I’ve seen your drama – final episode

Aku tak berhenti tersenyum sambil terus memandangi diriku didepan cermin elevator. Kali ini aku pastikan aku memakai gaun selutut berwarna hijau kesukaanku. Aku menoleh sekali lagi dan kupandangi diriku sebelum pintu elevator terbuka, “wanjonhan! (Sempurna!)” kataku lalu melangkah keluar.

Kang melambaikan tangannya. Aku berlari begitu melihatnya di lobi.

“Yaa, domang gajima! (Hei, jangan lari!)” teriaknya. 

Aku langsung memeluknya, “neomu giroyo? (Lama yah?)” tanyaku lalu tersenyum.

Kang menggeleng, “ani..(nggak kok..)” jawabnya lalu menggandeng tanganku, “gaja! (Ayo!)” ajaknya.

Hari ini kami memutuskan untuk berkencan seharian. Tadinya kami ingin pergi nonton dan nongkrong di mall. Tapi sudah sejak lama aku menginginkan piknik, rasanya lebih menyenangkan ngobrol diluar ketimbang suara berisik hingar bingar musik mall. 

Saking semangatnya, aku sengaja bangun pagi sekali untuk menyiapkan makanannya. Kang membentangkan kain diatas rerumputan hijau menghadap danau, sedangkan aku sibuk mengeluarkan bekal.

“What do you make for our meal?” tanyanya penasaran.

“Sandwich!!” kataku senang sambil menunjukkan roti isi kebanggaanku.

“Iljjig ilonaseo sendeuwichi man mandeulmyeon dwae? (Kamu bangun pagi-pagi cuma buat bikin sandwich?)” katanya tersenyum. Lalu senyumnya berubah menjadi tawa dan semakin lama dia tertawa semakin terlihat sangat menyebalkan. 

“Neoga gugeoseul wonhaji anheumyon, gugeoseul mogji mala! (Kalau kamu nggak mau, ya nggak usah makan!)” kataku kesal lalu menggigit sandwich-ku.

Cepat-cepat tangannya meraih sandwich dari tanganku, “joha! (Suka!)” katanya lalu menggigitnya.

“Nae geoya! (Itu punyaku!)” kataku.

Kang mengedipkan matanya dan membuatku menyerah, “masissni? (Enak nggak?)” tanyaku.

“Masshita! (Enak!)” jawabnya. 

“Kang hyo jae-ssi..” panggilku.

“Mm. (Iya)” jawabnya sambil mengunyah sandwich.

“Wae nareul johahani? (Kenapa kamu bisa suka sama aku?)” tanyaku.

Kang menoleh lalu menatap mataku, “chonnun (pandangan pertama)” jawabnya,  “Dangsineun misoga jeongmal areumdaweoyo, nol yoljunghanda (kamu memiliki senyum yang paling manis, sejak saat itu aku tergila-gila padamu)” sambungnya.

“Jeongmal? (Beneran?)” tanyaku tak percaya.

Kang mengangguk, “nareul wihae useojwoyo (coba berikan senyuman itu sekarang)” pintanya.

Aku tersenyum, “ireohke? (kayak gini?)” tanyaku memastikan.

“Whoaa! nega gyesog usneundamyeon naneun michyeo galsuitta. (Whoaa! Aku bisa gila kalau kamu senyum terus sepanjang hari)” ucapnya senang.

Aku ikut tertawa senang, “joldae nal tteonajimayo.. (jangan pernah tinggalkan aku..) ucapku.

Kang meraih tanganku, “yagsog halkke (aku janji)” balasnya, “noneun ottae? (Kalau kamu gimana?)” sambungnya.

“Mwo? (Apanya?)” tanyaku bingung.

“Wae nareul johahani? (Kenapa suka sama aku?)” tanyanya.

Aku menggigit bibirku, “hm..gyolko pogihaji mala. (Kamu nggak menyerah)” kataku. Kubalas tatapannya lama dan dalam, “amudo jeone jongmallo ssawosseubnida. (Belum pernah ada yang benar-benar memperjuangkanku sebelumnya)” sambungku.

Kuusap pipinya lembut, “It feels good to have someone who really cares about me.” kataku.

Kamu akan menjadi alasan kenapa aku akan terus tersenyum, menemaniku ketika satu persatu dari mereka mulai meninggalkanku, dan menghapus setiap tetesan air mata yang kujatuhkan. 

Kang tersenyum, “saranghaeyo.. (aku mencintaimu..)” bisiknya.

“Nado saranghae.. (Aku juga mencintaimu..)” balasku.

                                       *

Satu minggu kemudian…

Kang menggandeng tanganku erat, kami berjalan pasti memasuki gedung resepsi pernikahan Bagas dan Rania. Kang meyakinkanku untuk tetap datang walaupun awalnya aku menolak, “gwenchanheulkoya, yagsog hae. (Semuanya akan baik-baik saja, aku janji)” katanya waktu itu.

Aku menarik nafas panjang saat kulihat mereka berdua berdiri diatas panggung. Hari ini benar-benar datang, pernikahan yang kupikir takkan pernah terjadi, namun hari ini keberadaan mereka disana adalah kenyataan yang harus kuterima. 

Aku mulai menyapa keluarga besar dan memperkenalkan Kang kepada mereka. Sebagian dari mereka sangat menyukai Kang namun beberapa dari keluarga ibu mempersoalkan tentang kewarganegaraannya, “kamu bakalan tetap di Indonesia kan, Adine? Kan sekarang kamu yang pegang rumahsakit” ucap salah satu pamanku. 

Kulirik Kang sekilas, kupaksakan senyumku.

“Mwoga munje ya? (Ada apa? Kenapa?)” tanya Kang bingung. 

Aku menggeleng, “amugosdo (nggak ada apa-apa)” bisikku kikuk, “hwajangsile gal pilyogaisso. (Aku mau ke toilet sebentar)” sambungku lalu berjalan buru-buru melewati kerumunan. 

Aku berdiri menghadap cermin. Kukeluarkan lipstik dari dalam tas pesta dan memoleskan sedikit dibibirku. Kupejamkan mata dan mulai memikirkan perkataan paman barusan. Apa yang harus kulakukan, aku tak mungkin meninggalkan rumahsakit tapi aku juga tak ingin jauh darinya. 

Aku mengambil ponsel dari tas dan menekan nomor Bisma.

“Hei..” sapanya langsung.

“Hai. Ada yang perlu aku bicarakan. Bisa ketemu besok pagi?” balasku.

“Ada apa, Adine?” tanyanya penasaran.

Aku menggeleng, “nggak bisa lewat telfon. Besok pagi jam 9? Dikantor? Oke?” ucapku cepat.

“Hm, oke..” jawabnya.

Aku langsung mematikan telfon lalu melirik sebentar ke cermin dan tersenyum. Tepatnya sebelum pintu keluar aku melihat Kang sedang berbicara dengan Bagas. Kulangkahkan kakiku pelan-pelan mendekati mereka lalu bersembunyi dibelakang tembok dibelakang mereka lalu mulai menguping pembicaraan mereka.

“I know who you are. Does love for celebrities like you exist?” tanya Bagas sinis.

Kang melangkah mendekati Bagas, “What if I told you that what we had was real” balasnya. 

“You’re wasting her time” kata Bagas kembali.

Kang membetulkan dasinya lalu tersenyum sinis, “What if i told you that i will keep her for long time and never let her go, not even for a second!” balas Kang kali ini terdengar sangat kesal.

“I bet..” ucap Bagas sinis.

“Yeah, you can bet with your fools thought. If i were you, i will not be able standing infront of her and see her face because you know why? I must be an idiot for leaving her for someone who is not even half of her. You should be ashamed!” ucap Kang kesal. 

“What did you just said?!” balas Bagas lalu menarik kerah Kang.

Kang menepis tangan Bagas cepat, “sorry bro.. you can’t touch celebrities carelessly. You must know which level your class is!” ucap Kang lalu merapikan jasnya dan berjalan meninggalkan Bagas.

Aku tersenyum senang dan berlari mengikuti Kang dari belakang. Kulirik Bagas sekilas dan tersenyum sinis. Kuraih tangan Kang, “neo jongmal johasso (kamu keren banget tadi)” ucapku senang.

Kang tersenyum dan merangkulku, “guneun naega nugunji araya hae! (Dia harus tau siapa aku sebenarnya!)” jawab Kang percaya diri.

“Neo nugu ni? (Memangnya kamu siapa?)” tanyaku usil.

Kang menatapku, “namja chingu, dangsinui namja chingu! (Pacar, pacarmu yang sangat keren!)” balasnya.

Aku mengangguk setuju. Aku berjalan menuju pintu keluar dengan perasaan bebas. Rasanya seperti menjalani kehidupan yang baru, kuputuskan untuk meninggalkan semua yang ada dibelakangku dan melangkah berani bersamanya. 

“Neo naeil narang gat-iga, keurohji? (Kamu besok ikut denganku, kan?)” tanya Kang didalam mobil, “uriga hangugulo dolagal ttaeya. (Sudah waktunya kita pulang ke Korea)” sambungnya.

Kembali ke korea..?

Kang menatapku heran, “majjyo? (Iya kan?)” tanyanya kembali memastikan.

Aku paksakan senyum dan mengangguk ragu, “mm. (Iya)” jawabku pelan.

“Wae geurae? (Ada apa?)” tanya Kang curiga.

Aku menggeleng dan tetap kupaksakan senyumku.

                                        *

Kulangkahkan kakiku cepat-cepat menuju kantor Bisma. Kuketuk pintu ruangannya tiga kali lalu mendengar suara Bisma mempersilahkanku masuk.

“Bisma, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku!” kataku langsung.

Awalnya Bisma tampak bingung namun setelah kujelaskan panjang lebar akhirnya dia mengerti. 

“Kamu yakin, Adine?” tanya Bisma memastikan sekali lagi.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk, “aku yakin!” kataku yakin.

“Baik kalau memang maunya seperti itu, aku akan mengurus semuanya” balasnya.

Aku berdiri pamit, “thanks a lot!” kataku dan menjabat tangannya.

“Nggak masalah” jawabnya.

Aku pikir Tuhan membiarkan semuanya terjadi dengan satu alasan. Semua itu adalah sebuah proses belajar dan aku harus melewati setiap tingkatannya. Aku yakin yang kulakukan adalah yang terbaik untuk semuanya.

Aku menghampiri Kang dan menyambut tangannya yang siap menggandengku. Kami sama-sama memasuki ruang tunggu bandara, kali ini bukan sebagai orang asing namun sebagai sepasang kekasih. 

Aku mengerti semuanya sekarang, kekuatan tidak datang dari kemenangan. Kekuatan datang dari seberapa besar usaha kita untuk melewati kesulitan dan memutuskan untuk tidak menyerah, itulah kekuatan yang sebenarnya. 

Aku bertemu dengannya di bandara waktu itu bukan suatu kebetulan melainkan sebagai titik awal hidupku yang baru. Kang mengajarkanku bahwa masa depan yang bahagia dimulai dengan satu langkah kedepan bukan dengan menoleh kebelakang.

Aku menghentikan langkahku dan menatap layar kaca didepan ruang tunggu, “jamkkan. (Tunggu sebentar)” kataku pada Kang.

“Wae geurae? (Ada apa?)” tanyanya.

Aku tersenyum saat melihat Bisma menyatakan pada siaran langsung konferensi pers bahwa Adine Pramidita telah resmi melepas seluruh saham rumahsakit dan menjadikannya sebagai perusahaan publik. 

Aku tersenyum puas, “good job, Adine..” bisikku.

Aku tersenyum pada Kang, “dangsineun hangugeso uriui munjelul choli hal junbileulhago isseubnikka? (Kamu sudah siap menghadapi masalah kita di Korea nanti?)” tanyaku.

Kang mengangguk pasti, “hangsang hamkke halkeyo! (Kita akan selalu bersama, ya kan!)” ucapnya yakin, “let’s go!” sambungnya.

Let’s go!
The End.

