denger gue.”

“Al, gue tau mungkin ini memalukan buat lo, but it’s ok-”

Dadaku naik turun dan napasku memburu. Aku merasakan panas menjalar di pipi.

“Malu? Gue nggak malu.”

“Gue ngerti,”

“Apanya yang malu?!”

“Alena..”

“Mungkin ini bisa membuat lo tambah mengerti, tadi malem Biyas ngajak serius sama gue,” aku berusaha tersenyum, “AKHIRNYA!” teriakku.

Bimo menatapku tak percaya, lama dia terdiam sampai akhirnya dia sanggup membuka mulutnya, “Alena…” bisiknya.

“Gue nggak peduli lo mau marah atau terserah lo mau buat apa. Harusnya lo seneng karena sahabat lo menemukan cinta sejatinya.”

“Cinta sejati?”

“Iya. Dan cinta sejati gue lebih baik dibanding yang lo punya, Lisa!”

Kali ini Bimo benar-benar diam. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana lalu menatapku lama.

“Mungkin lo memang nggak butuh jawaban,” katanya tenang.

Aku mengalihkan pandangan. Jantungku berdebar kencang, entah karena marah atau karena takut dengan apa yang akan dikatakan Bimo selanjutnya.

“Gue harap kalian berdua bahagia dan perlu diingat gue nggak ada apa-apa sama Lisa. Harusnya lo cek dulu faktanya sebelum bicara dan tolong berhentilah merendahkan orang.”

Rasa sesak di dada naik menjadi gumpalan bola yang tercekat dan terasa sakit saat Bimo meninggalkanku sendirian diluar.

Airmataku menggenang di pelupuk mata bercampur dengan rasa malu dan menyesal.

Aku percaya persahabatan tumbuh dari rasa ketertarikan. Bagiku persahabatan adalah buah dari kepercayaan. Jika kalian melukai kepercayaan itu, maka tidak ada yang tersisa dari hubungan itu, tak peduli seberapa dekat jarakmu dengannya.

Bersambung…