I’ve seen your drama – eps 4

“Bagas?” ucapku hampir berbisik. 

Kutatap mata Rania tak percaya. Kau! Apa yang telah kau lakukan? 

“K-Kak, sebenarnya udah lama aku mau-” katanya.

“Udah lama?” potongku, aku tersenyum sinis. 

Raut wajahnya tampak gugup, “Bagas bilang, dia sendiri nanti yang mau-“.

Kupalingkan wajah menghadap jendela, perutku mual saking muaknya. 

“Kak, aku benar-benar minta maaf. Aku tau, harusnya aku cerita dari awal biar nggak ada salah paham kayak gini” ucapnya. 

“Pak, berhenti didepan,” kataku.

Pak Didik menepikan mobilnya, “disini non?” tanyanya bingung. 

“Keluar!” ucapku.

Pak Didik spontan membuka pintunya, “bukan Pak Didik,”sambungku.

Aku menoleh. Tak butuh waktu lama untuk Rania menyadari bahwa dirinya lah yang seharusnya keluar. 

“Aku? Keluar? Disini?!” ucapnya ketakutan. 

“Pak, tolong bantu dia keluar dari mobil” pintaku. 

“I-Iya non,” jawab Pak Didik bingung. 

“Tapi kak! Aku nggak mau turun disini!” teriaknya panik. 

Pak Didik membuka pintu Rania, “ayo non” ucapnya. 

“Pak! Aku nggak mau turun!!” Rania berontak namun Pak Didik memintanya untuk tetap turun dengan baik-baik. 

“Tunggu! Aku mau telfon ayah,  kakak nggak bisa suruh aku turun disini, aku nggak tau ini dimana!” ucapnya semakin panik. 

Aku langsung mendorongnya keluar dari mobil, “KELUAR!” teriakku. 

“Akh!” teriaknya. Rania terjatuh dan orang-orang mulai memperhatikan, “lo udah gila apa?! Pak Didiiikkk!” Rania berteriak histeris. 

“Masuk, Pak” kataku lalu menutup pintunya.

Rania memukul-mukul jendela sambil berteriak, “gue akan bilang sama ayah kelakuan lo yang sebenarnya!!” ucapnya.

“Lo pikir bisa lolos? Lo lupa kalo gue kesayangan ayah?!! Anak ayah cuma gue!” sambungnya.

Kubuka jendela dan kutatap matanya. Rania berkecak pinggang lalu mendekat, “denger baik-baik kata-kata gue, Adine! Lo bakalan nyesel udah mempermalukan gue kayak gini! Lo kira Bagas bakalan diem kalo dia tau?! Gue pastikan lo dibuang dari keluarga. Lagian kakak macam apa yang menurunkan adiknya ditepi jalan!” ancamnya. 

“Oh adikku yang malang..” kataku pura-pura iba. Kulempar tasnya keluar, “I’m not your sister!” balasku lalu kututup kembali jendelanya.

“Jalan, pak.” ucapku.

“Adiiiinnneee!!!!” teriak Rania dari kejauhan.

Aku tau Pak Didik memperhatikanku dari kaca spion, dia tampak bingung dan gugup.

“Bangunkan saya kalau sudah sampai pak” kataku sambil memejamkan mata. 

                                         *

Aku melangkah masuk dan bau khas rumahsakit langsung menyengat penciumanku. Aku berjalan menuju kamar ibu, dari kejauhan dr. Fajar, senior semasa kuliah dulu melambaikan tangannya dan menghampiriku. 

“Adine! The legend..” ucapnya sambil menepuk kedua tangannya, “apa kabar?” sapanya sambil menjabat tanganku. 

“Baik.” jawabku, “gimana nyokap gue?” tanyaku langsung. 

Kami berjalan bersama menuju kamar ibu, “tumornya berhasil kita angkat,” ucapnya.

Kuhentikan langkahku, “tumor?” tanyaku cepat. Fajar mengangguk, “meningioma” jawabnya.

Syukurlah, pikirku. Meningioma merupakan tumor yang rata rata bersifat jinak atau setara bersama kelas satu. “Gimana operasinya?” tanyaku.