 

I’ve seen your drama – episode 9

Kubaca sekali lagi surat warisan yang dipalsukan oleh ayah. Tak ada perubahan dalam pembagian harta, aku tetap menjadi pewaris tunggal. Lalu mataku mencari-cari kalimat pernyataan ibu, dan kutemukan ayah memalsukannya disana.

“..agar melaksanakan wasiat di atas, maka dengan ini anak kandung saya Adine Pramidita menerima seluruh harta..”

Aku membolak-balik lembarannya, mencari-cari hal lain yang dirubah oleh ayah. Namun, aku tetap tak menemukannya, “cuma ini?” tanyaku tak percaya pada Bisma.

Bisma mengangguk lalu bersandar dimeja kerjanya, “kita ada konferensi pers dua jam lagi” katanya. 

Aku mengernyitkan dahi saat kuperhatikan Bisma membetulkan dasinya, “konferensi pers?” tanyaku.

“Adine, kamu harus menjelaskan semua yang terjadi. Keluargamu bukan orang yang biasa-biasa saja di Indonesia, semua media sekarang sedang menyoroti kasus ini” jelasnya.

Apa yang harus kujelaskan..

Ketika seorang anak berusaha membongkar kebohongan ayahnya, yang ditemuinya hanyalah rangkaian kisah pengorbanan sang ayah. Sejak aku sadar bahwa kasih sayang ayah tak cukup untukku, kupikir sudah sewajarnya aku marah karenanya. Aku sama sekali tak memberikan kesempatan untuk ayah menunjukkan kasih sayangnya. Sampai akhirnya kasih sayang itu benar-benar hilang darinya. Maka yang tinggal hanyalah kesalahpahaman, rasa dendam dan kebencian. 

Aku meraih tas dan berjalan keluar ruangan. Kupejamkan mata sambil berjalan pelan, “apa yang harus aku lakukan..” bisikku. 

“Adine! Jangan lupa dua jam lagi ya. Nanti pak Didik yang jemput dihotel” teriak Bisma berdiri didepan pintu ruangannya.

Aku menoleh lalu mengangguk malas, “terserah..” kataku lalu mengeluarkan ponsel dan mengangkat telfon dari Kang. 

“Kkeutnassda? (Udah beres?)” tanya Kang langsung.

“Ne. (Iya)” jawabku pelan.

“Na bakke neol gidarigoisso. (Aku tunggu kamu di luar)” katanya lalu mematikan ponsel. 

Aku menekan tombol lobi pada elevator lalu memandangi pantulan diri dari cermin disampingnya. Rambutku berantakan sekali, pikirku. Kurapikan kebelakang dan mulai menguncirnya lalu kupandangi sekali lagi didepan cermin. Lama kupaksakan senyum berharap ada perubahan mood, tak peduli seberapa keras aku mencoba namun tetap saja tak berhasil.

                                         *

“Neo moggosipo? (Kamu mau makan?)” tanya Kang didalam mobil.

Kukenakan sabuk pengaman, “naneun abojireul mannagosipo. (Aku mau ketemu dengan ayah)” jawabku lalu menyalakan mobil, “i can drop you, you don’t have to accompany me” sambungku.

“Ani, naneun dongban (nggak, aku ikut)” jawabnya.

“Neoneun pilyo obso. (Kamu nggak perlu temani aku)” kataku.

“Hajiman nowa donghaenghago sipo. (Tapi aku ingin menemani kamu)” balasnya.

“Wae irosineun geoyeyo? (Kenapa kamu melakukan ini semua?)” tanyaku kesal.

“Wae dasi murohabnikka? (Kenapa kamu tanya lagi?)” tanyanya balik.

Aku memejamkan mata, “because i think you should have your own life” jelasku, “don’t you have your own schedule?” sambungku. 

“Opso (Nggak ada)” jawabnya bingung, “wae kabjagi igeol joahani? (Kenapa kamu tiba-tiba kayak gini?)” sambungnya.

“Wae hanguge dola oji geurae? (Kenapa kamu belum balik ke Korea?)” potongku.

“Naega gago sipni? (Kamu mau aku pergi?)” tanyanya balik. Kang menatapku bingung, “Wae? Naega noreul gwichanhge haessni? (Kenapa? Apa aku mengganggumu?!)” sambungnya kesal.

“ye! neo gwichanhge! (Iya! Kamu mengganggu!)” jawabku, “naneun michyeossdago saeng-gaghae! (Rasanya aku mau gila!)” sambungku kesal.

“Naneun noreul michigehani?? (Aku membuatmu gila??)” tanya Kang marah, ia melepaskan sabuk pengamannya, “naega noreul goelobhimyeon choeumbuto malheya hae! (Kalau aku mengganggumu, harusnya kamu katakan dari awal!)” sambungnya kesal.

“Naega mal haettjanha! (Aku sudah bilang!)” jawabku marah, “naneun keu siganeul kajilago malhaetta! (Aku sudah bilang untuk pergi waktu itu!)” sambungku.

“Wae dangsineun nae sarangeul badaseubnikka? (Lalu kenapa waktu itu kau menerima cintaku?)” tanyanya marah.

“Naneun noui sarangeul badadeuliji anheulkoya. (Aku tidak menerima cintamu)” jawabku memalingkan wajah.

“Mwo? (Apa?)” tanya Kang tak percaya.

Aku menggigit bibirku, ragu. Lama baru kujawab, “Sarangi aniya.. (itu bukan cinta..)” jawabku pelan, kupejamkan mata “ka.. (pergilah..)” sambungku berbisik.

Kang hyo jae menatapku lama, “dasi mal.. (katakan sekali lagi..)” ucapnya, “say it if you really-”

“Ka..( pergilah..)” potongku. 

Kang memalingkan wajahnya, “Joha, neo munje ara? jasinui gamjengi jinsil doel ttae hangsang saramdureul mireo beolibnida! (Oke aku pergi, kamu tau masalahmu apa? Kamu selalu mendorong orang untuk menjauh padahal mungkin saja perasaan mereka terhadapmu itu tulus!)” ucapnya kesal lalu membanting pintu.

Kutatap Kang berjalan menjauh, semakin jauh ia berjalan semakin aku merasa kesal pada diriku sendiri. 

                                        *

Petugas lapas menyuruhku untuk masuk ke salah satu ruangan, “disini anda dapat berkomunikasi dengan tahanan melalui telepon itu” katanya menunjuk telepon yang menggantung disamping kaca pemisah. 

Aku mengangguk lalu duduk sambil menunggu ayah datang. Mataku selalu tertunduk kebawah, “what have you done, Adine..” sesalku.

Aku berdiri saat kulihat ayah memasuki ruangan, wajah ayah tampak pucat tapi ia malah tersenyum. Ia meraih telepon dan menyuruhku untuk mengangkat telepon disampingku, “ayah..” kataku khawatir.

“Ayah baik-baik aja” balasnya masih tersenyum. 

“Maafkan Adine, ayah” ucapku.

“Bukankah ibu sudah katakan, apapun yang terjadi tak satupun karena kesalahanmu?” balas ayah.

Aku menengadah terkejut, “ayah tau.. surat ibu..” ucapku terbata-bata.

Ayah hanya tersenyum, “waktu pertama kali kami mengadopsimu, kamu masih sangat kecil tapi ayah tau kamu akan menjadi orang yang besar kelak. Begitu ayah melihat matamu, ayahpun tau saat itu juga kamu adalah anak gadis kesayangan ayah. Rasanya baru kemarin ayah membuatkanmu istana pasir, kamu suka sekali dengan pantai. Hampir tiap minggu kita pasti kesana. Kamu adalah penantian panjang ayah dan ibu, seluruh keluarga besar menyayangimu. Mereka selalu memuji dengan kepintaranmu, kecantikanmu, kesempurnaan yang pernah ada.” ucap ayah.

Aku mengernyitkan dahi, “tapi-” kataku.

“Lalu,” potong ayah lalu membetulkan kacamatanya, “lalu Rania datang. Dia tak secantik kamu, tak cukup pintar ataupun lucu dibandingkan kamu. Tak satupun keluarga besar kita memperhatikan dia. Tak ada yang bisa menggantikanmu, tidak dengan Rania. Bahkan tak ada yang mengingat ulangtahun pertamanya. Dia tak memiliki siapa-siapa kecuali ayah, dia cuma punya ayah sementara kamu, Adine, kamu memiliki segalanya.” sambung ayah.

Kutatap ayah dengan airmata yang menggenang dipelupuk mataku, “tapi Adine tetap butuh ayah..” ucapku.

Ayah mengangguk, “ayah tau. Maafkan karena ayah tak bisa menunjukkan kasih sayang ayah padamu didepan Rania, maafkan ayah karena berhenti bermain denganmu, maafkan ayah karena tak lagi membuatkan istana pasir untukmu, maafkan ayah karena selalu sembunyi-sembunyi memperhatikanmu. Maafkan ayah karena mengorbankan perasaanmu.”ucapnya.

Aku tertunduk diam tak mampu mengatakan apa-apa. Aku pikir kita takkan mengerti menjadi orangtua sebelum kita menjadi salah satunya. Mungkin suatu saat aku bisa mengerti ucapan ayah. Arti pengorbanan bagiku tak sama dengan arti pengorbanan yang ayah dan ibu lakukan. 

Kenapa aku selalu kehilangan semua orang yang kucintai? Kenapa aku selalu merasa ditinggalkan? 

“Adine, jangan pernah menyerah untuk kebahagiaanmu. Jangan melepaskannya demi apapun itu. Kamu pasti bahagia, Adine. Anak ayah anak yang cerdas, dari dulu kamu orang yang selalu kuat. Hukuman yang ayah terima tak sebanding dengan waktu yang telah ayah korbankan untukmu. Go..! Find your happiness..” sambung ayah tersenyum lalu meletakkan kembali telepon.

                                         *

Sesuai jadwal, aku dijemput oleh Pak Didik tepat dua jam setelah Bisma mengingatkanku. Aku memasuki ruangan diikuti dengan kilatan lampu kamera yang dari tadi tak berhenti memotretku. Aku duduk tepat disebelah Bisma, saking gugupnya sudah dua kali aku menegak air didepanku. 

Bisma memberikan kode agar aku bisa memulai pernyataanku. Dengan gugup kuraih mikrofon didepanku, “selamat sore..” kataku akhirnya.

“Saya – Adine Pramidita – selaku anak sulung dari bapak Adhimurti Jatmika dan almarhum ibu Haira Anjani menjelaskan bahwa surat warisan keluarga telah dipalsukan oleh ayah saya bapak Adhimurti dan telah dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negri. Saat ini bapak Adhimurti sedang menjalani masa tahanan selama 6 tahun. Sangat disayangkan kesalahpahaman yang terjadi antara anak dan ayah mengharuskan peristiwa ini terjadi. Pada akhirnya, yang dibutuhkan hanyalah sebuah komunikasi yang baik diantaranya. Kesalahpahaman yang terjadi antara saya dan ayah saya sudah diselesaikan dengan baik-baik. Kejadian ini merupakan pukulan terberat keluarga kami. Oleh sebab itu saya mengharapkan teman-teman media memberikan ruang privasi bagi anggota keluarga untuk saat ini, terimakasih” ucapku. 

Kuputuskan untuk membuat pernyataan yang singkat dan jelas.

“Jangan ada pertanyaan” bisikku pada Bisma. Lalu aku berdiri dan menundukkan kepala sebentar pamit kepada para media.

“Apa isi pernyataan palsu bapak Adhimurti?! Kesalahpahaman yang seperti apa yang terjadi antara anda dan ayah anda?!” tanya salah satu media.

Aku menoleh, “no komen” jawabku.

“Apa benar anda bukan anak kandung keluarga bapak Jatmika?!” tanya salah satu jurnalis. Aku menatapnya lama, “pertanyaan anda tidak relevan” kataku.

“Apa hubungan anda dengan calon suami adik anda? Apa benar anda ditinggal nikah?” ucap salah seorang diantara mereka. 

