AKU DAN KACAMATA HITAMKU – episode 9

KELUARGAKU YANG TENTERAM DAN PENYAYANG – TRANSKRIP FILM

Kamera memasuki dapur, tempat mas Pandu membungkuk di depan laptop.

“Kira-kira mama mau belikan gue satu set pisau nggak yah?” tanya mas.

“Berapa harganya emang?”

Mas pandu mengklik tombol browsing di laptop, “yang ini tiga juta.” menunjukkan satu set pisau profesional yang super keren.

Aku terdiam.

“Gue butuh pisau bagus, kata chef Juna gue boleh datang dan belajar sama dia di kitchen nya. Tapi gue harus mulai dari cuci piring atau yang lain-lain buat bantu. Dan kalau gue mau cuci piring dan lain-lain tadi, dia janji mau ngajarin gue.”

Mas Pandu mendongak dan seluruh wajahnya berseri. 

“Cool!”

“Lo tau nggak, kemaren dia bakar ayam pake obor gas, itu gila. Gue pengen kayak dia. Gue harus jadi chef. Harus!”

Aku senang karena akhirnya mas Pandu menemukan tujuan hidupnya, paling nggak dia sudah melupakan tentang game online nya. Paling nggak, dia sekarang memiliki cita-cita yang masuk akal dan aku yakin hal ini akan sangat menenangkan mama.

                                         *                 

Belakangan ini, aku jauh lebih sering tertawa setiap menemui Dr. Darabi. Dulu dia lebih banyak berbicara dan aku lebih banyak mendengarkan. Namun sekarang keadaan berbalik. Banyak banget yang mau aku ceritakan padanya, tentang Sigit, perjalananku ke luar rumah, berbicara dengan orang asing dan aku nggak panik sedikitpun..

“Jadi menurut aku, kayaknya aku selesai,” kataku begitu mengakhiri cerita. “Aku beres.”

“Beres?”

“Sembuh.”

Dr. Darabi mengetuk-ngetukkan pensil sambil merenung. “Maksud kamu..”

“Ya dokter taulah. Aku udah baik-baik aja. Udah normal.”

“Kamu jelas memang sudah mencapai kemajuan yang sangat bagus. Saya senang, Kama. Sangat senang.”

“Bukan cuma kemajuan bagus,” kataku tak sabar. “Aku kembali normal. Bulan depan aku sudah bisa bersekolah layaknya orang normal.”         

“Mmhhm.” Dr. Darabi memberikan jeda sopan sebelum membantahku. “Kamu masih pake kacamata hitam. Kamu juga masih mengonsumsi obat.”              

“Dokter nggak perlu senegatif itu sih.”

“Kama, saya cuma mau kamu realistis.”

“Aku realistis.”

Dr. Darabi mendesah, “Kama, saya senang kalau kamu benar-benar sembuh. Tapi banyak banget pasien yang pulih dari suatu episode seperti yang kamu lalui akan mengalami kemunduran. Dan itu nggak apa-apa. Itu normal.”

“Yah. Aku kan udah mengalami semua kemunduran itu.” Aku menatapnya datar. “Aku sudah selesai dengan kemunduran, oke? Aku nggak akan mengalaminya lagi. Itu nggak akan terjadi.”

“Saya tau kamu frustasi, Kama-”

“Aku berpikiran positif. Apa salahnya?”

“Nggak ada. Tapi jangan terlalu berlebihan. Jangan memberi dirimu sendiri tekanan. Resikonya kamu bisa memberi dirimu sendiri kemunduran yang nyata nanti.”

“Aku udah baik-baik aja,” kataku tegas.

“Iya, benar.” Dr. Darabi mengangguk, “tapi kamu itu rapuh. Bayangkan piring porselen yang diperbaiki yang belum sepenuhnya kering.”

“Aku piring?” kataku sinis tapi Dr. Darabi tak terpancing.

“Saya pernah punya pasien beberapa tahun lalu, sangat mirip dengan kamu, dia juga berada dalam fase kesembuhan yang sama. Dia memutuskan sesi terapinya yang sebenarnya sangat bertentangan dengan saran saya.”

“Trus, apa yang terjadi?” Aku nggak tahan untuk bertanya.

“Beberapa bulan kemudian suasana hatinya merosot ke kondisi terburuk. Dia benar-benar terpuruk.” 

Aku merasa kengerian menjalan keseluruh tubuhku. 

Dr. Darabi mengamatiku, mulutnya berkedut, “omong-omong, bagaimana aktifitas kamu akhir-akhir ini? Menyenangkan?” berusaha mencairkan suasana.

“Yes. Menyenangkan.”

“Dan Sigit masih..” dia berhenti bicara tanpa terlalu kentara.

“Sigit.” Aku mengangguk, “dia masih Sigit. Ngomong-ngomong dia titip salam.”

“Oh!” Dr. Darabi terkejut, “yah, sampaikan salam dari saya juga.”

“Dan dia bilang, ‘good job’.”

Ada keheningan dan senyum kecil merambati wajah Dr. Darabi, “yah. Bilang sama dia good job juga.”

Dr. Darabi memberikan kuesioner seperti biasa dan aku berbohong sedikit waktu mengisi kotak centangku.

Apakah kamu merasakan kecemasan hampir setiap hari? Tidak.

Apakah kamu mendapati kecemasanmu sukit dikontrol? Tidak.

Dr. Darabi membaca kuesioner itu dengan alis terangkat saat aku menyerahkannya.

“Kan aku udah bilang,” kataku pada Dr. Darabi. “Aku beres. Aku selesai. Pulih total.”

                                       *

Sekarang jam tujuh malam dan aku sendirian di rumah. Mas Pandu katanya mau balik ke sekolah ada kerja kelompok. Mama akhirnya memutuskan untuk ‘me time’ pergi ke spa. 

Aku mengirim whatsapp ke Sigit dan bercerita tentang Dr. Darabi. Aku bilang kalau aku ingin ketemu dan menyuruhnya ke rumah.

                                       *

Itu dua jam yang lalu dan Sigit belum juga balas. Aku memeriksa sinyal ponsel ke sejuta kalinya dan hasilnya baik-baik aja. Mungkin dia sibuk atau apalah.

                                       *

Jam sepuluh malam dia belum juga membalas. Padahal dia selalu membalas. Selalu dalam rentang waktu satu jam. Biasanya dia pasti bisa membalas whatsapp-ku entah dia sedang di kelas, makan malam keluarga atau dari mana saja.

                                      *

Sekarang jam sebelas dan dia masih belum membalas.

                                       *

Tengah malam. Tak ada pesan.

                                       *

Jam satu pagi, aku nggak bisa tidur. Aku bahkan nggak bisa berbaring. Aku mondar mandir di kamar, berjuang menenangkan pusaran pikiran tapi pikiranku bagaikan puting beliung. 

Aku mengeluarkan clonazepam dari kemasan blister-nya lalu menatapnya lama. 

“Aku sudah sembuh. Aku sembuh.”

Aku membuangnya ke dalam toilet dan menyiram semuanya. 

“Aku nggak butuh pil.” 

                                         *

Ponselku bergetar di bawah bantal dan seketika aku terbangun. Aku menatap jam, pukul 03.00 subuh dan aku melirik layar ponsel. Mas Pandu.

Keningku mengernyit, “Halo, mas?”

“Kama, jangan panik oke?”

“Ada apa?”

“Pokoknya jangan panik!”

Pintu kamarku terbuka dengan kasar. Mama muncul tergopoh-gopoh sambil memakai kimono tidurnya, “Kama, sayang..” mama mendekatiku lalu mengusap rambutku.

Aku menelan ludah, bagaimana bisa aku tidak panik?

“Ada apa?” tanyaku panik!

                                         *

Aku setengah berlari menuju ruang gawat darurat. Ini nggak mungkin, aku nggak percaya. Ini nggak masuk akal.

Kudorong pintu masuk dan mendapati Dr. Darabi di sana. Menangis. 

“Oh, Kama..” tangisnya pecah begitu melihatku lalu memelukku.

“Dokter? Kenapa ada di sini?” tanyaku heran.

Mas Pandu membuka tirai dan aku melihatnya. Wajah Sigit yang kaku dan pucat. Tak bisa kupercaya Sigit meninggalkanku. Kubekap mulutku dan aku terjatuh, menangis dan berteriak seperti orang gila. 