“Operasinya berjalan lancar sesuai rencana,” jawabnya. Kami berhenti didepan kamar ibu, “tapi kita tetap harus observasi jika terjadi-”

Pintu kamar terbuka tiba-tiba, bibiku keluar dari kamar dengan panik, “dokter Fajar! Adine? Kamu disini?!!” tanyanya bingung, “dokter tolong, pasien muntah-muntah!” sambungnya panik.

“Cerebral edema!” ucapku dan Fajar bersamaan. 

Aku berlari masuk dan menghampiri ibu yang sedang muntah. Kutegakkan tubuh ibu, “Fajar, injeksi intravena dexamethasone 10mg!” kataku cepat. 

“Ok!” jawabnya lalu melangkah cepat keluar ruangan. 

Kurengkuh badan ibu yang kurus, “ini Adine bu, Adine udah pulang sekarang, you’re going to be ok” ucapku.

Ibu menggenggam tanganku, “Adine..? Anak ibu pulang..?” tanyanya pelan dan tersenyum. 

Aku mengangguk, “iya ibu..” jawabku. 

Ibu memelukku dan menangis, “anak ibu sudah pulang..” katanya. Aku mengusap punggung ibu dan mengangguk. 

Fajar kembali bersama seorang perawat. Aku berdiri, “lakukan MRI, nyokap perlu operasi kedua, kita perlu mengalirkan cairannya” kataku sambil melepas tasku dan menaruhnya diatas kasur, “dan berikan 4 mg dexa intramuskular setiap 6 jam” sambungku kepada perawat.

“Ok” jawab Fajar.

Pintu kamar terbuka, kulihat ayah masuk dan wajahnya merah. Aku langsung tau apa yang terjadi, aku yakin Rania sudah menceritakan semua. 

“Adine! Ayah mau bicara sebentar” ucapnya. 

Aku memandang ibu lalu meraih tas ku, “jangan sekarang ayah, Adine mau pulang dulu. Kita bicarakan dirumah saja” jawabku.

Kucium kening ibu, “Adine pulang dulu, nanti kesini lagi ya” ucapku.

Ibu tersenyum dan membelai rambutku, “istirahat lah nak, ibu udah nggak apa-apa” jawabnya. 

Aku menghampiri Fajar, “operasi kedua, gue yang ambil alih” kataku.

“Ok.” balasnya sambil mengangguk. 

Aku meninggalkan ruangan ibu, badanku terasa letih. Kuambil ponsel dari dalam tas lalu kubuka satu pesan dari Kang Hyo Jae, “naega dochaghaessseubnida (aku sudah sampai)” tulisnya. 

Aku tersenyum dan membalasnya, “enjoy your holiday, jabhin gija eodji anhneunda! (jangan sampai tertangkap pers)” balasku.

Aku berdiri didepan pintu keluar dan menelfon Pak Didik. 

“Adine..” 

Aku menoleh, “Adine..” ucap Bagas. 

Aku menatapnya lama, tak ada yang berubah pikirku. Semuanya masih sama. Rania berdiri dibelakangnya, mataku tertuju pada tangan Bagas yang menggenggam tangannya. 

“Babo… (dasar bodoh)” bisikku sambil senyum sinis. 

Tepat saat Pak Didik berhenti didepanku, ponselku berbunyi, “Adine..kita perlu bicara” kata Bagas. 

Aku menatap layar ponsel. Kubuka pintu mobil dan masuk tanpa memperdulikan Bagas ataupun Rania. 

“Yeoboseyo? (Halo?)” jawabku.
Bersambung…

I’ve seen your drama – eps 3

Aku mengunyah kentang goreng KFC dan melirik Bagas, “serius banget sih” kataku. Namun dia tak bergeming, “Gas, Bagas!” ulangku sedikit teriak. 

“Bentar bentar!” balasnya.

Aku mendekat dan mengintip dari balik bahunya, Bagas mengetik dengan sangat cepat, “yang ini ceritanya tentang apa?” tanyaku.