“Apa benar ibu anda meninggal karena anda telat masuk keruang operasi?” pertanyaan lainnya bermunculan dan semakin tak beraturan.

Aku berjalan keluar cepat-cepat tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Aku terus berjalan hingga masuk kedalam mobil. 

“Jalan pak” kataku pada pak Didik.

“Baik, non” jawab pak Didik.

Kupejamkan mata dan kembali teringat pesan ayah terakhir kali, “go..! Find your happiness..” kata ayah waktu itu.

..kamu tau masalahmu apa? Kamu selalu mendorong orang untuk menjauh padahal mungkin saja perasaan mereka terhadapmu itu tulus!

Kata-kata terakhir Kang dari tadi berseliweran dipikiranku. 

Kang hyo jae..

Happiness..

Aku menekan nomor Kang hyo jae dan menelfonnya namun ponselnya tak aktif. Kuputuskan untuk menghampirinya dihotel tempatnya menginap.

Aku berjalan menuju meja resepsionis dan menanyakan namanya. 

“Kang hyo jae sudah check out barusan saja, mba” ucapnya.

Check out?!

“Oh, makasih mba” kataku panik. Aku mondar mandir seperti orang kehilangan. Kutelfon kembali nomornya namun tetap tak aktif. 

Aku berlari menuju restoran dan mencarinya namun aku tak melihatnya sama sekali. Kucoba mencarinya disekitar kolam renang, tapi tetap tak menemukannya. Sampai akhirnya aku menyerah mencarinya.

Aku duduk disalah satu sofa lobi. Selalu saja begini, pikirku. Selalu saja terlambat, selalu saja menyesal, selalu saja kehilangan. 

Aku tertunduk lemas, “babo.. (bodoh..)” kataku pada diri sendiri.

“Nal chajgoisso? (Kamu mencariku?)”

Aku menoleh dan menemukan dia disana. Berdiri tepat didepanku. Aku memeluknya erat, saking kuatnya rasanya aku tak ingin melepaskannya.

“Nan noreul ilhgo sipji anhayo.. (aku tak mau kehilanganmu)” kataku. 

Kang memelukku erat, “amumal hajima (jangan katakan apa-apa)” balasnya.

Aku beridiri dihadapannya, kutatap matanya lama lalu tersenyum.

“Mwo? (Apa?)” tanya Kang curiga.

“Pegoppayo (aku lapar)” kataku tersenyum senang.

Kang tertawa lalu menggandengku, “uriga mogja!! (Ayo kita makan!!)” katanya tersenyum.

Menurutku cinta tidak mengenal hambatan. Cinta melewati rintangan, melompati pagar hambatan, dan menembus tembok untuk sampai ke tempat tujuan yang penuh harapan.

Kebahagianku, aku tau ada bersamanya. Aku harus berjuang sekali lagi setidaknya sebelum aku mati. Jika aku menemukan seseorang yang aku cintai dalam hidupku, maka aku akan hidup pada cinta itu. 

Bersambung…

I’ve seen your drama – episode 8

Kang hyo jae tak melepas genggamannya sedikitpun, dia malah meminta Bisma menjelaskan permasalahannya dalam bahasa Inggris. Awalnya Bisma keberatan, “dia perlu tau, jadi jelaskan saja dalam bahasa inggris” kataku.

“Baik kalau begitu” jawabnya mengangguk lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam brankasnya, “the real letters is in here” ucapnya.

Kotak ini, kotak yang sama yang pernah aku lihat waktu kecil. Aku selalu bertanya pada ibu apa isinya, “nanti kalo Adine udah besar ibu kasih tau” jawab ibu waktu itu.

Kang mengangkat kotak itu dan membolak-baliknya dengan teliti, “ki.. (kunci)” ucapnya lalu menatapku, “yolsoeisso? (Kamu punya kuncinya?)” tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi, “kunci..?” bisikku heran.

“Kotak itu memang dikunci, almarhum mengatakan kalau kamu punya kuncinya” ucap Bisma.

Aku punya kuncinya? Kunci yang mana? Ibu tak pernah menitipkan kunci apapun padaku.

“I don’t have it!” kataku bingung.

Kang kembali membolak-balikkan kotak itu. Kupejamkan mata berusaha mengingat kembali apakah ibu pernah memberikan kuncinya, apa mungkin aku yang lupa. 

Kalau surat yang asli ada di dalamnya, jadi yang dipegang oleh ayah dan Rania memang palsu. Mereka tak mungkin memiliki kuncinya. Ibu bilang hanya aku yang punya kuncinya, tapi aku sama sekali tak pernah melihatnya.

“Siapa yang memalsukan suratnya?” tanyaku penasaran.

Bisma menarik nafas panjang. Lama baru ia jawab,  “Bapak Adhimurti sendiri yang memalsukan surat itu” jawabnya.

Ayah!

“Ayah yang melakukannya?” tanyaku tak percaya.

Bisma mengangguk, “benar, kita punya semua bukti dan saksinya” ucapnya.

Aku mematung tak percaya. Jantungku berdegup kencang, aku merasakan aliran darah yang deras diseluruh tubuhku. Ayah yang melakukannya? Bagaimana bisa?

Hanya karena demi Rania ayah tega melakukannya ini pada ibu. Aku mengepalkan tanganku, “aku harus bertemu dengannya!” kataku marah.

Kang meletakkan kotak itu dipangkuanku, “hateu moyang (bentuk hati)” ucapnya, “simjang moyang yolsoe (kuncinya berbentuk hati)” sambungnya lalu menunjuk lubang kuncinya.

Kalung itu..!

                                        *

Aku melangkah masuk kerumah dalam keadaan marah. Kutemui Rania dan Bagas diruang keluarga, mataku tertuju pada undangan pernikahan yang tertumpuk diatas meja. Baru seminggu ibu meninggal, mereka sudah kelihatan bahagia karena mau menikah, brengsek.

Rania berdiri menghampiriku, “ngapain lo kesini?” tanyanya sombong.

Kutatap matanya nanar, “gue nggak ada urusan sama lo” jawabku.   

Kang meraih tanganku tepat saat Bagas menghampiri. Mereka saling bertatapan, lama. 

“Who are you?” tanya Bagas penasaran.

“Her boyfriend” jawab Kang cepat.

“Dimana ayah?” tanyaku pada Rania.

“Since when?” tanya Bagas kembali pada Kang.

“Wae? (Kenapa emangnya?)” jawab Kang tak peduli.

“Kang hyo jae oppa? Annyeong! (Abang Kang hyo jae? Hai)” sapa Rania cengengesan.

Kang sama sekali tak membalas sapaannya. Matanya masih tertuju pada Bagas. 

“Panggilkan ayah!” kataku.

“Ada apa ini?” tanya ayah menghampiri, ayah membetulkan kacamatanya, “siapa dia?” sambungnya sambil menunjuk Kang.

Kang membungkuk hormat pada ayah, “my name is Kang hyo jae” jawabnya sopan.

“Kenapa ayah melakukannya?” tanyaku langsung.

“Melakukan apa?” tanyanya balik, “ada apa ini, Bisma?” sambungnya bertanya pada Bisma yang dari tadi berdiri dibelakangku.

“Ayah memalsukan surat wasiat ibu demi apa?” tanyaku marah, “demi dia?” aku menunjuk Rania.

Ayah tampak bingung, “kamu ngomong apa, Adine?” tanyanya.

“Jangan pura-pura nggak tau, ayah. Aku punya kotak ibu!” jawabku.

Ekspresi ayah mendadak ketakutan, “kotak? Tapi kotak itu dikunci!” katanya.

“Ibu memberikan kuncinya sama aku!” balasku.

“Ibu sendiri yang memberikan kuncinya? Jangan dibuka, Adine!” kata ayah panik.

Aku mengernyitkan dahi, “kenapa? Katakan padaku kenapa ayah memalsukannya! Kenapa ayah tega sekali, kalau memang karena rumahsakit, aku sudah bilang aku nggak peduli! Tapi kenapa sampai harus memalsukannya!” teriakku.

Kang merengkuh bahuku, “Adine..” ucapnya berusaha menenangkanku.

“Adine, percaya sama ayah. Jangan buka kotaknya..” balasnya.

“Percaya? Aku pasti sudah gila mau mempercayai ayah sekarang!” jawabku.

“Ayah tau selama ini kamu pasti membenci ayah, tapi kali ini ayah memohon jangan buka kotaknya” kata ayah.

“Katakan alasannya, ayah! Kenapa ayah melakukan ini semua? Hanya karena harta ayah mengkhianati ibu seperti ini?” tanyaku bingung.

“Maafkan ayah..” ucap ayah menyesal.

Aku memejamkan mataku, hatiku terasa hancur, “Bisma, aku mengajukan tuntutan atas ayahku. Tolong urus semuanya!” kataku melangkah pergi.

“Adine! Apa-apaan ini!” teriak Rania bingung.

Aku menggenggam tangan Kang dan keluar dari rumah. Rasanya menyesakkan sekali didalam sana. Dadaku hampir pecah saking sesaknya.

“Adiiinneeee!!” teriak Rania dari kejauhan.

                                        *

Aku kembali ke hotel dan membawa kotak itu. Kuletakkan diatas meja lalu kupandangi lama. Inikah alasannya ibu memberikan kalung miliknya waktu itu. 

Kudekap kalung itu didada lalu kupejamkan mata, “ibu selalu ada disini..”. Masih terngiang ditelingaku kata-kata ibu malam itu. Rasanya masih tak percaya ibu sudah pergi meninggalkanku. Lalu kotak ini, apa yang ibu simpan disini. Kenapa ayah tak ingin aku membukanya.

Kulepas kalung itu dan menempelkan liontin pada lubang kuncinya lalu kutekan perlahan.

Klik!

Jadi memang benar kalung ini kuncinya. Kubuka pelan dan kutemukan satu map putih besar, jepit rambut berbentuk kupu-kupu dari perak lalu mataku tertuju pada sepucuk surat yang berada diatas map. Kubuka perlahan surat itu,

Kesayangan ibu, Adine…

Ibu tau kakak tidak mau pulang, tapi ibu masih percaya suatu saat anak ibu pasti datang. Ibu tak berani bayangkan dimana anak ibu sekarang. Mungkinkah anak ibu baik-baik saja disana? Atau mungkinkah anak ibu kedinginan disana? Bagaimana ibu bisa tau?

Masih lekat dalam ingatan, gadis kecil ibu yang cantik saat memakai gaun warna hijau yang ibu belikan dulu dengan rambut panjang hitam yang selalu dijepit bagian sampingnya. Taukah kakak, ibu masih menyimpan jepit itu karena hanya itu satu-satunya obat kerinduan yang ibu punya. Masih ingatkah saat pertama kalinya kakak pergi ke pesta ulangtahun teman sekolah. Saat ibu menjemput jam 11 malam tapi kakak marah-marah karena ingin lebih lama bersama teman-teman. Waktu itu kakak berusia 15 tahun, maafkan ibu karena dimata ibu, kakak selalu menjadi gadis kecil ibu.

Saat usia kakak beranjak remaja, ibu berusaha sebaik mungkin untuk tetap berada disisimu, namun kakak selalu menolak karena ingin memiliki ruang sendiri. Maafkan ibu yang selalu lupa untuk mengetuk pintu kamar karena ibu hanya ingin mencium keningmu saat kakak tertidur pulas. 

Saat ibu membuka mata pagi ini di rumahsakit, ibu tak tau bagaimana caranya memberitahukan semuanya. Ibu tau waktu ibu tak banyak, dan ibu ingin anak ibu tau betapa ibu sangat mencintaimu. My sweet Adine.. ketahuilah bahwa apapun yang terjadi tak satupun karena kesalahanmu. Jangan bersedih karena tak lagi bisa melihat ibu. Suatu saat kita akan bersama lagi, percayalah. Selamat tinggal kesayangan ibu, kuatkan dirimu, jangan pernah takut karena ibu selalu bersamamu.

Love,

Ibu.