Saat mas Pandu mengatakan bahwa Sigit baru saja meninggal aku tak langsung percaya. Bahkan saat mama berusaha meyakinkanku bahwa berita itu benar aku masih tak bisa percaya. 

Dia tak pernah cerita bahwa dirinya mengidap leukimia. Aku tak pernah melihatnya kesakitan sekalipun. Dia sama sekali tak terlihat sakit bagiku. Dia baik-baik saja. Kemarin sore kami baru saja makan es krim kesukaanku sama-sama. 

Kepalaku pusing, dan aku butuh sandaran. Dr. Darabi memelukku sambil menangis. Aku masih tak mengerti kenapa dokter ada di sini. 

“Dia anakku, Kama..” bisiknya. “Sigit anakku, satu-satunya..”

Bersambung…

Advertisements

Aku dan kacamata hitamku – episode 8

Setelah terapi berpegangan tangan, aku dan Sigit memutuskan menyusul mas Pandu ke dalam rumah. Kami berpikir untuk meringankan bebannya, siapa tahu mas butuh bantuan secara mental.

Dapur penuh dengan berbagai macam orang. Ada wanita tua mengenakan setelan kuno warna kuno dan gaya rambut yang benar-benar kuno. Ada wanita setengah baya berkepang dua dan memakai sendal jepit. Ada pasangan bertubuh subur yang kompak pakai sweater warna pink. Dan terakhir bapak-bapak beruban yang pakai jaket kulit naik skuter yamaha x-max. 

Sebenarnya skuter yamaha x-max itu lumayan keren. Tapi memang agak menghalangi jalan masuk orang lain. 

“Baiklah!” Mama datang dan menepuk tangan. “Selamat datang semuanya, terimakasih sudah bersedia ke sini hari ini. Karena acaranya dimulai jam tiga, saya sudah membeli bahan-bahannya..” mama mulai mengosongkan makanan dari tas belanja supermarket ke meja dapur. Mama membeli tomat, mentimun, selada, roti, ayam fillet dan ham. “Kita akan membuat sandwich hari ini, hm.. ada yang punya ide lain?”

“Roti gulung sosis?” kata wanita bertubuh subur tadi.

“Maksudnya beli roti gulung sosis atau buat roti gulung sosis?” kata mama sambil mengangguk.

“Ooh.” Wanita tadi tampak kebingungan. “Bukannya orang-orang suka roti gulung sosis, ya?”

“Ya sih. Tapi kita nggak ada roti gulung sosis atau sosisnya. Jadi-”

“Sayang banget,” komentar wanita itu, “soalnya orang-orang kan suka roti gulung sosis.”

Suaminya mengangguk, “iya bener.”

“Semuanya suka roti gulung sosis.” sambungnya.

Aku bisa melihat mama jadi agak tegang. “Mungkin lain kali,” ujarnya ceria. “Mungkin kita buat sandwich telur aja?”

“Mam!” kata mas Pandu ngeri. “Sandwich telur? Apaan!”

“Sandwich telur kan enak!” kata mama membela diri, “ya kan?”

“Maaf, menurutku kita bisa membuat yang lebih enak daripada sandwich telur.” Ada suara laki-laki memotong ucapan mama dan kami semua mendongak. Sosok yang belum pernah kulihat berderap memasuki dapur. Umurnya pasti tiga puluhan. Rambutnya cepak, tangannya full tato dan dia punya sekitar dua anting-anting di sebelah telinga dan memakai seragam koki.

“Saya Juna,” dia mengumumkan. “Kakek saya tinggal disekitar komplek ini.”

“Chef Juna?” Mama terbelalak melihatnya. “Chef Juna yang terkenal itu kan?”

Pria ini mengangguk sambil tersenyum, “saya punya waktu satu jam. Ini bahan yang ibu punya?” Dia membolak-balik belanjaan mama di kedua tangan. “Kayaknya kita bisa buat kebab dengan isian segar yang enak didalamnya ditambah salad Waldorf dan mungkin kita bisa panggang sebentar kulitnya terus dikasih saus lemon-tarragon..”

“Chef” wanita berbaju ungu melambaikan tangan di depan wajahnya. “Gimana cara kita mempertahankan salad-nya biar tetap segar?”

Chef Juna tampak heran, “oh, saya bawa kotak pendingin kok. Saya juga bawa peralatan katering, bisa dikembalikan besok.”

Wanita berbaju ungu tadi mengerjap kaget.

“Kotak pendingin?” Mama terlihat mulai bersemangat. “Peralatan katering? Wah!”

“Nggak masalah. Oke, jadi menu kita kebab isi salad waldorf ditambah beberapa-”

“Mm, kita bisa pake telurnya nggak?” Tanya mama, tampak malu. “Soalnya saya beli banyak banget buat sandwich telur tadinya, tapi kayaknya nggak ada yang minat”

“Kita bikin omelet,” kata chef Juna tanpa ragu. “Kita masukkan juga sosis, bawang putih, tumis sedikit bawang merah, kita bisa sajikan dalam irisan..”

Aku suka omelet. Chef Juna ini keren banget!

“Saya juga beli paprika, banyak.” Ujar mama penuh semangat, “bisa dimasukkan juga nggak?”

“Perfect.”

Chef Juna mengambil paprika dari mama dan membalikkannya dalam jemari. Kemudian dia membuka ransel dan menampakkan satu set pisau, semuanya dikemas rapi. Kami menyaksikan dengan antusias saat dia mengambil talenan dari meja dapur, menaruh paprika di sana dan mulai mencincang.

Semua orang di dapur menatap tertegun. Bahkan mas Pandu. Terutama mas Pandu. Chef Juna selesai dan semuanya bertepuk tangan, cuma mas Pandu yang masih terpana. 

“Loe.” Chef Juna melihat mas, “gue mau lo bertugas mengiris.”

“Tapi.” Mas menelan ludah. “Gue nggak bisa.”

“Gue ajarin, tenang.” Chef Juna menatap mas dari atas ke bawah. “Lo masak pake baju itu? Punya celemek?”

“Gue cari sekarang,” kata mas buru-buru dan aku menahan kikikan. Mas mau pake celemek?

Chef Juna sekarang menggeledah lemari-lemari mama, menaruh berbagai bahan di seantero meja.

“Saya akan buat daftar belanja,” dia mengumumkan. “Kita butuh keju parmesan, sosis, bawang putih lagi..siapa yang bisa disuruh belanja?”

Sigit meraih dan mengangkat tanganku dan chef Juna langsung menatapku, “oke, kamu kalo gitu yang belanja.”

Aku menatap bingung. Aku? Belanja?

“Cool sunglasses anyway!” katanya sambil mengedipkan matanya.

                                         *

Saat ini belanja cukup oke buatku.

Memang nggak mudah sih tapi Sigit berada di sebelahku dan berkata, “masa bodohlah sama orang-orang disekitar kamu.” Jadi menurutku itu cukup untuk menenangkan pikiran yang semakin panik saat aku membeku akibat kengerian mendadak di pintu masuk supermarket.

Aku memaksakan diri tersenyum dan meremas tangan Sigit kuat-kuat. Aku melenggang masuk, berusaha keras berlagak menjadi seseorang yang nggak tertarik pada apa yang dipikirkan orang lain. Dan ternyata aku lumayan sukses.

                                        *

Ketika aku pulang, mengangkat dua tas belanjaan, langkahku mendadak terhenti karena tercengang. Mas Pandu berdiri di depan meja dapur, mencincang.

Mas memakai salah satu celemek mama dan memegang pisau dan dia sudah mempelajari cara melakukannya sekeren chef Juna. Cara cincang-cincang dia itu cepat. Wajahnya memerah dan benar-benar menikmati. Mas bahkan nggak sadar aku menonton.

“Great!” Chef Juna melihatku dan mengambil tas belanjaan. “Ayo keluarkan bawang putihnya.” Chef Juna mengendus bawang putih dan mengusap kulit setipis kertasnya. “Cantik. Oke, Pandu gue mau ini diiris halus. Semuanya.”

“Baik, Chef.”

Baik chef?

Oke, mas kenapa nih?