“Diem dulu” balasnya cuek.

Aku menggeser dudukku, menjauh “ch!” ucapku kesal.

Bagas menghentikan pekerjaannya dan membalikkan badannya kearahku, “bentar ya Adine sayang, dikit lagi beres” katanya.

Aku mengendikkan bahu dan meraih remote tv lalu menghidupkannya. Bagas tampak kesal namun tetap melanjutkan tulisannya. Suasana mendadak hening dan canggung. Hanya suara berisik bungkus kentang goreng KFC karena aku nggak berhenti mengunyah. 

Bagas menggaruk kepalanya kesal, aku tau dia pasti terganggu dengan suara kantong kentang goreng ini, tapi alih-alih menghentikannya, aku malah sengaja meremas kantong itu dengan keras. 

Bagas menutup layar laptopnya lalu menatapku. Cepat-cepat kualihkan pandanganku dan mengernyitkan dahi, pura-pura menatap tv. 

“Bagus filmnya?” kata dia akhirnya.

“Bagus” jawabku cepat, masih pura-pura serius.

“Tentang apa emang?” tanyanya lanjut. Bagas menggeser duduknya dan mendekat, “siapa pemainnya?” sambungnya.

Aku berpikir keras. Menggigit bibir bawahku, “tentang..”ucapku terputus. Aku melirik Bagas dan dia langsung tersenyum, “tentang kentang goreng ya?” katanya.

“Iya!” jawabku ketus.

Bagas tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya, saat dia tertawa perasaan bahagia langsung memenuhi dadaku. Lalu aku tak akan mampu menahan senyumku dan ikut tertawa bersamanya. 

“Makan yuk” ucapnya lalu berdiri.

“Udah kenyang, makan kentang” balasku ikut berdiri, “aku temenin aja ya” sambungku.

Bagas mengangguk lalu menggandeng tanganku. Kami berjalan keluar menuju warung langganan tak jauh dari kos-kosan.

“Ceritanya tentang kamu” katanya sambil jalan. Aku terlonjak senang, “oh ya? Serius?” ucapku.

“Udah beres? Kapan dipublish? Ceritanya gimana emang? Boleh baca nggak?” tanyaku nggak berhenti.

Bagas hanya senyum lalu merangkulku, “nggak dipublish sekarang” katanya.

“Yah, kenapa? Belom beres?” tanyaku balik.

“Belom, dikit lagi” jawabnya.

                                      *

“Ladies and gentlemen, welcome to Soekarno Hatta Airport in Jakarta. Local time is 15.45 and the temperature is 27’C …”

Aku terbangun dan kulirik jendela disamping, “akhirnya..” bisikku. 

Aku menarik nafas dalam-dalam dan kembali memejamkan mataku. Kenangan tentang masa lalu menggenang diingatanku, jantungku berdegup kencang.

Jakarta..

Ibu..

Bagas..

Dadaku terasa sesak, kutahan tangis didalam hati. Rasa perih itu muncul lagi, rasa yang sama persis seperti lima tahun yang lalu. Ternyata luka itu belum sembuh, pikirku. 

Masih segar diingatanku saat keluarga Bagas membatalkan pernikahan seminggu sebelum acara. Semua terjadi akibat kasus malpraktik di rumahsakit Ibu. Keluarga Bagas tak mau ambil resiko, mereka orang pemerintahan. Saat itu ayahnya menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, mereka nggak mau gara-gara kasus ini, nama baik keluarga besar Aryasatya tercemar.

“Kita pergi. Bagas, kita pergi aja. Kita tinggalin semua!” kataku waktu itu.

Aku memohon seperti sampah dihadapannya. “Adine, kamu yakin?” tanyanya ragu. Kutatap matanya dan mengangguk, “kamu mau kan?”sambungku tak bisa kutahan tangis. Aku memohon dan berlutut, aku menangis sekuat tenaga. 

Bagas memelukku erat, “jangan nangis Adine, kita pergi. Kita tinggalkan semuanya” jawabnya, “besok kita ketemu dibandara jam 9 pagi. Ok?” sambungnya.