Tanganku bergetar saat kubaca surat ibu. Kudekap surat itu dan kubaringkan diriku di lantai, seketika aku merasakan perih didada yang menyeruak keseluruh tubuhku. Tangisku pecah diantara keheningan malam yang dingin. Bagaimana bisa aku berdiri sendiri tanpa ibu disisiku. Bagaimana bisa aku kuat berjalan sendiri tanpa ibu disisiku. Bagaimana bisa aku menghadapi semua ini sendirian tanpa ibu disisiku.

Aku terbangun begitu mendengar dering telepon. Kudapati diriku tertidur dilantai dan masih menggenggam surat ibu. Aku berdiri dan berjalan pelan lalu kuangkat telepon, “halo?” kataku. 

“Wae hyudae jeonhwaga kkeojyo issni? (Kenapa ponselmu mati?)” tanya Kang.

“Mian, naneun jami delotsda (maaf, aku ketiduran)” jawabku.

“Sangjaleul yeolo bosyossubnikka? (Apa kamu sudah buka kotaknya?)” tanyanya.

Mataku tertuju pada kotak yang masih terbuka diatas meja, “imi (sudah)” jawabku.

“Pyonjileul hwagin haessni? (Apa kamu sudah cek suratnya?)” tanyanya kembali.

“Ajig (belum)” kataku lemah.

“Naneun lobieisso, nal gidaryo (aku di lobi sekarang, tunggu aku)” ucapnya lalu menutup telfonnya.

Kuletakkan kembali telepon dan berjalan menuju toilet. Setidaknya aku harus membasuk wajahku sebelum Kang datang, pikirku.

Kupandangi wajahku yang berantakan didepan cermin. Kubasuh wajahku lalu tersenyum. Kamu pasti bisa Adine, kataku pada diri sendiri. 

Aku berjalan menuju pintu begitu mendengar suara bel. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kubuka pintu, “morning..” kataku dan kupaksakan tersenyum.

Kang mengernyitkan dahinya, “are you ok?” tanyanya.

Aku mengangguk, “munje obsda (semuanya baik-baik aja)” jawabku, “the letters, shall we check?” sambungku mengalihkan perhatiannya.

Aku mengambil map putih dari dalam kotak dan membukanya didepan Kang. Kubaca sekilas, didalam surat tertera semua harta ibu diberikan kepadaku dan aku berhak melakukan apa saja atas harta itu. 

Aku tak terlalu peduli dengan isinya lalu kubuka lembaran dibelakangnya, surat keterangan adopsi. 

“Kenapa ibu menyimpan surat adopsi Rania disini juga?” bisikku bingung dan aku mulai membacanya pelan-pelan.

Kurasakan panas dimataku, tanganku mendadak dingin dan kakiku terasa lemas. Aku sama sekali tak mengerti. 

Ini apa!

“Adine.. Gwenchana? (Kamu baik-baik saja?)” tanya Kang khawatir, “otteoni jagsong? (apa yang tertulis disana?)” sambungnya.

Kubalik sekali lagi lembaran surat keterangan warisan didepan, kali ini kubaca perlahan dan hati-hati dan kutemukan tulisan itu disana.

“..agar melaksanakan wasiat di atas, maka dengan ini saya mengangkat Adine Pramidita sebagai anak kandung saya dan menerima seluruh harta..”

“Yaa! Adine..malhae (Hei! Adine..bicara padaku)” ucap Kang.

Aku tak mampu mengatakan apa-apa, aku hanya bisa menatap Kang diam. Aku bersimpuh dilantai tak percaya, inikah alasannya kenapa ayah menyuruhkan jangan membuka kotaknya? Agar aku tak membaca ini semua? Ayah tak ingin aku tau yang sebenarnya! 

Kang merengkuh bahuku panik, “museun iri?! Mal! (Apa yang terjadi?! Katakan padaku!)” teriaknya.

“Aku bukan..” kataku tercekat, “aku bukan anak ibu..” sambungku.

“Mworagu? naneun ihaehaji moshanda. (Apa yang kamu katakan? Aku nggak ngerti)” tanya Kang panik.

“Naneun geunyoui aiga anigo, naneun amudo anieossda! (Aku bukan anaknya, aku bukan siapa-siapa!)” teriakku histeris.

Kang menatapku bingung lalu memelukku, “uljima..uljimayo..jebal.. (jangan menangis.. jangan menangis..aku mohon)” bisiknya.

Rania!

Bagaimana dengannya? Kubuka sekali lagi surat warisan itu, kembali kubaca perlahan namun aku tetap tak menemukan namanya dalam wasiat ibu. 

Aku mengeluarkan semua isi map, kutemukan surat adopsi lainnya. Namanya ada disana, Rania juga merupakan anak angkat ibu. Kami berdua sama-sama diadopsi oleh ibu dan ayah. Aku tak berbeda denganya, sama sekali tak ada bedanya. 

Perbedaan kami hanya masing-masing ibu dan ayah memiliki kasih sayang yang berlebih terhadap diriku dan Rania. Ayah melakukannya demi aku! Bukan karena yang lain tapi karena aku!

Aku membereskan lembaran-lembaran dokumen dan berdiri buru-buru.

“Odiganeunkoya? (Kamu mau kemana?)” tanya Kang bingung.

Aku berlari mengambil tas dan meraih ponselku. 

Sial..! Ponselku mati.

“Neo jonhwa jwo! (Berikan aku ponselmu!)” pintaku cepat.

Kang memberikan ponselnya, “nuguege jonhwahago sipni? (Kamu mau telfon siapa?)” tanyanya.

Aku menekan nomor Bisma, “naneun sosongeul chwisohaeyahetta. (Aku harus membatalkan tuntutannya)” jawabku cepat.

Kang menatapku panik, “sosong? (Tuntutan?)” tanyanya, “Abojie daehan sosong? (Tuntutan terhadap ayahmu?)” tanyanya.

“Wae gyesog jilmunhani?! (Kenapa kamu tanya terus dari tadi?!)” jawabku marah.

Terdengar nada sambung, “halo, Bisma?” kataku.

“Ya. Siapa ini?” tanyanya balik.

“Adine..” ucap Kang merengkuh bahuku. Aku menepisnya, marah. 

“Ini aku, Adine! Batalkan tuntutannya!” balasku panik. 

“Adine..” panggil Kang.

“Dagchyeo! (Diam!)” balasku marah pada Kang.

“Bicara yang jelas, Adine” ucap Bisma.

“Cancel the lawsuit!” teriakku.

“Mos hagesso.. (Tidak bisa..)” jawab Kang.

“Apa maksud kamu, Adine?” tanya Bisma.

Aku menatap Kang, “Wae? (Kenapa?)” tanyaku heran.

Bisma terdengar panik, “tuntutan itu, kita tak bisa membatalkannya” jawabnya.

“Ojesbame gyongchali tangsin abojireul chepohaessubnida. (Polisi telah menahan ayahmu tadi malam)” ucapnya.

“Dia terbukti memalsukan dokumen berharga dan diancam hukuman maksimal 6 tahun, ayahmu adalah tahanan sekarang,” jawab Bisma.

“I’m sorry..” ucap Kang dan Bisma bersamaan.
Bersambung…

I’ve seen you drama – episode 7

Kupandangi titik air hujan yang membasahi jendela, aku meremas jemari dengan gelisah. Kuhembuskan nafas dijendela lalu kulukis gambar hati pada embun dikaca, “ibu, apa yang harus Adine lakukan sekarang..” bisikku dan kupejamkan mata.

Aku menuang air kedalam gelas dan mengeluarkan pil anti depresan lalu meminumnya. Sudah seminggu sejak kepergian ibu aku tak keluar kamar, aku masih merasa bersalah. Harusnya itu tak terjadi, harusnya aku masuk lebih cepat, harusnya tak kubiarkan Fajar mengoperasi ibu, seandainya aku tau lebih dulu, seandainya aku cek semuanya sendiri.

Berkali-kali aku mengingat kembali kejadian itu, aku mengulang tahapannya satu demi satu. Apakah aku melewatkan sesuatu? Dimana letak kesalahannya? 

“Pikirkan lah Adine, ingat kembali kronologisnya” bisikku.

Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku, “naya (ini aku)” kata Kang.

Aku tak membiarkan seorang pun masuk. Entah sudah berapa kali Kang meneleponku, segala cara sudah dia lakukan. Mulai dari meneleponku berkali-kali sampai pura-pura menjadi cleaning service.

“Adine.. butakhae (Adine.. tolonglah)” ucapnya mulai frustasi.

Aku bersandar dipintu dan menggigit kuku, “ka.. (pergilah)” jawabku seperti biasa.

“Tangsini muneul yeol ttaekkaji naneun yeogiseo (aku akan tetap berdiri disini sampai kamu buka pintunya)” balasnya.

“Hajima.. (jangan seperti itu..)” ucapku.

“Nan sangkwan obseo (aku nggak peduli)” katanya, “nomu neujge (sudah terlambat)” sambungnya.

“Hyo jae-ssi..” kataku pelan.

“Urineun hamkke hyonsileul jigsiheyahabnida. (Kita hadapi semuanya bersama-sama)” katanya, “nega nukkineun geol ihaehae, nal mitto (aku tahu persis apa rasanya diposisimu sekarang, percaya padaku)” sambungnya.

Kupejamkan mata, haruskah kubuka pintu untuknya? Kuakui sebagian dari diriku memang membutuhkannya, mungkin aku bisa memanfaatkannya, hanya untuk sementara saja sampai semuanya kembali normal, pikirku.

“Noreul ttonadallago hajima, jebal (jangan suruh aku pergi, aku mohon)” katanya.

Kubuka pintu perlahan, “hyo jae-ssi..” kataku memohon.

Kang mendorong pintu cepat dan menahannya dengan kaki lalu melangkah mendekatiku, raut wajahnya yang khawatir membuatku ingin mengandalkannya. 

Tangannya mendekap pipiku lalu dia dekatkan bibirnya ke telingaku, “na, neo johayo (aku, menyukaimu)” bisiknya.

Jantungku berdegup kencang dan aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, bahkan aku tak mampu menolaknya. Aku diam sangat lama, “ireojima (jangan lakukan ini)” bisikku.

“Na neo itjima anhayo (aku tidak bisa melupakanmu)” ucapnya. Kang menatap mataku lalu menarik nafasnya dalam-dalam, “naneunhaetsjiman, gurolsuobso! (Aku sudah berusaha, tapi tetap nggak bisa)” sambungnya.

Apa yang harus kulakukan? Pria ini, apa yang harus aku lakukan padanya. Haruskah aku menyerahkan hatiku padanya? Berpikirlah, Adine. Itu ide gila, kau tidak bisa percaya padanya begitu saja. Dia bukan siapa-siapa, dia hanya pria yang kau temui secara tak sengaja di bandara. Jangan gantungkan hidupmu padanya, Jangan balas perasaannya.

Jangan..! 

Kugenggam tangannya dipipiku, kupejamkan mataku dan kukecup tangannya, “dowajuseyo..(tolong aku..)” bisikku, “jebal.. (aku mohon..)” sambungku.

                                        *

Aku memutuskan untuk menerimanya, kuberanikan diri untuk mencoba membuka hatiku sekali lagi. Aku harus belajar mempercayainya, walaupun aku harus siap kalau ini hanya sementara tapi paling tidak aku sudah berusaha mencobanya.

Aku tahu banyak hal yang menjadi penghalang untuk kami bersama. Berkencan dengan selebriti Korea memang bukan ide yang bagus, itu artinya Kang harus mempertaruhkan karirnya. Berbeda halnya di Indonesia atau negara lain, di Korea Kang harus menuruti semua aturan manajemen yang bertanggung jawab atas karirnya.

Hampir semua manajemen industri hiburan di Korea menerapkan aturan larangan memiliki pacar, bila manajemen mengetahui aku dan Kang berkencan, maka dia harus siap kehilangan penggemarnya. Akibatnya, Kang harus rela kehilangan kontrak kerjanya.