                                       *

Aku kembali ke taman dan menemukan Sigit duduk di bangku. Melihatnya membuatku merasa aman. Melihat senyumnya yang lebar dan bahagia dan hanya untukku, rasanya seakan teduh dan tenang.

“Hei. Udah beres?”

“Udah.” Kusentuh tangannya dan kami berpelukan.

“Aku punya satu tantangan buat kamu. Kamu tanya sama bapak yang lagi jalan itu, tanyain bebek vegetarian nggak?” 

“Emang iya gitu bebek vegetarian?”

“Ya nggaklah, mereka kan makan cacing. Udah sana tanyain.” Sigit mendorong bahuku dan aku bangkit sambil nyengir. Aku berdenyut oleh rasa takut tapi kupaksakan diri untuk bertanya dengan orang itu tentang bebek.

Aku kembali ke bangku dan tersenyum puas karena aku baru saja berhasil mengobrol dengan orang asing. 

“Oke. Sekarang tanyain sama yang jualan es krim itu dia jual yang rasa kelapa nggak?” Sigit mengangguk ke penjual es krim yang selalu mangkal di taman setiap sore.

“Dia nggak jual rasa kelapa.”

“Aku tau. Udah tanyain aja sana.”

“Gampang bangetlah,” jawabku bangga. “Yang lain aja.”

“Nggak mau. Kamu kesana gih, tanyain ke mas-mas yang jualan es krim itu.”

Aku menuju gerobak es krim dan dengan sabar menunggu giliran, lalu berkata, “mas, ada es krim yang rasa kelapa?”

Aku udah tahu jawabannya. Aku sudah tanya es krim kelapa setiap tahun sejak aku berumur delapan, tapi tukang es krim ini nggak pernah jual rasa kelapa.

“Hari ini ada,” jawab si penjual es krim, matanya berbinar. 

“Hah? Serius?”

“Ini dia. Es krim kelapa khusus buat Kama,” katanya dengan penuh semangat. “Cuma hari ini, spesial untuk Kama”

“Kok?” Aku mengerjap tak percaya, “ini beneran kelapa?”

Dia mengulurkan satu lagi es krim, “ini es krim cokelat chips untuk Sigit, semuanya sudah dibayar.”

“Aku suka banget rasa kelapa tapi mas kan nggak pernah jual rasa kelapa, kok tumben?”

“Ya, saya udah tau. Sigit yang bilang Kama suka rasa kelapa. Dia yang minta tolong hari ini jual yang rasa kelapa, khusus buat Kama.”

Aku berputar dan Sigit memperhatikan. Dia tersenyum.

Aku melingkarkan lengn di tubuhnya tanpa menjatuhkan kedua es krim lalu mengecupnya bibirnya. Sigit menatapku tak percaya lalu mengusap kepalaku.

“Enak?”

“Banget. Makasih ya..”

Kami menikmati es krim sore itu. Aku akan selalu mengingat momen ini, tepat saat ini, duduk di taman bersama Sigit dan lengannya merangkulku. Dia mengecup bibirku cepat, bibirnya rasa cokelat dan aku yakin bibirku rasa kelapa. 

Bersambung…

Aku dan kacamata hitamku – episode 7

Dr. Darabi mendengarkan dengan sopan selama satu setengah jam selagi aku celoteh tentang Sigit. 

“Aku tau dokter mau bilang apa,” ucapku akhirnya “dokter pasti menganggap ciuman diatas kertas itu nggak masuk hitungan.”

“Nggak kok,” sahut Dr. Darabi serius. “Ciuman ya ciuman, fakta bahwa itu cuma diatas kertas nggak merubah arti sebenarnya.”

“Tapi sekarang dia nggak ada kabar, aku nggak bisa mulai komunikasi duluan. Aku pengen tau isi kepalanya tapi nggak bisa baca pikirannya. Aku nggak tau harus gimana, ini tuh bikin stress..” kataku panik.

Dr. Darabi menatapku datar, tak langsung menanggapi.

“Aku tau, aku tau. Reaksiku berlebihan dan aku  ‘sakit’ jadi situasinya nggak bisa kayak orang normal,” desahku.

“Seperti apa memangnya kalau orang normal?”

“Yah. Dokter taulah, mereka pasti santai aja menghadapi situasi kayak gini. Mereka nggak akan mungkin stress gara-gara hal sepele kayak gini.” jawabku.

Ada keheningan yang lama. Mulut Dr. Darabi berkedut. “Tau nggak, Kama?” katanya akhirnya, “normal atau ‘sakit’ sepertimu, stress karena penasaran dengan apa yang dipikirkan seorang cowok setelah menciummu nggak ada obatnya. TIDAK ADA.”

                                        *

Kemudian tiga hari setelah kejadian itu, aku dan mas Pandu sedang duduk-duduk di taman. Cuaca hari ini hangat jadi kami memutuskan main di luar.

Mas membaringkan tubuhnya di rerumputan, “Kama..”

“Hmm?” tanyaku ikut merebahkan tubuhku.

“Seandainya papa masih ada, mama mungkin lebih tenang.”

Hening.

“Mas sering pergokin mama buka-buka foto papa.” katanya.

“Mama nggak mungkin bisa kerja lagi ya, mas? Maksud aku, kalau mama kerja kan setidaknya dia nggak terlalu kesepian.”

“Kayaknya sih gitu.”

“Selamanya?”

“Mungkin.”

“Tapi kan karir mama dulu hebat banget.”

“Ya, tapi mama kan nggak mungkin bisa pergi kerja.”

Mas nggak mengatakannya tapi aku tahu apa maksudnya. Karena aku.

Karena aku, mama harus dirumah. Karena aku, mama terlihat selalu tegang dan lelah, bukannya bahagia. 

“Mama harusnya kerja. Mama kan suka bekerja.”

Mas mengendikkan bahu. “Yah, mudah-mudahan sih mama bisa kerja lagi nanti kalau, tau kan..”

Kalau aku membaik.

Kutatap matahari dari balik kacamata hitamku. Kalau aku membaik. Oke, aku bertekad ingin sembuh dengan cara apapun demi mama.

“Hai. Wow, asik banget di sini.” 

Tiba-tiba Sigit muncul menutupi cahaya matahari dari pandanganku. 

“Kalian kan dilarang main LOC, kenapa kamu..?”

“Mau ketemu kamu.” katanya senyum. “Nggak apa-apa kan?”

Tanpa ragu dia ikut merebahkan tubuhnya di sebelahku. 

Mas terlihat sama sekali nggak tertarik dengan fakta ini. Fakta bahwa aku dan Sigit ada apa-apanya.

“Pan, kayaknya nyokap lo nyariin tadi,” kata Sigit.

“Mau ngapain?” mas merengut. 

“Katanya lo sukarelawan?” kata Sigit. “Buat katering acara di mesjid? Kayaknya udah pada mulai.”

“Gue bukan sukarelawan,” bantah mas tampak marah. “Gue nggak menawarkan diri, gue dipaksa. Ini namanya kerja paksa!”

“Lo kan dapet pahala mas, menolong orang susah.”

“Kenapa nggak lo aja yang nolongin mama,” balas mas. “Lagian maksudnya lo bilang ‘orang susah’ apaan?”

“Itu kan ungkapan.”

“Ungkapan rasis.”

“Kayaknya lo udah harus pergi deh, Pan.” Sigit menyela, “bentar lagi nyokap lo ngamuk.”

“Nah, lo sama Kama? Nggak ikut?” tanya mas sewot.

“Aku kan harus nemenin tamu.”

“Tamu siapa? Dia kan temen gue.” Mas memelototiku.

“Pandu!” 

Kami mendengar mama berseru, “mas! Dimana kamu!” ulang mama. 

Mas berjalan gontai menuju rumah seperti tahanan dan aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali karena merasa sedikit gelisah.

Maksudku, aku baik-baik aja sih. Nggak panik atau apa. Cuma agak-

Yah. Agak gugup sih. 

“Kamu udah baikan sekarang?” 

Aku tersenyum, “jauh lebih baik. Kemaren kamu pasti mikir kalo aku sinting kan?”

Sigit tersenyum, “nggak”

“Nggak usah nyangkal, aku ngerasa aku memang sedikit gila.”