Kuusap wajahku, “besok jam 9, dibandara?” kataku.

Bagas mengangguk lalu memelukku kuat. “Kita pergi Adine..kita pergi” ucapnya.

Sore itu. Terakhir kalinya aku melihat wajah Bagas. Keesokan harinya, aku seperti orang bodoh menunggu sendirian dibandara. Berulang kali kutelfon, namun ponselnya tak aktif. Dia tak pernah muncul. Sedangkan aku, aku tak memiliki cukup kekuatan untuk kembali kerumah. Setelah menentang ayah habis-habisan dan lari dari rumah, aku tak sanggup pulang.

Tapi hari ini, aku menginjakkan kakiku kembali disini. Aku menarik nafas dan melangkah menuju pintu keluar, adikku berdiri persis didepan pintu keluar. 

Dia tersenyum, cantik. Dari dulu Rania memang kesayangan ayah, cantik dan penurut. Rania diadopsi oleh Ibu, ibu kandungnya meninggalkan dia di rumahsakit. Setelah dua minggu, pihak rumahsakit mencari keberadaan keluarganya namun tak ada hasilnya. Akhirnya ayah dan ibu memutuskan untuk mengadopsinya, aku tak pernah suka dengan kehadirannya. Rania selalu menjadi pusat perhatian dikeluarga kami. Aku sempat mendengar ucapan ayah pada ibu malam itu, “biarkan Rania yang pegang rumahsakit” ucapnya. Tapi ibu tak setuju dan berujung pertengkaran hebat. 

 “Apa kabar, kak?” ucapnya canggung. 

Aku tak menjawab. Rania menelfon pak Didik untuk menjemput kami. “Pak, sekarang ya” katanya lembut. 

Tak lama mobil parkir didepan kami, pak Didik langsung keluar dan menghampiriku, “Ya Allah..non Adine. Apa kabar non? Saya kuangen bener loh non!” ucapnya semangat. Aku tersenyum dan menjabat tangan Pak Didik, “baik pak. Alhamdulillah” jawabku tersenyum. 

Pak Didik mengangkat koper dan meletakkannya dibagasi. Aku dan Rania duduk bersebelahan, dia sedang bicara diponselnya saat aku menghidupkan ponselku. 

“Iya, udah sampe. Baru aja. Langsung ketempat Ibu nih” ucapnya. 

Kubuka pesan Kang Hyo Jae, dan berpikir untuk membalasnya. “Naega dochaghaessseubnida (aku sudah sampai)” ketikku. 

“Love you too!” kata Rania lalu dia menutup ponselnya. 

“Non Rania kalo ngomong sama Mas Bagas romantis bener” kata pak Didik. 

“Pak Didik suka nguping ih!” jawabnya sambil tertawa. 

Aku menoleh ngeri dan tak percaya, Rania mengendikkan bahunya lalu tersenyum.
Bersambung…

I’ve seen your drama – episode 2

“Good afternoon passengers. This is the pre-boarding announcement for flight GA879 to Jakarta. We are now inviting those passengers with small children, any passengers requiring special assistance and business class to begin boarding at this time. Please have your boarding pass and identification ready. Regular boarding will begin in approximately ten minutes time. Thank you.”

Aku menarik kembali tanganku, “that’s my flight” kataku.

Dia mengangguk, “Mm” gumamnya.

Kuraih ponsel dan menaruhnya kedalam tas lalu berdiri. “Nice to meet you, annyeong (dah!)” ucapku.

“Annyeong” balasnya mengangguk.

Aku berjalan menuju pintu keluar KAL Lounge, kuraih koper, tersenyum ramah kepada staff front desk, “gomabseubnida (thank you)” kataku dan berlalu pergi. 

Sambil berjalan menuju ruang boarding, tanganku berusaha meraih ponsel dari dalam tas. Perlu waktu cukup lama untuk merogoh isi tasku sampai akhirnya aku berhasil meraihnya. Ada perasaan menyesal karena tadi aku menaruhnya kedalam tas. “Harusnya kupegang saja!”bisikku, kuketik “boarding now” dan mengirimnya ke nomor adikku. 