Selebriti Korea terkenal dengan fans fanatik mereka. Nggak sedikit dari para fans fanatik ini yang berdelusi dan menganggap para selebriti ini hanya milik mereka, Kang akan dianggap “mengkhianati fans”. Kehilangan fans akan mempengaruhi turunnya angka penjualan film dramanya dan ini konsekuensi yang harus ditanggung Kang saat dia memiliki pacar. Belum lagi serbuan komen-komen negatif yang ditujukan untukku dari para fansnya.

“Hwagsilhangayo? (Kamu yakin?)” tanyaku memastikan.

“Mm.” Kang mengangguk pasti, “naneun michyeossji man naneun deo isang sang-gwanhaji anhneunda. (Aku mungkin sudah gila, tapi aku nggak peduli lagi)” sambungnya.

“Ok, what should we do now?” tanyaku sambil menggigit bibir.

Kami masih berdiri didepan pintu, Kang meraih tanganku, “choum, i bangeso nagaya hae. (Pertama, kamu harus keluar dari kamar ini)” katanya.

“Uri eodilo galkoya? (Kita mau kemana?)” tanyaku.

“Do you want to go to amusement park?” ajaknya lalu menggandeng tanganku dan menariknya keluar kamar. 

“Wait!! I should change my outfit” kataku.

“Yeppoyo (cantik kok)” balasnya tersenyum kembali menarikku.

“W-Wait! I should take my purse” kataku lagi.

“A, ne! (Oh, iya)” balasnya.

Aku meraih tasku diatas meja sambil kupoleskan sedikit lipstick agar tak terlalu tampak pucat. Aku tak bisa menahan senyumku didepan cermin, “oke! Mari kita berkencan” kataku pada diri sendiri.

Kang menggandeng tanganku menuju lobi lalu meminta petugas resepsionis untuk memesankan mobil dengan supirnya, “please wait, sir” jawabnya.

“Ige bboya!! (Apa-apaan ini!!)” teriak salah seorang pria yang berjalan kearah kami. Tubuhnya pendek untuk standar ukuran laki-laki, berkulit putih dan memakai kacamata berbingkai hitam. Rambutnya disisir rapi mengkilat, kupikir matanya hampir keluar saking melototnya, ekspresinya tampak lucu sebenarnya. Mataku tertuju pada jaket bomber yang terlihat kebesaran untuk tubuh kecilnya. 

“Nugu? (Siapa?)” tanyaku pelan.

“Kim maenijo (manajer Kim)” jawab Kang tersenyum.

Manajer? Dia manajer Kang?

“Omo! (Astaga!)” kataku tak percaya, “ottokhae? (Gimana ini?)” sambungku.

Kang melirikku, tersenyum “kogjong mala.. (jangan khawatir..)” bisikknya.

“Neo wae gunyowaisso? (Kenapa kau bersamanya?)” tanyanya cepat dan melihatku dengan marah.

“Urin sagwigo issoyo (kami pacaran)” jawab Kang.

“Mworago?! Andwae..andwae. (Apa katamu?! Nggak boleh..nggak boleh)” balasnya menggeleng.

Kang tersenyum, “amudo nega yagsog, ​​alko! (Nggak ada yang tahu kok, aku janji!)” kata Kang.

“Neo michyeosso! (Apa kau sudah gila!)” balasnya.

“Ama (mungkin)” jawabnya nyengir.

“Geneun tangsini hyugareul ballihadago malhetsjiman wae yeogiwado deiteu? (Katanya kau ke bali untuk liburan, tapi kenapa kau ada disini dan malah berkencan?)” balasnya kali ini tampak seperti memohon.

“Tangsineun jongjongi gateun muesul manduleo? (Apa kamu sering buat dia kayak gini?)” bisikku pada Kang.

“Geneun hangsang-icheoleom! (Dia selalu seperti ini!)” jawab manajer Kim kesal, “jamkkan! neo hangugeo hal suisso? (Sebentar! Kau bisa bicara korea?)” sambungnya baru sadar.

Aku tersenyum dan membungkuk, “ne, nae ireum Adine, joheun tangsineul mannal (iya, kenalkan nama saya Adine, senang bertemu denganmu)” jawabku.

Manajer Kim membalas membungkuk, “ottokhae aneunkoya? (Bagaimana kamu bisa kenal dengannya?)” tanyanya.

“Excuse me, sir. The car is ready” potong petugas hotel lalu menunjuk mobil yang telah siap didepan pintu hotel. 

“Eodie ga? (Mau kemana?)” tanya manajer Kim panik.

Kang menggandeng tanganku keluar hotel, susah payah aku menyamakan langkahnya karena Kang sengaja mempercepat jalannya agar tak diikut manajer Kim.

“Yaa! Eodie ga?! (Hei! Mau kemana?!)” teriak manajer Kim sambil berlari mengejar kami.

“Ttaraojima! (Jangan ikuti aku!)” balas Kang ikut teriak.

Manajer Kim berlari cepat, “andwae! Tangsingwa hamkke gaya! (oh tidak! Aku harus ikut!)” jawabnya dan melompat kedalam mobil.

Kang menghentikan langkahnya, “naga! (Keluar!)” katanya kesal.

“Sirheo! (Nggak mau!)” jawab manajer Kim, “you jump, i jump! Remember, titanic? You jack, i rose..” sambungnya lalu mengenakan sabuk pengaman.

“Mwo?! (Apa?!)” tanya Kang semakin kesal.

Aku tak bisa menahan senyum melihat tingkah manajer Kim. Mereka berdua tampak seperti anak kecil yang sedang berebut kursi mobil.

“Salamduri noreul bondamyeon, (kalau orang-orang sampai melihat kalian berdua,)” ucap menajar Kim sambil menyilangkan tangannya didada, “kedeurun uisim seroul keotida. (Mereka akan curiga)” sambungnya.

“Geureso mwo? (Memangnya kenapa?)” balas Kang.

“He’s right..” kataku.

“Bwa! Geunyoneun ihaedonda.(tuh liatkan! Dia aja ngerti)” kata manajer Kim.

“Gwenchana..(nggak apa-apalah..)” bujukku.

“Najunge neol chugilkoya. (Aku akan membunuhmu nanti)” jawab Kang pada manajer Kim dan menggiringku masuk kedalam mobil lalu menutup pintunya.

Kang berlari menuju sisi pintu satu lagi, karena manajer Kim duduk ditengah, kami terpaksa duduk terpisah. Kang menutup pintunya dengan kesal, “wae jungkane anjaissda? (Kenapa kau duduk ditengah?)” tanya Kang kesal.

“Wae? Olin sijolbuto naneun jungkane anja joha (kenapa emang? Dari kecil aku memang suka duduk di tengah kok)” jawabnya.

“Neo jongmal jjajeungna! (Kau ini menjengkelkan sekali!)” ucap Kang kesal.

“Najunge gomawo halkoya. (Nanti juga kau akan berterima kasih padaku)” jawab manajer Kim.

“Naega wae? (Kenapa emang?)” tanya Kang penasaran.

“Naneun noui eomoniga uisimsulobji anhdologi modeun gosulhakoissda. (Aku kayak gini supaya ibumu nggak curiga)” jawab manajer Kim.

“Uri eommaga dolaga syeossda. (Ibuku sudah meninggal)” balas Kang marah.

Ibunya meninggal? Benarkah? Saat dia mengatakan bahwa dirinya tahu persis apa yang aku rasakan ternyata bukan sekedar kata-kata. 

“Daleun eommaneun gyong-yongjini CEOibnida. (Ibumu yang satu lagi maksudku, manajemen CEO)” jawab manajer Kim sambil membetulkan kacamatanya.

Kang menoleh kearahku, “urin kayahani? (Kita jadi pergi atau nggak?)” tanyanya.

“Oh, dufan yah pak” kataku pada supir. 

“Baik” jawabnya mengangguk.

“Joha, deiteuhaja! (Oke, mari kita pergi kencan!)” ucap manajer Kim sambil bertepuk tangan senang.

Ponselku berdering dan aku merogohnya kedalam tas, setiap kali aku berusaha mengambil ponselku didalam tas pasti selalu membutuhkan waktu yang lama untuk mengambilnya. Rasanya aku ingin membalikkan tasku agar semua isinya tumpah dan akan lebih mudah menemukannya, pikirku.

Kupandangi layar ponsel, lama aku tatap nama yang muncul disana, Bisma Hengkara. Dia adalah pengacara keluarga, kesetiaannya pada ibu sudah hampir sepuluh tahun.

Kugigit bibir lalu kuangkat telfonnya, “Halo?” ucapku.

“Halo, Adine. Apa kabar?” balasnya.

“Baik,” tanyaku ragu.

“Bisa kita ketemu saja?” tanyanya.

“Bisa, tapi ada masalah apa?” kataku balik bertanya.

“Ini perihal warisan almarhum Ibu, siapa pemegang saham rumahsakit-” jawabnya.

Aku menarik nafas dalam, “kalo soal itu saya nggak tertarik membicarakannya” jawabku.

“Tapi ada sesuatu yang harus Adine ketahui” ucapnya serius.

Kupejamkan mata, “pak, saya minta maaf. Saya benar-benar nggak-”

“Surat wasiatnya palsu!” potongnya.

“Palsu?” tanyaku bingung.

Kang menoleh, “gwenchana? (Apakah baik-baik saja?)” tanyanya khawatir.

Aku meraih tangan Kang, “Siapa yang memalsukan?” tanyaku ngeri.

“Bisa bertemu siang ini dikantor saya?” ucap Bisma.

Aku mengangguk, “bisa, kebetulan saya sedang dijalan” jawabku.

Aku langsung mematikan ponsel dan menepuk bahu supir, “pak kita putar arah ya” kataku.

“Naneun daleun gose gaya hae. (Aku harus pergi ke tempat lain)” kataku pada Kang, “mian (maaf ya)” sambungku.

“Museun iriya? (Ada apa?)” tanyanya penasaran.

“Berhenti didepan, pak” kataku pada supir, “I’ll call you, sorry!” sambungku pada Kang.

Kubuka pintu dan berjalan buru-buru. 

Kang meraih tanganku, “jamkkan, naneun nowa hamkke galgoya. (Tunggu, aku ikut denganmu)” katanya.

“Hajima, nan gwenchana (jangan, aku nggak apa-apa kok)” jawabku tersenyum.

“Uriga hamkke damyeon hae, gieoghe? (Kita hadapi sama-sama, ingat?)” balasnya. Kang mengusap pipiku, “noneun ije deo isang honjaga anida. (Kamu tidak akan sendirian lagi mulai sekarang)” sambungnya.

Aku menarik nafas dalam lalu tersenyum senang, “arasso, hangsang hamkke halkeyo (baiklah, kita akan selalu bersama)” kataku.

“Yaa! naneun eottae! (Hoi!! Aku gimana?!)” teriak manajer Kim dari dalam mobil.

“Haengbokhan deiteu!! (Semoga kencanmu menyenangkan!!)” teriak Kang sambil tertawa.  

“Yaa! Yaa!!” manajer Kim berteriak semakin kencang bersamaan dengan mobilnya yang berjalan menjauh.

Kang menggandeng tanganku, “let’s go!” katanya lalu aku melangkah pasti kedepan bersamanya.

Bersambung…

I’ve seen your drama – episode 6

“Jeon namja chingu?! (Mantan pacar?!)” tanya Kang tak percaya.

Aku mengangguk lalu meneguk minumanku. Kami duduk di salah satu kafe rumahsakit. 

“Keuge nega han iyuya? Wae? Bukeurowoyo? (Itu sebabnya kamu lari tadi? Kenapa? Malu?)” tanyanya bingung.

Aku menggeleng, “pegoppayo (aku lapar)” jawabku sambil memanggil pelayan, “mba, mau pesen dong” kataku.

Dengan wajah kebingungan Kang menatapku lalu pelayan bergantian, “pegoppayo? Keuga wae yeogie? (Lapar? Siapa dia, kenapa dia disini?)” tanyanya bingung.