“Kamu harus ketemu dengan nenek aku. Dia bener-bener sinting. Dia menganggap kalo dia umurnya 25. Kalo ngaca, dia kira kami sekeluarga menipu dia. Dia nggak bisa melihat kenyataan. Dia pake rok mini, pengen pergi clubbing dan dia pake make-up lebih tebel daripada nenek-nenek yang ada di komplek sini.”

“Keren amat!”

“Dia tuh.. tau kan?” Sigit mengendikkan bahu, “kadang itu tuh lucu, tapi sebenernya ini menyedihkan. Intinya dia bukan 25 tahun, kan? Otaknya yang sakit yang memberitahu itu, kan?”

“Ya sih.”

“Aku pengen bilang ini sebenernya sama kamu, sebelumnya. Setelah kejadian starbucks,” Sigit terdengar berempati. “Nenek aku bukan 25 tahun dan kamu bukan.. kamu nggak gila.”

Dan tiba-tiba saja aku paham apa yang dilakukannya, apa yang coba dilakukannya.

“Thanks.” kataku. “Terimakasih karena udah..tau kan? Mengerti. Memahami.”

“Aku nggak terlalu memahami, tapi paling nggak..”

“Kamu paham. Lebih dari kebanyakan orang.”

“Yah.” Sigit terdengar canggung. “Gitulah..”

Aku merasakan tangannya bergerak ke arahku. Ibu jari kami bertemu dan kulitnya yang lembab dan hangat dan mirip seperti yang kubayangkan. Ibu jarinya melingkari ibu jariku dan aku mengelak main-main dan dia tertawa.

“Jadi kamu oke dengan kontak jempol?”

“Kontak jempol nggak masalah.” Aku mengangguk.

Sigit menggenggam tanganku erat. “Aku bener-bener suka sama kamu, Kama. Aku rasa sekarang aku yang gila.” ucapnya.

Kupejamkan mata lalu tersenyum. Aku mencoba menikmati masa sekarang dan tak terlalu memikirkan apa yang ada di dalam kepalanya.

“Aku juga..” bisikku.

Bersambung…

Aku dan kacamata hitamku – episode 6

Aku sedang duduk di dapur, berkutat dengan tombol rekam di kameraku ketika mas Pandu terseok-seok datang lalu membuka kulkas.

“Oh, mas.” kataku mengangkat kepala, teringat sesuatu. “Aku belum wawancara mas, boleh nggak kalo sekarang?”

“Aku nggak mau diwawancara.”

Mas membenci semua orang dan segala-galanya. Wajahnya pucat. Matanya merah. Tampak kurang sehat dibandingkan saat dia bermain game sepanjang waktu.

“Oke.” jawabku sambil mengindikkan bahu. Aku mengambil Tango wafer dari toples yang masih tergeletak di meja. “Jadi..” kataku berusaha santai, “aku cuma penasaran aja sih..”

“Apa?”

“Sigit bakalan dateng lagi nggak?” Kalimat itu keluar terburu-buru dan terdengar berlawanan dengan santai. 

Mas Pandu menoleh dan menatapku galak, “ngapain Sigit datang kesini?”

“Yah..kan soalnya..” kataku bingung.

Mata mas sangat buram dan penuh amarah sampai-sampai aku berjengit. “Lagian aku dikeluarin dari tim.”

“Dikeluarin dari tim?” tanyaku menatapnya kaget, “tapi kan pendiri tim itu mas sendiri”

“Iya kemaren, sekarang kan aku nggak bisa main lagi.”

Suaranya teredam dan pelan. Seperti mau menangis, aku belum pernah lagi lihat mas Pandu menangis sejak papa meninggal dua tahun yang lalu.

“Mas.” kataku iba, “udah coba ngomong lagi sama mama?”

“Mau ngomong apa sama mama?” bentaknya. “Buat apa? Supaya dia bisa bersorak riang gembira?”                                     

“Nah, mas.”  tegur mama yang mendadak muncul dari tangga. Mama lalu mengambil cangkir dan menyeduh kopinya di atas meja. 

Kemarin aku memergoki mama membaca buku Bagaimana Bicara pada Anak Remaja Anda karangan Dr. Sarah Percy. Aku masih nggak percaya mama mau membayar 125.000 rupiah untuk buku penuh gambar kartun jelek. 

“Mama lihat handuk kamu berantakan di lantai kemarin, mama sangat terkejut, gimana perasaan mas mengenai masalah ini?” sambung mama dengan nada aneh dan ganjil.

“Hah?” mas Pandu menatap mama.

“Menurut mama kita bisa menemukan solusi untuk masalah handuk itu bareng-bareng,” lanjut mama. “Menurut mama itu bisa menjadi tantangan yang mengasyikkan.”
Mas menatapku, terheran-heran dan aku mengendikkan bahu.

“Gimana menurut mas?” desak mama. “Kalau kira-kira kamu yang mengurus rumah ini, apa saran mas mengenai handuk itu?”

“Nggak tau.” jawab mas malas, “jadiin lap dapur kali.”

Aku melihat mama sedikit frustasi dengan jawaban mas tapi tetap menyungging senyum anehnya,”mama mendengarkanmu, mas” katanya, “ide menarik.”

“Bukan.” mas menatap mama curiga.

“Iya, menarik kok.”

“Mam, aku jawab ngasal supaya mama kesel, apanya yang menarik..”

“Mama mendengarkanmu.” balas mama mengangguk, “mama mendengarkanmu, mas. Mama bisa memahami sudut pandang kamu. Yang mas bilang itu beralasan.”

“Aku nggak punya sudut pandang!” sergah mas, “lagian mama ini ngomong apa sih,  ‘mama mendengarkanmu’ apa-apaan.”

“Mama baca buku,” kataku memberitahu mas. “Judulnya Bagaimana Bicara pada Anak Remaja Anda.”

“Pantesan!” mas memutar bola mata.

“Jangan bentak-bentak mama!” mama langsung keluar dari mode jinak dan penurut.

“Ya makanya jangan ngomong pake bahasa robot dong!” seru mas, “palsu kali!”

“Harga bukunya Rp 125.000,” kataku sambil tertawa. 

Ada keheningan. Kupikir mama berjuang agar nggak lepas kendali. Dari cara mama meremas serbet menjadi bola kecil, seperti energi besar yang cukup sulit untuk diserap. Dan akhirnya mama mendongak sambil kembali senyum.

“Mas, mama paham kamu frustasi dengan kehidupan saat ini,” ujarnya dalam nada ramah. “Makanya mama mencarikan kamu beberapa kegiatan. Mas bisa jadi sukarelawan, kan?”

“Sukarelawan?” mas tampak tercengang, “sukarelawan apaan lagi? Sukarelawan PBB? Membangun pondok di Afrika?”

“Nggak. Sukarelawan membuat sandwich untuk acara panti asuhan di mesjid.”

“Bikin sandwich?” mas terperanjat, “mama nih becanda ya?”

“Mama udah bilang bisa pake dapur rumah kita untuk kateringnya. Kita semua ikut bantu kok.”

“Aku nggak mau buat sandwich.”

“Mama mendengarkanmu, mas.” kata mama, “tapi kamu harus ikut bantu juga dan tolong jangan bentak-bentak.”

“Siapa yang bentak-bentak.”

“Mama mendengarkanmu, mas” ucap mama gigih, “tapi kamu tadi bentak-bentak.”

“Mam, stop, oke?”

“Mama mendengarkanmu.”

“Stop!”

“Mama mendengarkan.”

“Stop mam, ya Allah!” mas menempelkan dua kepalan tinju di kepala. “Oke. Mas ikutan acara apalah itu terserah! Mama puas sekarang?”

Mas Pandu menjauhi meja dan mama tersenyum kecil. Dia menang!

                                       *

Mama akhirnya membelikanku ponsel atas saran Dr. Darabi. Menurutnya itu ide yang bagus, karena aku bisa memulai membangun komunikasi dengan orang di luar rumah. Oke itu langkah pertama. Langkah keduanya aku mendapatkan nomor Sigit dari mas Pandu. Langkah ketiga aku harus menelepon dia. 