“Good afternoon passengers. We regrets to announce that the departure of Flight KE633 to Bali will be delayed for two to three hours. We will inform you of the new departure time as soon as possible. Passengers on KE633 are asked to please come to the Korean Airlines counter with your boarding pass. You will be given a drink and meal coupon. Thank you.”

Kuhentikan langkahku dan menoleh kebelakang, pesawat dia delayed ucapku dalam hati. Lalu kembali berjalan menuju ruang boarding dan mengantre masuk pesawat. Tak lama aku mengantre kudengar suara ribut-ribut dari arah belakang. 

Aku menoleh sebentar karena penasaran, “You didn’t say your name” ucap Kang Hyo Jae terengah-engah dan memegang bahuku.

Kulirik tangannya dibahuku dan menatapnya tak percaya, “neo yeogiseo mwohago issni? (Apa yang kamu lakukan disini)” kataku masih tak percaya.

“Neoui ireum (nama kamu)” balasnya.

Dahiku mengernyit, “Mwo? (Apa)” kataku.

“Neoui ireum, jebal! (nama kamu, please!)” balasnya. Aku menariknya keluar dari ruangan, “neo michyeosseo?!(Kamu udah gila?!)” kataku. 

“I just ask your name. That’s not crazy” jawabnya masih terengah-engah. 

“Adine. My name is Adine, now go!” kataku panik. 

Kang mengeluarkan ponsel dari sakunya, “and your number?” ucapnya senyum. 

“What?! No!” jawabku.

“JEBAALLL!! (PLEASE!!)” teriaknya dan semua orang menoleh. Kembali kudengar mereka ribut-ribut, “Keuge Kang hyo jae majji? (bukankah itu Kang Hyo Jae?)” kata mereka.

Aku memejamkan mata, “jeongmal michyeosseo?! (Kamu udah gila apa?!)” kataku.

Aku menatapnya sekali lagi, Kang masih berdiri didepanku, masih memegang ponselnya dan tersenyum, “please..” katanya.

“Arasseo! (Ok!)” balasku cepat sebelum satpam mendatangi kami dan aku harus menjelaskan panjang lebar gara-gara seleb gila yang sedang mengejarku.

Aku memberikan ponselku padanya. Ponsel Kang berbunyi dan dia tersenyum puas, “so this is your number? Gomawo (thanks)” katanya.

“Now go! Don’t make crazy things and please put your masker!” ucapku lalu menggerek koper, aku menyerahkan boarding pass kepada petugas bandara, menoleh kebelakang sebentar lalu kembali berjalan.

Kuikatkan sabuk pengaman dan mengeluarkan buku ” NAFAS TERAKHIRNYA” karangan penulis Bagas Aryasatya, 2017.

“Akhirnya terbit juga” ucapku dalam hati dan membuka halaman pertama. 

“Ladies and gentlemen, welcome onboard Flight GA879 with service from Seoul to Jakarta. We are currently third in line for take-off and are expected to be in the air in approximately seven minutes time. We ask that you please fasten your seatbelts at this time and secure all baggage underneath your seat or in the overhead compartments. We also ask that your seats and table trays are in the upright position for take-off. Please turn off all personal electronic devices, including laptops and cell phones. Smoking is prohibited for the duration of the flight. Thank you for choosing Garuda Indonesia Airlines. Enjoy your flight.”

Ponselku. Aku lupa mematikannya. Cepat kuraih tas dan mengeluarkan ponsel dari dalam. 

Muncul notifikasi pesan dari nomor yang tak kukenal. Buru-buru kubuka, 

“Safe flight. It’s me, Kang hyo jae” tulisnya. 

Aku mengigit bibirku, ragu antara membalas pesannya atau mengabaikannya. Kuketik, “thanks” lalu kuhapus. Dahiku mengernyit dan kembali kuketik, “thanks” lalu kuhapus lagi. 

“Molla! (Bodo amat!)” kataku lalu mematikan ponsel dan melemparnya kedalam tas.