Aku tersenyum, “gunyoneun weitoida, tangsini moggo sipo? (Dia pelayan, kamu mau makan apa?)” tanyaku, “nasi goreng satu yah mba” sambungku pada pelayan.

Kang mengeluarkan ponsel lalu mulai mengetik.

“Hyo Jae-ssi, mogulle? (Kamu mau makan nggak?)” tanyaku sekali lagi.

Kang menatapku sebentar lalu kembali ke ponselnya.

Aku mengetuk-ngetuk meja, “yaa, moggo sipni? (Hei, Kamu mau makan apa nggak?)” tanyaku sekali lagi.

“Jamsimanyo (tunggu sebentar)” balasnya singkat.

“Dia nggak makan mba, dia turis nyasar disini” sambungku pada pelayan kesal.

Pelayan tersenyum, “baik mba, jadi pesanannya cuma nasi goreng aja satu ya?” katanya memastikan.

Aku mengangguk dan tersenyum, “iya” balasku.

Kang meletakkan ponselnya, “kkeutnan! mwoya? (Selesai! Gimana tadi?)” tanyanya.

“Opsoyo! (nggak ada!)” jawabku kesal.

“Aigo.. Eomsaljaengi (ya ampun..kekanakan sekali)” balasnya. 

Kang menyilangkan tangan didadanya, “naega yochonghal su isssubnida? (Boleh aku bertanya sesuatu?) tanyanya.

“Wae geurae? (Ada apa?)” tanyaku balik.

“Neo ajigdo gereul saranghae? (kamu masih sayang sama dia?)” tanyanya serius.

Aku terdiam, “wae geuroke butag hana? (Kenapa kamu tanya itu?)” kataku kikuk.

“Wae andwae? (Kenapa nggak boleh?)” balasnya.

“Urineun chinguga anida. (Kita bukan teman)” jawabku cepat.

“Urineun mueosibnikka? Yeonin? (Jadi kita apa? Sepasang kekasih?)” tanya Kang usil.

“Yaa! Kamhihaji ma! (Hei! Jangan macam-macam!)” jawabku panik.

Kang spontan tertawa, “jullaeyo? (Mau nggak?)” sambungnya.

“Chugullae?! (Lo mau mati?!)” ancamku.

Pelayan datang membawa pesananku dan meletakkannya diatas meja, “makasih ya mba” kataku tersenyum. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat Kang yang masih tertawa, “gila” bisikku.

“Oh!” ucapnya ketakutan lalu buru-buru pergi.

“Neo mworago haessni? (Kamu bilang apa sama dia?)” tanya Kang curiga.

Aku meniup nasi goreng yang panas dihadapanku, aroma uapnya membuatku semakin lapar. Aku tersenyum senang. 

“Masissni?? (Enak?)” tanyanya tersenyum.

Aku menyuap satu sendok dan menikmatinya, “Masshita! (lezat!)” kataku senang. Lalu aku mulai melahapnya seperti orang gila yang kelaparan. 

“Chonchoni mani duseyo (makanlah pelan-pelan)” ucapnya lalu memberikan tisu, “ppyam ssal (nasi di pipimu)” sambungnya lalu membersihkan sisa nasi di pipiku.

Aku meletakkan kembali sendoknya. Kutatap wajahnya lama. Pria ini, apa aku bisa mempercayainya? Apa aku memang membutuhkannya disini? Kenapa aku bisa bersamanya disini?

“Ijeon jilmun.. (pertanyaan kamu tadi..)” kataku.

Kang menyenderkan duduknya, “Geurol gachiga issni? (Apakah dia sangat berarti bagimu?)” tanyanya serius.

“Nado molla..(aku juga nggak tau..)” kataku pelan, “joldae nan doraboji ankesso (aku tidak mau lagi melihat kebelakang)” sambungku. 

Kenangan itu mendadak muncul lagi. Saat semuanya baik-baik saja, saat tak ada yang kami pikirkan kecuali bersama. Bagas yang nekat melepaskan gelar dokternya disemester terakhir demi menulis dan alasan dia melakukan itu semua karena aku. Dia nekat melamarku saat lari pagi dan membeli cincin pada salah seorang pedagang yang berada didekat situ. Dulu semuanya baik-baik saja. Dan ibu.. ibu yang paling bahagia saat kukatakan kami akan menikah. Ibu yang mempersiapkan semuanya. Sampai akhirnya orangtua Bagas datang dan membatalkan semuanya. Selain aku, orang yang paling terpukul adalah ibu.

Aku mengalihkan pandanganku dan menyapu air mata diujung mata.

“Uljimayo.. (jangan menangis..)” ucapnya pelan. 

Kang mendekatkan tubuhnya kearahku, “tangsinege sangcheo jul su inneun yuilhan sarameun tangsin jasinida (Satu-satunya orang yang dapat menyakiti hatimu adalah dirimu sendiri)” katanya lalu mengusap pipiku. 

“Noreul seulpege mandeulji mala. (Jangan biarkan orang lain membuatmu sedih)” sambungnya.

Aku menatapnya terkejut, namun entah kenapa aku membiarkan tangannya menyentuh wajahku, “Kang Hyo Jae-ssi..” kataku hampir berbisik.

“Wae tangsini chwiyag, (kenapa kamu rapuh sekali)” katanya menatapku, “noreul bohohago sipda (jadi membuatku ingin melindungimu)” sambungnya.

Aku pura-pura meneguk minumanku, “naneun yaghaji anhda, nan geunyang- (Aku nggak rapuh, aku cuma-)”

“Narang gatchi isseo (tetaplah bersamaku)” potongnya.

“Mwo? (Apa?)” tanyaku tak percaya.

“Uriga hamkke (kita bersama-sama aja)” jawabnya tersenyum, “Aratji? (Oke yah?)” sambungnya.

“Naneun, hal sueobsda (Aku, nggak bisa)” jawabku dan melepaskan tangannya. 

“Wae? (Kenapa?)” tanyanya.

Aku menggigit bibirku, “naneun kegosi joheun saenggak yeoja chingu namsong yumyong insa anin keos katayo (aku pikir, punya pacar selebriti bukan ide yang bagus)” 

Kang menunduk dan mengalihkan pandangannya, “Geureohkuna.. (oh gitu ya..)” bisiknya.

Aku mengangguk, “Mm.., geureohjiman, sanghwangeun tangsinui gyengryeoge ​​buliigeul jul geosibnida.. (lagipula, hal ini akan merugikan karir kamu)” kataku, “majjyo? (Iya kan?)” tanyaku ragu.

Kang menatapku lama dan menarik nafasnya dalam-dalam, “ne, majja.. (Iya, betul..)” bisiknya.
                                      *

Berdiri didepan pintu masuk ruang operasi bukan hal yang mudah bagiku. Aku terus menerus melihat jam dan menggigit kuku sambil mondar mandir.

“Sontobeul mulji maseyo (jangan gigit kukumu)” kata Kang lalu menurunkan tanganku.

“Something’s wrong” balasku lalu mengintip kedalam.

“Isanghan? (Aneh?)” tanyanya penasaran.

“I 10 puniossda (ini sudah lewat sepuluh menit)” jawabku gelisah, “2 siganioyahanda (harusnya cuma dua jam)” sambungku.

“Deo manheun sigani pilyohal suissda (mungkin mereka butuh waktu lebih lama)” balas Kang.

Aku menggeleng, “ani, igeo swibji. (Nggak, harusnya ini gampang)” kataku kembali menggigit kuku, “na deurolkka? (Apa harusnya aku masuk aja?)” sambungku.

Kang menatapku heran, “na? (Masuk?)” tanyanya lalu kembali menurunkan tanganku, namun kali ini ia tak melepasnya,”are you allowed?” sambungnya.

“I’m neurosurgeon” jawabku kali ini menggigit bibirku, “after all, this is my mom’s hospital” sambungku.

“Mwo??! (Apa??!) Neurosurgeon?!!” tanya Kang teriak.

“Solihaji ma!(jangan teriak-teriak!)” balasku.

“Who is he, Adine?” sapa Rania yang tiba-tiba berada dibelakangku. 

Aku sama sekali tak membalas sapanya. Tak habis pikir kenapa dia masih punya muka menyapaku seolah-olah tak terjadi apa-apa.

“Annyeonghaseyo, joneun kang hyo jae (hai, kenalkan saya Kang Hyo Jae)” ucap Kang.

“Kang hyo jae?!! The actor Kang hyo jae? Omg!!” teriaknya tak percaya sambil menutup mulutnya. “Really?! I’m your fan, big fan, Rania” ucapnya girang dan menghentak-hentakkan kaki. ” I don’t know that you’re friend of my sister!!” sambungnya teriak masih menghentakkan kaki.

Kang melirikku lalu tersenyum kepada Rania, “i don’t know that Adine has a sister, nice to meet you” balasnya masih menjabat tangannya.

“Nice to meet you too, can i take a picture with you?” tanya Rania girang lalu mengeluarkan ponselnya, “saranghaeyo (aku mencintaimu)” katanya kali ini berjingkrak-jingkrak.

Aku memutar kedua bola mataku, “dodaeche.. (apa sih..)” bisikku malas.

“Hmm, yes sure” jawab Kang tersenyum lalu kembali melirikku, “ottokhae? (Gimana nih?)” bisiknya.

Aku mengendikkan bahu, “molla..! (Nggak taulah!)” balasku berbisik.

“Say kimchiiii!” ucap Rania masih girang lalu memeluk Kang.

Kang tampak tak nyaman namun tetap tersenyum. Sesekali melirik kearahku, pemandangan yang menggelikan pikirku. Aku masih mondar mandir dan menggigit kuku, Kang terus memperhatikanku sedangkan Rania tak berhenti bicara sejak tadi.

Kang mendekatiku, tersenyum “eonnido gwiyopta. (Adik kamu lucu juga)” katanya.

“Bwa eottoke haengbog (senang banget kayaknya)” kataku kesal.

“Wae? (Lah kenapa?)” tanya Kang heran.

“Opso! (Nggak ada!)” jawabku masih kesal.

“Yaa, neo wae guerae? (Hei, kamu kenapa sih?)” tanyanya balik, “jiltu? (Cemburu?)” sambungnya.

“Jiltu?? Mal jom hajima! (Cemburu? Udahlah berhenti ngomong!)” balasku masih mengintip.

“Kang hyo jae oppa, one more photo. Just one more” potong Rania sok imut. 

Menjengkelkan sekali!

Kang menarik tanganku, “gaibhago sipsubnida! (Kamu ikutan yuk!)” ajaknya.

Aku melepaskan tangannya, “Sirheo! (Nggak mau!) kataku menggeleng, “naneun durolkoya (Aku mau masuk.)” jawabku lalu mendorong pintu.

Aku berjalan cepat menuju area pembedahan dan berlari secepatnya begitu melihat kepanikan para perawat. 

“What happened!” teriakku panik.

“Asystole!” jawab Fajar yang sedang melakukan CPR.

Asystole adalah suatu keadaan dimana tidak ada aktivitas listrik. Secara klinis, pasien dalam keadaan tidak sadar, apnea dan tanpa nadi. 

“Minggir!!” kataku pada Fajar dan mengambil alih CPR, “charge 200 joule!!” kataku pada perawat agar segera menyiapkan defibrilator.

“Tolong ibu.. tolong, jangan sekarang!” bisikku masih melakukan CPR, “jelaskan kronologisnya!” kataku.

“Operasi berjalan baik, semuanya baik-baik aja. Pasien tiba-tiba mengalami henti jantung!” jawab Fajar.

Aku meraih defibrilator, “CLEAR!” teriakku untuk memastikan semua menjauh dari pasien.

Kuperhatikan monitor EKG, “no sign ROSC!” kata Fajar.

ROSC atau Return of Spontaneous Circulation adalah kembalinya aktivitas perfak jantung yang berkelanjutan yang terkait dengan usaha pernafasan yang signifikan setelah serangan jantung. Tanda-tanda ROSC meliputi pernapasan, batuk, atau gerakan dan denyut nadi teraba atau tekanan darah yang terukur.