Aku memasukkan nomor Sigit dan memandanginya lama. Aku berusaha membayangkan bagaimana memulai obrolan. Aku mencatat beberapa kata-kata dan frasa siapa tahu aku butuh ( saran Dr. Darabi). Aku membayangkan skenario positif.

Tapi aku masih belum mampu untuk meneleponnya jadi kuputuskan untuk mengirimkan whatsapp.

Hai Sigit, ini Kama.

Adiknya Pandu.

Kamu masih utang diwawancara nih.

Aku menduga nggak akan ada jawaban, atau setidaknya harus menunggu lama, tapi ponselku langsung berdengung;

Hayuk. Kapan?

Aku belum memikirkannya. Kapan? Besok minggu, dia punya waktu seharian.

Besok? Kamu mau ke rumah? Jam 11?

Aku menekan send dan kali ini ada sedikit jeda sebelum dia menjawab;

Di starbucks aja. Aku sekalian part-time.

Sentakan panik menjalariku mirip api superpanas. Starbucks? Dia udah sinting apa? Lalu pesan berikutnya datang;

Lagian, ayo kita coba shock terapi. Gimana?

Tapi.. tapi.. tapi..

Starbucks?

Besok?

Jemariku gemetaran. Kulitku terasa panas. Aku menarik napas empat hitungan dan menghembuskannya tujuh hitungan lalu berusaha membayangkan Dr. Darabi. Apa saran dia kira-kira? Apa yang bakal dia katakan?

Aku bisa mendengar suaranya di kepalaku, “sudah waktunya untuk langkah yang lebih besar. Kamu harus mendorong disi sendiri, Kama. Saya yakin kamu bisa mengatasinya.”

Kutatap ponsel sampai layarnya buram di depan mataku, kemudian mengetikkan pesan sebelum aku berubah pikiran.

Oke. See you there.

                                        *

Akhirnya aku tiba di starbucks. Kudorong pintu hingga terbuka dan di sanalah Sigit, duduk di meja dekat pintu masuk. Dia memakai jins dan kaus putih dan tampak ganteng walaupun memakai afron hijau starbucks.

“Kamu berhasil!” katanya senang. Wajahnya cerah begitu melihatku dan dia melompat bangkit.

“Ya!”

“Aku kira kamu nggak bakalan bisa”

“Aku kira juga gitu” kataku mengaku.

“Tapi nyatanya kamu berhasil! Kamu sembuh!”

Antusias Sigit begitu menular sehingga aku balas nyengir lebar-lebar.

“Aku udah pesenin kopi untuk kamu, sini duduk” ajaknya.

“Oh, oke.”

“Jadi kamu mau tanya apa dalam film dokumenter nya?” tanya Sigit.

“Oh, apa ya. Apa aja.”

“Ini bagian dari terapi?”

“Ya. Semacamnya.”

“Tapi kamu masih butuh terapi? Kamu kayak baik-baik aja loh.”

“Iya, aku emang baik-baik aja. Tapi sebenernya proyek ini..”

“Kalau kacamata hitamnya dilepas, kamu pasti keliatan normal total. Cobain..”

“Yah. Nanti aku cobain.”

“Cobain disini, sekarang.”

“Nanti aja”

“Sini coba aku lepasin” Sigit meraih kacamata hitamku dan aku langsung menarik diri. Keberanianku lumer. Suaranya terkesan menggertak seolah menghantamku.

“Sebentar!”

“Kenapa?” Sigit menatapku kebingungan.

“Nggak gini caranya.”

“Apanya?”

Aku menelan ludah dan mendorong kursi mundur. Aku harus melarikan diri. Aku nggak tau apa yang terjadi di kepalaku. Keadaan berbalik. Aku menyeruput frappuccino, berusaha rileks, tapi yang sebenarnya ingin kulakukan adalah mengambil serbet dan mengoyaknya kecil-kecil. Suara-suara disekelilingku semakin nyaring, semakin mengancam.

“Kama?” Sigit melambaikan satu tangan di depan wajahku yang membuatku berjengit. “Kama?”

“Aku nggak bisa” kataku mendorong kursi mundur dan berdiri.

“Kenapa?”

“Terlalu berisik.” kataku sambil membekapkan tangan di kedua telinga, “sorry..”

“Tapi tadi kamu baik-baik aja kok” ucap Sigit sambil mengikuti keluar. Dia terdengar marah, “barusan kamu tuh baik-baik aja! Kita kan cuma ngobrol..”

“Ya oke.”

“Ya oke apa maksudnya?”

“Nggak ada,” jawabku putus asa. “Nggak taulah,”

“Kalo gitu suruh diri kamu menghentikannya. Tau kan? Seperti pikiran yang menguasai tubuh.”

“Aku benar-benar minta maaf” kataku dengan suara yang agak berat. “Sebaiknya kita lupakan tentang film itu dan semuanya. Aku nggak bisa ketemu dengan kamu lagi, bye. Maaf. Maaf.”

                                         *

Dirumah, aku melangkah pelan ke dapur dan meringis begitu melihat pantulanku di cermin. Tampak pucat dan agak..sama sekali nggak menarik. Aku mendengar bunyi gemertak dari koridor lalu sesuatu jatuh ke keset dan aku terlonjak.

Ada pesan di keset – selembar kertas bergaris yang dirobek dari buku catatan dengan Kama tertera dalam tulisan tangan Sigit. Aku membuka dan membacanya:

“Kamu oke? Aku tadi whatsapp tapi ga dibales. Aku juga nggak mau ngebel takut kamu kaget, kamu nggak apa-apa kan?”

Aku mengambil bolpoin, berpikir sebentar.

“Aku nggak apa-apa, kok. Sori tadi aku panik”

Aku mendorongnya ke luar lewat celah dibawah pintu. Sesaat kemudian kertas itu muncul kembali.

“Tadi kamu keliatannya kacau banget, aku khawatir aja”

Aku memandangi kata-katanya.

“Sori.”

Hampir dengan seketika kertas itu masuk kembali bersama balasannya:

“Kamu mau bukain pintunya nggak?”

Semburan kengerian berpacu di sekujur tubuhku. Aku nggak bisa membiarkan dia melihatku yang menciut, pucat, lusuh. 

“Belum berani. Lain kali aja ya. Sori sori..”

Aku menahan napas setelah melayangkan surat itu. 

“Mengerti. Kalo gitu aku pergi dulu.”

Aku mati-matian memikirkan apa yang bisa kubalas. Namun seketika itu selembar kertas lagi masuk ke keset. Kertasnya dilipat dan diluarnya tertulis:

I have to give you this before i go..

Sesaat, aku nggak berani membukanya. Namun akhirnya aku membuka dan menatap kata-kata di dalamnya. Kepalaku mendadak beku. Napasku terengh begitu membacanya. Dia menulis:

“Ini ciuman.”
Bersambung…

Aku dan kacamata hitamku – episode 5

Mama memosisikan diri di koridor, berkacak pinggang, mata yang melotot terfokus tepat ke pintu. Setelah sepuluh detik yang tegang, pintu terbuka dan aku terkesiap. Mas Pandu melenggang masuk seperti biasa dan menatap mama tanpa terlalu tertarik. Aku bisa melihat mama menegakkan tubuh dan menarik napas dalam-dalam. 

“Kok nggak bilang assalamualaikum, mas?” sapa mama dengan nada dingin yang membuatku bergidik, meskipun bukan aku yang dalam masalah.

Dua jam sebelumnya..

Mama membawa komputer mas Pandu ke kelas pilates. Aku membayangkan mama terseok-seok membawa komputer mas. Mama membawanya karena ingin teman mama memeriksa seberapa sering mas Pandu bermain game sepanjang minggu lalu.

Mas Pandu memakai earphone, jadi kupikir mas nggak merasakan nada dingin mama.

“Assalamualaikum..” balasnya dan berniat lewat tapi mama menusuk bahunya dengan jari. 

“Mas!” panggil mama, dan menunjuk telinga mas Pandu, “lepas!”

Sambil memutar bola mata mas Pandu melepas earphone dan menatap mama, “apa?”

“Jadi?” kata mama dengan nada yang lebih dingin.

“Apa?”

“JA-DI.”

Mama berniat ingin membuat mas Pandu gemetar ketakutan hanya dengan dua suku kata itu, tapi nggak berhasil. Mas Pandu kelihatan nggak sabar.