Kembali kubuka halaman pertama dan menemukan namaku disana.

Untukmu Adine..

Ya Tuhan!
Bersambung…

I’ve seen your drama – episode 1

Genap sudah lima tahun aku tinggal di Seoul. Nggak pernah sekalipun aku pulang ke Indonesia, tak satupun dari lima kali lebaran yang bisa membuatku untuk pulang. 

Mataku tertuju pada logo Garuda Indonesia, maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia. “Pulanglah, ibu sakit” kata adikku tadi pagi melalui telepon. 

Aku terdiam, berpikir. Ibu bukan orang yang gampang sakit, malah sebaliknya dia tipe yang sangat memperhatikan kesehatan. Entah makanannya, kebersihan rumah, pakaian bahkan aku tak pernah menemukan debu di sepatu dan tas nya. 

Aku menarik nafas dalam-dalam dan meniupnya pelan pada kaca didepanku. Lalu kuukir nama ibu disana, “saranghae eomma..(aku mencintaimu ibu)”bisikku. Kupandangi satu-satu air tetesan hujan yang membasahi kaca ruang tunggu.

“Excuse me, is this seat occupied?”tanya seseorang yang membuyarkan lamunanku. 

Ani, yeogi anjeul suisseo (nggak, kamu bisa duduk disini)”jawabku senyum.

“O! Arasseo gomawo (oh, baik. Terimakasih)”jawabnya agak heran.

Aku tersenyum ramah. Mataku kembali tertuju logo pesawat, lalu kuperhatikan personil bandara yang sedang sibuk bolak-balik karena kehujanan. 

“Where are you headed to?”tanya pria didepanku.

“Home..”bisikku masih menatap keluar.

“Mwo? (Apa)”jawabnya heran.

Aku tersentak, “Ng..I mean Indonesia..”kataku senyum.

Dia mengangguk, “Bali” katanya. Aku tersenyum, “No, not Bali this time” jawabku.

“I mean, i’m going to Bali” ucapnya sambil tertawa. 

Aku ikut tertawa, malu.  “Mian haeyo (maafkan saya)” kataku sambil menggigit bibirku. 

“Gwiyeobda. (cute)”ucapnya hampir berbisik.

“Mwo? (Apa)”tanyaku.

“Nothing!”jawabnya cepat sambil menggelengkan kepalanya.

Kami saling bertatapan. Lama. Tersenyum. Lalu dia menjulurkan tangannya, “Kang hyo jae” ucapnya.

Kujabat tangannya, “I know. I’ve seen your drama” jawabku senyum.”
Bersambung…

Aren’t you scared?

These days i couldn’t stand watch any news. It’s broke my heart everytime i saw it or read it or heard it. 

Are we all chasing a rainbow? Are this country having a big standing comedy show? It feels like we’re going on circle with no ending path.

They tell us to leave just because we’re wearing big veil or niqab. They said that we looks like Arabian then tell us to go.

I can’t go anywhere. Where am i supposed to leave? I was born here! 

Don’t you think this war has gone too far. Just because i keep my faith doesn’t mean i don’t love my land. Oh wait? This land is not even belong to us, none of this earth ever belong to us. 

So what this war is all about when we’re have nothing? Aren’t we all too greedy. Claim something that is not even ours.

Who are we? Just a spec of dust in the galaxy while God is watching us. There will come the day when God ask for responsiblity of what we do, what we say, what we think. 

Should we all prepared on that or we’re still busy chasing something that has no meaning at all.

Aren’t you scared?

Even once, aren’t you scared?

Fitri. A

Last words.

Please dont see me like im the one who lost it.

Please see me as i leave them behind, i have to. 

It is what i believe. I need to walk alone. 

Did you notice?

There’s no more “take my hand” 

There’s no more “i’ll be there”

I didnt expect you to understand me. Please dont. 

I just wasted my youth searching for meaning. And at the end we all lost our stars, right?
I hope someday you’ll find the answer by your own. I hope God give you the reason, or maybe not.

Fitri. A