“Charge 300 joule!” kataku kembali melakukan CPR selama dua menit.

Comeback please! Aku mohon..

Aku meraih kembali defibrilator, “CLEAR!” teriakku lalu menatap layar monitor. 

“No sign ROSC” ucap Fajar.

“Berikan epinephrine 1mg!” perintahku dan kembali melakukan CPR, “charge 360 joule!” kataku.

“Comeback!!!” teriakku marah masih melakukan CPR. 

Aku meraih kembali defibrilator, “CLEAR!!” ucapku lalu kutatap tak percaya garis mendatar yang melintang pada layar monitor EKG.

“Amiodarone 300mg!” ucapku kembali melakukan CPR.

“Adine..” ucap Fajar pelan.

“Shut up!” balasku.

“Adine..” ulangnya lalu menyentuh tanganku. Aku menepisnya, “ibu pasti kembali..dia harus kembali!!” kataku masih melakukan CPR.

“Adine.. i’m really sorry..” ucapnya.

“No, no, no!! comeback!! Please comeback!!” teriakku masih tetap melakukan CPR.

“Adine, berhentilah..” ucapnya pelan.

“Amiodarone 300mg!!!” teriakku pada perawat.

“Adine stop!!! Kita udah berusaha maksimal!!” bentak Fajar.

Aku menatapnya tak percaya. Fajar meraih tanganku lalu kuhentikan CPR, kupandangi sekali lagi layar monitor EKG, kupejamkan mata, “get out..” bisikku.

Kupandangi wajah ibu yang sudah membiru. Aku benar-benar tak percaya, rasanya seperti mimpi. Tangisku pecah tak bisa kutahan lagi. 

“Adine..” bisik Fajar lalu merengkuh bahuku.

“GET OOOUUTTT!!” teriakku histeris.

Aku terduduk lemas di ruang operasi. Aku menggenggam tangan ibu yang dingin dan pucat, kucium lalu kuusapkan ke pipiku.

“Kita ke korea ya bu.. ikut Adine ya bu..” ucapku diantara isak tangis.
Bersambung…

I’ve seen your drama – episode 5

Aku terbangun saat mendengar ketukan pintu, “non Adine?”. Dengan langkah lunglai sambil menguncir rambut kubuka pintu kamar, “ya mba. Kenapa?” tanyaku.

“Bapak panggil untuk makan dibawah, non” jawabnya. 

Aku mengangguk, “bentar lagi aku turun” kataku lalu kembali menutup pintu.

Kubasuh wajah seadanya dan mengganti pakaianku. 

Aku menuruni anak tangga satu demi satu sambil memandangi pajangan foto yang dipasang didinding. Kuperhatikan foto ibu disana, tampak cerah dan muda. Rambut ibu yang selalu dipotong pendek, tubuhnya yang kurus namun selalu tampak cantik karena mata ibu yang besar berwarna kecoklatan. Tak ada jalan lain selain menyembuhkannya, bahkan tak ada yang tersisa dirumah ini untukku selain ibu. 

Aku tiba diruang makan dan ayah sudah menunggu, “duduklah” ucapnya. Kupandang Rania yang duduk didepanku, tatapannya penuh kebencian. Aku pikir, terkadang orang memang takkan dewasa hanya karena usia, sebagian dari mereka adalah anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Rania adalah salah satunya atau mungkin dia makhluk sejenis alien. Oh, ya Tuhan! Aku berharap dia benar-benar alien.

“Adine, ayah sudah dengar semuanya dari Rania. Hal ini benar-benar buat ayah kecewa” ucap ayah memulai pembicaraan. 

“Nurunin aku dijalan tuh keterlaluan, ayah!” sambung Rania, “coba ayah bayangin, aku harus jalan jauh buat cari taksi” ucapnya.

“Adine, apa harus dipaksa untuk minta maaf sama adikmu? Kamu ini seorang kakak, apa pantas berbuat seperti itu terhadap adikmu sendiri?” ucap ayah.

Aku meletakkan sendok lalu kutatap ayah, “aku pikir ayah tau siapa disini yang harus minta maaf? apa perlu aku ungkit alasannya?” jawabku, “dan itu halte! Kalo lo nggak tau gimana nyari taksi di halte, mungkin lo harus sekolah lagi!” sambungku kesal sambil menunjuk Rania.

“Ayah! Ayah liatkan dia ngomongnya gimana?” rengeknya. 

“Adine! Minta maaf sekarang!” bentak ayah.

“Kenapa? Kenapa aku yang harus minta maaf!” balasku.

“Kakak! Kenapa bentak-bentak ayah?” ucap Rania.

“Gue nggak ngomong sama elo!” kataku kesal.

“Cukup! Ayah nggak mau dengar lagi apapun alasannya. Kamu jangan seperti anak-anak, apa susahnya minta maaf sama adik sendiri!” balas ayah.

“Dia bukan adik aku! Dia bukan siapa-siapa!” teriakku.

“Dia adikmu! Dia anak ayah dan ibu!! Kalau kelakuan kamu begini terus, ayah tak akan membiarkan kamu pegang rumahsakit, mungkin memang sebaiknya Rania yang pegang rumahsakit itu..” ucapnya.

Kutatap wajah Rania lekat-lekat. Kuperhatikan bibirnya tersenyum licik. Aku berdiri, “rumahsakit?” tanyaku heran, “apa hubungannya masalah ini dengan rumahsakit? ayah pikir aku peduli siapa yang mau pegang rumahsakit?! Terserah ayah mau kasih rumahsakit sama siapa, aku nggak peduli. Kalau otak dia sanggup untuk pegang rumahsakit, silahkan!” sambungku tak bisa menahan amarah lagi, “aku nggak lapar” kataku cepat dan menaiki tangga.

“Apa ini gara-gara kamu cemburu Rania mau nikah sama Bagas?!” kata ayah.

Langkahku terhenti.

Kukepalkan tangan menahan amarah, “cemburu?” tanyaku. 

Aku tersenyum sinis, “cemburu?” ulangku. 

“Kamu yang kabur waktu itu! Kenapa sekarang menyalahkan Rania?!” ucap ayah. 

“Iya! Kakak yang pergi ninggalin dia. Aku udah tau ceritanya semua dari Bagas” sambung Rania.

“Oh, wow. Really?” sindirku.

“Dia bilang lo nggak terima kenyataan dan nggak nyelesein masalah, malah kabur. Dia capek ngikutin maunya lo yang egois!” balas Rania.

Aku mendadak tertawa. Apa yang barusan Rania ucapkan terdengar lucu ditelingaku, “egois? capek?! Dia capek sama gue tapi sekarang dia pacaran sama lo?” aku kembali tertawa, “goodluck!” ucapku sinis.

“Lo iri! Lo iri karena gw mau nikah sama dia!” teriak Rania.

“Cukup!” potong ayah.

Aku menuruni anak tangga dan kembali ke ruang makan, “mungkin gue harus jelasin perbedaan antara lo sama gue,” jawabku mendekati Rania. 

“Pertama, gue punya kemampuan otak yang cukup tinggi untuk menganalisa situasi dengan cepat sehingga gue tau mana yang benar dan mana yang salah. Kedua, gue memiliki integritas yang tinggi terhadap harga diri gue jadi pantang bagi gue mengais-ngais sampah bekas orang lain dijalanan. Ketiga,” kataku dengan nada tenang, kutatap wajah Rania yang berubah menjadi ngeri. 

“Adine! Cukup!” bentak ayah.

“Ketiga, gue dan Bagas memang dulu pernah saling mencintai but it was gone for me because i instantly knew that moment whe HE LEAVE me five years ago he was a jerk and still a jerk until now! Gue nggak mungkin terima laki-laki sinting yang hampir nikah dengan “kakak” gue dengan cincin murahan berbentuk hati yang ada dijari manis lo itu.” sambungku.

Rania memandangi cincin dijari manisnya lalu menatapku dengan ekspresi yang hampir menangis, “lo bukan kakak gue!” katanya.

“Thank God, akhirnya lo ngerti sekarang” jawabku sambil tertawa, “oh, dan lo perlu tau kalo cincin itu bekas gue dulu. Nggak percaya? Dia pasti bilang cincin itu warisan nyokap dia, and you know what? that ring was not even real, kita beli itu dipasar loak. Itu palsu, lo bisa cek kalo nggak percaya.” sambungku.

Rania mulai menangis lalu akhirnya berteriak-teriak seperti orang gila, “puas!! Puas lo liat gue kayak gini?!!” teriaknya.

“Adine cukup! Mulai saat ini kamu bukan anak ayah! Nama kamu akan ayah hapus dari daftar keluarga!” bentak ayah.

“Sebenarnya anak ayah itu siapa sih? Aku atau Rania?” ucapku kesal, “yang lahir dari rahim ibu itu siapa? Darah daging ayah itu siapa? Atau aku harus tanya sama ibu sebenarnya ayah aku itu siapa?” tanyaku marah.

Plak!

Satu tamparan keras melayang tepat dipipiku. Kutatap ayah tak percaya lalu kulirik kembali Rania, awalnya dia sama terkejutnya denganku namun lama-lama dia tersenyum puas. 

Dasar wanita jalang, brengsek! 

“Minggat kamu!!” bentak ayah. 

Dadaku naik turun saking marahnya. Airmataku mengalir tanpa kusadari.

Aku berlari menuju kamar dan membanting pintu. Aku terduduk menangis. Kutahan suara tangis sekuat tenaga, karena tak ingin siapapun mendengarnya. 

Ponselku bergetar dan kupandangi layar. Satu pesan masuk dari Kang Hyo Jae, “yeogi isseoseo (aku udah sampai disini)” tulisnya.

                                        *

Kukemasi barang-barangku dan keluar dari rumah. Aku putuskan untuk menginap di rumahsakit bersama ibu. Kubuka pintu kamar ibu pelan supaya ibu tak terbangun mengingat sudah larut malam. Kuletakkan tasku perlahan diatas meja dan mulai merebahkan tubuhku diatas sofa. 

Kubuka layar ponsel dan mulai membuka satu persatu notifikasi, entah sudah berapa kali Kang Hyo Jae menghubungiku sejak tadi. Namun tak satupun kubalas pesannya, lagipula aku tak tau harus membalas apa.

“Adine?” suara pelan ibu membuyarkan lamunanku.

Aku menghampiri ibu, “iya bu, Adine tidur disini ya?” tanyaku dan memegang tangan ibu.

Ibu menggeser tubuhnya dan memberi isyarat agar aku tidur disampingnya. Aku tersenyum lalu menaiki tempat tidur ibu dan tidur disampingnya. Ibu memelukku dengan tangan lemahnya. Mencium aroma tubuh ibu spontan mengembalikan kembali kenangan masa kecil, saat aku masih tidur satu kasur dengannya, saat ibu selalu menceritakan kisah-kisah dongeng sebelum tidur.

“Kok Adine nggak tidur dirumah?” tanyanya.

“Adine pengen sama ibu aja” jawabku.

Sambil memainkan rambutku ibu bertanya, “Adine udah ngomong dengan ayah soal-”

“Adine nggak mau bahas masalah itu, bu” potongku.

“Jangan lari dari masalah, Adine” bisiknya.

Aku menengadah, kuperhatikan wajah ibu yang sudah keriput. Wajahnya pucat namun tetap cantik. Garis kerutan matanya terlihat sangat jelas, dia terlihat sangat letih dan tua. Dadaku terasa sesak, “yang penting sekarang ibu sembuh dulu” balasku.

Ibu melepas kalungnya dan memberikannya padaku, “ambil ini” katanya.

“Kok dikasih ke Adine, bu?” tanyaku heran.

“Buat Adine” jawabnya tersenyum.

Aku memandang heran ibu. Kuperhatikan liontin kalung berbentuk hati, “yeppeun (cantik)” bisikku. 

“Buka” kata ibu.

Aku mengernyitkan dahi lalu kubuka. Terdapat foto ibu berukuran sangat kecil dan fotoku disisi satunya. 