“Jadi? Maksud mama apa sih? Jadi apa?”

“Mama udah nunggu-nunggu kamu dari tadi, mas.” mama maju selangkah, matanya mirip laser. “Mama udah nunggu kamu lama banget!”

Mama benar-benar sedang meniru penjahat di film James Bond, bedanya kalau di film aslinya, penjahatnya punya kucing putih yang dielus-elus. 

“Kok komputer aku disana?” mas mendadak melihatnya, bertengger di meja koridor.

“Pertanyaan bagus!” jawab mama ramah. “Kamu mau kasih tahu mama tentang aktivitas berkomputermu selama kira-kira minggu lalu?”

Bahu mas merosot, “aku main LOC,” ucapnya dengan nada monoton.

“Cuma sekali itu?”

Mas Pandu membiarkan tas sekolahnya meluncur ke lantai. “Nggak tahulah, kepala aku sakit. Aku mau minum parasetamol.”

“Dan kenapa bisa gitu?” mama mendadak hilang kendali. “Apa gara-gara kamu sama sekali nggak tidur seminggu ini?”

“Apaan sih?” mas menatap mama dengan sorot kosong yang menyebalkan.

“Nggak usah belagak bego didepan mama!” mama sekarang sudah tersengal-sengal. “Teman mama, Arjun meriksa komputer kamu hari ini. Dan mama benar-benar nggak percaya”

“Siapa Arjun?” mas merengut.

“Ahli komputer,” kata mama penuh kemenangan. “Dia kasih tahu mama semuanya tentang kamu. Kami tahu semuanya sekarang.”

Aku melihat kelebatan rasa ngeri di wajah mas. “Dia baca email aku juga?”

“Nggak, dia nggak baca.” mama tampak teralihkan sebentar, “ada apa di email kamu emangnya?”

“Nggak ada apa-apa” jawab mas buru-buru dan melototin mama. “Ya ampun mam, sampai nge-hack komputer aku segala!”

“Mama takjub kamu bohong sama mama, mas! Kamu bangun jam dua pagi setiap malam seminggu ini! Iya kan?”

Mas mengendikkan bahu dengan ekspresi muram.

“Mas?!”

“Ya kalau si Arjun itu bilang gitu, ya udah pasti benerlah”

“Jadi emang benar! Mas, kamu ngerti nggak betapa seriusnya ini? Ngerti nggak? MENGERTI TIDAK?!” mama mendadak berteriak.

“Yah, emang mama ngerti betapa penting LOC buat aku?” mas balas membentak. “Gimana kalau aku jadi gamer profesional? Gimana?”

Mama memejamkan mata dan memijat dahi. “Kamu main dengan siapa? Apa mama kenal orangtua mereka? Apa mama perlu menelepon orangtua mereka?”

“Kayaknya sih, nggak” sahut mas sinis, “mereka tinggal di Korea”

“Korea??” sepertinya itu pemicu terakhir mama. “Baik. Cukup udah, mas. Kamu di hukum selamanya. Nggak ada komputer. Nggak ada TV. Nggak ada apa-apa”

“Oke,” kata mas lesu.

“Kamu ngerti?” mama menatap tajam. “Kamu dihukum!”

“Iya, ngerti. Aku dihukum.”

Ada keheningan. Mama kelihatan nggak puas. “Kamu dihukum,” mama mencoba lagi, “SE-LA-MA-NYA”

“Iya apaan sih mam” sahut mas dengan kesabaran berlebihan. 

“Kok kamu nggak ada reaksi? Kenapa nggak ada reaksi?”

“Aku bereaksi mam. Aku dihukum. Terserahlah.”

“Mama langsung kunci komputer ini.”

“Ya.”

Ada keheningan ganjil dan tegang lagi. Mama mengamati mas Pandu lekat-lekat mencari jawaban. Kemudian tiba-tiba seluruh wajah mama seperti mendadak berbunyi dan terkesiap.

“Ya Allah. Kamu ini nggak menganggap serius masalah ini, ya? Mas, pasti kamu nih udah bikin rencana ngendap-ngendap di rumah malem-malem trus ngambil komputer kan?”

“Nggak.” mas Pandu terdengar cemberut, yang artinya Iya.

“Kamu pasti udah ngerencanain ngotak-ngatik kunci kan?”

“Nggak.”

“Mas pikir mama nggak bakalan tau ya? Ha? Mas pikir bisa ngalahin mama? Oke, liat nih ya!”

Mama mengambil komputer yang lumayan berat dan menaiki tangga, kabel terseret dibelakangnya.

“Mama buat komputer kamu lenyap selama-lamanya, mama bikin ini hancur berkeping-keping.”

“Hancur berkeping-keping gimana?” mas mendadak sadar.

“Kamu kan dihukum lagian, terus kenapa kalau komputernya hilang?” tukas mama.

“Mam, jangan aneh-aneh deh,” kata mas panik. “Mama mau ngapain?”

“Kamu disitu aja, anak muda!” Suara mama tiba-tiba terdengar sangat berbeda, menakutkan. 

“Mama mau ngapain sih?” tanya mas padaku dengan suara pelan.

“Nggak tau, tapi aku mau liat keatas”

Saat itulah Robbi teriak-teriak ke koridor dari taman, “pandu! Nyokap lo mau lempar komputer dari jendela!”

Komputer itu sebenarnya nggak hancur berkeping-keping saat mama melemparnya. Benda itu memantul dua kali dan mendarat menyamping. Malahan, nyaris nggak kelihatan pecah sedikitpun begitu tergeletak di rumput. Cuma ada sedikit serpihan beling dari layarnya.

Semua memandang komputer itu beberapa lama dan Robbi memotret lalu kembali masuk ke dalam rumah. Aku memandang mas Pandu, mas kelihatan hancur lebur malahan menurutku dia terguncang. Mas nggak banyak bicara sepanjang malam. 

Walaupun sebenarnya aku nggak terlalu peduli dengan komputer mas tapi aku jadi penasaran satu hal. Apakah ini artinya Sigit nggak akan pernah ke sini lagi?

                                        *

KELUARGAKU YANG TENTERAM DAN PENYAYANG

Aku menggerakkan kamera di dapur dan melihat mama duduk bersama secangkir kopi.

Mama mengangkat cangkir kopi lalu menaruhnya lagi tanpa meneguknya.

Mama menarik napas lalu menatap lurus ke kamera,

“Mungkin semuanya bakalan lebih mudah kalo masih ada papa..”

Hening.

“Mama ngerasa kesulitan sendirian gini, mama harus buat keputusan yang tepat dan kadang-kadang berat dan tetap harus menjalani semuanya.”

Hening.

“Mungkin nanti suatu hari mas Pandu bisa gantiin posisi Papa”

Hening.

“Yah, dia pasti bisa diandalkan suatu hari nanti”

Hening.

Kamera menyorot ponsel mama dan memfokuskan pada foto papa yang sedang merangkul mama. Mama buru-buru menutupinya dengan tangan. 

“Cuma kangen aja, kok.” kata mama tersenyum sambil menghapus airmatanya.
Bersambung…

Aku dan kacamata hitamku – episode 4

Aku mendengar mama menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamar mas Pandu. Lalu keributan pun dimulai. 

“MAMA TUH NGGAK LOGIS!” suara mas Pandu mendadak menggema di seantero rumah. 

Sigit meraih tanganku cepat dan membawaku turun. Otak ku memerintahkan untuk segera melejit ke sudut terjauh ruangan. 

“TOLONG JANGAN BENTAK MAMA DIDEPAN TEMANMU!” balas mama menghardik.

Secara naluriah aku menutupkan tangan di telinga dan bertanya-tanya apakah harus melarikan diri ke kamarku. Aku mendongak- dan itu dia. Itu Sigit berjongkok didepanku, “kamu mau minum?” tanyanya cemas.

Aku membalikkan badan, menatap dinding lekat-lekat dan bergumam, “nggak..”

Sigit beralih dari jongkok sekarang duduk di depanku. Dia menggeser tubuhnya agak jauh, berusaha menjaga jarak agar aku nyaman. 

Dia tersenyum. Aku membetulkan kacamata lalu ikut tersenyum sedikit.

“Mirip seulas jeruk” kataku tanpa berpikir apa maksudnya.

“apanya yang seulas jeruk?” 

“Senyumnya, mirip seulas jeruk..” kataku gugup.

Aku bisa melihat senyum kecilnya, dia terlihat senang dan mengangguk-ngangguk “oh ya? Ibu aku bilang mirip bulan sabit.”

Dia menggeser sedikit lebih dekat. Radarku tegang dan siaga penuh. “Tadi lagi main sama mas?” suaraku terdengar agak serak.

“Tadi Pandu cuma ngebantuin aja, dia nggak main. Dia cuma menginstruksikan aja, tapi tadi mama kamu ngomel kayaknya dia dilarang main termasuk duduk sama aku”

Aku mengangguk, “orangtua kamu juga stres soal game komputer?”

“Nggak juga sih” jawab Sigit. “Mereka lebih stres dengan nenek. Dia agak gila, maksud aku-”

Dia berhenti bicara mendadak dan ada keheningan menusuk. Aku butuh tiga detik untuk memahami sebabnya.

Jadi itu yang dipikirkannya tentang aku, menghantamku dengan debuk mengerikan.

Keheningan semakin parah. Aku bisa merasakan kata gila melayang-layang di udara.

“Maaf,” kata Sigit.

“Nggak apa-apa kok,” balasku hampir agresif. “Kamu nggak ada bilang apa-apa kok”

Dan itu benar. Dia nggak bilang apa-apa. Dia berhenti d tengah-tengah kalimat.

Cuma menurutku berhenti ditengah-tengah kalimat itu adalah hal yang buruk. Nama situasinya disebut pasif agresif karena kita nggak bisa mendebat apa yang mereka katakan. 

Kesunyian terus berlasung dan harus ada yang memecahkannya, “seriusan nggak apa-apa, aku emang gila. Terserahlah.” kataku tegang.

“Bukan!” Sigit kedengaran benar-benar kaget. Kaget, malu, nggak nyaman. Agak tersinggung. 

“Kamu sama sekali nggak mirip dengan nenekku,” tambahnya lalu tertawa kecil seperti menikmati lelucon pribadi. “Kalau kamu ketemu dengan dia, kamu pasti ngerti maksud aku” jelasnya santai.

Dia tertawa dan aku merasakan siraman kelegaan. Kalau bisa tertawa, berarti dia nggak jijik kan?

“Jadi kayaknya aku nggak bisa kesini lagi sampai hukuman Pandu dicabut”

“Ya, kayaknya” jawabku.

“Mama kamu mungkin nganggep aku pengaruh buruk”

“Mama nganggep semua hal adalah pengaruh buruk” kataku sambil memutar bola mata, walaupun dia nggak bisa melihat. 

“Kapan kamu ke Starbucks lagi?” 

Aku merasakan udara di sekelilingku teras menyengat. Pergi ke luar. Aku merasakan desakan untuk meringkuk dan memejamkan mata.

“Nggak!” kataku kasar, “itu..aku nggak bisa”

Keheningan lagi. Aku membungkuk lebih dalam. Aku dapat merasakan pertanyaan berputar-putar dalam kepalaku, seperti kenapa? Kok bisa? Emang kenapa?

“Kayak alergi dengan orang asing ya?” tanyanya. 

“Kayaknya gitu,” obrolan ini mulai melelahkan otakku. Aku mencengkram baju untuk menenangkan diri. Otot tendon menegang di kedua tanganku. 

“Alergi juga sama kontak mata?”

“Aku alergi sama segala macam kontak”

“Nggak, kok” katanya seketika. “Kamu nggak alergi sama kontak otak. Maksud aku, kamu masih bisa tulis pesan. Kamu juga ngobrol. Kamu masih pengen ngobrol sama orang, cuma mungkin kadang nggak bisa aja. Jadi harusnya tubuh kamu menyejajarkan diri dengan otak kamu” jelasnya.

Aku membisu beberapa lama. Sebelumnya nggak ada yang mengutarakannya seperti itu.

“Mungkin sih..” kataku akhirnya.

“Kalau kontak sepatu gimana?”

“Apa?”

“Kontak sepatu!”

“Apa itu kontak sepatu?” 

Dari sudut mata aku melihatnya mengulurkan sepatu olahraga dekil.

“Ayo,” katanya. “Kontak sepatu, yok.”

Aku nggak bisa bergerak. Aku kayak landak mini yang meringkuk membentuk bola. 

“Gerakkan kaki kamu,” ujar Sigit. “Nggak usah dilihat, gerakin aja.”

Sigit terdengar ngotot. Aku nggak percaya ini terjadi. Otakku sangat tak menyukai hal ini. Otakku menyuruhku menukik ke balik selimut. Sembunyi. Lari. Apa saja.

Siapa tahu kalau aku tak bereaksi, dia akan menyerah dan kita bisa lupakan kejadian semua ini.

“Ayo,” katanya menyemangati. “Berani taruhan kamu pasti bisa”

Dan sekarang suara Dr. Darabi di kepalaku. “Ayo dong, Kama..kamu harus mulai mendorong diri sendiri..” bisiknya.

Pelan-pelan, aku menggerakkan kaki melintasi karpet, sampai lis karet sepatuku menyentuh lis karet sepatunya. Tubuhku yang lain masih menghadap ke arah lain. Aku menatap tajam sepatu dan seluruh otakku terfokus pada sekelumit kaki yang bersentuhan dengan kakinya.

Aku merasa sesak napas. 

“Nah,” Sigit terdengar puas. “Benar kan?”

Sigit nggak terdengar sesak napas. Dia hanya terdengar tertarik, seolah aku membuktikan satu hal yang akan diceritakannya pada temannya atau ditulisnya di blog atau apalah. Dia melompat bangkit dan berkata, “sampai ketemu lagi,” dan pesona itu pun buyar.

“Sampai ketemu.”

“Bentar lagi aku diusir sama mama kamu kayaknya, jadi sebaiknya aku pulang dulu”

“Huh? Oh, iya”

Aku membungkuk, bertekad nggak akan memperlihatkan bahwa aku agak berharap dia tetap di sini. 

“Mungkin kapan-kapan aku bisa wawancara kamu untuk dokumenterku” kataku akhirnya.

“Oh ya?” Dia terdiam, “apa itu?”

“Aku lagi buat film dokumenter ini, dan harusnya aku mewawancarai orang yang datang ke rumah, so..”

“Oke. Sip. Nanti aku datang lagi setelah.. hmm tahu kan? Setelah Pandu boleh main game lagi.”

“Oh” gumamku terdengar kecewa.

“Hei,” panggilnya.

Aku menengadah.

Dia tersenyum, “aku pasti datang lagi kok. Tenang..” katanya sambil mengedipkan matanya lalu dia pun lenyap.
Bersambung..

Aku dan kacamata hitamku – episode 3

Dalam sesi konsultasiku berikutnya bersama Dr. Darabi, aku bercerita tentang Sigit dan seluruh serangan kecemasan itu, dan dia mendengarkan dengan serius. Seharusnya aku tak memanggilnya dengan gelar dokter karena dia psikolog bukan psikiater. Aku hampir tak mengetahui perbedaannya setelah bulan ke 4, namun Dr. Darabi membiarkanku memanggilnya dengan gelar dokter, karena menurutnya aku boleh memanggilnya dengan sebutan apapun asal aku nyaman. 

Dia mendengarkan dengan serius, dia menulis dengan serius memakai huruf latin indah, dan dia bahkan mengetik di komputernya dengan serius. 

Dua tahun yang lalu mama menyimpulkan ada sesuatu yang nggak beres padaku. Masalahnya, depresi tidak punya gejala jelas seperi bintik-bintik atau suhu tubuh, jadi awalnya aku tak menyadarinya. Aku terus-terusan berkata “aku baik-baik aja” pada orang lain padahal aku tak baik-baik aja. Aku berpikir bahwa seharusnya memang baik-baik aja dan terus berkata pada diri sendiri, “memangnya aku kenapa? Kenapa aku tak baik-baik aja?”

Begitulah. Akhirnya mama mengajakku menemui dokter umum kami dan aku direferensikan ke sini. Waktu itu kondisiku agak kacau. Jujur saja, aku nggak terlalu ingat hari-hari pertama itu. Sekarang aku datang dua kali seminggu. Sebenarnya aku boleh datang lebih sering kalau mau. 