“Waktu terus berjalan, yang ada disekitar kitapun pasti berubah. Walaupun ibu tak selalu ada disisimu, berjanjilah untuk terus melihat masa depan. Ibu akan terus hidup disini,” ucapnya menunjuk dadaku, “selamanya..” sambungnya.

“Oh, Ibu..” kata-kataku tersendat, aku tak mampu meneruskannya.

“Kesayangan ibu..” bisiknya sambil mencium keningku, “sweet Adine..” sambungnya.

Ibu menghapus airmata dipipiku, “Ibu punya permintaan, janji sama ibu Adine penuhi permintaannya ya” katanya pelan.

“Mm” gumamku mengangguk.

“Biarkan Fajar yang operasi ibu besok” katanya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Ibu nggak mau Adine berada didekat ibu saat operasi.” jawab ibu.

Aku menatap heran, “kok ibu ngomong gitu?” tanyaku.

Ibu tersenyum, “Nggak akan terjadi apa-apa bu, Adine yang pastikan itu besok dimeja operasi. Prosedurnya cukup simpel, ibu tenang aja” balasku.

Ibu mengusap punggungku pelan, “Adine.. kalo memang prosedurnya simpel, harusnya Fajar aja cukup kan?” balas ibu.
Aku duduk dan memandangi ibu, “tapi bu-”

“Adine udah janji tadi” potong ibu. 

Ibu membelai wajahku, “semuanya akan baik-baik aja, Adine jangan khawatir..” bisik ibu.

Aku menangis dan mencium tangan ibu. Kembali kupeluk ibu, aku menangis sesunggukan dipelukan ibu, “saranghae eomma..(aku mencintaimu, ibu..)” kataku.

“Ajak ibu ke korea setelah selesai operasi, ya..” ucap ibu berusaha menahan tangisnya.

                                         *

Lama kuperhatikan diriku didepan cermin kamar mandi. Aku tertidur dipelukkan ibu tadi malam. Pagi ini aku bangun dengan wajah sembab karena menangis semalaman. Kutepuk-tepukkan wajahku  agar tak terlalu tampak pucat. Kupasang kalung pemberian ibu dan mendekapnya didada, lama sambil kupejamkan mata. 

“Gwenchana, everything will be fine” ucapku pada diri sendiri.

“Sudah siap?” tanya Fajar pada ibu. 

Aku berdiri disamping Fajar, “ibu biarkan Adine-” kataku.

“Kita udah bahas masalah ini kan?” potong ibu. Aku mengangguk pelan, “lo udah cek semua?” tanyaku memastikan.

“Yup!” jawab Fajar.

Ayah dan Rania datang tepat saat suster membawa ibu ke ruang operasi. Ayah sama sekali tak melihatku, kulirik Rania bersama Bagas disampingnya. Aku meninggalkan mereka dan berjalan bersama Fajar menuju ruang operasi. 

Aku menggigit bibirku, “Prosedur VP Shunt harusnya gampang, pastikan penempatan kateter ke ventrikel otak-“.

“Ventrikulo-peritoneal shunting, diperlukan untuk menyalurkan kelebihan cairan dan meringankan tekanan pada otak. Kateter dimasukkan dalam otak untuk menyalurkan CSF untuk sistem ventrikuler dalam rongga perut. Adine, gue tau apa itu VP Shunt prosedur. Rileks..” potong Fajar.

Aku menggangguk lalu tersenyum, “sorry, cuma mau memastikan aja” balasku.

Aku berhenti tepat didepan pintu masuk restricted area. Aku menggenggam tangan ibu, “kita ketemu lagi setelah operasi ya bu” kataku tersenyum.

Ibu mencium keningku sebelum akhirnya masuk ke ruang operasi. Ponselku berdering, aku melirik sebentar lalu kumasukkan kembali ke dalam saku celana.

“Sampai ketemu dua jam lagi” kataku pada Fajar. 

“Angkat tuh telfon lo dari tadi bunyi terus, kayaknya penting” balasnya sambil tersenyum lalu masuk ke ruang operasi.

Aku berjalan keluar dan menekan nomor Kang Hyo Jae. Hanya terdengar satu kali nada masuk, “eodi? (Kamu dimana?)” tanyanya langsung.

“Haukeland hospital, neo yeogi orgeoya? (Kamu mau kesini?)” tanyaku balik.

“Ne, jamsi gidaryeo (iya, tunggu sebentar ya)” jawabnya. 

Aku duduk di bangku ruang tunggu dan memejamkan mata. Rasanya aneh berada di ruang tunggu operasi dan bukan didalam ruang operasinya. Aku mencium aroma kopi dan otomatis otak mengirim sinyal untuk membuka mataku. 

“Hei..” sapa Bagas berdiri didepanku menawarkan segelas kopi.

Kuhela nafas dan menatapnya malas. Bagas duduk disampingku, “kamu butuh kopi” katanya.

Ragu namun akhirnya kuambil kopi dari tangannya, “thanks!” ucapku.

“Ibu akan baik-baik aja, kamu jangan khawatir” katanya berusaha menenangkan, “and, i’m sorry..” sambungnya.

Aku menyeruput kopiku lalu menatapnya, “Bagas, aku benar-benar nggak tertarik sama cerita kalian.” balasku.

“Kamu tau buku itu tentang kamu, kan?” tanyanya.

“Mm” gumamku.

“Kamu alasan aku menulis, Adine” sambungnya. 

“Bagas. Dengerin aku baik-baik, aku sama sekali nggak ada tenaga untuk membicarakan masalah kita sekarang ini.” ucapku tenang, “i’m happy that you finally found the one. I hope you guys are happily ever after dan aku nggak peduli siapa dia dan cerita atau penjelasan dibalik semua hubungan kalian. So, please stop. Ok?” sambungku. 

“Aku masih merindukanmu” balasnya.

Aku tertegun, lama baru kujawab, “beberapa dari dalam diri kita mungkin berpikir bahwa saling berpegangan membuat kita kuat, tapi terkadang yang membuat kita kuat adalah melepaskan,” kataku dan kutatap matanya, “kamu telah merubahku Bagas dan aku tidak akan melupakanmu..” sambungku.

Aku berdiri, “thanks for the coffee” kataku akhirnya dan meninggalkan Bagas sendirian dibangku ruang tunggu.

Aku berjalan keluar menuju lobi. Rasanya aku butuh udara segar, pikirku. Aku tau Bagas mengejarku dan sengaja kupercepat langkahku. 

“Adine..!” teriaknya. Bagas menghentikan langkahnya tepat disaat Kang Hyo Jae berdiri didepan pintu masuk. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya, aku berlari dan langsung memeluknya.

“Yaa, gwenchana? (Hei, kamu nggak apa-apa?)” tanyanya bingung.

“Jamkkan, jamkkan ana.. (sebentar aja, peluk aku sebentar aja)” jawabku.
Bersambung…

I’ve seen your drama – episode 4.5

Kurebahkan tubuh diatas kasur dan kupejamkan mata. Kutarik selimut hingga menutupi kepala, aku tak tau entah tubuhku atau pikiranku yang terlalu lelah. 

Ponselku berdering, kurogoh kembali kedalam tas namun tetap tak kutemukan. Aku terlalu letih untuk membuka mata, kuputuskan untuk menyerah dan membiarkannya berdering lama. 

Aku memasuki tahap kedua dari empat tahapan tidur saat ponselku kembali berdering. Dengan perasaan kesal aku membuka selimut lalu kukeluarkan semua isi tas. Kupandangi layar ponsel, nama Kang Hyo Jae kembali muncul. Seharian ini sudah empat kali dia menelfonku. Aku melemparnya kembali keatas nakas dan melanjutkan tidur. 

“Ah, jinca! (Yang benar saja!)” kataku kesal saat ponselku kembali berdering. Ternyata dia bukan tipe yang mudah menyerah. 

Aku duduk dan meraih ponselku dari nakas, “wae! (Kenapa lagi!)” teriakku.

“Wae?! dangsineun wae!! (Kenapa?! Kau yang kenapa?!)” balasnya kesal.

Aku memandangi layar ponsel tak percaya, “Wae na? (Kok aku?)” tanyaku.

“Dangsineun naega jeonhwaleul myeoch beon pyosidoeji anhneun iyuneun mueosibnikka? (Apa kamu nggak liat berapa kali aku telfon?)” tanyanya.

“Ye algessseubnida, geulaeseo mwo?! (Ya aku lihat, terus kenapa?!)” jawabku kesal.

“Yaa! Wae geuleohge hwaga? (Hei! Kenapa kamu jadi marah sih?)” balasnya, “geulaeseo naega neo hante jeonhwahago sipeumyeon eotteohge? (Memangnya kenapa kalau aku menelfonmu?)” sambungnya.

“Keunyang.. (It’s just..)” jawabku ragu, “i’m too tired, mian.. (Maaf..)” sambungku.

“Are you ok? Museun iliya? (Ada apa?) ” tanyanya pelan.

Aku menarik nafas dalam lalu kurebahkan tubuhku kembali ke kasur dan kupejamkan mata. Lama baru kujawab, “uri eomma.. apeun (ibuku.. sakit)” kataku hampir berbisik.

Tak ada suara diseberang, Kang tak mengeluarkan sepatah katapun, seakan dia tau aku tak butuh balasan. Entah kenapa aku menyukai keheningan ini. 

Eomma..jebal ganghae jyeoyo (Ibu.. kumohon bertahanlah) ucapku dalam hati.

“Is it serious?” tanyanya hati-hati.

“Mm. (Iya.)” gumamku.

“Neo gwenchana? Naega neo hante gagil balae? (Kamu nggak apa-apa? Kamu mau aku kesana?)” tanyanya.

Ye.. (iya..) aku ingin ditemani. Rasanya aku ingin menangis dipelukan seseorang. Rasanya aku membutuhkan bahu seseorang, siapapun itu aku tak peduli. Aku ingin Kang berada disini, rasanya dadaku hampir meledak karena sesak. 

“Anio.. nan, gwenchana. (Nggak usah.. aku, baik-baik aja kok)” jawabku.

Aku bisa mendengar nafasnya dengan jelas. Kang hanya diam, agak lama sampai akhirnya dia membalas, “wah! Bali niseu, nan yeogiga joha. (wah! Bali bagus banget, aku suka disini.)” katanya.

Aku tersenyum, “i know, I wish i was there too” balasku, “Hyo Jae-ssi, when you called me before, museun iliya? (Ada apa?)” tanyaku.

“I want to hear your voice” jawabnya.

“Waeyo? (Kenapa?)” tanyaku penasaran.

Kang kembali diam, seandainya ada kontes diam aku yakin dia pasti menang, dia ahli dalam hal ini. Aku menggigit bibirku dan menunggu jawabannya, “are you-”

“Bogosipoyo (aku pengen ketemu)” potongnya.

“Hyo jae-ssi, we’re just met” kataku bingung.

“Ara, hajiman nan yeojeonhi bogosipo (aku tau, tapi aku tetap ingin ketemu kamu)” jawabnya.

Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Ini gila, kalau Kang sampai nekat tetap ke Jakarta, ini cuma akan menambah masalahku. 

“Gidaryeo, naega olkke! (Tunggu aku. Aku kesana sekarang!)” ucapnya.

“Changkkaman! (Tunggu dulu!)” balasku.

Klik!

“Yaa! Kang hyo jae-ssi! Yeoboseyo? Yeoboseyo? Michyeosseo! (Hei! Kang hyo jae! Halo? Halo? Gilaaa!!)” ucapku panik.

Cepat-cepat kutelfon kembali nomornya namun ponselnya dimatikan. 

Aku mengetuk-ngetukkan jemari, membayangkan Kang Hyo Jae di Jakarta membuat kakiku lemas. Apa yang akan terjadi nanti di bandara, bagaimana kalau sampe fans-nya melihat dia? Bagaimana kalau berita ini sampai di Korea?

Aku berjalan mondar mandir dikamar. 

“Geurae! (Ok!)” kataku sambil menggigit kuku, “Let’s mess it up!” sambungku.

                                        *