Setelah selesai bercerita pada Dr. Darabi tentang peristiwa sembunyi-di-balik-gorden itu, dia mengamati kuesioner dengan kotak centang yang kuisi ketika aku tiba. Isinya pertanyaan-pertanyaan seperti biasa.

Apa kamu merasa seperti kegagalan? Amat sangat.

Apa kamu ada kalanya berharap tak pernah ada? Amat sangat.

“Apa yang sekarang kamu rasakan setelah semua yang terjadi kemarin?” katanya dengan suara ramah dan tenang. 

“Hmm… Rasanya kayak terjebak” kataku ragu.

Kata terjebak terlontar bahkan sebelum aku memikirkannya. Aku baru tahu aku merasa terjebak.

“Terjebak?” 

“Maksudku bukan itu” aku mulai ragu dengan jawaban sebelumnya. Aku mulai gugup dan kembali membetulkan kacamata hitamku.

“Jadi maksudnya gimana?”

“Apa aku akan sembuh? Kayaknya aku nggak mungkin bisa sembuh” kataku mulai panik. 

“Kama..”

“Aku nggak mungkin bisa sekolah lagi. Sebentar lagi Juli dan aku masih seperti ini” aku mulai meracau.

“Kama, tenang dulu..”

“Tenang? Gimana aku bisa tenang?? Apa Dokter tahu rasanya dikunci di gudang sekolah sampai malam, aku berteriak sampai suaraku habis tapi tak satupun yang mendengarku. Aku nggak sanggup harus berhadapan dengan orang-orang itu lagi. Mereka yang gila, dokter. Bukan aku!”

“Kamu nggak gila, Kama”

Setetes air mata melelehi pipiku. Dr. Darabi memberiku tisu tanpa berkomentar. Aku mengusap mata, mengangkat kacamata hitamku sebentar lalu kembali menatap Dr. Darabi.

“Pertama, kamu nggak akan begini selamanya,” ucap Dr. Darabi “kondisi ini dapat disembuhkan sepenuhnya. DISEMBUHKAN SEPENUHNYA.”

Dia mengatakan itu padaku kira-kira seribu kali.

“Kama, kamu membuat kemajuan mengesankan sejak perawatan dimulai,” lanjutnya. “Sekarang baru bulan Mei, saya yakin kamu siap bersekolah bulan Juli nanti. Tapi itu akan membutuhkan-”

“Aku tahu” aku memeluk tubuh. “Kegigihan, latihan, dan kesabaran.”

“Kamu sudah melepaskan kacamata hitammu minggu ini?” tanya Dr. Darabi. 

Aku mengindikkan bahu.

“Sudah melakukan kontak mata dengan orang lain?”

Aku tak menjawab. Harusnya aku mencobanya. Dengan anggota keluarga. Hanya beberapa detik setiap hari.

“Kama?”

“Nggak,” gumamku, kepalaku tertunduk.

Kontak mata itu masalah besar. Masalah terbesar. Memikirkannya saja membuatku mual, sampai ke inti diriku.

“Saya punya ide lain dari yang kemarin” Dr. Darabi mendongak, “gimana kalau kamu bikin film dokumenter?”

“Apa?” Aku menatapnya bengong. Aku berharap cuma mendapatkan selembar kertas berisi latihan di dalamnya. 

“Film dokumenter sederhana aja kok. Cukup dengan kamera digital kecil, nanti kita  carikan di sini untuk kamu” kata Dr. Darabi.

“Hmm..” aku menelan ludah, merasakan tanganku mengepal, “i don’t know..”

“You can!” Dr. Darabi tersenyum optimis, “saya tahu ini terasa berat dan menakutkan, Kama. Tapi menurut saya ini akan jadi proyek besar buat kamu”

“Oke, sebentar dok, aku nggak ngerti..” aku diam sejenak, berusaha mengendalikan diri. Kamera? Film? Apa-apaan ini?

“Bagian mana yang kamu nggak ngerti?” tanya Dr. Darabi

“Apa yang harus aku filmkan?”

“Apa saja. Apa saja yang kamu temukan. Arahkan saja kamera dan rekam. Rumah, orang-orang dirumah, lukisan, potret keluargamu”

Aku mendengus. Potret keluarga? “Sekalian aja judulnya Keluargaku yang tentram dan penyayang.”

“Boleh. Kalau kamu mau.” dia tertawa, “saya nggak sabar pengen nonton” lanjutnya tersenyum bangga.

                                      *

KELUARGAKU YANG TENTERAM DAN PENYAYANG

Aku mencoba merekam apa saja yang ada di dalam rumah, pelan-pelan kuarahkan kamera. Kamera bergerak mengitari koridor.

“Mas!” teriak mama.

Aku melihat mama berderap ke koridor berjalan kearahku. 

“Mas!” teriak mama sekali lagi, “Kama, mana mas? Oh, lagi merekam ya.” 

Mama langsung menyibak rambut ke belakang dan mengempiskan perut, “gimana? Mama keliatan oke kan?” katanya dengan senyum yang dipaksakan.

Mas Pandu melenggang ke koridor, aku menagkapnya dengan kameraku. 

“Mas! Apa ini? Mama ketemu ini di tas sekolah kamu” kata mama sambil mengacungkan bungkus rokok ke arahnya.

Mas Pandu tak menjawab, hanya melototi mama.

“Kamu olahraga per minggu berapa kali?” tanya mama galak.

“Lumayan sering” jawab mas bingung.

“Mas sadar nggak sih kalau racun tembakau ini bahaya buat tubuh kamu?”

Mas Pandu masih bengong.

“Kamu sadar, nggak!” bentak mama.

Aku tetap memegang kameraku erat, aku perlu merekam adegan ini, pikirku.

“Pokoknya besok kita olahraga! Besok lari bareng-bareng sama mama!” 

“Lari? Mam serius? LARI?” Mas Pandu memandangi ibu dengan tatapan mematikan. 

Bel pintu berdering dan mas menatap memperingatkan ke kamera.

“Kama.. itu Sigit, kayaknya lo harus.. tau kan? Menjauh” kata mas.

“Oh, thanks” kataku.

“Mas! Dengar mama nggak?”

“Oke mam, oke” jawab mas menggaruk kepalanya.

Mama menghilang ke dapur. Mas Pandu menuju pintu depan. Aku bergerak mundur tapi kameraku menyorot pintu depan.

Mas membuka pintu depan dan menampakkan Sigit. 

“Hai.” ucap mas.

Sigit menatap kamera yang cepat-cepat berayun menjauh dan mundur.

“Hai.” sapanya tanpa suara padaku.

Nafasku tertahan. Kuperbesar gambar wajahnya lalu memutar ulang rekamannya.

Dia ganteng.

“Hai..” bisikku.

                                         *

Aku duduk di ruang tv. Kupastikan semua aman, Sigit berada di atas dan kuyakin mereka pasti sedang bermain video games. 

Kubuka kacamata hitamku pelan-pelan. Aku menyipitkan mata menatap tv, “Kama.”  Aku mendengar suara mas Pandu.

“Sigit kirim ini.”

Kacamata hitamku kembali terpasang begitu aku mengangkat kepala dari mas. Mas Pandu mengulurkan secarik kertas terlipat.

“Oh,” kataku bingung dam mengambil kertas itu darinya. “Oke.”

Ketika mas Pandu berlalu, aku membuka kertas itu dan membaca tulisan tangan yang asing.

“Hai..maaf soal waktu itu. Aku nggak bermaksud buat kamu panik.”

Oh Tuhan.

Aku berpikir sejenak, lalu menulis di bawahnya:

“Nggak kok, aku yang minta maaf. Aku punya masalah aneh ini. Bukan gara-gara kamu kok.” tulisku.

Aku beranjak pelan dan mengendap-endap ke atas menuju kamar mas Pandu. Aku mengetuk pintu pelan, “mas..” bisikku.

Aku benar-benar tak siap saat Sigit membuka pintunya. Aku mematung sambil menggenggam kertas itu. Dia tersenyum lalu mengambilnya dari tanganku. 

“Aku tunggu-tunggu ini dari tadi.” katanya senang.

Bersambung…